
BERTEMU KEMBALI
___________________________________
"Permisi Ketua, ada wali murid yang ingin menemui Anda." ucap Kepsek itu penuh kesopanan terdengar jelas dari balik pintu Juan berdiri.
"Biarkan dia masuk." Suara berat yang khas pria itu seketika membuat Juan merasa familiar mendengarnya, terasa dingin dan arogan.
Entah mengapa jantungnya berpacu dengan cepat.
"Baik Ketua."
Kepsek tersebut keluar dari ruangan itu dan menghampiri Juan.
"Silahkan masuk dan semoga beruntung."
Juan hanya membalas dengan senyuman kecut di wajahnya.
Juan membuka pintu hati-hati dan...
Deg
Semuanya terasa berhenti untuk sejenak .Kedua manik mata itu bertemu dan terasa debaran yang telah mati untuk sekian lama kini muncul dengan ambigunya.
Pria bersetelan jas merah maroon langsung tersentak berdiri saking kagetnya. Juan gemetar melihat manik mata itu setelah sekian lama.
"Juu.."
Juan langsung menunduk memutuskan kontak mata dengan pria itu, "Permisi Ketua, saya wali murid dari Anin." ucap Juan formal. Dirinya benar-benar sedang menetralisir rasa gugupnya itu.
Pria itu mendekat ke arah Juan "Stop sampai disitu saja Pak, saya ke sini ingin membicarakan tentang Adik saya." ucapnya sebelum pria itu semakin mendekat, walau terdengar agak terbata. Juan ingin sekali menangis kali ini, dia benci situasi seperti ini.
Terlihat pria itu mengepalkan tangannya amat kuat melihat tingkah Juan yang sudah berubah banyak. Tak ada senyuman kali ini hanya ada manik mata yang terasa sedih. Apakah dia melukainya?
"Silahkan duduk Bu Yuan."
Juan hanya manggut dan duduk di tempat yang sudah tersedia, pandangannya tetap ke bawah, dia belum berani menatap mata pria itu setelah 10 tahun berlalu.
"Kau bisa menatap mataku!" Kalimat yang lebih tepat seperti perintah terlontar seketika dari mulut Barata Dewanggana.
"Juan maa-"
"Pak Ketua, saya harap mengenai kejadian Adik saya, dia tidak akan--" ucap Juan mengalihkan pembicaraannya sedikit ragu, dia tidak ingin mendengar hal lainnya.
"Saya tidak akan mengeluarkannya." Ucapan itu membuat kepala Juan langsung menatap ke arah Bara.
"Namun dia tetap harus mendapat hukuman dan kau tenang saja korban bully sudah saya tangani, lalu untuk Adikmu dan Adik tunangan saya, mereka akan sama-sama di skors selama 2 minggu."
Ada bagian dalam diri Juan yang terasa sakit mendengar kata tunangan dari mulut pria di depannya.
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, sekarang giliran kau mendengar apa yang aku sampaikan," ucapnya dengan penuh arogan.
"Tapi maaf Pak Ketua, sepertinya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya tak tau maksud Anda.Kalau begitu saya pamit dan terima kasih," pamit Juan sambil menampilkan senyum palsu padanya.
Bara hanya diam dan merasa emosional mendapat penolakan dari wanita satu ini.
"Mungkin cukup sekian, maaf mengganggu waktu Anda,"ucapnya sambil beranjak berdiri namun tangannya dicekal oleh tangan besar pria itu yang masih duduk di tempatnya. "Maaf aku--"
"Untuk apa Anda meminta maaf pada saya? Saya rasa Anda tak melakukan kesalahan. Jadi saya pamit, permisi." Juan langsung melepaskan tangan Bara dari lengannya dan berkata sedingin mungkin untuk menutupi pelupuk mata yang terasa sangat panas. Dia ingin menangis.
Tess
Tanpa di sadari satu bulir air mata jatuh di lengan Bara sebelum Juan benar-benar keluar dari ruangannya.
Bara yang merasa lengannya basah langsung menatap ke arahnya.
Bara paham bahwa diri perempuan itu marah karena selama ini dirinya menghilang 10 tahun tanpa kabar. Jika dia bisa mengungkapkan alasan semua itu mungkin sekarang dia dapat memeluk tubuh perempuan itu, menghapus air mata berharganya.
Bara mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya frustasi.
"Ahhhhh gilaa," geramnya sendiri.
'seandainya waktu dapat di ulang aku akan memilih tinggal bukannya pergi darimu.'
***
Juan menatap pantulan dirinya di cermin, wajahnya terlihat sangat lelah, matanya sembab dan sayu setelah puas menangis di toilet sekolah ini.
