
KITA HANYA SEBATAS MASA LALU
____________________________________
Kini Juan sendirian berdiri menunggu dan berharap taksi akan datang dan mengantarnya. Ya, semua ini terjadi karena ponselnya lowbet dan dia menolak ajakan pulang William, dia malu menghadap ataupun bertatap muka dengan William lebih lama lagi. Entah pikirannya sekarang sudah mengembara entah kemana.
Juan merasa ada yang sedang mengawasinya sekarang, dia segara berjalan menjauh dari halaman depan gedung pesta. Benar saja feeling Juan, ada pria yang sekarang mengejarnya.
"Juan," ucapnya setengah berlari agar menyamai langkah Juan yang semakin mempercepat.
"Aku antar!" Cekalnya kuat saat Juan berusaha pergi.
Juan menghempaskan tangan pria itu dan menatapnya dengan tidak suka. "Tak perlu,anda sudah banyak membantu saya."
"Dengar Juan tak ada taksi ataupun bus saat jam 11 malam seperti ini. Ku mohon jangan menolak." Bara sampai memohon supaya Juan mau ikut dengannya. Jarang sekali atau malah tak pernah sekalipun dia memohon seperti ini kepada wanita lain kecuali Juan seorang.
"Dengar Tuan Bara, saya sungguh tak butuh bantuan anda,saya--"
"Saya memaksa!" bentak Bara membuat Juan langsung terdiam dan hanya mengikuti kemanapun Bara membawa Juan pergi.
Entah ada magis apa sehingga seorang Juan yang cerewet tiba-tiba menjadi pendiam saat berhadapan dengan seorang Barata Dewanggana.
"Lepas, ini sakit!"
Juan sampai meringis mungkin karena saking lamanya tangan Bara mencengkram kuat lengan Juan. Bara yang sadar bahwa dirinya menyakiti Juan langsung melepas genggamannya itu dan beralih membukakan pintu mobil untuk Juan. "Masuk," ketus Bara yang ditanggapi tindakan Juan duduk dengan terpaksa, yaa tahu sendiri percuma kalau Juan menolak, Bara tetap kukuh pada pendiriannya.
"Menyebalkan." cibir Juan lirih namun masih bisa di dengar oleh Bara yang sekarang sudah duduk di kursi kemudinya.
Bara hanya tersenyum mendengar cibiran Juan yang malah terlihat sangat menggemaskan. Bara mulai menyalakan mesin dan langsung tancap gas.
Hanya ada keheningan yang menemani perjalanan ini, ditambah lagi jalanan yang sudah sepi senyap, hanya lampu mobil yang menjadi penerang jalannya.
"Maaf--"
Juan sontak menengok ke arah Bara yang masih fokus menyetir ke depan. "Untuk?"
"Kejadian tadi dan hal lainnya yang mungkin aku menyakitimu."
Entah mengapa dia tiba-tiba teringat perkataan mamahnya tadi.
"Mah misal orang dari masa lalunya mamah datang lagi kehidupan mamah, membawa luka lama lagi. Apa yang akan mamah lakukan?"
"Memaafkan dia ndukk, sekang kuwe koe bakal belajar arti ikhlas lan atimu bakal tenang."
Memang bila diucapkan sangat sederhana namun jika di lakukan akan sangat berat dan akan sangat sulit.
"Juu--"
"Itu hanya masa lalu untuk diri saya dan Anda, jadi tak perlu meminta maaf. Anggap saja semua tidak pernah terjadi bahkan untuk kejadian hari ini." Mata Juan enggan menatap ke arah Bara, hatinya teriris mengatakan hal yang sama sekali bukan keinginannya.
__ADS_1
Bara mendadak menghentikan laju mobilnya dan memegang setir kemudi amat erat, seperti menahan sesuatu dalam dirinya,Juan menyadari hal tersebut.
"Berhenti bersikap formal padaku dan seoalah semuanya baik-baik saja." ketus Bara, ia geram terhadap tingkah Juan yang seperti ini.
"Pak Bara saya--"
"Ini semua tak baik-baik saja Juan."
"Kau dan aku sama sekali tak baik!" Emosi Bara memuncak ia memukul dan meninju setir kemudinya hingga tanganya berdarah.
"Bara--" gumam Juan terkejut melihat Bara yang emosional seperti itu.
Tess
Lagi-lagi air mata sialan milik Juan kembali menetes dengan bebasnya.
Bara lagi-lagi merasa bersalah karena telah membentaknya hanya karena mengikuti emosinya.
Tangan Bara yang akan mengelap air mata di pipi Juan langsung di tampis oleh Juan, ia kemudian memalingkan mukanya ke arah yang berlawanan.
"Arghh..." Bara menggeram kesal. Dia sangat kesal dengan dirinya sendiri yang sudah membuat Juan menangis.
Betapa bodohnya diri ini yang hanya bisa membuat dirimu menangis. Maaf aku tak bisa memelukmu dan mengatakan hal yang baik untukmu. Aku menyesal.
***
Juan turun dari mobil Bara dengan mata yang tampak sembab dan sayu. Yaa, selama sisa perjalanan tadi hanya ada hening dan isak tangis tertahan milik Juan. Bara yang tak tau harus berbuat apa dan Juan yang tak bisa menghentikan tangisnya. Benar-benar pasangan yang membingungkan.
