
"Tamarin..." Tuan Kino semakin panik karena mulut Tamarin mengeluarkan busa. Dia segera membawa istrinya pergi ke rumah sakit untuk segera di tangani oleh dokter. Namun di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Tuan Kino di buat panik dengan keadaan Tamarin yang terus mengeluarkan busa semakin banyak dari mulutnya dan kejang-kejang dalam keadaan mata terpejam.
"Baby ... Aku yakin kamu kuat." Panik nya bercampur dengan sedih ketika melihat keadaan istri nya.
Selang beberapa menit, mobil pun akhirnya sampai dan Tuan Kino di buat histeris berteriak memanggil suster untuk menolong istri nya.
"Dokter tolong istri ku dokter!" Teriak nya membuat beberapa mata yang berada di ruang Unit Gawat Darurat mengarah pada nya dan memperhatikan Tamarin yang mulutnya terus mengeluarkan busa dan semakin membiru.
Choco bahkan dapat melihat itu dari kejauhan. Dia tersenyum penuh menang saat melihat dengan mata kepala sendiri jika ayahnya cukup frustasi melihat istrinya hampir mati.
"Dia hanya hampir mati ayah. Dia belum benar-benar aku tarik dan seret ke jurang dimana aku pernah terjun kala ayah berusaha melarang ku memberi tahu cinta terlarang kalian kepada ibu. Sedihnya ayah belum sebanding dengan sedih nya ibu." Choco yang terus menatap dari kejauhan jika ayah nya tengah bersedih melihat wanitanya hampir terbujur kaku.
Choco kemudian menghubungi bibi, menyuruh membuang kue tersebut dan memberikan kue yang baru dan akan segera dia kirim.
Namun baru saja akan menjalankan rencana nya, bibi melihat Candy tengah disuapi oleh asisten rumah tangga lainnya dengan kue tersebut. Mata bibi seketika melotot dengan nafas berantakan. Kaki nya mendadak lemas dan belum bibi menyingkirkan untuk kue tersebut tidak dimakan oleh Candy, bocah manis itu sudah menghabiskan nya dan mengatakan yummy saat kue tersebut amblas masuk ke dalam perut nya.
Tidak lama asisten rumah tangga lainnya berterima histeris saat tiba-tiba Candy ambruk karena mengeluh kepala nya pusing. Tidak lama mulutnya juga mengeluarkan busa dengan kejang-kejang.
"Non Candy ... Non ... Bangun non."
Bibi yang ketakutan sembari menepuk-nepuk pipi putri majikan nya itu.
Mendengar ada yang berteriak histeris bercampur tangis, salah seorang security pun akhirnya menghampiri.
"Astaghfirullah ... Ada apa dengan non Candy?"
"Nggak tahu." Asisten rumah tangga yang terus menangis.
Sementara bibi yang berkesempatan mengambil kue yang baru mungkin tanpa racun di dalam nya. Mengetahui security tengah ikut mengerubuti Candy, bibi berjibaku membuang kue yang lama dan segera dia ganti dengan yang baru.
Setelah tidak berhasil menghubungi Tuan Kino karena memang Tuan Kino tengah berbincang dengan dokter terkait hasil pemeriksaan jika Tamarin salah makan atau keracunan makanan.
Membuat supir membawa Candy ke rumah sakit beserta salah satu asisten rumah tangga.
Alangkah terkejutnya Tuan Kino saat masih berada di Unit Gawat Darurat mendapati supir beserta asisten rumah tangga nya membawa Candy dalam keadaan yang sama.
"Kalian ... Candy ... Candy sayang ...Dokter ... Dokter selamat kan putri ku dok!" Teriak Tuan Kino dengan tangis yang sama bahkan menjadi karena ternyata kondisi Candy lebih parah karena dia anak kecil dan tidak terlalu kuat kondisi tubuhnya menerima zat yang terkandung dalam campuran makanan tersebut.
Membuat nafas Choco sengal seketika saat melihat jika seperti nya Candy juga mengalami hal serupa dengan Tamarin.
Choco kemudian menghubungi bibi dan benar saja. Dia mendapati kabar jika Candy ikut memakan kue tersebut.
__ADS_1
"Sit, bagaimana bisa menjalan kan tugas ringan begitu saja tidak becus?" sentak Choco dalam panggilan ponsel nya.
"Ma-maaf Tuan," jawab bibi gemetar dengan buang air kecil ditempat dengan dia kaki gemetar hebat.
"Arrrgh...!" Choco yang marah lalu menutup ponsel nya. Tatapan nya penuh sesal melihat ruang Unit Gawat Darurat dari kejauhan jika ternyata Candy juga ikut merasakan akibat zat kimia yang dia khususkan untuk Tamarin.
Choco semakin melihat lebih dekat guna memastikan jika Candy baik-baik saja. Bocah kecil itu tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa.
Melihat Candy ternyata di pindahkan di ruang ICU. Tatapan Choco meredup. Takut jika zat kimia yang dia campurkan dan khususkan untuk Tamarin, membuat tubuh bocah mungil itu tidak kuat dan berakibat fatal.
"Maafkan kakak sayang, kakak tidak bermaksud melukai kamu," lirihnya dengan tetesan air mata. Berdoa dan meminta supaya kondisi kritis pada Candy cepat berlalu dan adik nya itu bisa melewati masa kritis.
