Mercenary System: The Eternal Life

Mercenary System: The Eternal Life
Bab 21 Menuju Serikat Petualang


__ADS_3

"Hey," Bianca menatapku dengan lembut. "Kamu bisa menginap satu atau dua malam lagi di sini, atau sampai kamu sembuh. Aku tidak keberatan tidur di lantai selama itu."


Jalanan menjadi lebih sepi dibandingkan ketika Hari Valentine. Padahal baru kemarin perayaan tersebut berakhir, tetapi suasananya terasa jauh berbeda. Aku berdiri di depan pintu masuk penginapan tempat Bianca menginap. Di depanku, Bianca berdiri tepat di pintu masuk.


"Aku tidak bisa merepotkanmu lebih jauh lagi, Bianca," kataku, membalas tatapan itu dengan senyuman hangat. Hanya beberapa hari sejak aku bersamanya, sekitar setengah bulan, tetapi kenangan selama bersamanya terutama pengalaman tidur sekamar dengan seorang wanita membekas tanpa dapat dihindari.


Pagi ini, aku menemukan sebuah penginapan yang memiliki kamar kosong. Setelah aku selesai memeriksa kondisi ruangan, aku menyewa kamar tersebut selama dua hari, untuk sementara. Uang yang kumiliki telah sangat tipis. Tentu saja, aku menyisakannya untuk memenuhi kebutuhan perut.


Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tetap menginap di kamarnya Bianca.


Meskipun Bianca bersikeras mengira aku sedang sakit, pada dasarnya tidak demikian. Aku hanya merasa khawatir akan suatu hal. Sejak mimpi buruk yang kualami, aku selalu lupa untuk bernapas dengan lebih santai. Rasanya seperti ada semacam tugas kuliah yang lupa untuk dikerjakan dengan tenggat waktu yang telah sangat dekat atau bahkan terlewati.


"Mau beli berapa kerupuk pirofly-nya, nak?"


"Aku beli dua saja, tolong."


Kalau dipikir-pikir, sejak aku datang ke dunia ini, aku belum sekalipun berjalan-jalan dengan santai. Meskipun aku telah pergi ke banyak tempat dengan Bianca, perhatianku lebih tertuju padanya dibandingkan lingkungan sekitar.


Banyak hal baru yang terlewati dari jangkauan pandanganku, ini membuatku sedikit melupakan perasaan tegang yang kurasakan.


Tadinya aku berniat pergi ke penginapan, berpikir bahwa mungkin aku memerlukan waktu sendiri di kamar untuk benar-benar beristirahat. Tapi, perutku telah bergemuruh. Memang aku belum makan siang. Uang masih ada, setidaknya aku bisa makan beberapa kali lagi. Setelah itu, mungkin aku harus menemukan pekerjaan, yang mana aku sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk mengajukan lamaran. Ini membuatku gugup hanya dengan memikirkannya saja.


Hari Valentine telah berakhir, jadi sekarang aku akan menanggung biaya makan dari uang sendiri.


Baru sampai di pintu masuk rumah makan, aku menahan napas tanpa sadar. Memang telah waktunya bagi kebanyakan orang untuk makan siang. Di dalam ruangan, pandangan mataku dengan cepat mencari meja yang kosong.


"Haha! Healer kita akhirnya naik peringkat. Selamat kawan!"


"Terima kasih, Senior Lerd."


"Sangat bagus, bung! Kita akhirnya bisa mengambil misi yang ditunggu-tunggu."


"Tapi, apa ada dari kalian yang sudah mendapatkan panduannya?"


"Aku pernah mendengar, ada seseorang bernama Garreck yang menemukan jalan pintu menuju ke Gunung Kimoji. Kupikir, dia bisa membantu kita. Bagaimana menurut kalian?"

__ADS_1


Aku sekilas melihat ke arah sekelompok orang, yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan misi pengumpulan bahan. Dari yang kudengar, salah seorang pemuda yang bersama mereka telah dipromosikan menjadi petualang peringkat C.


Topik yang sedang mereka bicarakan bukanlah sesuatu yang menarik perhatianku, tetapi mereka memberikanku ide.


"Ini panggang paha broag dan segelas bir rasa mint anda, Tuan."


"Ah! Terima kasih," aku sedikit tersentak karena sempat melamun, memikirkan tentang pekerjaan yang akan kuambil. Ide yang terinspirasi dari sekelompok orang yang mejanya berada di samping meja tempat aku makan, pekerjaan yang bebas sebagai seorang petualang.


Sekilas panggang paha broag tampak seperti gumpalan daging yang baru saja selesai dipanggang, tidak mirip paha sama sekali. Tidak ada tulang maupun kulitnya. Aku mencoba gigitan pertama, dan-


Whoa!


Daging yang lembut dipenuhi dengan lemak yang segera meleleh di mulut. Ini membuatku tidak berhenti memakannya. Meskipun rempah-rempah maupun bumbu yang digunakan hanya terasa sedikit, dagingnya sendiri terasa gurih. Memakan seporsi panggang paha broag sampai habis dalam waktu singkat membuat perutku terasa penuh.


Padahal aku ingin memakannya terus, memesan seporsi lagi, tapi perutku tidak kuat.


Segelas penuh bir rasa mint sebagai pencuci mulut, itu hanya habis setengahnya. Ah, perutku telah benar-benar penuh. Ini membuatku malas untuk bergerak.


Sebagai seseorang yang menghabiskan banyak waktu di hadapan layar elektronik yang canggih, tentu saja aku merasa cukup akrab dengan pekerjaan sebagai petualang. Tapi, itu belum dapat dipastikan apakah pekerjaan tersebut memang sesuai dengan yang kupikirkan atau tidak. Maka dari itu, aku perlu memastikannya langsung.


