Menurut Mu, Apa Ini Adil?

Menurut Mu, Apa Ini Adil?
Perang batin


__ADS_3

"Maafkan bibi tuan, semua salah bibi. Harusnya memeriksa dulu saat kue itu datang. Bibi main percaya saja, jika itu pesanan nona Tamarin. Bibi langsung memotong nya dan memberikan nya kepada nona Tamarin," jawab bibi dengan drama menangis supaya Tuan Kino percaya.


"Lain kali kalian hati-hati. Penjagaan harus ketat dan jangan biarkan siapa pun orang tidak di kenal masuk ke dalam rumah."


"Baik Tuan," jawab serempak semua asisten.


"Saya tidak mau kecolongan lagi. Kejadian ini harus yang terakhir dan tak boleh terulang."


"Baik Tuan," jawab serempak lagi.


"Jika sampai terjadi lagi, aku tidak segan-segan untuk penggal kepala kalian," ancam nya tidak main-main yang kemudian berlalu dari hadapan asisten nya.


Setelah membersihkan diri, Tuan Kino kembali ke rumah sakit.


"Aku dimana?" tanya Tamarin saat matanya tersadar.


"Tenanglah Baby, kamu aman dan baik-baik saja," jawabnya sembari membelai puncak kepala istrinya.


"Bagaimana dengan calon buah hati kita?" Tamarin yang teringat semuanya dan perutnya bagai di aduk-aduk tadi.


"Tenang lah Baby, calon buah hati kita selamat. Kamu tidak perlu khawatir." Tuan Kino yang kemudian memeluk Tamarin supaya lebih tenang.


"Mana Candy?" Tamarin yang mencari putrinya namun tak ada.


"Candy ... Candy juga di rawat, Tuan Kino yang kemudian menyibak tirai bewarna hijau muda itu. Dia melihat Candy masih terbaring dan belum membuka mata nya.


"Candy..." Tamarin menjatuhkan air mata nya. Dia meminta turun dari tempat tidur dan membelai puncak kepala putri nya dan mengecupnya. "Ada apa ini?" Tamarin tampak bingung dan tidak mengerti apa yang sebenar nya terjadi.


"Kamu dan Candy keracunan. Ada zat berbahaya pada makanan yang kamu makan."


Tamarin tercengang. "Zat berbahaya?"


Tuan Kino mengangguk. "Tapi tenanglah, saya sudah suruh Lotte untuk menyelidiki nya. Jadi kamu jangan khawatir." Tuan Kino berusaha setenang mungkin menjelaskan kepada Tamarin supaya istri ya tidak takut.


"Candy..." Tamarin yang melihat kasihan pada putri nya.

__ADS_1


"Mama..." Candy yang membuka matanya dan memanggil Tamarin.


"Iya sayang, mama di sini. Opa juga di sini."


"Mama ... Opa ..."


"Iya sayang ... Apa? ... Apa Candy masih sakit kepalanya? ... Atau perutnya masih mual?" tanya Tuan Kino yang takut jika putri kecil nya ini kenapa-napa. Dari dulu dia bisa memaki bahkan akan menelan hidup-hidup siapa pun itu jika menyangkut Candy dan Tamarin.


"Enggak opa, Candy lapar..." Jawabnya manja.


Membuat Tuan Kino dan Tamarin tertawa kecil dengan apa yang disampaikan putri mereka.


Tuan Kino kemudian keluar untuk membeli makanan kesukaan putri nya.


Sejak tadi mata Choco meneropong dan beribu dia ucap kata maaf lirih dalam hatinya atas keteledoran yang dia lakukan. "Lain kali kamu harus hati-hati Cho, jika saja terlambat sedikit. Candy mungkin tidak selamat," ucapnya pada diri.


Choco kemudian pergi setelah memastikan keadaan nya Candy baik-baik saja. Keberadaan nya di rumah sakit itu sekelebat terlihat oleh dokter Cha-cha yang baru memasuki rumah sakit tempat nya bekerja.


"Itu bukan nya Choco?" Dokter Cha-cha yang kemudian mengejar seorang pria yang terlihat seperti pasien koma yang di tangani nya.


Namun sayangnya langkah Cha-cha kalah cepat, Choco sudah pergi yang Cha-cha tidak tahu kemana arah nya.


Cha-cha yang terbawa dalam lamunan nya. Ketika mengingat semua hal tentang Choco, dia merindukan saat jadwal rutin memeriksa pria itu dan Choco hanya bisa dia saat dia terus memandangi wajahnya kala tertidur saat koma. Tak bergerak dan membuatnya leluasa tanpa mencuri tatap pria itu.