"Gue gak boleh nangis lagi, cuma karena dia doang--"
__ADS_1
"Dia cuma masa lalu lu doang Ju."
"Lu kuat, lu biasa aja, lu gak sayang sama dia la--"
"Hiks hiks hiks"
Entah mengapa mengatakan bahwa dirinya tak menyayangi orang itu terasa sangat menyakitkan. Juan kembali menagis dan cepat-cepat di menyalakan keran air, membasuh wajahnya yang tengah menangis.
Drtt..
Drtt..
Ponsel di tasnya bergetar, membuat sang empu mengambil ponselnya dan mendapat notifikasi panggilan dari nama 'Anin jelek'
"Mbak! Lu di mana!"
"Gue cariin lu gak ada, lu udah balik ke kantor apa?"
Juan menghela nafas sebentar, supaya lebih rileks sambil mengurangi sesegukan sehabis menangis.
"Gu-gue ada di toilet, lu di mana ntar gue nyusul." Tanpa disengaja suara serak khas orang menangis terdengar, membuat Anin bertanya dengan nada khawatir. "Lu habis nangis Mbakk??"
"Lu dimana ****? Gue udah telat nih," ucap Juan mengalihkan pembicaraan.
"Di depan gerbang sekolah nih, gece!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Juan langsung memutuskan sambungan telepon. Sebelum ia keluar dari toilet dengan cekatan dia memoles sedikit wajahnya agar tidak terlihat seperti sehabis menangis.
"Yuk pulang gue anterin. Lu di skors 2 minggu sama kayak anak yang lu bikin babak belur. Oya, lu juga harus bikin surat pernyataan untuk tidak melakukan hal tersebut lagi," ajak Juan sewaktu tiba di gerbang sekolah.
"Maksud lu Cleo juga di hukum? Lah gue gak dikeluarin gitu? Padahal gue udah siapin mental tuh kalau beneran dikeluarin."
Juan melayangkan jitakan ke kepala Anin, hingga Anin meringis kesakitan. "Lu mau diruqiyah tujuh hari tujuh malam sama bonyok? Tuh otak dipake, kalau lu nglakuin ini lagi, bodoamat gue gak mau ngurusin lu lagi. Trauma gue kesini ."
"Yaelah gitu doang juga, ehh lu beneran gapapa kan Mbak? Tadi gue denger lu sesegukan gitu, lu gak habis nangis kan? Bukan gara-gara gue diskors kan?"
Juan menarik telinga Anin yang terbalut kerudung putih. "Najis amat gue nangisin lu."
"Aaa lepasin sakit oneng!" Anin menghempaskan paksa tangan Juan dari telinganya.
"Terusan lu nangis gara-gara apa? Mau gue aduin ke Mamah biar lu di interogasi."
"TW banget si lu."
"Gue nangis gara-gara--" Juan tampaknya berpikir dengan apa yang akan diucapkannya lagi, "Aaa itu tuu urusan dewasa, hushsh anak kecil belum bole tau ,tunggu umur lu 18," sambung Juan.
"Laah kok?" Anin bingung dengan tingkah Kakaknya yang menurutnya aneh.
"Udah jangan banyak omong, males gue, yuk cepet pulang atau lu mau nggojek aja?"
"Ogah amat nggojek, gue ikut lu."
"Tapi gue juga ogah mboncengin lu, lu balik sendiri ya beb, gue udah telat gue di tungguin Boss gue nih. Babay zeyeng."
Cup
Juan mencium lembut pipi Anin dan reaksi Anin langsung mengelapnya.
"Lahlah? Anjay gue di tinggal dong!Dasar Mbak kampret." teriaknya kesal saat Kakanya itu sudah melenggang pergi entah kemana.
Di sisi lain tanpa disadari mereka berdua, ada seseorang yang dari tadi menguping pembicaraan mereka.
"Cari tau semua tentangnya," perintah pria itu diikuti dengan tatapan mata penuh tekad.
"Baik tuan," jawab Asistennya.
***
"Kok kamu gak ngeluarin dia si yang?"
"Malah membuat mereka berdua di skors 2 minggu?'' tanya sang wanita berbodi sexy dengan balutan dress merah yang semakin menambah aura kecantikannya itu.
Sang pria yang tengah asyik berkutat dengan pekerjaannya, hanya menatap jenuh wanita yang tengah duduk di sofa yang masih saja sibuk mengomel.
"Adikmu juga salah, Dira."
"Bara, tapikan--"
Bara menutup berkas itu keras hingga menimbulkan suara 'brak', cukup mengagetkan.
