Menyukaimu Mas CEO

Menyukaimu Mas CEO
KETUA


__ADS_3

'KETUA'


____________________________________


"Aaahh sakit, pelan-pelan Bi," ringisnya kesakitan saat lebam di pipinya diobati.


"Iya Den,"


"Brother, what's wrong with you?" tanya Kakaknya setelah mendengar berita tentang Adiknya yang terluka, ia bergegas ke villa ini dan sekarang mendapati tontonan seperti ini.


"Aku dipukuli gadis hingga seperti ini." jawabnya sedikit canggung.


"Ohh goddamit, keterlaluan gadis itu, dia harus diberi pelajaran."


"Berilah dia pelajaran Kak, kalau bisa keluarkan dia dari sekolah, aku benar-benar membencinya."ucapnya dengan mata tajam penuh balas dendam.


"Wait." Sang kakak itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Hai honey."


"..."


"Aku butuh bantuanmu sekarang, ini tentang Adik kesayanganku, dia dipukuli hingga babak belur."


"..."


"Iya cepat lah datang ke sini, kumohon!"


"..."


"Ok thanks, i love you. See you."


Sang kakak mematikan telepon dan kembali menatap Adiknya dengan tatapan penuh kemenangan lalu berkata, "Stay santuy my brother, dia akan dikeluarkan dari sekolah."


"Are you sure?"


"Heeh"


"Oh my God, thanks, aku puas mendengarnya."


****


"Mbak Mbak!!"


"Apaa?"


"Lu percaya gak sama cinta pandangan pertama?" tanya Gita saat sedang sarapan bersama keluarganya.


"Lu lagi Kesambet apa Dek?"


"Gue kok tadi liat berita tentang perpindahan kekuasaan Wardani's Entertainment dan gue liat CEO baru yang namanya Barata Dewanggana Wardani, sumpah ganteng banget sampe gue jatuh cinta sendiri, gue jadi keinget sama seseorang."


Juan yang mendengarnya langsung tersedak, batuk-batuk.


"Alon-alon nggih Mbak makannya." nasihat mamahnya sambil menyodorkan segelas air bening.


"Nggih Mah." Juan langsung meminum air itu dengan rakusnya sampai habis.


"Alay lu Git, pacar lu mo di kemanain? Tuh Ali mau lu buang?"


"Dia mah cadangan aja kalo gue gak berhasil dapet CEO gans itu." Gita tampak sangat percaya diri saat mengatakan hal itu.


"Emang lu gak bakal bisa dapet CEO itu, mimpi!! Dia kan mo tunangan!" ucap Cica dengan nada mengejek.


"Hushh." Bibir Gita manyun mendengar ucapan Kakak pertamanya.


Sedangkan lainnya melihat tingkah Gita yang seperti anak kecil hanya dapat tertawa saja.


"Udah ah Anin mau berangkat dulu udah dijemput Ade." Anin beranjak berdiri dan berpamitan satu per satu pada Kakak dan Ayah Ibunya.


"Mbak lu jangan lupa datang ke sekolah gue!" bisik Anin di telinganya agar Ayah dan Ibunya tak tahu kalau Anin kena masalah, kalau tahu bisa bisa dimarahin tujuh hari tujuh malam. Anin mengatakan itu saat sedang berpamitan dan hanya dijawab dengan 'hm' oleh Kakaknya.


"Hati-hati ya Nduk, mboten pareng nakal nggih! Kowe kue wis gede. Kudu saget jaga dirine dhewe, ngerti?" ucap Ayahnya yang terdengar seperti wejangan, saat giliran Anin pamitan dengan Ayahnya.


"Nggih Pak, nggih Mah. Anin pamit, Assalamualaikum."


Anin pun bergegas pergi disusul oleh Juan yang beranjak dari kursi dan menyalami kedua orang tuanya.


"Juan juga mau berangkat nih, Mah Pak aku berangkat dulu ya."


"Assalamualaikum"


"Waalikumsalam."


***


Juan sekarang sedang berjalan menuju lift ke lantai 32 atau lebih tepatnya ke kantor penerbitan buku.


Yah, menyempatkan waktu untuk bertemu dengan Mr.Charlie untuk membahas buku-bukunya.

