
Tinggal menunggu besok, aku akan menerima lencana petualang. Menurut penjelasan singkat wanita resepsionis kepadaku, aku belum memasuki sistem peringkat petualang, tentunya masih dalam masa pelatihan. Untuk dapat menjadi petualang resmi, setidaknya aku memerlukan nilai kontribusi yang mencukupi dengan menyelesaikan tiga jenis misi tingkat pemula yang berbeda jenis.
"Rasanya sedikit gugup ketika aku memikirkan misi yang akan kuambil nanti," gumamku pelan, sebelum berhenti berjalan untuk meregang tubuh.
Matahari sebentar lagi akan terbenam. Sebelum hari menjadi lebih gelap, aku perlu segera tiba di penginapan. Tubuhku tidak lelah meskipun seharian ini aku berhasil menyelesaikan beberapa Quest mudah dengan imbalan satu sampai Poin Quest, tetapi aku merasa sedikit gelisah kalau-kalau aku terlambat pulang. Sejak aku tiba di kota ini, Quest selalu banyak bermunculan. Hal ini membuatku menemukan sesuatu yang baru mengenai Quest.
Ada kalanya, Quest akan menghilang begitu saja. Beberapa Quest yang telah kutandai, niatnya akan diselesaikan ketika ada kesempatan, malah tidak kutemukan. Aku awalnya tidak begitu memperhatikan, tetapi hari ini aku menyadarinya.
Bagaimanapun, Quest mengadopsi situasi nyata yang terjadi di lingkungan sekitar. Cakupan areanya tergantung dari tempat di mana aku berada saat ini. Dalam hal ini, Quest yang muncul adalah wilayah-wilayah tertentu bagian di Kota Lopentine. Dalam kesibukan tiap orang, tentu saja tidak heran kalau Quest yang muncul akan sangat banyak. Dibandingkan dengan Kota Pelabuhan Vorlte, kota ini jauh lebih hidup.
Karena aku pergi ke beberapa tempat untuk menyelesaikan Quest, aku jadi tak sadar bahwa lokasi penginapan cukup jauh dari sini. Malah, ini lebih dekat dengan tempat Bianca menginap.
"Mumpung ada di sini, apa aku sekalian temui dia saja, ya?"
Beberapa pedagang yang berada di pinggir jalan telah mulai gulung tikar. Langit memang semakin gelap, menandakan waktu telah berlalu cukup lama tanpa terasa. Sementara itu, aku yang sambil mempertimbangkan untuk menemui Bianca, malah berjalan lebih lambat tanpa sadar.
"Tidak perlu khawatir, kamu akan merasakan surga dunia bersama kami."
"Tenang saja. Meskipun begini, kami dapat memperlakukanmu dengan sangat lembut."
"Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang bagi kita."
"Ayo, kita pergi ke tempat yang lebih nyaman~"
Di sepetak lahan kosong yang ada di pinggir jalan, aku menemukan sekelompok orang sedang berkerumun membentuk setengah lingkaran pada dinding bangunan. Meskipun cukup gelap, itu tidak sampai membuat jarak pandang terbatasi. Aku masih dapat melihat wajah mereka, hanya bagian-bagian kecil yang menjadi kurang jelas untuk dilihat.
Sambil berjalan, aku diam-diam mengamati mereka. Dari persenjataan yang mereka kenakan, aku yakin mereka adalah petualang. Apa yang sedang mereka lakukan di sana?
Aku berniat untuk mengabaikan mereka. Situasi akan menjadi sangat buruk ketika seseorang mengusik kesenangan orang-orang seperti mereka. Jadi, aku terus berjalan dengan berpura-pura tidak menyadari adanya keributan di sepetak lahan di samping jalan.
__ADS_1
Meskipun niatnya tidak ingin memperhatikan mereka, nyatanya pandangan mataku tetap mengarah ke sana. Sehingga, pada sudut tertentu, di antara celah yang muncul, aku tak sengaja melihat wajah yang kukenali di dalam kerumunan tersebut. Itu membuatku berhenti berjalan, yang tentu saja aku memperhatikan orang-orang itu dengan lebih terbuka.
"Bianca?" gumamku dengan tetap memandang ke sekelompok orang yang berkerumun. "Apa yang dilakukannya di sana?"
Berbagai pemikiran berkecamuk. Selama hampir dua pekan bersamanya, apalagi dalam waktu sepekan terakhir aku berkencan dengannya, aku berpikir bahwa Bianca adalah sesosok wanita anggun yang mampu membuat lawan jenis segan untuk mendekatinya. Mungkinkah di balik layar, dia ternyata hanyalah seorang wanita malam?
Ini, tidak mungkin, bukan? Dia adalah Bianca, seorang bidadari yang turun dari langit.