__ADS_1
"Kamu bisa gak diam? Aku masih sangat sibuk sekarang. Nanti kita bicarakan lagi," ucapnya mengintimidasi dan penuh tatapan dingin pada Dira.
"Kamu sekali aja kenapa si mentingin aku dulu dari pada kerjaanmu itu, itu masih bisa dihandle kan sama Sekertaris mu."
Rahang Bara mengeras, dia masih menahan emosinya pada lawan bicara di depannya.
"Dengar Ny. Dira Vidyana, aku sekarang adalah CEO, tidak semua pekerjaan harus aku limpahkan pada Sekertarisku itu. Aku masih memiliki tanggung jawab bukan hanya mendengar kau berbicara. Kau mengerti?"
Dira mematung mendengar penuturan Bara, dia mencibir dan mengerucutkan bibirnya ke depan. "Astaga, baiklah nikmati pekerjaanmu Tuan Wardani."
Dira beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu, namun sebelum dia benar-benar pergi, Dira membalikan tubuhnya menghadap Bara.
"Apa lagi?" tanya Bara bosan.
"Ahh begini, jangan sampai kau melupakan nanti malam, pesta tunangan kita."
"Arghh," geram Bara sendiri. Dia sangat tidak menginginkan pesta atau apapun yang berkaitan tentang Dira. Namun dia tak bisa berbuat apapun, semua ini karena tuntutan pekerjaan dan orang tua. Sangat menjenuhkan.
"Sampai jumpa nanti malam."
Dira pun berjalan meninggalkan ruangan Bara dengan angkuhnya.
"Astaghfirullah, Tuhan tolong selamatkan aku dari kekacauan ini."
***
Juan menatap wajahnya yang sudah di rias dengan sederhana, cukup dan patut untuk datang ke sebuah pesta. Ya, walaupun dia sangat terpaksa karena Bossnya memaksa agar dirinya ikut padahal dia menolak, namun dengan kegigihan Bossnya untuk membujuk dia, akhirnya mulutnya itu mengatakan kata 'ya' dan hasilnya seperti ini.
Sebenarnya dia sedikit ragu mengatakan 'ya' pada Bossnya. Pasalnya, dia takut bertemu lagi dengan pria itu, padahal dia Tuan rumah pesta pertunangannya.
Dia takut jika hatinya tak kuat melihat pria itu saling menukar cincin dengan wanita lain di hadapannya.
'Ahh sial sepertinya aku memilih keputusan yang salah.' batin Juan.
"Bocah wadon ayu tenan."
Interogasi ibunya saat memasuki kamar Juan yang tidak terkunci.
"Dedek mau kemana, malam-malam begini?"
"Dandan lagi," lanjut Ibunya.
Juan tersenyum kecut mendengar pertanyaan Ibunya.
"Dedek mau ke pesta pertunangan Kolega bisnis Boss Dedek."
"Terus ada apa, sampai-sampai mukamu terlihat sedih?" Layaknya seorang Ibu, Ibu Juan mengetahui bahwa putrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kowe mboten saget menyembunyikan masalahmu dari Mamah," ucap Ibu Juan dengan bahasa campurannya.
"Mah misal orang dari masa lalunya mamah datang lagi kehidupan Mamah, membawa luka lama lagi. Apa yang akan Namah lakukan?"
"Memaafkan dia Nduk, sekang kuwe kowe bakal belajar arti ikhlas lan atimu bakal tenang."
'Memaafkan yaa? Tapi itu sangat sulit,' batinnya.
"Tenang wae Nduk, doa lan aja ninggalna solat. Njaluk petunjuk marang Gusti Allah. Insha Allah. Allah bakal paring jalan keluar."
Juan yang mendengar itu langsung memeluk tubuh rapuh Ibunya itu, dia bersyukur memiliki Ibu hebat sepertinya.
Tok
Tok
Tok
Ketukan pintu terdengar dan Juan langsung mengerti, Bossnya sudah datang untuk menjemputnya.
"Mah, Boss dedek sudah datang, Dedek pamit yaa."
"Oalah, ati-ati ya Ndukk, dijemput sapa?"
"Di jemput Boss Dedek mah! Udah datang." jawab Juan sedikit geram karena mamah mengulang lagi pertanyaannya padahal sudah Juan jawab. Maklum Juan.
"Jangan kemaleman ya."
"Nggih mah, Dedek pamit Assalamualaikum." Juan mencium tangan Ibunya yang sudah sepuh.
"Waalikumsalam."
__ADS_1
Semoga Allah selalu melindungi mu Dek, Amin.
-----