Menurut Mu, Apa Ini Adil?

Menurut Mu, Apa Ini Adil?
Rencana pertama


__ADS_3

Pria itu diam dan tertunduk.


Hingga dokter Cha-cha menyudahi pertanyaan nya karena takut jika kepala pria itu semakin sakit dan merasakan tidak nyaman. "Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Apa kamu siap mendengarkan?"


Jawabnya hanya anggukan pelan dan tatapan tajam.


Salah seorang perawat kemudian memberikan lembaran-lembaran foto wajah pria di hadapan nya dan juga cermin.


Ya, Fox sudah berganti wajah. Tancapan-tancapan beling dimana-mana. Membuat dokter Cha-cha merubah wajah pria tersebut. Karena jika tidak. Akan sangat menyeramkan dan menakutkan.


Dokter Cha-cha perlahan memantulkan cermin di hadapan wajah pria itu.


"Amati dengan seksama wajah kamu," perintah pelan dokter Cha-cha.


Dia bahkan hafal betul jika tidak seharusnya wajahnya seperti yang dilihatnya di pantulan cermin.


"Jika sudah puas memandangi wajah mu akan aku jelaskan." Dokter Cha-cha yang menarik kursi lalu duduk. Menyerahkan lembaran foto wajah lama pria itu.


Pria itu pun memandangi wajahnya yang sudah dia ingat. Sangat mengerikan. Langkah dokter di sampingnya sudah tepat dengan mengganti wajah nya. Karena dia juga ngilu melihat foto-foto tersebut.


"Kamu pasti bisa simpulkan sendiri. Mengapa saya merubah wajah kamu? Sebelumnya aku minta maaf. Karena semua aku putuskan seorang diri, itu juga karena tidak satu pun aku menemukan identitas kamu."


"Tidak perlu minta maaf. Aku yang berterimakasih."


Dokter Cha-cha lega.


"Langkah anda sudah tepat. Sekali lagi aku terimakasih."


Dokter Cha-cha tersenyum.


"Apakah kamu sudah mengingat nama kamu?"


Fox mengangguk.


"Siapa? Siapa nama kamu?"


Dokter Cha-cha yang sangat ingin tahu siapa nama pria yang ditolong nya tersebut. Pria yang diperjuangkan denyut nadinya. Di tarik, di seret, ditekuk-tekuk karena dia pikir sudah meninggal jika mengingat cara dia mengevakuasi pria dihadapan nya. Bahkan terbilang seperti binatang, karena tidak ada cara lain. Dia bukan Doraemon yang punya pintu ajaib dan bisa cling tiba di rumah sakit detik itu. Menyeretnya karena tubuh pria ini terendam air dan tentunya berat saat proses dibawanya.


Jika mengingatnya dan sekarang bernyawa bahkan terduduk apalagi terlihat seperti malaikat Ridwan, penjaga surga. Rasanya tersenyum bahkan bersulang dengan segelas sampanye adalah hal terlalu murah untuk dilakukan.

__ADS_1


"Choco ... ya, namaku Choco."


"Choco?"


Fox mengangguk.


Ya, dia dengan sengaja mengganti nama nya Choco. Bukan tanpa sebab, bukan alasan. Pertama, siapa yang akan percaya jika dirinya adalah Fox. Putra tunggal dari Tuan Kino dan Nyonya Mint.


Kedua, wajahnya telah berganti. Rasanya nama nya juga akan berganti demi sebuah tujuan. Balas dendam.


Entahlah,


Rasanya sulit menerima, jika ayahnya menghancurkan segala yang dimiliki dan dicintai. Ibu dan istri. Ayahnya dengan tega berkhianat dengan ibunya dan mengkhianati pula bersama dengan Tamarin memendam dan memupuk cinta mereka dengan kurun waktu lama.


"Baiklah Choco, akan aku simpan foto-foto ini."


Choco mengangguk.


.


.


