
KARENA MABUK
___________________________________
Bara POV
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu itu mampu membuat aktivitas tidurku terganggu karenanya. Dengan terpaksa aku membuka mataku dan rasa pening di kepalaku seketika muncul. Membuat mataku kembali terpejam, tak kuat untuk berdiri apalagi berjalan untuk membukakan pintu.
"Masuk aja, gak dikunci." ucapku serak dan masih tengkurap di kasur. Rasanya kepalaku berat sekali.
Ceklek.
"Astaghfirullah." ucapnya setelah melihat keadaan kamarku seperti kapal pecah. Pecahan botol kaca di mana-mana, pokoknya kacau balau. Akibat aku mabuk semalaman dan sialnya aku tak tau apa yang aku lakukan saat aku sedang mabuk berat. Kuharap bukan kelakuan yang fatal.
"Sayang Ibu bawain obat nih biar gak pusing lagi." ucap wanita berhijab syar'i dan sekarang sudah duduk di tepi ranjang sebelah diriku yang mas masih terpejam.
"Ayo dong duduk, paksain sebentar." titah Ibuku sambil menarik ujung bajuku agar aku terduduk dan dengan amat terpaksa aku mengikuti perintahnya, duduk di sisi ranjang dan bersandar. Kepalaku rasanya seperti pecah.
Ibuku menyodorkan sebuah tablet dan segelas air putih."Ini." Aku langsung meminum obat itu .
"Tunggu obatnya bekerja yaa, kalau kamu mau tidur lagi ya gak papa." Elusan di rambutku mampu membuat hatiku semakin tenang.
Aku menempatkan posisi kepalaku di paha Ibuku yang sedang duduk. Ibuku yang paham langsung menepuk kepalaku pelan penuh kasih sayang.
"Bara apakah sangat menyakitkan hingga kau mabuk seperti ini?" tanya Ibuku tiba-tiba dan masih tetap menepuk kepalaku.
"Ibu." gumamku.
"Hem??"
"Aku ingin menjadi anak kecil lagi, menjadi dewasa tidak menyenangkan tidak seperti yang ku bayangkan dulu--"
"Kenyataannya sangat menyakitkan Bu," aduku.
"Aku ingin bermain dan tertawa riang tanpa harus memikirkan tentang cinta ibu."
"Memanggang BBQ bersama ibu dan piknik seperti dulu lagi," lanjutku dan terlihat Ibuku tersenyum sedih.
"Saat kecil kukira cinta itu sangat indah dan membahagiakan namun setelah aku dewasa cinta itu sangat rumit dan menyakitkan,aku ingin seperti dulu Bu," rengekku sambil menenggelamkan wajahku ke perutnya.
"Sayang, dulu Ibu pernah berfikir seperti itu. Saat putus cinta Ibu seperti orang yang putus asa, tapi jika Ibu tak kuat dan bertahan dengan Ayahmu mungkin sekarang kau tak akan menjadi putra Ibu. Ibu tak menyesal dengan semua rasa sakit itu, mungkin Ibu akan menyesal jika Ibu mundur dan pergi dari Ayahmu, kau tak akan jadi anak Ibu mungkin orang lain. Ibu bersyukur kau disini masih bersama ibu," aku merasa sentuhan Ibuku benar-benar menenangkan diriku, suaranya begitu lembut. Ibuku benar-benar wanita yang hebat, dia mendidiku dengan begitu sempurna, tapi aku selalu gagal menjadi anak yang baik, aku menyesali hal itu.
"Bu, aku akan tetap menjadi anakmu dalam kehidupan ini entah dalam keadaan apapun itu."
__ADS_1
"Sayang, kau harus tegar dan kuat menghadapi ujian ini, semua yang terjadi pasti ada alasannya. Ibu percaya kau bisa Nak, soal perempuan itu Ibu yakin dia perempuan yang baik maka dari itu kau harus berubah baik sayang."
"Ibu, aku sayang banget sama Ibu." Aku mengeratkan pelukan pada perut Ibuku.
