
SEBUAH TELEPON
___________________________________
"Pi."
"Wow pengin yang itu Pii." rengeku setelah melihat Arum manis terpajang bebas di penjual.
Ya sekarang aku dan Api sedang berjalan-jalan santai melihat berbagai macam barang jualan dari mulai aksesoris sampai jajanan. Yaa biar hati adem gitu loh, udah cape momong dua bocil rempong.
Biarin dikatain manja, bodoamat ya yang penting gue bahagia bisa manja-manja sama cogan blasteran Spanyol-jawa. Serr.
"Ntar gula darahmu naik." tolaknya secara halus.
"Bodoamat aku gak peduli pengin yang manis, udah sepet liat kamu," ucapku dengan rada kesal bercampur mengejek.
Api hanya menghela napas jengah dan langsung mengeluarkan satu lembar uang 50 ribuan."Pak dua."
Sang penjual langsung menyerahkan dua buah arum manis dengan bentuk yang berbeda.
"Kembalinya ambil aja." lanjut Api.
"Makasih mas."
"Hem." gumamnya.
"Nih..."
Aku menatap heran ke arah dua wadah Arum manis yang di acungkan padaku semua.
"Buat aku semua?"
"Biar kamu puas."
Aku tersenyum penuh kemenangan dan langsung menyambar dua wadah Arum manis tersebut dan langsung melahapnya dengan suka cita. Arum manis number one dong.
"Masih marah?" tanyanya setelah diam beberapa saat.
"Hm?" Aku balik bertanya sambil duduk di bangku dekat pantai.
"Masih marah padaku?" Ulangnya dengan amat sabar menghadapi ku.
"Sedikit."
"Kok sedikit?"
"Iya sedikit, merasa dibohongin aja sii. Tapi gak papaku, ntar sembuh sendiri kok."
Kok aku jadi mutungan ya gaes? padahalkan dia bukan siapa-siapanya kamu Juu? Bebas dong dia mau jalan sama siapa aja dan itu bukan urusanmu sama sekali.
"Apanya?"
"Sakit hatinya." jawabku polos.
Lah bener kan gatau kenapa kesel aja gitu pas tau dia batalin janjian malah jalan sama cewe lain. Coba aja di posisiku. Ehh bodoamatlah dengan semua alasannya.
"Maapin aku yang udah berbohong pada--"
"Sudah dimaafkan," potongku sebelum dia menyelesaikan ucapannya.
"Aku paham kok, apapun alasannya mungkin ada yang lebih penting.."
Gaes aku keliatan pengertian gak si?
Atau malah kelihatan nyindir?
Padahalkan emang iya, hehe.
"Saya sudah berjanji padanya untuk terakhir kali sebelum dia berangkat ke Amerika, saya harus menuruti permintaannya, hanya itu. Untuk soal saya bohong saya hanya takut kamu kecewa pada saya." jelasnya panjang lebar.
Tapi apa harus dengan berbohong padahalkan bisa dengan cara jujur dan baik-baik pasti aku ngertiin kok. Palingan aku gak mau ngomong sama dia 3 hari. Kenapa 3 hari? Karena melebihi dari 3 hari itu dosa dalam Islam marahan.
Oya seorang Api akan berbicara formal seperti itu ada dua kemungkinan yaitu:
1.Masalahnya serius
2.Ingin di dengerkan dengan baik.
Dan mungkin sekarang baginya ini sangat serius dan dia minta di perhatikan. Boleh baper gak?
"Dan asal kamu tau Ju, kamu itu penting bagi saya malah sangat penting, sejak pertama kali bertemu sampai sekarang kamu penting."
Gaes??
Seriusan nih gue boleh baper gak?
Gue dianggep penting dong?
Tapi itu lagi nyatain perasaan bukan si?
Kok hati gue ngarasanya aneh ya.
__ADS_1
"Pii itu tadi nyatain perasaan apa bukan si?
"Kok kuping gue ngarasa panas yaa?"
"Kalau bener, gak apik banget serius, harusnya nyatain tuh pake coklat biar romantis nah lo??"
Inilah Juan pandai sekali merusak suasana romantis, yaa begitulah itung-itung dapet pahala. Pahala dari mananya ogeb??
Api berdecak kesal padaku. "Dasar perusak suasana."
Aku hanya tertawa renyah mendengar dia kesal seperti itu. Tanpa aba-aba dia menggigit Arum manis yang masih di pegang tanganku.
"Ihh kok minta sii? Katanya gula darahnya bakal naik?"