"Permisi."


"Ya?"


"Itu ... Apa kau tahu, di mana letak gedung Serikat Petualang?"


Aku bertanya pada seseorang yang mengenakan zirah ringan. Kupikir, dia adalah seorang petualang. Mungkin saja dia mengetahui sesuatu. Dia sedang memakan jajanan dengan duduk di pinggir jalan, jadi aku ikut duduk di sana setelah membeli jajanan di sekitar. Sambil bertanya begitu, aku juga menawarinya jajanan yang kubeli.


"Hoo ... Pendatang dari luar, huh? Cukup rumit juga untuk dikatakan," dia menghabiskan jajanan miliknya, sebelum beralih pada jajanan yang baru saja kuberikan padanya.


Memberikan petunjuk tidak hanya bisa disampaikan lewat kata-kata. Menggunakan bekas tusuk sate jajanan miliknya, dia mulai menggambar denah sederhana di atas jalan tanah. Dan seperti yang dikatakannya, jalan menuju gedung Serikat Petualang memang rumit kalau dijelaskan. Karena memang, jarak dari sini ke sana cukup jauh.


Aku hanya perlu mengamati denah sederhana tersebut, tidak perlu susah-susah mengingatnya karena fitur Map menyalinnya dengan sempurna.


Diperkirakan akan menghabiskan waktu sekitar setengah jam dengan berjalan kaki untuk sampai ke sana. Fitur pada Map memang bukan hanya untuk menyalin atau memetakan lokasi-lokasi yang telah kudatangi, tetapi juga bisa memberikan navigasi secara langsung pada penglihatanku. Ini bahkan lebih canggih dibandingkan teknologi modern di duniaku sebelumnya.

__ADS_1


Arah panah virtual menunjukkan ke kanan, jadi aku turut belok ke arah kanan. Aku tidak berjalan dengan terburu-buru. Hari masing panjang, menikmati suasana kota dengan nuansa abad pertengahan bukanlah hal yang buruk.


Aku baru menyadari, betapa romantisnya ketika aku membayangkan momen-momen kencanku dengan Bianca. Berjalan di jalanan yang dihimpir oleh bangunan kuno dan berbaur dengan orang-orang yang mengenakan pakaian tradisional, bukankah itu menakjubkan? Sayang sekali, sekarang semua itu hanya berupa kenangan. Kesempatan tidak datang dua kali, begitulah kalimat yang cukup akrab di telingaku.


Langkahku terhenti begitu mendengar suara gedebuk di sebuah gang sempit. Aku mengintip ke dalamnya. Di sana, ada tiga orang pria. Dua di antaranya seperti bersekongkol, sementara yang satunya lagi terduduk di tanah.


"Ah~ Aku tidaklah berjiwa heroik, tapi ..."


Gang sempit mengingatkanku pada masa-masa pelarianku ketika di Kota Pelabuhan Vorlte. Aku merasa muak, sebenarnya enggan untuk kembali menginjak tanah yang dipenuhi sampah ini.


"... Lebih memuakkan ketika ada orang menyedihkan yang menghadapi jalan buntu untuk dapat bergerak maju. Aku beruntung karena ada Sistem, sementara dia tidak. Apalagi, dia memiliki pengganggu kecil yang suka mengusik kehidupan orang lain."


Bagaimanapun, aku terkurung bertahun-tahun dalam zona nyaman hanya karena aku merasa takut untuk mulai melangkah. Tidak ada yang menghalangi jalanku, tapi aku merasa begitu tidak berdaya. Dia bahkan lebih hebat karena mampu bertahan hingga saat ini dalam lingkungan yang jauh lebih keras. Tidak ada salahnya kalau aku turun tangan membantu orang-orang yang bernasib mirip sepertiku.


Memang kasusnya jauh dari kemiripan, tapi aku merasa perlu untuk membukakan jalan baginya untuk mulai melangkah maju. Dia mungkin takut untuk membalas perbuatan mereka, maka dari itu aku hanya perlu menunjukkan padanya bahwa kedua orang itu tidak menakutkan seperti yang dibayangkannya.


Salah seorang dari mereka melihat kedatanganku. Dia memberi isyarat pada temannya bahwa ada orang yang datang di belakangnya.


"Hm? Tidakkah kau lihat? Jalan kecil ini sibuk. Lebih baik ambil saja jalan lain," kata orang yang sebelumnya memunggungiku. Dia melambaikan tangan, menyuruhku untuk pergi sebagaimana yang dikatakannya sambil menatapku dengan dingin.


Aku tidak berhenti, malah balas menatapnya dengan tajam. Kemudian, aku berdiri di depannya cukup dekat.


"Hey, pengecut," kataku cukup pelan.


"Apa?"


Wajah pria yang tampak seumuran denganku yang ada di depanku ini mengeras ketika dia mendengar kata yang keluar dari mulutku.


"Oh, bukan hanya pengecut. Kau juga tuli, ternyata."


"Apa kau bilang?"


"Ya ampun," aku mundur selangkah sambil menatapnya dengan jijik. "Ini baru pertama kalinya bagiku berhadapan dengan seseorang yang telinganya penuh kotoran. Atau jangan-jangan, telinganya memang telah rusak, ya?"


"Ba-bajingan pengganggu ini ...," wajahnya yang mengeras berubah warnanya menjadi lebih merah. Bola matanya yang berwarna hitam itu sedikit mengecil, sementara di area putihnya tampak rambut-rambut dari pembuluh darah yang menegang. Sambil berjalan mendekatiku, dia berkata dengan suara yang terendam, "apa kau ingin mati, hah?"

__ADS_1


__ADS_2