
MALAM PESTA
Heyo Whatsupp, gimana kabar kalian hari ini? Tetap semangat yo
Happy reading
____________________________________
"Tuan, semua data yang Anda inginkan sudah saya dapatkan," ucap seorang Asisten pada Tuannya yang sedang mengaitkan kancing jasnya.
"Apa yang kau peroleh?"
"Tidak banyak yang berubah hanya saja sekarang beliau bekerja sebagai sekertaris di Costa's company."
"Sekertaris ?"
"Iya sekretaris dari Pak William."
"Menarik, cari tau keseluruhannya." Senyuman tersungging di bibirnya.
"Siap Tuan."
****
"Kau baik-baik saja Ju?" William berani bertanya setelah beberapa saat memperhatikan perubahan raut muka Juan yang tampak lebih pucat sesaat setelah sampai di aula pesta.
Juan hanya menjawab dengan senyum kecilnya.
"Kalau kau tak nyaman, bilang saja, kita akan pulang."
"Tidak masalah Pak William, saya baik-baik saja."
Sebenarnya Juan sadar bahwa William menaruh rasa padanya namun ia pura-pura tidak tahu, dia berharap ketidaktahuannya akan membuat William mundur secara perlahan.
Di tempat lain seorang pria menatap tingkah mereka berdua dengan tatapan yang tak mengenakan. Ada perasaan marah melihat mereka berdua terlihat sangat akrab.
"Bara, kau belum menyapa tamumu dari Costa's company."
"Ayo," ajak Dira sambil mengaitkan tanganya ke lengan Bara dan berjalan menghampiri mereka berdua. Bara hanya diam dan mengikuti Dira saja.
"Selamat malam, selamat datang Tuan William," sambut Dira suka cita.
Juan hanya diam saja dan terkadang melirik ke arah tangan Dira yang bergelayut manis di lengan Bara, sedikit ada rasa kesal menatapnya.
"Selamat atas pertunangan kalian." William menyalami Bara dan hanya di balas senyum oleh Bara.
Dira menjabat tangan Juan. "Apakah ini sekertarismu Tuan William? Cantik sekali. Senang bertemu dengan anda Nona--" Dira menggantungkan ucapannya.
"Yuan, selamat untuk kalian berdua." Juan membalas jabatan tangan Dira.
Entah kenapa Bara merasa kesal melihat Juan yang sepertinya baik-baik saja yang mengetahui dirinya akan bertunangan.
William menyenggol lengan Juan dan memberi isyarat padanya agar bersalaman dengan kolega bisnisnya itu. Dengan amat terpaksa Juan menjulurkan tangan kanannya di iringi senyum palsunya.
Bara menyalami tangan Juan, hal yang pertama ia rasakan ialah 'dingin' tangan wanita di hadapannya sangat dingin. Bara hapal kalau tangan wanita satu ini dingin berarti menandakan dirinya sedang gugup.
"Selamat Tuan Bara, semoga kalian berbahagia."
Ingin sekali Bara meralat ucapan Juan 'harusnya kita yang berbahagia Juan' batinnya.
Untuk beberapa saat manik mata kedua orang itu saling berpandangan, entah apa yang sedang mereka bicarakan lewat tatapan yang sama-sama dingin.
"Uhuk." Dira terbatuk ahh...pura pura batuk, memberi isyarat agar mereka berdua sadar dan sontak tangan Juan langsung melepaskan jabatan Bara. Dia langsung mundur beberapa langkah dan menunduk.
Bara hanya tersenyum kikuk melihat tingkah Juan yang menurutnya menggemaskan.
"Selamat menikmati acara ini,kami permisi. Ayo sayang."
Bara dan Dira pun meninggalkan mereka berdua untuk menyambut tamu penting lainnya.
__ADS_1
"Juan, kau ingin makan?" tanyanya memecahkan keheningan diantara mereka.
"Saya sudah kenyang Pak William."
"Kalau begitu, sebentar aku harus menemui rekan bisnisku lainnya. Kau tunggulah disini atau berjalan-jalanlah."
"Baik." Hanya itu jawaban yang dilontarkan Juan.
***
Pikiran Bara tak bisa fokus, raganya memang bersama Dira tapi pikirannya terus saja tertuju kepada wanita berhijab yang sedang duduk sendirian di meja tamu, sedangkan Bossnya tengah asyik bercakap dengan orang lain.
"Pak Bara, kau mendengarkanku?"
Dira yang yang di sampingnya, langsung menyentuh bahu Bara dan menggoyangkannya.
"Pak Bara."
Seketika lamunannya buyar karena suara tegas lawan bicaranya. "Ah iya maaf pak Freddy," sahut Bara agak terkejut.
"Anda sedang memikirkan sesuatu?"
"Ah iya, maaf aku tak bisa fokus, saya sedang banyak pikiran."
Dira hanya tertawa ringan sekedar basa-basi.
"Saya memaklumi, kalian pasangan muda, pasti akan banyak pikiran yang harus kalian selesaikan."
Pikirannya berubah kacau tak menghiraukan lawan bicaranya dan tiba-tiba matanya memanas melihat Juan sedang didekati oleh seorang lelaki mata keranjang. Juan terlihat berusaha menjauh tetapi lelaki brengsek itu tetap mendekati Juan, hingga dengan beraninya dia menyentuh tangannya dan menggenggamnya. Lebih geramnya tak ada seorang pun yang menghentikan perbuatan bejat lelaki itu, mereka acuh tak acuh, ahh.. mungkin karena yang melakukan itu adalah CEO dari perusahaan besar yang kedua setelah Perusahaan Wardani.