"Bara Ibu--"
"Tidur lagi saja yaa," ucapnya sambil mengecup rambutku.
Aku langsung memejamkan mataku dan kemudian mengembara ke alam mimpi.Sangat nyaman dan membuatku tenang.
***
Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Ternyata aku sudah tidur cukup lama.D an syukurlah obatnya sudah bekerja sehingga pening di kepalaku sudah membaik.
Aku berjalan gontai ke arah ruang makan, aku lapar dari semalam perutku kosong malah di isi miras, biasalah bodohnya kumat. Bergegas aku ke ruang makan, jika sudah pukul 1 siang biasanya Ibu akan memasakan untuk ayah dan aku. Yaa, makan siang bersama. Kata Ibu agar aku dan Ayah ingat rumah dan tak terlalu fokus pada pekerjaannya.
"Sudah membaik?" tanya Ayahku sedikit sarkas. Baru beberapa detik aku duduk di ruang makan sudah di hujan puluhan pertanyaan.
"Hm."
"Kau tau gara-gara kejadian semalam saham kita mengalami penurunan. Kita rugi besar Bar."
Mulai lagi Ayahku, apa yang aku lakukan semalam menurutku sudah benar, untuk apa menikahi orang yang sama sekali tak aku cintai.
"Pah aku ingin makan dengan tenang, soal itu aku berjanji akan membereskan semuanya."
"Argh.."
"Hm."
"Makan yang kenyang setelah itu kau ke kantor dan urusi semua itu, mengerti?"
"Iya pah." Rasanya aku ingin libur saja, badanku terasa pegal semua namun untuk sekarang aku harus menuruti perintah Ayahku, jika aku menolak masalahnya akan tambah panjang.
"Permisi Tuan, Mr.Leonardo datang berkunjung." ucap Asisten Ayahku di earphone yang sudah terpasang setiap orang disini dan saling terhubung. Yaa agar lebih mudah dalam berkomunikasi dan untuk berjaga-jaga.
Semua orang yang di ruang makan tampak kaget hingga kompak berdiri, termasuk aku.
Yaa, maksudku seorang Leonardo datang ke sini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sangatlah langka apalagi dia berkunjung ke area musuh bebuyutannya.
Yaa keluarga Ayahku dan Leonardo itu sudah lama saling bermusuhan dan bersaing dalam dunia bisnis maupun hal lainnya dan yang selalu memancing masalah terlebih dahulu adalah Leonardo. Mengingat kejadian di pesta dulu, aku menjadi geram dan ingin sekali memukul wajahnya lagi.
"Izinkan dia masuk," perintah Ayahku.
***
"Selamat datang di rumah kami Tuan Leonardo."
Ayahku menampilkan senyum palsunya dan tak beranjak untuk menyalaminya dan hanya tetap pada posisinya duduk bersandar di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Sambutan yang baik, Tuan Bima, aku sangat tersanjung," puji Leonardo sedikit sarkas dan mungkin hal itu adalah sindiran. Lantas Leonardo duduk di sofa yang saling berhadapan dengan Ayahku.
"Ada apa Anda kemari, tumben sekali orang sibuk seperti Anda berkunjung ke rumah kami."
"Apa kau sangat membenciku Pak Bima, hingga kau tak ingin aku berkunjung?" ujarnya sambil sedikit tertawa. Aku yang disamping Ayahku sangat geram. Kepalan tanganku siap untuk meninju pipinya.
"Baiklah baiklah aku kesini ingin membicarakan urusan bisnis dengan Anda."
Ayahku mengernyitkan keningnya, namun tetap berwibawa.
"Bagaimana kita bekerjasama?" tawarnya tiba-tiba.
"Maksud Anda?" tanya Ayahku sedikit membentak karena saking kagetnya.
