
Hari selanjutnya Choco membawa surat lamaran pekerjaan ke rumah besar itu setelah mendapat informasi dari bibi jika dia harus datang pagi-pagi untuk menemui Lotte, sang asisten pribadi tuan Kino di kantor. Namun sayang nya Lotte tidak hanya ditugaskan untuk urusan kantor melainkan urusan rumah juga.
"Kamu?" tanya Lotte yang sudah bersiap dengan baju bela diri nya dan melemparkan seragam bela diri yang dipegang nya ke arah Choco dan ditangkap sempurna olehnya.
Setelahnya Choco berganti seragam, Choco dengan cepat dan tanpa aba-aba di serang oleh Lotte guna mengetahui seberapa tanggap pria itu waspada.
Alhasil Choco bisa menangkis pukulan yang dilayangkan Lotte.
"Bagus, kamu tanggap juga. Bisa dengan cepat mengerti jika lawan akan melayangkan serangan." Lotte kemudian melancarkan aksi nya lagi setelah memuji Choco yang baru saja dia temui pagi itu. Hingga mereka beradu fisik dan bisa di simpulkan jika Choco lah orang yang tepat untuk menjaga Tamarin dan Candy.
"Okay, kamu saya terima." Lotte kemudian menjabat tangan Choco. "Semoga kamu bisa diajak bekerja sama dengan baik. Dan aku harap kamu adalah orang yang tepat menjaga nona Tamarin dan non Candy.
"Terimakasih Tuan."
"Oh ya, jika kamu memiliki teman jago bela diri, kamu boleh ajukan ke saya supaya meringankan tugas kamu. Karena sebenarnya, tuan Kino menyuruh ku merekrut dua orang body guard."
"Baik Tuan," jawab Choco yang tidak akan membiarkan ayah nya merekrut body guard lagi, supaya dia dengan leluasa memantau mereka dan rumah ini.
Lotte kemudian membawa Choco ke hadapan Tuan Kino. Dimana Tuan Kino yang kemudian memperhatikan baik-baik body guard yang disuguhkan oleh Lotte di hadapan nya.
"Aku percaya pada mu, Lotte. Dan kamu ... Siapa nama kamu?" tanya Tuan Kino kepada Choco.
"Choco Tuan."
"Iya, Choco. Aku harap kamu bisa menjaga istri dan putri ku. Akhir-akhir ini ada orang yang berniat jahat kepada mereka berdua dan mereka hampir meregang nyawa."
"Siap Tuan."
Tuan Kino lalu memperkenalkan Choco kepada Tamarin dan Candy.
"Body guard?" tanya Candy heran.
"Iya sayang, supaya Candy lebih aman," jawab Tuan Kino.
"Wah, Candy punya body guard Om tampan sekarang. Halo om tampan..." sapa Candy dengan senyum lebar nya.
__ADS_1
"Sayang..."
"Hehehe ... habisnya om nya tampan ma, jadi aku bisa main-main deh sama om tampan. Boleh kan ma, opa?"
"Iya sayang, boleh. Candy jadi rindu papa ma ... papa kan tampan seperti om Choco," celetuknya polos.
"Sayang..."
"Candy rindu papa ma, boleh ya ma nanti Candy ajak om Choco berkenalan dengan papa di surga?"
Tamarin yang bertukar tatap dengan Tuan Kino kemudian memutuskan untuk mengiyakan permintaan Candy.
"Iya, nanti Candy ajak om Choco untuk berziarah ke makam papa Fox."
"Yeay... Papa pasti senang, kalau Mama dan Candy sekarang aman ada yang jagain. Ya kan opa?"
"Iya sayang," jawab Tuan Kino.
Sedangkan Choco melemah urat syarafnya saat mendengar celotehan Candy pagi itu.
"Maafkan kakak, Candy. Kakak mu ini tidak sebaik yang kamu pikir sayang."
"Kakak tidak akan mengulang kebodohan kakak waktu itu ... tidak sayang," batin Choco berperang. Dan sejenak dia lemah perihal rencana balas dendam nya.
"Om Choco ... kita main yuk." Candy yang kemudian menarik tangan Choco untuk Candy ajak bermain.
Candy terlihat senang sekali, tawa nya benar-benar lepas saat Choco mengajak nya bermain hide and seek.
Choco yang sengaja mengalah dan mudah di temukan saat bersembunyi, membuat Candy sangat senang dan tertawa terbahak-bahak setelahnya menemukan persembunyian Choco.
