Menyukaimu Mas CEO

Menyukaimu Mas CEO
SEPUPU BARA


__ADS_3

SEPUPU BARA


___________________________________


Juan POV


1 bulan setelah kejadian malam itu, aku memilih untuk resign dari Costa's company dan lebih menyibukkan diriku untuk menulis. Ya, aku memang pengangguran tapi duitku tetap lancar mengalir berkat naskahku yang diterima oleh penerbit dan 2 minggu setelahnya diterbitkan menjadi sebuah buku, syukur alhamdulilahnya buku itu termasuk best seller loh. Bahagianya ceunah.


Jika kalian bertanya apakah aku ingin mencari pekerjaan lainnya? Maka aku jawab untuk sekarang tidak, aku ingin beristirahat sejenak, menenangkan otak yang lelah bekerja kantoran, mental pun begitu. Mungkin beberapa bulan ke depan baru kupikirkan. Lalu, mengenai urusanku dengan Pak William aku membicarakannya dengan baik-baik dan keluar dari perusahaan dengan baik-baik, aku tak ingin mengancam perusahaan hanya karena kejadian babak belurnya Pak Leonardo, yaaa walaupun Pak William terlihat sedikit tidak ikhlas melepaskan karyawan jeli sepertiku. Aku sombong aku bangga. Sombonglah sebelum Anda menghembuskan nafas terakhir.


Ssoal Leonardo brengsek itu aku sama sekali tak mempedulikannya, mau dia mati atau tak bernapas, persetan dengan semuannya.


Sama aja geb.


Yang penting diriku terlepas dari ulah bejatnya itu.


Untuk soal Bara? Aku tak ingin membicarakannya,malas dan ogah. Karena apa?


Karena kita sudah sepakat agar malam itu terakhir kalinya kita bertemu. Terdengar menyakitkan namun itu yang terbaik, meminimalisir rasa sakit yang lebih jauh lagi. Setelah kejadian itu aku tak pernah mendengar kabar tentang dirinya. Ya, mencoba tidak peduli, adalah salah satu cara untuk melupakan.Dan aku sedang melakukan hal itu.


"Mbak, nonton yuk. Gue bosen di rumah mulu?" ajak Anin yang tengah asyik mengemil dan tangan satunya sambil memencet tombol remote, mengganti channel TV berulang kali.


"Boleh tapi lu bayar sendiri ya tiketnya."


"Pelit banget si lu jadi Mbak. Rezeki lu seret baru tau!"


"Eh lemes banget tuh mulut, pengen gue cekokin ***."


"Yauda buru, gue tungguin lu. 5 menit harus dah siap. Kalau ngga, hangus!"


"Anjay, ngancem!! iya-iya bentar." Anin langsung terperanjat dan berlari ke kamarnya.


"5 menit dari sekarang!!"


teriakku agar terdengar sampai ke kamar Anin.


"Iya njirr bentar lagi ganti baju!!!"


"Mbak Laknat!"


Aku hanya tertawa cekikikan, hobby baru ku : jail kepada Anin. Rasanya menyenangkan.


***


Setelah kami puas berjalan-jalan di Mall, kami berdua memasuki bioskop dan langsung Anin memesan dua tiket film action dan dua popcron caramel, kesukaanku.


"Heh Mbak lu liat tuh di pojok sana!" Tunjuk Anin di pojok kanan ruangan tunggu ada sepasang manusia yang tengah asyik mengobrol.


"Itu Mas Bara bukan si?"


Asfhghkk.....


Aku hanya menghela nafas jengah, bisa-bisanya kami ketemu disini padahal sudah satu bulan lamanya tak ada kabar.


Aku langsung malas untuk menonton .Apalagi masih ada 15 menit sebelum filmnya di putar. Haruskah aku melihat pemandangan dia dengan Di--


Tunggu dia tak bersama Dira, lalu siapa cewe cantik berjilbab ungu itu yang tengah asyik mengobrol dengannya. Ya Tuhan dari sekian banyaknya tempat di penjuru bumi, kenapa KAU malah mempertemukan kami di tempat seperti ini?


Siapa cewe itu?


Selingkuhannya?


Saudaranya?


Sepupunya?


Bodoamat yang penting gue hidup."Terus gue harus ngapain ****?"


"Lu ngga cemburu, mantan lu jalan sama cewe lain?"


"Banyak bacot autis, gue mantan dan gak ada hubungannya lagi sama dia. Udah deh."

__ADS_1


"Sensi kayak bumil lu!"


"Bodo!"


"Lu tunggu bentar gue mo ke toilet."


"Jangan nangis lu di toilet! Kebiasaan," ledek Anin dan aku hanya melotot padanya, lalu berlalu ke arah toilet.


Setelah menyelesaikan urusanku di toilet yang gak perlu aku jabarkan secara detail pada publik. Aku mencuci tanganku di wastafel dan aku menemukan cewe yang bersama Bara tadi sekarang juga sedang memakai lipstiknya sambil berkaca.


"Kau Yuanita Putri?"


Sontak aku menoleh padanya, bagaimana ia bisa mengenaliku? Dari Bara? Astaga.


"Anda kenal sama saya?"


"Ck, siapa yang tak kenal dengan kau setelah kejadian di pesta itu yang secara terang-terangan Bara melindungimu. Aku jadi heran ada hubungan apa antara kau dan dirinya. Boom ternyata kau mantannya dulu." Cewe itu menekan kata mantan dan sedikit ngegas pada kata tersebut.Rasanya ingin ku telan hidup-hidup wanita yang satu ini.