Setelah tiga puluh menit, dokter akhirnya keluar dari ruang tersebut dan memberi tahu jika pasien sudah melewati masa kritisnya.
Setelah mendengar itu, nyawanya yang hampir tercabut saat mendengar Candy mendapati hal serupa yang dialami Tamarin. Tuan Kino merasa nyawanya kembali.
"Syukurlah dok, terimakasih."
"Sama-sama pak. Lain kali tolong diperhatikan untuk apapun yang masuk ke dalam perut si anak."
"Baik dok."
Begitu juga dengan Choco yang bisa mendengar percakapan dokter dan Tuan Kino. Hati Choco lega, hal buruk tidak terjadi pada adik nya. Choco tidak berhentinya berucap syukur sat mendengar hal itu.
"Baik tuan, akan segera saya selidiki perintah anda."
"Terimakasih. Cepatlah datang ke rumah dan periksa semua nya."
"Siap Tuan."
Choco dengar betul hal itu, dia segera menuju rumah besar dan menyuruh bibi mencari perhatian supaya perhatian seluruh asisten rumah tangga tertuju pada nya. Sedangkan Choco akan menyelinap masuk ke rumah besar guna menghapus setiap adegan yang ditunjukkan oleh CCTV.
Choco berhasil melakukan tugas nya dengan baik. Sebelum Lotte datang, dia sudah menghapus potongan-potongan adegan dimana membahayakan jika Lotte mengetahui nya.
Lotte berhasil memarkir mobil nya di halaman rumah.
"Cepat berkumpul!" Teriak Lotte pada semua asisten rumah tangga tuan nya itu.
Semua asisten berdiri berjejer dan menunduk.
"Apa kalian tahu apa yang terjadi dengan nona Tamarin dan non Candy?"
__ADS_1
Semuanya mengangguk.
"Apa ada yang bisa jelaskan kepadaku?" sentak Lotte kepada semuanya.
Salah seorang asisten pun berkata, jika setelah memakan kue, non Candy mengeluh sakit kepala lalu pusing dan mengeluarkan busa hingga kejang-kejang.
"Lalu dari mana datangnya kue tersebut?" Jawab!" Lotte yang mulai marah.
"Begini tuan, saya yang menerima ada kiriman kue dari tukang ojek online. Karena katanya untuk nona Tamarin dan itu adalah kue kesukaan nona Tamarin. Tanpa pikir panjang, saya kemudian memberikan nya kepada nona Tamarin, tuan. Dan saya sangat senang. Sayu juga memakan nya tuan, tapi tidak terjadi apa-apa."
"Mana kue nya?" tanya Lotte.
"Ini tuan." Bibi yang menyerahkan kue yang baru dan tidak tercampur zat kimia seperti yang kemarin.
Lotte kemudian membawa kue tersebut untuk diperiksa oleh dokter di rumah sakit. Namun dokter berkata jika tidak ada zat berbahaya dalam kue tersebut.
Lotte kemudian memberi tahu Tuan Kino atas tugas yang baru saja dia kerjakan.
"Apa kamu sudah cek CCTV?" tanya Tuan Kino.
"Sudah semua Tuan, tapi tidak ada yang mencuriga kan. Semuanya terlihat baik-baik saja dan tidak ada hal yang janggal."
Tuan Kino masih belum puas dengan jawaban asisten pribadinya.
"Lalu bagaimana keadaan nona Tamarin dan non Candy?"
"Candy sempat mengalami kritis. Namun syukurlah terlewati dan sekarang keadaan mereka berdua sudah lebih baik."
"Syukurlah Tuan, kalau begitu saya permisi ke kantor. Jika tuan membutuhkan saya, hubungi saya Tuan."
"Terimakasih Lotte."
Karena Tamarin dan Candy belum bangun, Tuan Kino pulang ke rumah lebih dahulu. Seperti yang baru saja dilakukan oleh Lotte, Tuan Kino juga mengumpulkan seluruh asisten nya. "Tolong kalian berkumpul di ruang tengah." Perintah Tuan Kino yang meledak-ledak jika itu menyangkut dua bidadari nya. Wajahnya terlihat berantakan bagai harimau lapar dan ingin memangsa manusia di depan nya. setelah cukup syok dengan apa yang baru saja terjadi.
"Siapa yang bisa jelaskan kepada saya apa yang terjadi?" tanya nya berintonasi tinggi.
"Maaf Tuan, non Candy seperti biasa setelah pulang ke sekolah ingin makan camilan yang di buat bibi. Dia tahu ada cake di atas meja dapur dan merengek untuk meminta. Non Candy juga meminta saya menyuapi nya di taman belakang sampai cake tersebut tak bersisa. Tapi tidak lama, non Candy mengeluh sakit kepala dan perutnya ingin muntah. selang beberapa menit non Candy terjatuh, tidak sadarkan diri dan mulutnya keluar busa," jawab asisten rumah tangga yang lain.
"Ada lagi?" pekik nya.
Tuan Kino semakin marah sedang bibi masih tertunduk ketakutan dan kaki nya gemetar.
__ADS_1
BERSAMBUNG