"One ...Two ... Three." Choco yang kemudian mencari Candy ke semua sudut taman namun tidak ia temukan. Hingga dia masuk ke dalam rumah dan melihat Ayah nya tengah memainkan bibir nya di bibir Tamarin.
Membuat Choco menatap nanar keduanya. Gemuruh pada dada nya semakin dan semakin tidak karuan dan segera ingin menuntaskan dendam nya. Seluruh gigi nya juga mengerat dengan kepalan pada dua tangan nya yang menguat.
Choco kemudian pergi, memutus penglihatan nya dari hal yang dia benci. Hatinya semakin sakit dan air mata nya berkaca. Namun tidak lama Candy datang dengan mengagetkan nya hingga kemudian mereka tertawa lagi.
__ADS_1
"Yeay... Candy menang kan om?" ujarnya sambil melompat-lompat girang karena saking senang nya memiliki body guard tampan.
Keduanya lalu duduk bersebelahan di kursi kayu panjang di sebuah taman. Candy bercerita banyak hal kepada Choco tanpa di duga jika bocah manis ini tidak berubah dan sangat humble kepada siapa pun.
Padahal dia tidak terbayang akan hal pagi ini. Bisa sedekat ini dengan Candy, sama sekali dia tidak pikir. Kepala nya penuh dengan rencana dan rencana akan dendam nya. Pergerakan nya tidak boleh lama dan lengah selama dia sudah berkesempatan di rumah ini.
"Om Choco, Candy senang deh bertemu dengan om. Om mau di ajak bermain seperti papa. Tapi sayang, papa sudah lebih dulu meninggalkan mama dan Candy. Kata mama, papa sudah di surga dan tidur dengan tenang."
Choco tersenyum sembari terus mendengarkan cerita adik nya ini.
"Om tahu ... Papa ku terbaik dan tertampan di rumah ini. Dia sayang sekali sama Candy. Sayang ... dia sudah tidak ada lagi di dekat Candy. Jadi nggak ada yang jagain mama dan Candy," ucap nya sedih yang kemudian wajah bocah manis itu muram.
"Candy ... andai kamu tahu betapa sakitnya hati ini saat harus memanggil mu adik dan bukan lagi putri ku. Sakit sayang ... sakit."
"Mungkin akan sama sakitnya hati kamu nanti saat tahu semuanya jika papa Fox bukanlah papa mu. Dan opa Candy lah selama ini papa kandung Candy. Kamu harus kuat untuk itu sayang. Jangan lemah seperti kakak mu ini. Kakak lemah dan tidak sanggup dengan semua ini sayang."
Air mata Choco yang tertahan. Jantungnya berdesir kuat saat mengingat perihal pengkhianatan istrinya dan ayahnya sendiri. Menjadikan dirinya tersudut bagaimana bersikap dengan bocah ini. Tidak lantas Choco membenci Candy. Baginya Candy tidak bersalah, Tamarin dan ayahnya lah yang gila dengan cinta terlarang mereka.
"Kan ada opa nya Candy."
"Hehehe ... iya. Aku hampir lupa jika opa adalah segalanya sekarang. Aku juga lupa jika cinta opa ke Candy melebihi apapun di dunia."
"Oh ya?"
"Ehem," seraya manggut-manggut. "Opa bisa berteriak keras dan marah yang suaranya itu terdengar hingga GBK jika dia sedang marah pada asisten rumah ini atau mama sekalipun jika terjadi padaku."
"Oh ya?" tanya Choco yang padahal dia juga pernah merasakan tamparan keras tangan kekar ayahnya terkait apa yang terjadi pada Candy dulu.
Ingatan nya menyelam, pada peristiwa dimana saat dia bertengkar dengan Tamarin hingga Candy mengejarnya tengah malam.
Candy mengalami kecelakaan dan disitu ayah memarahi dan menamparnya habis-habisan. Namun sekarang tersadar, mengapa ayahnya begitu murka nya melebihi dia sebagai papa Candy.
Namun sekarang terjawab, jika Candy adalah darah daging nya. Candy adalah segala nya bagi ayah nya. Maka dari itu, ayahnya tidak menginginkan hal kecil apapun melukai putrinya.
Choco yang tersenyum setelah Candy juga sangat antusias bercerita.
__ADS_1
"Om siap berkenalan dengan papa?"
BERSAMBUNG