Menyukaimu Mas CEO

Menyukaimu Mas CEO
Kembalinya Sang Mantan


__ADS_3

PROLOG


Mana bisa aku bertahan di atas ratusan ketidakpastian?


Mana bisa aku terus menduga-duga tentangnya?


Dia menjanjikan banyak hal tapi janji itu yang menyakitiku.


Dia membuatku bertahan tapi hal itu yang menyakitiku.


Apa aku yang menjadi korban atau malah tersangka dalam keadaan ini??


Yang aku tau pasti kami sama-sama salah.


Salah menempatkan pilihan.


Pilihan kami tak sejalan.


Aku ingin berjalan lurus tapi dia memilih berbelok ke arah lain.


Hal itu yang membuat dirikuku lelah...


Rasanya ingin aku menyerah saja..


Tapi lagi-lagi dia meyakinkanku untuk bertahan.


Lalu kepastian itu tak kunjung datang.


Dia hilang.


Jauh.


Hingga sesak memikirkan tentang dia.


Dan untuk kesekian kalinya aku menyerah


Namun kesekian kali lagi dia datang dan menghancurkan harapan..


Harapan untuk melupakan dia.


Harapan bertemu orang lain.


Dan harapan hidup tenang dan penuh cinta bersama orang lain.


Namun sekali lagi dia menghancurkan harapanku.


\*\*MENYUKAIMU MAS CEO\*\*


EPS:


'KEMBALINYA SANG MANTAN'


Plak


Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi pemuda bermanik biru memberikan bekas merah telapak tangan yang terasa perih dan berdenyut.


"Hiks... hiks... hiks...kenapa kenapa!!" Teriak seorang perempuan sambil terisak, berungakali memukul dada bidang seorang pria, membuat sang pria langsung membekap tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya, perempuan berambut panjang hitam pekat tampak tak berdaya dan hanya terisak. Sangat menyakitkan.


"Maaf, aku harus menyakitimu." Pria itu terus mengelus rambut panjang sang perempuan tanpa mempedulikan bekas tamparan tadi yang masih terasa perih, baginya hal itu tak penting lagi dibandingkan diri perempuan tersebut.


"Maaf Tuan, pesawat akan segera di berangkatkan, waktu Anda 15 menit lagi," ucap sang asisten sang pria yang baru keluar dari mobil tuannya.


Sang empu yang mendengar langsung melepas pelukan dari tubuh perempuan cantik bermata bulat itu. Untuk sekali lagi pria itu berkata, "Maaf dan lupakanlah aku."


Cup


Pria itu mencium lembut kening sang perempuan dan sedetik kemudian berlalu pergi meninggalkan sang perempuan yang masih diam di tempat dan sedikit terkejut atas perlakuan kekasihnya. Setelah sang perempuan itu sadar sepenuhnya dan dapat mengendalikan dirinya, dia sadar dia sudah terlambat, kekasihnya telah pergi sebelum sempat dirinya mengucapkan selamat tinggal padanya.


"Hiks... hiks." Tangisnya pecah sekali lagi, dirinya sudah tak kuasa menahan ini semua, sang perempuan benar-benar sangat kehilangan kekasihnya.


Dan semua yang mereka lalu kini hanya menjadi sebuah kenangan pahit dan tak akan pernah terulang kembali.

__ADS_1


***


10 tahun kemudian...


"Mbak mbak Cica!!" Panggil gadis cantik berambut pirang dan berpakaian putih abu-abu khas anak SMA itu tengah mencari keberadaan Kakaknya di sekeliling ruangan.


"Iya Dek, ada apa? Mbak di teras belakang rumah." Sang empu yang mendengar namanya di sebut langsung menjawab dan memberikan isyarat pada adeknya.


"Mbak, Anin dapet teguran dari Guru," ucap Anin dengan hati-hati.


Sang Kakak yang tengah menjahit pakaian seketika memberhentikan aktivitasnya dan langsung menatap ke arah Adek bungsunya itu yang tengah menunduk sedih.


