
PANTAI
____________________________________
"Bunda!" teriakan nyaring itu membuat perhatian semua orang tertuju padanya.
"Bun Kala nakal!!!" adu Gladys pada Ibunya.
"Nakal gimana sayang?" tanya halus Dita pada anaknya.
"Kala lusak istana dydy,di endang pake kaki," rengek Dydy dan pandangan Dita langsung tertuju istana pasir yang rusak di sana.
Kala hanya tersenyum licik, usianya dengan Gladys tidak jauh hanya terpaut 1 tahun. Tapi jika Kala bertemu Gladys pasti akan berakhir dengan Gladys yang menangis, walaupun begitu mereka terkadang terlihat akrab.
"Kala jangan nakal, main bareng ama Dydy ya," ucap halus Dita pada ponakannya.
"Gak mau!!! Dydy jelek!!!" Kala langsung berlari dan memeluk Cica. Cica hanya tertawa melihat tingkah Kala.
"Ishh anakmu Ca."
"Sabar boss Kala emang kayak gini." ucap Cica diiringi tawa.
"Kala gak bole nakal. Nanti gak punya temen." ucap Cica pada anaknya yang masih memeluk dirinya.
"Kala punya Gipsy, punya temen!!"b ela Kala yang masih membenamkan kepalanya di tengkuk Cica.
Gipsy itu robot Transformer yang di kasih oleh aku sewaktu dia ulang tahun 3 bulan yang lalu. Semenjak itu dia sangat menyayangi Gipsy, hingga menganggapnya teman.
"Kala nakal Bun, hiks hiks," tangis Gladys pecah seketika setelah diejek jelek oleh Kala.
"Kala bilang Dydy elek, hikss gak uka."
"Sini sama tante Juan aja!!" Aku menggendong Gladys yang masih sesegukan.
"Main sama om juga yaa," sahut Api yang daritadi juga memandangi drama kedua bocah kecil ini bersamaku.
Dan yaa sewaktu dia datang ke rumah tadi, Api bersikap sangat ramah dan bersahabat dengan semua anggota keluargaku, dari mulai membantu Bagus mengangkat barang bawaannya lalu bermain catur sebentar bersama ayah dan pakde-pakdeku sebelum berangkat ke pantai. Dia juga sangat enak diajak mengobrol dengan wanita di keluargaku.
Entahlah aku rasa dia sudah dekat dengan keluargaku. Ada perasaan lega di hatiku melihat Api bisa berbaur dengan keluarga yang penuh ke anehan ini.
Dan semua itu tak luput dengan kata 'cie' dari seluruh keponakanku ketika aku sedang bersamanya. Emang yaa kalau ketemu orang ganteng bawaannya pengen sirik mulu.
"Dydy mau main air!!" rengek dydy.
"Mbak gimana nihh??" Ya karena Gladys anak orang jadi aku harus hati-hati dong.
"Ya gapapa yang penting gak bole ketengah-tengah."
"Okee Dydy kita main air."
Gladys langsung bersorak hore mendengarnya.
Aku dan Api bermain dengan Dydy di laut. Ya, sekedar ciprat-cipret air, walaupun begitu rasanya tetap menyenangkan apalagi ditemenin sama cogan satu ini. Terlihat Api sedang asyik membuat istana pasir bersama Dydy. Terkadang Api bergurau hal-hal yang tidak masuk akan namun membuat Dydy tertawa riang.
"Dydy istananya mau dinamain apa nih?" tanya Api saat sedang menimbun pasir putih dan mengukir sebuah menara.
"Istana apunzel," celetuk Gladys.
"Dydy suka sama Rapunzel?"
"Suka anget, di lumah Dydy punya anyak oneka apunzel."
"Wah lucu yaa, kapan-kapan Om beliin deh."
"Jangan percaya! Tukang php Om Api!" Aku ikut menimbrung karena gemes dengan percakapan mereka berdua.
"PHP itu apa Tan??"
Dasar ogeb juan, anak kecil sepolos Gladys disuguhin kata-kata dewasa lol.
"Anu itu..."
"Dydy coba yang ini kamu bentuk menara istananya." Api mengalihkan perhatian Gladys. Untung saja.
__ADS_1
"Aku PHP? kapan?" tanyanya tiba-tiba.
"Haa??"
"Ayo jawab, kamu bilang aku php. Php kapan?"
"Emang kalau iya kenapa?" Aku balik bertanya. Sudah seperti keahlian bagiku.
"Aku akan memperbaikinya." ucapnya dengan santainya dan tampang datarnya masih terpasang di wajah tampan itu.
Aku berdecak sebal, "Dasar tidak peka."
"Pas itu, kamu bilang mau ajak aku nonton sirkus, tapi apa? Kamu malah jalan sama Viersa."
"Aku mah apa atuh, yaa."
"Bodoamat, gak mikir."
Kedengaran kayak aku lagi merajuk gak si??
Kok??
Lah?
Kok jadinya aku yang mutung si, yaelah Juan kebiasaan lama muncul nih. Suka mutung gak jelas. Kamu udah gede ya ju, gak lucu deh mutung sama orang yang bukan siapa-siapanya .
"Ooh jadi yang itu masih diinget, aku kira udah move on tuh, tapi katanya gak papa waktu itu? Bohong nih, hm?"
Aku berdecih dan memukul lengan Api sedikit keras. Memalingkan mukaku ke arah yang lainnnya, "Udah ah diemm."
Api menyenggol lenganku berulangkali. Ya,dia sedang menggodaku seperti biasa.
Dasar Api!! Bikin emosi.
