Menurut Mu, Apa Ini Adil?

Menurut Mu, Apa Ini Adil?
Pergi ke rumah sakit jiwa


__ADS_3

"Keparat kamu peneror!" Teriak lantang Tuan Kino dengan ekspresi menantang seolah tidak takut dengan berbagai hal yang diserang kan secara diam-diam kepada keluarga nya.


"Mama..." Candy yang memeluk Tamarin dan keduanya saling merangkul karena ketakutan.


"Biar saya periksa Tuan." Choco yang kemudian berlari ke sekitar area rumah Tuan nya dan memeriksa seluruhnya.


Dia juga mempertanyakan kepada petugas keamanan tentang siapa yang mengantar paket tersebut. Namun jawaban nya tetap sama. Tukang paket lah yang mengantar.


"Kalian tenang ya, nggak usah takut. Aku akan menemukan siapa peneror itu dengan segera." Tuan Kino yang merangkul Tamarin yang masih belum reda dari rasa takut dengan kiriman teror itu lagi.


"Siapa peneror itu?" batin Tuan Kino bertanya. "Bagaimana?" tanya Tuan Kino kepada Choco setelah dia kembali dari memeriksa seluruh bagian rumah.


"Maaf Tuan, tapi kata petugas keamanan yang berjaga tidak ada hal yang mencurigakan. Seperti biasa ada kiriman datang dari tukang paket dan mereka dengan langsung memberikan paket tersebut kepada nona Tamarin."


"Kalau begitu, ketika ada paket lagi yang datang, sebaiknya di buka di luar terlebih dahulu sebelum di buka oleh nona Tamarin."


"Baik Tuan."


"Ikut saya Cho!" Tuan Kino yang bergegas keluar rumah dan mengajak Choco pergi.


"Tapi bagaimana dengan nona Tamarin dan non Candy Tuan?" Choco yang bingung dengan permintaan Tuan nya. Karena tugas utama nya adalah menjaga Tamarin dan Candy.


Tuan Kino berhenti sejenak seperti berpikir. "Ikut saja. Aku yakin mereka aman. Sudah ada penambahan untuk security di rumah. Jadi peneror itu tidak akan berani macam-macam dengan istri ku."


"Baik Tuan," jawab Choco yang kemudian berjalan di belakang Tuan Kino menuju garasi.


Choco cukup heran mengapa Tuan Kino tidak pergi dengan supir saja. Sepanjang perjalanan mereka berdua tidak ada obrolan berarti. Namun cukup membuat Choco tercengang saat dia mempertanyakan arah tujuan Tuan Kino dimana dia menginginkan pergi ke rumah sakit jiwa.


"Rumah sakit jiwa? Apa ayah ingin mengunjungi ibu?" batin Choco bertanya dimana setelahnya lirikan sudut mata mengarah kepada ayah nya yang tengah risau akibat teror yang sengaja dia lancarkan lagi.


Namun tubuh Choco seketika melemah saat mobil hendak memasuki halaman rumah sakit jiwa.


"Kenapa berhenti?" tanya Tuan Kino yang tidak tahu alasan Choco terdiam untuk beberapa waktu dan tidak segera melajukan mobilnya padahal mesin mobil menyala.

__ADS_1


"Maaf Tuan, apa benar ini tempat nya?" kilah Choco seakan memastikan tempat nya padahal aslinya dia tidak kuat jika benar ayahnya mengunjungi ibu nya berada di tempat ini.


"Iya benar, parkirlah di situ," jawabnya sembari menunjuk dengan jari telunjuk nya mengarah pada tempat parkir.


"Baik Tuan." Choco kemudian memarkirkan mobil dan sengaja ikut dengan Tuan Kino. Meskipun awalnya Tuan Kino menyuruhnya menunggu di mobil, namun Choco cukup memiliki alasan yaitu takut jika terjadi apa-apa dengan Tuan Kino karena menurut aturan dia harus memastikan tuan nya selamat.


Choco bisa merasakan jika langkah ayahnya terasa melambat saat mendekati sebuah ruangan paling ujung.


Tuan Kino yang di antar oleh seorang perawat tengah berdiri dan memperhatikan mantan istrinya yakni Nyonya Mint dari kaca jendela kamar nyonya Mint. Mint tengah menangis dan bersedih di atas ranjang nya. Sesekali berteriak memanggil-manggil nama Fox putra nya. Mental nya masih terguncang dan hampir setiap hari kata seorang perawat, Nyonya Mint terus menyebut nama Kino, Tamarin dan Fox.