"Apa yang kau lakukan memangnya Dek?" tanya lembut sang kakak.


Anin hanya dapat mengeluarkan sebuah amplop dari saku roknya dan menyerahkannya pada Kakaknya itu.


Kakaknya yang sudah mafhum hanya bisa membuang nafas berat, "Berantem dengan siapa lagi kali ini?"


"Kaka kelas," ucapnya dengan santainya.


Kakaknya hanya menggelengkan kepala tak percaya bahwa Adiknya ini sering sekali berantem dari mulai dengan teman sekelasnya sampai Kaka kelasnya, hanya karena alasan bahwa mereka semua melakukan bullying kepada anak-anak disana dan lebih parahnya lagi Anin kalau berantem dia tidak pernah terluka sedikitpun dan malah yang babak belur itu lawannya.


"Alasan apa kali ini?" tanya Kakaknya sedikit meninggikan suaranya.


"Aku gak tega liat ada Adkel dibully sama Kaka kelas itu."


"Dan apa kamu tega membuat Mbak berulangkali dipanggil Kepala Sekolah? Mikir gak si lu Dek? Lu tuh udah gede masih aja berantem. Mbak gak cuma ngurusi lu doang, Mbak juga punya anak dan suami yang harus diurusin, sekali-kali kalau ada masalah gak perlu pakai kekerasan, gak bisa apa?"


"Mbak gue emang salah ngrepotin lu terus, tapi gue gak pernah nyesel membela mereka yang kena bullying di sekolah dan kalau mbak gak mau dateng, gak masalah. Biar gue sendiri yang ngadep ke Kepsek, selesai." ucapnya tegas tanpa takut sama sekali dan dia anggap perbuatannya kali ini benar.


"Gila lu, lu kasih aja tuh surat ke Juan kalo nggak Gita aja sana, suruh dia yang ngadep, gue sibuk. Besok gue mau ngurus pesenan jaitan sama mau bulan madu bareng suami gue." ucap Cica dengan nada agak bercanda sambil mengembalikan amplop itu ke tangan Anin, Anin hanya memutar malas bola matanya, "Lu udah punya anak banyak masih aja bikin mulu, penuh nanti bumi ini gara gara anak lu," cela Anin.


"Suka-suka gue lah, kalau lu iri bilang aja! Makanya punya pacar biar gak kesepian hidup lu dan jangan berantem mulu," ledek Kakaknya sambil melanjutkan aktivitas menjahit.


"Hidih, serah lu Mak lampir." umpat Anin dan langsung masuk ke dalam rumah, dia hanya malas menanggapi Kakak yang satu ini, dia nyuruh pacaran eh pas udah pacaran suruh putus, katanya masih kecil masih SMA ngabisin duit doang. Apa lah daya Anin selalu salah.


"Assalamualaikum."


"Waalikumsalam ahli kubur." jawab Anin setelah masuk ke dalam rumah dan mendapati Kakak ke-tiganya datang sehabis pulang kerja.


"Gue kangen lu makanya gue pulang."


"Halah tukang tipu bilang aja lu habis di pecat."


"Astaghfirullah amit-amit, tuh mulut minta di tampol ya. Kalau gue dipecat lu gak bakal bisa makan enak, dasar!"


"Kalo lu di pecat gue tinggal minta makan ke Mamas kan selesai."


"Serah lu deh Bambang, tukang minta lu sama Mamas, gak tau diri."


"Bodoamat, nih oleh-oleh buat lu." Anin menunjukkan amplop yang tadi kepadanya.


"Serah mau datang apa ngga. Katanya Mba Cica gak bisa dateng mau bulan madu sama Mas Rangga," Anin berdecak sebal, "Lu kalo gak dateng alesannya apa Mbak, bulan madu sama siapa? Orang sampai sekarang lu jomblo mulu."


"Berisik autis, polah mulu lu jadi orang, lu berantem sama siapa lagi si?"


"Kakel cowo gue, untung Kakel tuh gak sampe pingsan cuma bengkak aja pipinya."