"Tenang Tuan ,saya paham. Kondisi perusahaan Anda setelah kejadian semalam sedang memburuk. Saham Anda turun drastis bukan? Maka saya di sini ingin menawarkan sebuah kerja sama dengan Anda. Saya tak akan mengungkit kejadian pesta silam. Tenang saja, kita akan mendapat keuntungan drastis jika dua kubu bersatu."
"Saya bilang apa maksud Anda?" bentak Ayahku, aku yang di sampingnya hanya menghela napas panjang. Aku paham maksud Ayahku, seorang Leonardo tidak akan pernah benar-benar membantu jika dia tak ada keuntungannya.
Leonardo tertawa renyah mendengar bentakan ayahku. "Anda sudah semakin tua, jangan marah-marah, niat saya baik lho. Bekerja sama dengan Anda dan menyatukan dua kubu untuk berbaikan."
Ayahku semakin geram, ia mendesis pelan. "Bagaimana jika Anakmu di jodohkan dengan Adik saya," celetuknya.
Sontak aku berdiri. "Apa Anda sudah tidak punya pikiran Tuan Leo, Anda tahu baru saja pernikahan dibatalkan dan sekarang Anda ke sini untuk menawarkan Adikmu itu."
Leonardo memang seumuran denganku, iya nilai plusnya dia sangat menyayangi Adiknya itu dan akan melakukan apapun demi Adiknya dan aku paham kenapa dia repot-repot kesini dan berbasa-basi. Alina namanya dia adik Leo dan dia teman kuliahku di Harvard university, yaa dari situlah Alina mengejar-ngejar diriku hingga aku ilfil sendiri.
Sedangkan untuk nilai minesnya, jika ada kesempatan Leonardo akan berusaha menjodohkan Adiknya dengan diriku. Sial, dan semua permusuhan ini bermula karena penolakan yang aku lakukan pada Alina. Bagaimana aku tidak menolak, jika Alina meminta aku bermalam di hotel denganya. She is crazy. Dia sangat terobsesi dengan diriku.
"Saya berniat baik Bara, Alina yang lebih cocok mendampingimu dari pada Dira ataupun ****** yang kau selamatkan waktu itu."
"Tuan Leo, jaga ucapanmu!! Beraninya kau!" Aku sudah siap menghantam mukanya namun sial Ayah menghentikannya. "Bara stop!"
Aku mengatur amarahku yang sudah memburu, beraninya dia menyebut Juan dengan kata yang tidak senonoh seperti itu.
"Tuan Leo saya tak akan pernah mau menjodohkan Adikmu itu dengan Puteraku, jadi kubur impianmu dalam-dalam. Soal saham saya percaya Bara akan menyelesaikannya dengan baik. Jadi silahkan anda keluar dari rumah saya."
Ucap ayah dengan tegas dengan tatapan setajam elang.
"Baik Tuan Bima, tapi pikiran baik-baik nasib perusahaan mu itu. Selamat bekerja," Leo menyeringai, "dan saya tak akan membiarkan Anda berhasil," lanjutnya.
Leonardo mengatakan itu amat santai sambil menampilkan senyum liciknya, lalu beranjak berdiri dan melenggang pergi begitu saja.
Aku melampiaskan emosiku ke meja kaca di sampingku hingga retak. Darah mengalir dari ruas jariku. Tak ada rasa sakit, malahan membuat diriku sedikit lebih lega.
"Obati tanganmu dan lekas ke kantor!" titah Ayahku sedikit ketus ,yaa walaupun terselip rasa khawatir pada anaknya. Ayahku adalah orang yang sangat sulit mengekspresikan perasaan nya pada orang lain kecuali rasa marah.
Tapi tetap bagiku Ayahku adalah salah satu orang yang akan tetap mendukungku apapun yang terjadi padaku.
Kini hari-hari perjuanganku dimulai. Menyelesaikan masalah di sini lalu kembali ke Indonesia. Entahlah aku hanya ingin menemuinya setelah urusan di sini usai.
__ADS_1
'Beribu luka dan tangis akan ku lalui agar tetap melihatmu walaupun dari jarak yang jauh'