"Ibu," lirih Choco dalam batin nya saat melihat sendiri ibunya tersiksa di dalam sana. Air matanya dia tahan sekuat tenaga supaya tidak jatuh dan akan menjadi curiga bagi Tuan Kino.


Batin Choco juga menjerit hebat dan ulu hatinya terasa sakit. Menyaksikan sendiri jika ibunya berteriak histeris bercampur tangis memanggil nama nya ... Fox.


"Bu, ini aku ... putra mu ada di sini mengunjungi mu," imbuh Choco menatap ibunya di dalam sana lewat jendela kaca lebar di depan nya itu.


Ikatan batin yang kuat antar keduanya membuat Mint menoleh ke arah Choco. Mata mereka sempat berpandang dari kejauhan yang terhalang dinding dan kaca jendela.


Namun sayang, Mint justru melempar bantal ke arah kaca tersebut. Berteriak pergi kamu karena melihat ayah nya berdiri di depan nya.


Tuan Kino terlihat sekali sedih, hingga sudut matanya basah namun segera dia usap. Dia tidak ingin terlihat seperti laki-laki cengeng dan rapuh.


Sementara Choco yang sudah meminta izin terlebih dahulu untuk pergi ke toilet. Dia menumpahkan tangis sekaligus dendam nya di dalam sana.


Hatinya bagai tersayat, luka pengkhianatan ayah nya dan mantan istrinya bertambah dalam dan menjalar. Dendamnya membuncah saat detik menit itu juga ingin segera menyelesaikan satu persatu rencana nya untuk menghancurkan ayahnya dan Tamarin.


Sadar, jika ayahnya tengah menunggu kedatangan nya, Choco kemudian menuju parkiran mobil.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Tuan Kino. Saat Choco membuka pintu mobil, Tuan Kino masuk seperti biasa. Namun Choco dapat melihat banyak kesedihan yang tergambar di wajah nya.


Choco beberapa kali mencuri tatap wajah ayahnya. Dan melihat nya beberapa kali menyapu air mata yang sempat menggenang di pelupuk matanya.


Bahkan saat berada di lampu merah, Choco mengulurkan selembar tisu kepada Tuan Kino untuk menghapus air matanya.

__ADS_1


"Thanks," jawab Tuan Kino saat menerima selembar tisu dari Choco.


"Anda sedih?" Satu pertanyaan lolos dia beranikan keluar dari mulut Choco.


"Entahlah ... Setiap mengingat mantan istri ku, Fox, putra ku yang sudah tiada ... Aku rapuh," seraya mengusap air mata nya. "Aku menyayangi mereka."


"Bulshit. Jika ayah menyayangi ibu dan juga aku, mengapa justru ayah menghancurkan kami? Ayah dengan sengaja memberi kita luka yang sulit untuk kita lupa bahkan sembuhkan," ungkap Choco pada batinnya.


"Tapi aku juga menyayangi putri ku," imbuhnya.


"Putri?" Choco berpura-pura heran seakan tidak tahu. Padahal sangat dia tahu jika Candy adalah putri nya, bukan lah cucu nya.


"Sudahlah ... lupakan. Anggap aku tak pernah cerita pada mu."


"Baiklah, tapi saya bisa merasakan jika anda menutup banyak hal yang harus anda pikir seorang diri."


"Kamu sok tahu. Aku justru sangat bahagia istri ku tengah hamil anak laki-laki yang akan menjadi pewaris Kino Land Properti. Pengganti Fox. Itu adalah hal yang aku tunggu-tunggu." Dengan cepat wajah Tuan Kino berubah memancarkan aura bahagia. Choco bisa tangkap itu.


"Sepertinya anda sangat mencintai istri anda," sambil menoleh ke arah Tuan Kino.


"Sangat. Aku sangat mencintai nya."


Dada Choco bergemuruh. Harusnya sudah dia kubur cemburu itu dan berubah dendam. Namun entah mengapa ketika ayahnya secara terang-terangan mengatakan hal itu. Ada rasa sakit yang sulit dijelaskan itu apa.


"Antar aku ke kantor sekarang. Setelah itu kamu pulang, jaga dan awasi secara ketat istri ku dan Candy."


"Siap Tuan."


Choco menambah kecepatan laju mobil nya menuju kantor ayah nya. Dan setelah itu, dia tidak segera pulang ke rumah besar melainkan pergi ke rumah sakit jiwa.


Berdiri di tempat yang sama. Menyembunyikan kedua tangan nya pada saku celana dengan tatapan nanar.


"Ibu harus sembuh. Ibu harus melihat ayah dan Tamarin menangis seperti ibu saat ini," lirih Choco dengan sedih dan dendam yang bercampur.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2