Sekarang, dia pergi yang dia sendiri tidak tahu. Choco bahkan tidak pernah berkabar padanya setelah dia dinyatakan sehat dan bisa berjalan normal seperti sedia kala.


.


.


Setelah pulang dari rumah sakit, Choco memeriksa Lat penyadap nya dan terdengar pekikan teriakan ayah nya memarahi satu persatu asisten rumah tangga nya atas keteledoran yang dilakukan mereka.


"Ini masih belum seberapa kacau ayah. Janin Tamarin masih selamat. Aku akan buat ayah dan Tamarin menangis meratapi calon buah hati ayah, seperti ayah melakukan nya padaku. Candy yang aku anggap putri ku. Telah ayah renggut dan membuat ku tersudut atas bidadari kecil itu yang sejak dahulu memanggil ku papa. Aku masih tidak terima itu ayah," ucap Choco yang matanya menangis terisak saat teringat banyak hal buruk menimpa hidupnya dan ibunya dalam waktu bersamaan.


Choco yang semakin benci kepada ayahnya dan Tamarin, pagi buta setelah kepergian Tuan Kino dari rumah sakit. Choco perlahan tanpa suara langkahnya menyelinap masuk ke ruang rawat Tamarin dan Candy. Sedang Tamarin masih terjaga dalam tidurnya.

__ADS_1


Choco dengan tatapan dendam dan benci yang menjadi satu. Dia perlahan membekap Tamarin dengan bantal.


Tamarin yang tersadar jika nyawa nya terancam dan ada seseorang dengan memakai penutup wajah serba hitam membekap mulutnya hingga dia kesulitan bernafas. "Em ... em," teriak nya sekencang apapun hanya am em am em karena mulutnya di bekap.


Hingga dia pasrah dan lemas yang sudah dipastikan Choco hanya pingsan. Selang infus dan tempat tidur yang berantakan adalah saksi bisu Tamarin yang berusaha ingin melepaskan bekapan dari penjahat misterius itu.


Choco yang kemudian pergi dari ruang rawat. Menangis terisak setelah melakukan perbuatan keji dan kriminal bagai penjahat berdarah dingin.


"Aaaaaaa..." Teriaknya panjang dan keras. Menjatuhkan dirinya dan menjadikan dia lututnya menyangga tubuh bagian atas nya. Mendongak, menangis dan mengusap kasar wajahnya setelah melakukan tindakan tercela yang jujur dai tidak inginkan namun batinnya berlawanan.


Hatinya mendikte, jika dia harus membalas semua hal yang pernah di lakukan Tamarin dan ayah nya kepada ibu dan juga dia.


Rasanya belum ikhlas namun bingung dengan memakai cara apa lagi supaya hidup keduanya jauh dari kata bahagia, tidak tenang dan ujungnya sama hancurnya dengan ibu dan juga diri nya.


"Ibu..." Teriak nya bercampur dengan tangis dan amarahnya.


Sedangkan di ruang rawat Candy dan Tamarin. Candy yang baru bangun seketika berteriak dan menangis histeris.


"Mama..." Teriak Candy histeris bercampur tangis.


Sedangkan Tuan Kino yang memutuskan kembali karena ada sesuatu yang tertinggal, berlari setelah mendengar teriakan Candy.


"Candy ... Tamarin ..." Tuan Kino yang panik an kemudian berteriak memanggil suster.


Setelahnya suster berdatangan membenahi posisi tempat tidur dan memeriksa Tamarin.


Sedangkan Candy menangis ketakutan di pelukan Tuan Kino. "Opa ... Mama opa."


"Candy tenang ya sayang. Candy Jagan takut. Ada opa sayang."


"Mama..." Candy masih belum mengakhiri tangis nya.


Setelah Tamarin diperiksa dan dinyatakan jika Tamarin baik-baik saja. Hanya Tamarin masih tidak sadarkan diri.


Tuan Kino benar-benar kacau pagi itu. Mengapa akhir-akhir ini masalah satu belum selesai, datang lagi masalah baru. Terlebih dia sangat yakin jika pagi ini Tamarin sengaja ingin dilukai.

__ADS_1


Tuan Kino tampak frustasi, kepalanya sakit hingga dia tidak bisa berpikir dengan jernih apa yang sebenarnya terjadi. "Siapa yang masuk kesini? Perasaan aku baru berjalan sampai depan rumah sakit, ponsel ku tertinggal dan itu tidak lama. Cepat sekali jika memang ada orang yang datang ruangan ini?" tanya nya pada dirinya sendiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2