Maksudku, aku mungkin terlalu menyanjungnya, tetapi siapa yang dapat memalingkan perhatian darinya? Seorang wanita dewasa yang memiliki kecantikan tiada tara, tapi dia bahkan tidak memiliki pasangan. Pintu untuk melamarnya masih tertutup, sementara di dalamnya ada ruang untuk seseorang tinggal.
"Ayolah~ Hey, tidak perlu takut begitu~"
"Tidak. Aku tidak mau. Tolong lepaskan aku, kumohon."
Sekilas aku merasa lega ketika menyadari bahwa apa yang kupikirkan terhadap Bianca tidaklah sesuai, untuk sementara ini. Kemudian, melihat bagaimana orang-orang itu memperlakukan Bianca, aku mulai merasakan tubuhku memanas, terutama di bagian wajah.
"Orang-orang ini," aku tersenyum sambil menatap tajam ke arah mereka.
"Siapapun, tolong aku!"
Sekelompok orang itu tampaknya akan membawa Bianca ke suatu tempat. Itu cukup bagus bahwa mereka setidaknya belum melakukan tindakan yang jahat terhadap Bianca sebelum tiba di tempat tujuan. Tapi, aku tidak akan membiarkan mereka melakukannya.
Dengan tekad untuk melindungi Bianca, Guard Will diaktifkan.
Aku tidak merasa bergerak dengan sangat cepat, tetapi aku dapat berdiri di samping Bianca bahkan sebelum aku mengedipkan mata. Setidaknya aku memahami deskripsi tentang Guard Will, hanya saja sulit untuk menguasai maupun mendalami cara kerja dari kemampuan ini. Tentu saja Guard Will sangat berguna dalam situasi seperti ini walaupun masih memerlukan persyaratan untuk dapat mengaktifkannya.
"A-ap ... siapa kau?!"
"EH?! Orang ini-"
__ADS_1
"Kenapa dia ada di sini?!"
Tentu saja aku memahami keterkejutan mereka, tetapi aku tidak memiliki waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut, juga karena aku tidak peduli. Malahan, aku menggunakan kesempatan ini untuk menggunakan Shield Bash yang menghempaskan sampai tiga orang yang berada di dalam area hempasan.
"Maaf," aku berbisik kepada Bianca, sebelum memangkunya tiba-tiba.
Mereka yang masih berdiri hanya dapat menganga menghadapi situasi di mana muncul entah dari mana seseorang yang mengenakan persenjataan penuh yang mengkilap. Semenara itu, orang yang sedang mereka lihat sekarang ini sedang membawa pergi seorang wanita yang hendak dijadikan sebagai penghibur mereka pada waktu malam nanti.
Di pikiran masing-masing orang, kejadian tersebut terlalu mengejutkan sampai membuat mereka lupa dengan sesuatu yang penting.
"Ugh," salah seorang yang terdorong oleh Shield Bash memegangi kepalanya. Dari serangan kejutan itu, kepalanya bagian belakangnya sempat terbentur pada lantai jalan dengan cukup keras. Tapi, dia yang melihat bahwa seseorang telah membawa pergi wanita yang menjadi mangsanya untuk dimainkan malam ini segera tersadar.
"Apa yang kalian lakukan?! Kejar dia, bodoh!!"
Dengan kecepatan gerakku, apalagi sambil memangku Bianca, hanya membutuhkan waktu yang sebentar sebelum sekelompok orang itu menyusul kemari. Jadi, aku menurunkan Bianca, dan berkata, "Larilah sejauh mungkin. Kalau bisa, pulanglah. Aku akan berusaha menahan mereka."
"Tidak perlu," kata Bianca yang terlihat lebih tenang. "Kamu seharusnya dapat mengalahkan mereka. Bagaimanapun, kamu yang dapat mengalahkan pejuang orc tidak mungkin kalah, bukan?"
"Tapi-"
"Yakinlah, Kaellan. Aku juga akan mengganggu pergerakan mereka. Ini akan lebih mudah dari yang dibayangkan."
Kalau diingat-ingat, Bianca memang bukanlah wanita biasa. Meskipun dia mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penyihir pemula, dia seharusnya tidak mudah terpojok seperti itu oleh para berandalan yang suka mengandalkan jumlah. Mungkin karena dia memerlukan waktu untuk perilisan mantranya, jadinya dia tidak berdaya kalau berhadapan langsung dengan masalah.
Andaikan ada yang mengalihkan perhatian, maka orang-orang itu bahkan takkan dapat melepas diri dari tangan-tangan hitam itu.
"Yeah, kurasa kamu benar," aku tersenyum kecil.
Kita memang baru bertemu dua pekan yang lalu, kemudian melakukan perpisahan belum lama ini. Tetapi selama masing-masing dari kita masih berada di satu kota yang sama, kita akan tetap dapat bertemu satu sama lain.
__ADS_1
Bahkan, saat ini, kita malah akan kembali bekerja sama untuk menghadapi sekelompok berandalan.
"Ini akan terasa sangat mudah."