Merajut Cinta Terlarang

Merajut Cinta Terlarang
7. Terimakasih


__ADS_3

aku dan mas bima duduk berhadapan. aku pun segera membuka kotak obat yang sudah kupegang sejak tadi.


aku pun mengompres wajah mas bima yang sedikit agak memar.


setelah selesai aku menutup kotak obat itu.


" mudah-mudahan besok sudah membaik ya mas. " kataku sambil menatap mas bima.


mas bima hanya mengangguk sambil tersenyum kepadaku.


" mas, terimakasih ya, kalau tidak ada kamu, aku tak tau entah apa yang akan terjadi kepadaku tadi. " kataku sendu.


" kenapa kamu pulang malam, bukankah waktu kerjamu hanya sampai jam 2 siang. "


tanya mas bima serius menatap kearahku.


" aku lembur mas, sebab bosku meminta semua laporan harus diselesaikan hari itu juga, dikarenakan besok dia ada pertemuan penting dengan rekan bisnisnya." kataku menjelaskan.


" lain kali kamu jangan berani pulang sendiri, kamu kan bisa nelfon mas. " kata mas bima dengan nada marah.


" maaf mas, aku tidak mau merepotkan kamu mas. " ucapku sambil menundukkan wajahku.


" lain kali, kamu jangan sungkan. hubungi mas kalau kamu butuh apa-apa. "


kata mas bima menatapku serius.


aku pun menganggukkan kepalaku.


" ya sudah kalau begitu mas, aku keluar dulu. "


kataku dan berdiri dari dudukku.


" tunggu selly, " kata mas bima dan menarik tanganku.


" ada apa mas. " tanyaku heran.


" duduklah dulu. " kata mas bima lembut.


aku pun duduk kembali disamping mas bima.


dia terus menatapku ,sehingga tatapannya membuat jantungku berdegup kencang.


dia mendorongku pelan, hingga tubuhku tersandar disandaran sofa itu. dia mendekati wajahnya denganku, aku langsung menutup mataku. sangking dekatnya wajahnya dengan wajahku sehingga membuatku bisa mendengar hembusan nafasnya.


" gila, apa yang akan dilakukan mas bima, apa dia akan menciumku. "


bathinku.

__ADS_1


" tetaplah disini, temani mas mengobrol. "


katanya berbisik ke telingaku.


aku membuka mataku, dia menjauhkan wajahnya dan duduk seperti biasa.


" huh... aku fikir dia akan menciumku tadi. "


bathinku.


" gimana kalau kita ngobrol sambil nonton TV saja."


" oke. "


mas bima pun segera menghidupkan TV yang ada di kamarnya itu.


" biar lebih seru lagi, gimana kalau kita ngopi."


kataku memberi ide.


" tidak masalah. " jawab mas bima.


" sebentar ya, aku akan ke dapur membuatnya." kataku.


" ayo, mas akan temani kamu. " ucap mas bima.


kami pun pergi kedapur berdua.


sampai didapur, aku pun membuat dua gelas kopi dan mengambil beberapa bungkus snack untuk dibawa kekamar mas bima.


mas bima pun membantuku untuk membawanya.


kami mengobrol dan tertawa bersama sambil menonton siaran televisi yang ada di kamar mas bima itu.


sampai pada akhirnya dua gelas kopi itu habis dan juga beberapa snack juga habis.


" selly... mas bahagia sekali kamu mau menemani mas malam ini. "


kata mas bima.


" aku juga senang bisa menemani mas. "


kataku.


tiba-tiba saja listrik padam, dan membuat keadaan menjadi sangat gelap.


" Aarrggghhh... "

__ADS_1


aku berteriak ketakutan, sehingga reflek membuatku memeluk mas bima yang ada disampingku.


" kamu takut. " kata mas bima yang juga memelukku.


" iya mas, aku sangat takut gelap. " kataku sambil memejamkan kedua mataku dan membenamkan wajahku di dada bidang milik bima.


" sudahlah jangan takut, ada mas disini. " kata mas bima sambil tangannya mengusap rambut panjangku yang agak masih basah karena terkena hujan tadi.


entah kenapa, aku merasa nyaman sekali berada dipelukkan mas bima, rasanya aku tak mau melepaskannya, bahkan aku memeluknya semakin erat.


aku yang masih memejamkan mataku, tiba-tiba merasakan kedua tangan mas bima berpindah ke wajahku, dia memegang kedua pipiku, ternyata dia mencium keningku lembut.


tak berapa lama listrik yang tadi padam pun sudah hidup kembali.


mas bima kembali memelukku erat, aku tau perasaannya. mungkin dia sangat merindukan kehangatan dari seorang wanita, yang tak ia dapatkan dari istrinya yaitu kak vina, aku pun membalas pelukannya.


" mas bima, mas tau kan apa yang telah kita lakukan adalah sebuah kesalahan."


ucapku pelan dengan wajah sendu.


" iya selly, mas tau. tapi mas tak bisa menutupinya lagi, mas suka sama kamu. kamu bisa membuat mas tertawa dan merasa bahagia. " kata mas bima.


aku melepaskan pelukanku dari mas bima, dan bergeser sedikit menjauh dari mas bima.


" sebenarnya , aku juga suka dan nyaman saat bersama dengan mas bima. tapi...tetap saja cinta ini terlarang dan seharusnya perasaan itu tak boleh ada diantara kita. "


kataku serius menatap kearah mas bima, kami pun saling bertatapan.


" selly...mas juga tidak tau kenapa mas bisa menyukaimu. "


" apa aku hanyalah tempat pelarian mas saja."


" tidak selly, sejak setahun yang lalu, sewaktu kamu masih tinggal di kampung mas sudah sering mikirin kamu." kata mas bima serius.


" hah...maksud mas. " aku terkejut.


" justru mas lah yang meminta vina untuk mengajakmu mencari kerja di kota ini."


" apakah itu benar mas ?


" ya, awalnya sih karena mas kasian sama kamu kalau harus tinggal dikampung, karena kamu kan sudah sarjana. tapi entah kenapa semenjak kita sering bertemu, dan tertawa bersama lama-kelamaan perasaan itu berubah menjadi semakin dalam" kata mas bima.


" tapi mas, aku takut kalau kak vina tau apa yang kita lakukan dibelakang dia. "


" sudahlah selly...kita jalani aja semua ini, biarlah waktu yang menjawabnya. "


aku hanya diam mendengar perkataan mas bima, sepertinya yang dia ucapkan itu memang benar.

__ADS_1


__ADS_2