__ADS_1


Sesaat dia akan menekan tombol ke lantai 32, seseorang masuk ke dalam lift dengan amat tergesa-gesa.


"Hosh... hosh..hosh."nafas wanita itu memburu dan terlihat sangat lelah.


"Anda baik-baik saja?


Mau air mineral?" tawar Juan padanya sekalian mengacungkan botol mineral pada wanita bersanggul anggun itu.


Wanita itu tersenyum ramah dan menerima air mineralnya dengan suka ria dan berkata, "Terima kasih." Wanita tersebut meneguk habis tanpa ada yang tersisa, terlihat sangat kehausan.


"Ahh perkenalkan namaku Angeline, aku bekerja di kantor penerbitan Sastra pusaka."


"Aku Yuanita, aku adalah penulis buku."


"Senang bertemu denganmu Yuanita, ahh kau kan yang akan bertemu dengan Mr.Charlie?"


"Iya betul sekali."


"Aku asistennya."


"Wow senang bertemu denganmu juga Bu Angel."


Teng


Pintu lift terbuka dan menampilkan sebuah ruangan yang bertuliskan 'Sastra Pusaka'


"Mari Bu Yuan ikut saya," ajak Angeline dan berjalan di depanku sebagai pemandunya.


"Ah iya."


"Selamat pagi."


"Pagi."


"Hai Bu Angel."


Begitulah sapaan ketika Juan pertama kali memasuki kantor ini, sedangkan Angela hanya menjawab sapaan dengan senyum ramahnya.


Tok


Tok


Tok


"Permisi Tuan Charlie, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda."


"Silahkan masuk Bu Yuan."


"Terima kasih."


"Saya permisi."


Angeline meninggalkan Juan dan kembali ke mejanya untuk kembali berkerja.


Juan membuka kenop


pintu dengan sopan dan masuk secara perlahan. "Permisi."


"Ahh silahkan masuk saja Bu Yuan."


"I-iya," ucapnya sedikit kikuk.


Mereka saling berjabat tangan."Selamat datang di kantorku Bu Yuan." sambut Charlie disertai  senyum ramahnya itu.


"Silahkan duduk." Charlie mempersilahkan Juan untuk duduk bersamaan dengan dirinya duduk di kursinya sendiri.


"Terima kasih." Juan mematuhi perintahnya dan segera duduk dengan nyaman.


Juan langsung menyerahkan setumpuk kertas naskah buku nya.


"Pasti kau sangat sibuk hingga sepagi ini kau sudah datang ke kantorku."


"Hm, pekerjaan menuntut saya begini."


"Apa job anda di luar sana hingga sesibuk ini?" tanya Charlie.


"Sekertaris Costa's company."


"Wow rupanya seorang sekertaris luar biasa, namun mengapa kau tetap ingin menerbitkan bukumu ini?"


"Sekedar hobby Mr.Charlie dan ya mungkin ini sebuah cita-cita lama saya."


"Excellent ,okay aku akan melihat revisi ulang ini, semoga beruntung Bu Yuan."


"Thank you, saya pamit Mr.Charlie."


***


Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar bersetelan jas hitam yang pas dengan tubuhnya tengah asyik berkutat dengan berkas-berkas di mejanya.

__ADS_1


Dia melonggarkan dasinya kemudian menyeruput secangkir kopi berharap beban pikirannya sedikit berkurang. Namun pendengarannya terganggu oleh suara ketukan pintu ruangannya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." tegas pria itu.


Dan munculah seorang wanita cantik, menggunakan setelan jas yang dilengkapkan dengan jilbab yang menutupi rambutnya, menambah kesan ayunya.


"Permisi, Tuan William, semua data yang Anda inginkan sudah saya siapkan." ucap wanita itu lemah lembut, tangannya menyerahkan setumpuk dokumen pada William.


"Rupanya kau Juan, taruh saja di sini, nanti aku akan mengeceknya kembali."


Juan pun meletakkan dengan hati-hati dokumen itu di meja William.


"Kau sudah makan siang?" tanya tiba-tiba William membuat Juan sedikit terkejut mendengarnya.


"Belum Pak, saya akan makan siang setelah Anda." ucapnya sopan.


"Bagaimana kita makan siang bersama di restoran biasa?" ajak William dengan tatapan dingin namun penuh harap.