Sstttt.. tunggu-tunggu apa dia bilang?siapa yang tidak tau setelah kejadian pesta itu?


Astaganaga ceunah terkenal dong. Aduh siap-siap jadi bahan gossip tetangga.


"Anda siapanya Bara?"


"Sepupunya dan aku tau semua tentang mu dari Bara."


"Bara?"


"Hm."


"Santai aja aku tak membencimu, namun kuharap kau tak mengganggu kehidupannya lagi," ucapnya sinis padaku, kemudian ia memasukkan alat make upnya ke dalam tas brandednya.


"Aku tak berniat mengganggunya lagi tanpa kau peringatkan," ucapku lebih sinis lagi.


PD sekali.


"Baguslah, karena Bara akan pergi ke Korea untuk mempersiapkan pernikahannya disana, aku takut bayang-bayang dirimu mengganggunya."


Nikah?


Wew. Jadi berita yang aku baca tadi pagi di website lambe turah ternyata benar, Bara akan ke Korea dan menikah disana. Harusnya aku bahagia, dia akan menikah! Bukannya sakit hati seperti ini. Dasar bodoh Juan. Bodohh!!!


"Oke titip ucapan selamat padanya. Permisi."


Aku melenggang pergi lebih dulu, karena sudah muak melihat muka sepupunya. Cantik tapi judes.


Kaya lu gak Juan?


Bodoamat yang penting gue hidup.


"Heh ****, tuh popcron dah habis dong, sebelum filmnya di mule. Rakus lu," cibir Juan setelah mendapati Adiknya menghabiskan 1 wadah popcorn.


"Bodoamat."


"Lu gak usah minta ya pas di dalam, itu punya gue!" Juan menunjuk satu wadah popcorn yang masih utuh.


"Gak mau!! Punya Kakaj punya Adek juga. Punya Adek tetep punya Adek."


"Hidih licik banget, gue sumpahin baru tau."


"Ooh doa pengangguran emang mujarab ya?"


"Mending gue pengangguran tapi banyak duit, daripada lu tukang berantem tapi miskin."


"Gue udah tobat yaa!!"


"Daripada lu--"


Pletak


Aku hanya menyentil kening Anin. Jika aku meneruskan perdebatan ini maka sampai kucing nikah sama **** pun gak bakal selesai.

__ADS_1


"Ayo masuk, cepet mau nonton gak?"


"Iya-iya bawel kaya bawal."


Kami berdua pun memasuki altar bioskop setelah memberikan tiket kami pada karyawan disana.


Sesaat aku akan duduk di kursi yang aku pesan. Sebuah tangan membawa ku turun lagi dari atas. Kursiku D ya. Inget jadi harus naik tangga. Dan laknatnya karena lampu semua sudah di matikan aku tak bisa melihat orang yang membawaku dan kurasa Anin hanya membiarkan diriku terus di bawa, dia malah asyik menertawaiku.


"Adek laknat!" teriakku padanya. Bodoamat mau orang liat atau nggak. Intinya sekarang aku kesal. Princess kesal.


Aku sudah mencoba melepaskan cekatan itu dan beberapa kali mengumpat padanya, namun nihil, tenaganya itu tenaga kuda ya, mohon maaf.


Hingga pada akhirnya kami keluar dari bioskop and jrengg....


Goddamit!


Lelaki yang nyekal tanganku itu. Astaghfirullah, eeehhh


Subhanallah maksudku.


"Sakit lepaskan."


Lelaki itu langsung melepaskan cekatan tangannya oohh ralat cengkeramannya yang meninggalkan bekas merah di pergelangan tanganku.


"Pak Bara, Anda?"


"Ikut aku!" tegasnya.


"Kalau saya nggak mau?"


Budayakan jual mahal dulu, kawan-kawan.


"Saya cium kamu."


Yaelah ni Abang satu suka main nyosor dulu. Belum halal bang. Males juga si dia udah punya calon istri dan bila dia nyium aku disini wahhhh tonton gratis nih netizen. Ogah.


"Saya mau nonton film pak!!"


"Lebih penting film atau saya?"


"Film lah!"


Aku udah mbayar tiket yaa pakai duitku, pengangguran nih gara-gara elu kalo ngga di tontonkan mubazir uangku.


"Oh mau saya cium?" ancamnya dengan nada menggoda.


"Ogah!!"


"Makanya kau ikut saya!"


Arghhhh....cowo satu ini suka banget maksa, tapi aku juga suka dia.


"Hm."


"Mau kemana?" tanyaku sesaat kami berdua memasuki lift dan lelaki itu menekan lantai 52. Hemm??


"Ikuti saya dengan kaki bukan dengan mulut."


Hidih kok sensi banget hari ini. Udah mukanya merah, marah kenapa lagi si ? Aku salah apa lagi?


Kenapa cewe serba salah!!!


Jaman udah beda ya!!


"Dasar sensi!" cibirku, entah dia mendengarnya atau tidak, serasa hari ini dia lebih menyebalkan dari hari sebelumnya. Ah, maksudku satu bulan yang lalu kalau 10 tahun yang lalu, diriku yang lebih menyebalkan.


Kok jadi mbahas ini si?


Astaga mungkin gegara aku kesambet cintanya. Wkkkwk apa hubungannya geb.


Cinta? Masih adakah cinta? Walaupun disakiti berulangkali?

__ADS_1


Jika masih, apakah itu sebuah kebodohan atau memang itu cinta sejati?


__ADS_2