"Apa sii?" tanyaku sinis dan hanya melirik saja. Gatau ahh tiba-tiba pengin mutung gini.
"Cemburu gara-gara aku jalan sama Viersa?"
"Dih ogah amat, alay."
Arghhhh....kok dengernya kesel gini yaa. Ya terkadang kejujuran memang pahit melebihi bratawali. Bodoamat lah gue mutung, gapapa kali-kali cuekin orang ganteng. Dapet pahala gak?
"Oh jadi cuma nonton yaa?" Kepalaku mengangguk-angguk paham.
"Tapi aku dengarnya pas itu lagi ada meeting projek baru tuh," sindir kerass. Bodoamat yaa, kesel aja di PHP-in.
"Ee ituu.."
"Gak sekalian lu dinner sama tuh cewe, shopping. Tanggung amat cuma nonton."
"Dasar mata keranjang." Aku mengatakan itu dengan raut muka santai tapi kakiku tidak santai, kakiku mendarat dengan mulus tepat pada sepatu Api. Menginjaknya sambil memuntir sedikit.
"Sakit, asemm Juan!" pekiknya.
"Rasain tuh, buaya!" ucapku puas dan langsung melenggang pergi dari hadapannya. Namun sebelum pergi. Aku mengatakan, "Jagain tuh anak jangan lu culik, awas ya!!"
"Juu!" teriaknya.
***
"Tante Tante!" panggilnya sambil menarik-narik bajuku dari samping.
"Apaan bocil?" Gak tau moodku lagi gak baik jadi mohon maap sedikit sensi,
"Tante lagi minum degan, apa si?" lanjutku.
"Kala mau main sama dydy."
"Lah tadi katanya gak mau main katanya Dydy jelek."
Dasar anak aneh, mampuskan ngarasain kesepian gak ada temen main. Ya iyalah yang seumurankan cuma mereka berdua yang lainnya mah udah pada SD-SMP.
"Dydy jelek, tapi Kala pengin main."
__ADS_1
Duh kecil-kecil udah nyebelin apalagi gedhenya, untung gue sayang lu Kala.
"Tapi gak bole nakal lagi yaa, mainnya bareng-bareng."
"Iya gak nakal, tapi kalau Dydy ngeyel, Kala harus bertindak."
"Hidih dasar bocil. Awas yaa nakal, Tante gelitikin Kala sampe nangis."
"Ih iyaiya Tan."
"Dydy endutt!!" panggilku setengah berteriak hingga orang yang dituju mendengar.
"Apa ci??" sinis Gladys, emang dia tuh kalau dipanggil gendut tuh gamau, katanya dia itu kurus pengin jadi model kaya Rapunzel. Rapunzel bukan model zeyeng! Au ah gak paham imajinasi anak-anak.
"Sana bilang sendiri ke Dydy Kal!"
"Bilang apa?" Lugu sekali bocil satu ini.
"Lah katanya mau main, ya ngajak sendiri dong ,minta maap dulu tapi," jelasku.
"Tapi kan--"
"Tapi apa?"
"Katanya mau jadi superhero kok penakut gitu si, padahal cuma minta maaf."
Alhasil Kala langsung berlari menuju Gladys dan Api yang tengah menatap cara lari Kala yang sedikit maksudku...
Brukkk
"Mama!" teriakan itu mampu membuat tawa kami seketika pecah. Kala jatuh dong kesandung sendalnya sendiri. Nangis tuh bocah.
Api yang berada di dekatnya langsung menggendong Kala dan menangkannya, "Cup cup gak papa anak pinter."
"Anak gue gak papakan?" tanya Cica sedikit khawatir sesaat dia mendengar teriakkan Kala, dia langsung berlari dan berhenti tepat di sampingku.
"Santuy mbak gak papa. Sehat lah masih bisa jatuh."
"Gundulmu." Mbak Cica melayangkan cubitannya di lenganku.
"Lah ya bener."
"Kalau gak bisa berarti lumpuh."
Cica hanya berecih sebal berdebat denganku. Gak dan selesainya.
"Gile pedes banget tuh cubitan, awas ya kalo memar. Gue cincang lu." cibirku.
"Kala gak papakan? Gak sakit?" tanya Gladys pada Kala yang saat ini sudah didudukan di pasir oleh Api.
Kala hanya menggelengkan kepala."Dydy Kala minta maaf yaa,udah bilang jelek Dydy, tapi emang si Dydy agak jelek."
Permintaan maaf macam apa itu? Aku yang mendengar gemas dibuatnya. "Jelek sedikit gak banyak kok." lanjut kala.
Gladys hanya diam dan beberapa detik kemudian dia memeluk Kala. "Kala juga jelek kayak ****, tapi Dydy pengin main sama Kala."
"Main ya sama Dydy?" ajak dydy.
Kala mengangguk dan membalas pelukan Gladys. Kami sekeluarga yang melihat tontonan seperti ini dibuat tertawa oleh tingkah lucu kedua anak-anak.
"Anak kecil aja bisa maapin masa kamu gak?" Aku terlonjak kaget sesaat melihat orang yang berbicara padaku tepat disampingku tak disadari dan tengah memandangi wajahku dengan tatapan mata tajam.
Wajahku memerah gak nih?gue malu.
"Aa--"tiba tiba gugup seperti ini.
"Saya akan memperbaikinya."
Akan selalu ada yang namanya pilihan. Namun cobalah berpikir apakah pilihan hari ini menguntungkanmu bukan hanya sekarang namun selamanya.
****
Kalian team mana nih Bara-juan atau Api-Juan atau malah Bara-Api.
__ADS_1
Hemmm??