"Biarin, biar manisnya gak cuma ke kamu doang, ngalir ke aku gitu."
Duh, ini anak pinter kalo ngegembel eh maksudnya ngegombal nih. Sebelkan masa dikatain manis dongg, auto nge-fly.
Plakk
"Gembel lu." ucapku sambil tanganku menarik lengan tangannya agak keras.
Dia meringis kesakitan sebentar dan detik berikutnya. "Gue gembel lu apaan?ratu gembelnya?" ledeknya.
Gaes
Bentar gue kalo jadi ratu gembel baik gak ya? Eh atau malah bikin rakyatnya sengsara? Gue kan tipenya suka mrintah-mrintah gak jelas. Eh malah rakyatnya yang sengsara malah tambah sengsara lagi. Jahad bener.
Kok mbahasnya ke situ ya??
Ya ampun berasa jadi anak alay aja. Bener si bibit alaynya udah kelihatan banget.
"Sini deketan ke kaki, biar gampang nendang mukamu." Geram diriku dan dia hanya tertawa mendengar aku yang kesal.
Aduh manis sekalii
Cogan satu ini. Apalah daya ceunah.
"Ampun beb, udah yuk aku lapar nih?gue yang traktir."
Apa traktir?
Gak salah denger gue nih?
Ah mumpung nih gue manfaatin aja nih
Ketajiranya Abang Api. Bodoamat dibilang matre, lu hidup emang gak pakai uang? Oya ding pake berlian Mohkn maap. Holkay mah bebas yekan. Canda astaghfirullahhaldazim, aku lapar soalnya.
"Mau kepiting."
"Ya beb?"
Dia menganggukkan kepala dan detik berikutnya beranjak berdiri dan langsung menggandeng jemari tanganku untuk berjalan disampingnya.
"Nih tangan nakal banget nih, dosa belum mukhrim." ujarku sambil menatap genggaman tangannya yang semakin erat.
"Tenang aja gue bakal jadi suaminya lu, itung-itung yang sekarang gue lagi latihan jadi suami yang baik." ucapnya dengan santainya.
Ingin ku tampol mulutnya. Sempet-sempet ngomongin kaya gitu. Dilamar juga belom. Aduh ngarep banget Asemm.
Ehh gak ding, aku juga belum tahu suka sama dia atau gak, soalnya bayang-bayang masa lalu gak bisa ilang dari hidupku. Padahal hari ini dia udah nikah.
Aku ditinggal nikah?
Ditinggal NIKAH
NI..KAH
Shhtt cukup udah takdir,sabar Juan. Ikhlaskan, cukup tau tanam dalam diri. Sekian terima kasih.
Aku harap aku bisa secepatnya untuk benar-benar melupakannya
***
Brukk
Aku merebahkan tubuhku di kasur setelah sekian lama merindukan sentuhan kasurku hari ini. Rasanya sangat nyaman dan enak.
Aku melihat ke jam dinding dan sudah menunjukkan pukul 11 malam dan bersamaan itu terdengar suara mesin mobil yang pergi dari rumah ini dan pasti itu Api.
Yaa Api mampir sebentar ke rumah setelah pulang dari pantai pukul 8 malam hingga pukul 11 dan dia disini entah mengobrol apa dengan orang laki-laki rumah ini sampai aku pun tidak boleh tahu sama mamahku. Katanya urusan laki.
Akukan jadi kepo, kan sebel.
Ting
Bunyi notifikasi pesan terdengar buru-buru aku membukanya dan jrengg aku dapat pesan dari cogan blasteran itu dan isinya sweet sekaligus ngeselin.
"Good night beb, udah malam tidur yaa. Jangan mimpi indah mimpiin aku aja. Biar kamu kangen."
Sialan gak si?
__ADS_1
Hih aku hanya membaca pesan tersebut dan mematikan hpku. Setelah itu aku mengganti pakaian ku cuci muka cuci tangan dan bergegaslah aku untuk bobo cantik.
Baru beberapa menit aku merasa akan tertidur nyenyak namun sialnya terganggu oleh suara ponselku.
Drtt
Drtt..
Berulangkali aku abaikan malah semakin membuat aku terganggu, berisik. Dengan amat terpaksa aku mengambil ponselku yang ada di nakas dan mengangkat telepon itu tanpa membuka mataku. Soalnya ngantuk banget nih.
"Halo," ucapku serak karena saking ngantuknya.
Namun detik berikutnya aku terperanjat kaget hingga terduduk mendengar suara yang sangat familiar di telepon.