"**** lu harusnya lu tendang anu-nya biar gak bikin polah lagi di sekolah lu."


"Okeh kapan-kapan." ucap Anin dengan lantang.


"Ajaran sesat Mbak Juan!" pekik seorang wanita berjilbab bermata sipit yang mengenakan pakaian koasnya.


"Eh Gita pulang-pulang gak ngucap salam malah nimbrung mulu lu Dek."


"Assalamualaikum Mbak Juan, Dek Anin!!"


"Telat."


"Bodoamatlah gue cape habis operasi, gue ke kamar dulu, bye."

__ADS_1


Gita pun undur diri dan langsung pergi menuju kamarnya.


"Gue mau bikin makan duluan, lu Dek mandi dulu sana," suruh Juan pada Adeknya.


"Iya iya." Anin hanya menuruti Kakaknya, terpaksa, kalau tidak nanti Kakaknya akan ngoceh lima ratus kali.


***


Setelah makan malam, Yuanita Putri Sukirto atau biasa dipanggil Juan pun bergegas ke kamar untuk menyelasaikan pekerjaannya. Dia kembali berkutat dengan laptopnya dan melanjutkan pekerjaan dia yang tadi tertunda.


Drtt


Drtt


Drtt


Hp di samping laptopnya itu berdering cukup lama, membuat dirinya terpaksa mengangkat telepon yang memunculkan nama Larasetan, yaitu teman laknat dari jaman masih sekolah.


"Heh!"


"Beb!"


"Lu tau ngga?"


"Gue dapet kabar kalau..."


"Waalikumsalam," ucap Juan memotong ucapan Laras.


"Hehe, maaf sayang, Assalamualaikum." Laras terdengar begitu canggung.


"Waalikumsalam, lu kalau mau apa-apa salam dulu jangan main cerocos, budeg kuping gue Ras."


"Ya maafin Laras, gue kan lagi histeris banget, denger dan liat kabar luar biasa. Lu mau denger kagak?"


"Apaan si, gece! Gue lagi sibuk nih," tanya Juan agak sedikit tak sabaran.


"Heh gue denger-denger mantan lu waktu SMA balik lagi ke Indonesia dari UK, gila gak si pulang-pulang di angkat jadi CEO Agensi Wardani's Entertainment."


Deg


Deg


Deg


Entah mengapa jantung Juan berdebar sangat cepat ketika mendengar nama orang itu di sebut setelah 10 tahun berlalu. Ini kali pertama dia mendengar kabar tenangnya.


"Tapi sayangnya dia balik kesini juga mau tunangan  sama anak dari kolega bisnisnya, ahh kalau gak salah Berlin's company," lanjut Laras membuat Juan terdiam mencerna semua kalimat barusan.


Deg


'Tunangan? Jadi dia sudah ada yang lain ya? Ahh makanya dia tak pernah mengabari gue? Ahh gue kan gak penting! Lu gak penting paham!! 'ucap Juan dalam hati meyakinkan dirinya sendiri.


"Terus gue harus ngapain? Tuh orang kan cuma masa lalu kali, mau dia tunangan mau dia nikah bukan urusan gue, gak penting banget si lu telepon malem-malem cuma mbicarain dia mulu."


"Udah ya gue tut--"


"Tunggu-tunggu Ju. Lu bener gak sayang lagi sama dia ataupun peduli lagi?"


"Sayang? Sayang sama orang yang udah ninggalin gue sendiri? Gue gak sebego itu Ras."


"Tapik--"


Tut


Tut


Tut


Juan memutus sambungan telepon dan langsung menaruh ponselnya kembali di meja agak keras.


Dan sejenak perasaan yang dulu tiba-tiba muncul kembali 'rasa rindu'. Kenangan itu terekam jelas di memorinya dan sekarang dia sedang teringat tentang itu semua.

__ADS_1


'Sial semua ini gara-gara Laras,' umpatnya dalam hati.


Mungkin jika aku punya kesempatan, aku akan mengatakan 'aku rindu'


__ADS_2