Choco tidak menyiakan waktunya. Setelah kepulangan nya dari rumah sakit, Choco mendatangi rumah yang menjadi saksi bisu hancurnya hati ibunya dan diri nya.


Memandangi rumah besar yang di dominasi warna putih itu untuk beberapa menit. Tatapan nya sayu dan air mata nya mengambang tatkala penggalan-penggalan kisah masa lalu nya melintas dan membayang.


Choco melancarkan aksinya. Membekap mulut bibi yang hendak pergi ke pasar pagi buta. Wanita itu sudah am em am em karena hendak berteriak meminta tolong, mulutnya tersumpal dengan lima jari kekar Choco.


Membawa wanita itu jauh dari rumah dan mengancam nya penuh tekanan. Dengan meletakkan sebilah pisau tajam di dekat lehernya, bibi tiba-tiba buang air kecil di celana karena ketakutan. Menangis dan meminta ampun untuk tidak di bunuh karena panjang lebar dia bercerita tentang hutang-hutang yang belum terlunasi dan emak, engkong nya sakit stroke dan butuh uang.


Masih belum berhenti, bibi mengoceh supaya tidak di gorok leher nya karena si penjahat akan percuma membunuhnya karena dia bukan orang kaya dan hanya pembantu rumah tangga.


"Diam!" Perintah Choco yang gemas dengan ocehan bibi yang ngalor ngidul yang sangat berisik di telinga nya


"Ba-baik," jawabnya dengan ketakutan.


"Aku akan lepaskan jika kamu bekerja sama dengan ku. Aku butuh informasi Tuan mu dan Nyonya mu, cepat katakan!" Teriak Choco di dekat telinga dan sungguh menakutkan bibi.


Membuat bibi merinding, benar wajah penjahat itu tertutup dan hanya terlihat matanya, namun suaranya yang mengancam membuatnya ngeri dan pasrah atas perintahnya.

__ADS_1


"Ba-baik Tuan. Tuan Kino adalah pengusaha kaya raya di Jakarta."


"Bukan itu!" sentaknya. "Sejak kepergian putra Tuan Kino dan Nyonya Mint, apa yang terjadi?"


"Nyonya Mint mengetahui skandal cinta terlarang suaminya dan menantu nya. Nyonya Mint marah dan meminta cerai, terlebih mengetahui jika cucu nya bukanlah cucu nya melainkan putri dari hubungan terlarang mereka. Membuat nyonya Mint depresi dan semakin ingin menghancurkan mereka berdua. Hingga nyonya Mint memuat skandal cinta terlarang mereka berdua di harian surat kabar miliknya. Membuat Tuan Kino naik pitam dan keduanya beradu tegang dengan sama-sama kepala mendidih dengan aksi saling serang. Tidak berhenti di situ saja, Nyonya Mint yang tidak ingin meminta maaf dan menarik berita di harian surat kabar, membuat Tuan Kino menghancurkan perusahaan redaksi Nyonya Mint hingga tak bersisa. Saling serang antar keduanya juga belum berakhir karena Nyonya Mint lebih baik mati jika melihat mereka tersenyum bahagia. Nyonya Mint juga menembakkan peluru dan nyaris menghabisi keduanya, namun Tuan Kino yang terkena peluru karena menyelamatkan nona Tamarin dari amukan Nyonya Mint. Membuat polisi tidak tinggal diam dan terlebih Tuan Kino tidak ingin nona Tamarin di sakiti oleh Nyonya Mint kembali, hingga memutuskan membawa perkara itu ke kantor polisi. Nyonya Mint yang enggan meminta maaf pada Tuan, membuat nya harus mendekam di penjara. Namun terakhir yang aku tahu, Nyonya depresi berat, gangguan mental dan jiwanya terguncang hingga bisanya menjerit histeris, tertawa terbahak dan menangis dalam waktu bersamaan di rumah sakit jiwa." Panjang sekali mengalahkan jalan nya kereta Banyuwangi-Jakarta, bibi satu persatu menjabarkan semuanya.