"Maafkan saya Pak, saya tidak dapat menemani Anda makan siang."


"Ada apa?" William sedikit meninggikan suaranya mendengar penolakan dari mulut Juan.


"Sebenarnya saya kesini ingin meminta izin sebentar pada Anda, saya harus ke sekolah Adik saya, ada masalah dengannya, Saya akan kembali setelah jam makan siang berakhir. Maafkan atas ketidak profesionalnya saya."


Juan mendengar suara helaan nafas panjang dari mulut William. "Kau di panggil Kepala sekolah?"


"Sebagai wali muridnya."


William tersenyum kecut, namun apa daya perempuan yang di hadapannya adalah perempuan yang sangat mementingkan keluarganya. "Kau bisa pergi dan kau bisa kembali setelah urusan kau selesai."


"Terima kasih atas kebaikan Anda Pak. Lalu, untuk makan siangnya saya sudah pesankan untuk Anda. Mungkin sebentar lagi akan sampai. Saya Permisi."


William mengusap wajahnya kasar berulangkali. 'bagaimana bisa wanita seperti dia masuk kehidupanku seperti ini.' batinya berkomentar.


***


Juan memasuki gerbang sekolah 'SMA unggulan Bangsa' dan mendapati berbagai pemandangan di waktu istirahat seperti ini, yaa mengingatkan dirinya semasa sekolah dulu.


"Mbak!!!" sapa Anin sedikit berteriak agar sang empu dapat mendengarnya.


"Gue tungguin lu, gue kira lu gak dateng mbak." Anin menghampiri Juan sambil berlari.


"Maunya si gitu tapi gue keingetan sama lu. Gak tega gue."


"Tambah sayang deh gue sama lu mbak." Anin merentangkan tangannya meminta dipeluk, namun bukan pelukan yang ia dapat malah sebuah jitakan yang mendarat ke kepala Anin. "Lebay lu, udah cepet anterin gue ke ruang Kepsek."


"Hehe, iya-iya."


***


"Assalamualaikum."


"Waalikumsalam, silahkan masuk." Suara khas berat menyilahkan Juan untuk masuk ke ruangannya.


"Ibu Ananda Najma Anindita Sukirto?" Pria itu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan Juan menerima uluran itu dengan senyum mengembang.


"Aw, maaf saya Kakaknya."


"Oalah jadi begitu, tak masalah silahkan duduk."


"Terima kasih."


"Jadi saya kepoin masalahnya langsung, Anda tahu sendiri untuk kali ini perbuatan Anin tidak dapat di tolerir lagi, ini sudah ke 10 kalinya ia dipanggil dengan alasan yang sama."


"Membela orang yang dibully, apakah itu suatu kesalahan?" timpal Juan dengan nada sopan namun agak menyindir.


"Saya tahu niat Anin itu baik namun tidak semua hal dapat dilakukan dengan kekerasan."


"Dan tidak semua hal harus dilakukan dengan adu mulut bukan Pak? Kadang seseorang tidak dapat diberikan nasehat lagi kecuali dengan fisik dan menurut saya Adik saya sudah benar. Jika tidak ada dia lalu siapa lagi yang akan membela mereka para korban bully di sekolah ini. Coba bayangkan itu anak Bapak yang dibully? Adek saya hanya memberi pelajaran yang pantas untuk para tersangka agar bisa merasakan sakitnya dibully seperti itu."


"Dan jika Bapak ingin menghukum Adik saya, hukum saja dengan hukuman setimpal karena telah bertengkar tapi jangan Bapak keluarkan dia dari sini karena tempat ini adalah cita-citanya sejak kecil." ucapnya dengan penuh keyakinan dan permohonan.


"Namun masalahnya, anak yang dia buat babak belur adalah Adik dari calon tunangan pemilik sekolahan ini dan akan sangat sulit untuk mempertahankan Anin selain dari keputusan pemilik sekolahan ini."


"Bapak benar, kalau begitu izinkan saya untuk bertemu dengan beliau." ucap Juan penuh tekad di matanya.


"Anda beruntung, beliau ada disini sekarang, Anda bisa menuju ke ruang Ketua. Mari saya antarkan."


"Terima kasih."


***


Thanks sudah membaca

__ADS_1


__ADS_2