"Aku sudah kalah, aku kalah, aku idiot! Kau tau aku berniat untuk mengakhiri hidupku hari ini, tapi sialnya bayanganmu dan senyumanmu menghantuiku, a-aku takut jika tak bisa melihatmu lagi setelah aku mati, aku pengecut," racaunya begitu putus asa.
Dia seperti orang yang sedang mabuk berat. Apa dia mabuk? Apa sesakit itu? Padahal hari ini pernikahan mereka? Apa itu menyakitkan sehingga ia ingin mengakhiri hidupnya sendiri?
"Kau mabuk Bara?"
Ingin sekali aku ingin bertanya banyak hal padanya, menenangkan dirinya. Namun sial hanya kata itu yang terlontar dari mulutku.
"Kenapa?? Kenapa? Apa aku tidak pantas untukmu? Kenapa kau memilihnya? Apa tak ada kesempatan untuk ku lagi? Aku hancur Juuu, hiks." Isakkannya terdengar jelas dan terekam dimemoriku. Ini kali pertama aku merasa dia begitu putus asa seperti ini. Apakah dia sudah mengetahui tentang Api? Apa perkataan dia tertuju kepadapada Api?
"Baraa," gumamku.
"Ahh tentu saja? Karena aku lelaki brengsek yang hanya bisa menyakitimu dan pergi meninggalkan mu. Aku bodoh!! Aku *****!!"
Rasanya begitu menyakitkan mendengar dia mencaci maki dirinya sendiri. Rasanya aku ingin menangis saja, aku tak kuat...
"Akuu bodoh aku--"
"Stop Bara!" tegasku dan seketika air mataku mengalir deras. Sial aku menangis.
Seketika suasana langsung hening. Entahlah sepertinya dia menunggu kelanjutan ucapanku.
"Jam berapa disana?" tanyaku yang masih sesegukan.
"Entahlah apa sangat penting?? Sekitar pukul 1 pagi , aku tak peduli.."
"Sudah tidur??" tanyaku kembali.
"Kenapa kau bertanya? Apa sangat penting? Aku bahkan tidak pernah bisa tidur nyenyak karena memikirkan mu dan sekarang kauu---" aku langsung terdiam saat dia membentak. Hatiku sangat sakit.
"Aku belum tidur..." lanjutnya lebih lembut dengan nada merasa bersalah.
"Kita sama-sama lelah, ini sudah malam."
"Bara, mabuk tidak baik untuk kesehatanmu dan tidak menyelesaikan semua masalah. Hentikanlah dan lekas tidur. Fokuslah pada kehidupanmu, dunia tetap berjalan walaupun tak ada kita, jangan terpaku dengan kisah kita yang entah apa endingnya."
"Juu.."
"Dengar Bara, jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, seberapapun jauh jarak memisahkan kita seberapapun banyak rintangan menghalangi kita pada akhirnya kita akan tetap bersama entah bagaimana caranya, itu rahasia Tuhan."
"Kita hanya bisa menjalankan rencana Tuhan dengan baik."
Entahlah semakin aku menenangkan Bara semakin hati ini rasanya begitu sakit mengatakan kalimat itu, aku seperti berbohong pada hatiku sendiri. Tuhan, aku bingung.
"Juu, sepertinya kita ditakdirkan untuk saling menyakiti."
"Dari awal bertemu sampai sekarang lebih banyak tangisan dibanding senyuman tentang kita."
Bara mengatakan hal itu sambil tertawa pelan seolah-olah menertawakan takdir yang menimpa kami berdua. Memang ada benarnya dan mungkin itu lah kita.
"Mungkin itu caranya kita saling mencintai," aku ikut tertawa pelan, entahlah mungkin lucu saja bagiku. Seakan takdir juga sedang mempermainkan perasaan kami berdua.
"Ju," gumamnya
"Hm?"
"Mau kah kau menunggu sebentar lagi. Aku janji akan kembali, merebutmu lagi darinya apapun alasannya."
Deg
Jantungku seperti sedang maraton, degupannya sama sekali tak terkontrol, entah karena pernyataannya tadi atau hal lainnya. Tapi ada satu sisi diriku yang takut itu hanyalah sebuah omongan kosong dan sekedar imajinasi.
"Aku akan kembali Juu."
"I love you always," ucapnya terdengar semakin melemah
dan detik berikutnya,
Tut.
Panggilan berakhir.
Roda itu berputar dan tak ada yang tau masa depan seperti apa yang menanti kita. Namun untuk sekarang aku hanya mencintaimu.
***
N
__ADS_1
geship sapa nih?
Aku si yes duanya...