Mendengar hal itu, Choco semakin marah dan dendam kepada keduanya. Kilatan api pada dua bola mata nya menyala membara dan bergejolak ingin menuntaskan dendam nya.


"Apalagi setelah itu?" tanya nya dengan amarah yang Choco tahan.


"Tuan dan nona menikah di luar negeri. Sekarang nona hamil lima bulan."


"Tamarin hamil lagi. Bahagia sekali kalian. Teganya membiarkan ibu ku menderita di rumah sakit jiwa karena ulah kalian berdua. Dan sekarang kalian hidup tenang tanpa gangguan. Menurut ku ini tidak adil," batin Choco bersuara.


Choco melanjutkan dengan sebuah kesepakatan pada bibi. Jika bibi akan terus membantu nya dan menginformasikan apapun terkait rumah besar padanya. Karena jika tidak. Dengan ancaman akan Choco lenyapkan dari muka bumi, emak, engkong berikut dirinya jika bibi melanggar kesepakatan mereka berdua.


Setelah bibi di lepaskan dan menyetujui kesepakatan yang baru saja mereka ikrarkan. Choco menyusun rencana dengan memasang alat penyadap.


Tuan dan nona pergi. Tuan mengantar nona ke rumah sakit untuk periksa kandungan. Aku akan mengambil alih berjaga di depan pagar, saat security akan saya suruh mengambil sarapan pagi nya di dapur.


Pesan bibi kepada Choco.


"Bagus bi, bibi dapat di andalkan. Thank you God. Meskipun ini tidak baik dan bukan tindakan terpuji. Setidaknya dengan cara ini mereka tidak melulu bahagia dan sesekali di terpa hujan bahkan badai. Mereka harus ingat, jika ada hati yang tersakiti diatas kebahagiaan mereka," lirih Choco berbicara.


Choco dengan segera pergi ke rumah besar itu. Setelah bibi memberi isyarat untuk masuk lewat pintu belakang dan melancarkan aksinya, sementara bibi akan terus memantau keadaan. Melihati satu persatu para pekerja supaya pria yang mengancam jiwa raga nya itu aman.


"Maafkan aku Tuan dan Nona. Mengkhianati kalian karena jiwa raga emak, engkong dan diriku sendiri terancam bahkan lebih dari siksaan terkaman mulut buaya," sesal bibi pada tindakan nya.


Choco yang leluasa memasuki bagian per bagian kamar yang tidak berubah dan dia hafal betul itu kamar siapa.


Kamar mantan istrinya. Choco berhasil menyelinap masuk tanpa siapapun melihat nya. Para pekerja jika pagi hari sibuk sesuai pekerjaan mereka masing-masing. Bahkan kebanyakan dari mereka menggunakan head set untuk mendengarkan musik sambil bekerja.


Langkah Choco seketika berhenti. Saat melihat pigura kecil di atas meja nakas istrinya. Foto pernikahan Tamarin dan ayahnya. Seluruh gigi Choco mengerat kuat. Urat-urat nya menonjol dengan tatapan bagai iblis yang siap membawa mereka perlahan merasakan siksaan neraka jahanam.


Saat tangan nya ingin membanting foto tersebut ke atas lantai, otaknya seketika tersadar, jika dia membanting pigura tersebut. Akan ada yang datang karena mendengar suara. Membuat Choco akhirnya meletakkan kembali pigura tersebut.


Setelah alat penyadap tersebar di seluruh bagian rumah. Choco akhirnya keluar dengan lega. Satu rencana yang di susunnya sudah berhasil. Dan sekarang adalah saat nya menjalankan rencana nya.


"Jangankan untuk bahagia, tidak akan aku biarkan kalian tidur dengan tenang. Aku bersumpah untuk Tamarin, ayah."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2