"Maaf Tuan bisa Anda lepaskan tangan Anda?" Juan berusaha melepas tangan lelaki itu namun nihil, tenaga lelaki itu begitu kuat.
"Ikutlah bersamaku cantik, temani aku sebentar saja."
Tess
Tanpa sadar air mata Juan turun, dia terus memberontak agar lelaki itu melepaskan tangannya.
Bughhh
"Barata!" pekik Dira melihat Bara dengan sadisnya meninju perut menendangnya, menghantam berkali-kali wajah lawannya hingga babak belur.
"Dasar brengsek, tidak tau diri!" umpatnya berulangkali sembari terus melayangkan tinjunya.
Juan yang melihat hal itu hanya diam mematung, dia tak menyangka apa yang sedang terjadi. Ini semua gara gara dirinya. Dia merasa bersalah.
Ada beberapa bodyguard yang mencekal pergerakan Bara sebelum semuanya lebih fatal.
"Hentikan Barata Dewanggana!!" Suara berat yang mengintimidasi itu langsung membuat semua yang hadir bergidik ngeri.
"Bawa Tuan Leonardo ke Rumah sakit!"perintahnya selanjutnya.
Bara tengah mengatur nafasnya yang masih memburu namun detik berikutnya...
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya hingga memberikan bekas telapak merah dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Bara hanya meringis, Juan tak tega melihat itu semua.
Untunglah pesta ini diadakan tertutup jadi tidak ada wartawan yang meliput tragedi ini.
"Tidak tau diri!" bentaknya sinis.
"Ayah," gumam Bara.
"Anak kurang ajar."
Plakk
Ayahnya kembali memberikan sebuah tamparan di pipi kiri Bara.
__ADS_1
Ketika Ayahnya akan menampar lagi sebuah tangan mungil mencegahnya.
"Saya yang bersalah Tuan, saya yang pantas mendapatkan hukumannya," ucap Juan beraninya sambil menatap lekat wajah sang lawan bicaranya.
William tersentak kaget dan khawatir melihat sekertarisnya berhadapan dengan seorang Bimasena yang terkenal kejamnya.
"Ahh wanita ini rupanya," gumam Bimasena dengan tatapan mengejek.
"Ayah akuu--" ucapan Bara terpotong oleh sang Ayah yang memberi perintah. "Kalian berdua ikut aku sekarang."
"Tapi--"
"Tak ada bantahan Barata!"
Bara menatap sekilas ke arah Juan, Juan mengangguk meyakinkan diri mereka akan baik-baik saja.
"Kalian semua lanjutkan pestanya, jangan pikirkan apa yang sudah terjadi." ujarnya sebelum melenggang pergi disusul oleh Juan dan Bara di belakang.
Keadaan pesta kembali seperti semula seolah tidak ada kericuhan sama sekali. Ya, walaupun kejadian tadi mungkin akan menjadi bahan gossip tamu undangan malam ini.
"Ibu, aku takut Bara--" adunya kepada Ny.Arimbi lebih tepatnya Ibunda dari tunangannya itu.
"Biarkan saja toh itu Ayahnya sendiri, mereka pantas mendapatkannya." Dengan lembut Arimbi mengelus rambut Dira yang terurai panjang.
Dira berharap semoga Bara tak terkena masalah lebih jauh lagi.
***
Mereka bertiga memasuki ruangan serba putih dari catnya dan furniture yang terpajang di sana dan satu lagi ruangan ini kedap suara, sehingga orang luar tak akan mendengar pembicaraan mereka.
Plakk
Untuk sekali lagi Bara mendapatkan tamparan di pipinya.
"Kau tau salahmu Bara?"
"Kau itu CEO! Orang terpandang di negeri ini! Bisa-bisanya kau melakukan hal seperti tadi. Kau tau namamu bisa saja tercoreng karena tindakanmu yang gegabah, memukul Tuan Leonardo, kau masih waras?"
"Ayah dia melakukan hal yang tak senonoh pada Juan dan aku tak bisa berdiam diri, sedangkan Juan tak kuasa melepaskan dirinya dari pria brengsek seperti dia." ucapnya penuh ketegasan dan ketulusan.
"Ayah tau, tapi kau harus tau melawan seorang Leonardo adalah hal yang mustahil tuan Barata Dewanggana!" Suara Ayahnya semakin meninggi.
Juan bingung harus berbuat apa, ini salahnya dia membuat Ayah dan anak bertengkar hanya karena dia.
"Kau Juan ?"tanya Bima menatap Juan.
"Iya."
"Kau tau kariermu sudah diujung tanduk karena kejadian ini."
"Iya Tuan."
"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Berurusan dengan Pak Leonardo sama saja mencari mati. Kau ingin resign atau di keluarkan?"
Pernyataan Bima membuat dua insan di depannya tercengang, pasalnya Juan tak ingin memilih diantara pilihan kedua itu.
"Ayah.."
Juan menelan salivanya susah payah."Saya akan--"
"Pikirkan baik-baik,Tuan Leonardo tak akan membiarkan mu begitu saja."
"Aku akan mengurus semua ini,namun pilihan tetap ditanganmu."
"Aku mengatakan ini demi kebaikanmu Nona Juan."
"Aku masih mengingatmu setelah 10 tahun, kau anak yang baik dan tak akan pernah berubah, jadi pikirkan baik-baik. Aku akan membantumu."
Omongan Bima bukanlah kebohongan, dia tulus mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Ayah..."gumam Bara.
'Sekalipun kau ada di ujung Utara dan aku di ujung Selatan, akanku pastikan kita akan bertemu kembali, karena itu lah takdir kita.'