"Aku pamit."
"Tunggu." ujar Juan, suaranya terdengar parau akibat menangis tadi.
"Hm?"
"Masuklah, kau terluka karena aku, jangan membuat diriku berhutang budi padamu."
Bara mengangguk, ia sebenarnya sudah sangat lelah dan ingin beristirahat sejenak makanya dia menyetujui perintahnya Juan. Bara mengikuti langkah Juan masuk ke rumahnya.
Ceklek.
Juan membuka pintu rumahnya, dia selalu membawa kunci rumah kemanapun ia pergi jadi jam berapa pun dia akan pulang, dia tidak akan lelah menunggu untuk Kakaknya membukakan pintu.
"Assalamualaikum." salamnya ketika masuk ke ruang tamu.
Tak ada jawaban, ya mungkin semua penghuninya sudah tertidur pulas apalagi sudah jam 12 an.
"Tunggu di sini. Duduklah senyaman mungkin," perintahnya dan segera berlalu.
Bara duduk, ia menatap ke sekelilingnya. Dia menyadari bahwa hiasan di rumah ini masih sama seperti dulu dan tak ada yang berubah, walaupun sudah 10 tahun berlalu.
__ADS_1
Seketika ia teringat kejadian 10 tahun yang lalu, saat pertama kali ke rumah ini dengan alasan yang sama Juan mengobati luka lebam di pipinya dulu karena bertengkar dengan teman sekelasnya karena sudah berani menyakitinya. Bedanya, dulu Juan melakukan itu dengan tatapan berbinar-binar dan penuh ke khawatiran, dia terus mengomel. Sedangkan sekarang menatap Bara saja sudah enggan apalagi bicara banyak kepadanya.
"Apa yang Anda lamunkan Pak?" Juan melambai-lambaikan tangannya persis di depan muka Bara yang sedang bengong.
"Ahh--ti--dak."
Juan hanya tersenyum lalu duduk di samping Bara. "Mau obati sendiri atau saya obati?" tanya Juan yang lebih terdengaran tawaran.
Bara tersenyum jenaka menanggapi tawaran Juan. "Kalau kau ingin dapat pahala, aku siap untuk di obati."
"Ini bukan modus, hanya sekedar membantumu mendapatkan pahala," lanjutnya diiringi tawa gurihnya .
Juan berdecak heran padanya dan segera mengobati luka Bara yang ada di sudut bibirnya. Pelan-pelan Juan membersihkan luka Bara dan mengoleskan obat merah menggunakan cotton bud pada luka Bara yang sudah bersih.
"Ini akan sakit, tahan." Bara sedikit meringis ketika Juan mengoleskan obat pada bibirnya.
"Ini tak sebanding dengan apa yang kau rasakan selama ini."
Juan sontak menghadapkan wajahnya ke arah Bara dan mendapati Bara juga tengah menatap kepadanya.
Deg.
Jarak mereka berdua kini hanya beberapa centi saja, benar-benar dekat. Seolah waktu berhenti, manik mata mereka terasa kaku dan hanya saling menatap.
"Juan, aku benar-benar minta maaf untuk semuanya--" ucapnya terasa serak, entah mengapa terasa sangat berat untuk mengatakan hal ini berbanding terbalik dengan tadi.
Juan hanya diam menatap dan menelusuri tatapan mata Bara, dia harap ada kebohongan disana, namun nihil Juan tak menemukan kebohongan sedikit pun dari matanya.
"Juan Akuu mencin--"
"Kita sudah berakhir semenjak kau memilih untuk pergi."
"Kita hanya sebatas masalalu dan sekarang Dira masa depanmu."
"Jadi hilangkan semua hal yang berkaitan dengan kita. Cukup aku yang merasakan rasa nya ditinggal, jangan Dira."
Bara merasa hatinya sangat sakit terasa tersayat mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Juan.
Juan tersenyum sendu dan mengakhirinya dengan sebuah kecupan manis di kening mulus Bara.
"Dan ini untuk terakhir kalinya."
Bara tak kuasa menahan sakit hatinya ini.nIngin rasanya dia memutar kembali waktu yang lalu agar dia bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
"Sebaiknya Anda pulang,nini sudah larut malam. Mungkin mereka semua mencari keberadaan Anda yang tiba-tiba menghilang." Juan mengatakan hal itu dengan rada sesegukan sambil beranjak berdiri, "Sa-ya ingin ke belaka--kang sebentar," ucapnya gugup dan sesegukan.
Bara pun langsung beranjak berdiri, menarik tubuh Juan ke dalam pelukannya. Juan menangis sejadi-jadinya, kepalanya ia benamkan di leher Bara.
"Hiks...hikss...maaf aa--ku menangis, maaf aa--ku jadi cengeng.Rasanya sakit sekali, aku...hiks...hikss..." racau Juan sambil memukul-mukul pelan dadanya, yang terasa sesak. Bara yang melihat itu terasa sangat sesak di dadanya, Juan menumpahkan semua sakit hati nya lewat tangisan.
__ADS_1
"Cukup." Bara menghentikan pergerakan tangan Juan dengan memenggam tangganya lalu mencium lembut telapak tangan Juan.
Mungkin takdir sedang mempermainkan kita berdua, maka dari itu biarlah aku yang akan menyelesaikan permainan ini dengan baik. Whatever happens, I'll stay with you.