
Tendangan menyamping yang baru saja kulakukan tepat mengenai pelipis pemimpin berandalan yang membuatnya berputar sebelum tersungkur di atas jalan. Dia tidak lagi bergerak, tetapi itu tidak membuatnya kehilangan nyawa. Masih ada denyut nadi di lehernya.
Para berandalan itu berpikir bahwa aku akan menjadi lemah tanpa Full Paladin Armory. Meskipun memang benar dalam hal teknik maupun persenjataan, aku tidak diuntungkan. Tetapi, aku tidak menyangka bahwa tanganku akan cukup tangguh untuk dapat menahan banyak tebasan pedang selama pertarungan berlangsung.
Mereka sungguh tidak mengira aku dapat menumbangkan pemimpin mereka dalam sekali serangan saja. Apalagi yang cukup mengejutkan bagi mereka maupun aku sendiri, luka dari sayatan pedang di lenganku tidaklah begitu dalam sampai memutus otot, sehingga aku masih dapat menggerakkan tanganku. Tidak ada luka yang serius, hanya ada rasa sakit yang mulai terasa lebih perih seiring aku merasakan hembusan angin dingin.
Ah, malam telah tiba.
Pertarungan ini dimenangkan olehku pada akhirnya, tidak seperti apa yang diharapkan oleh para berandalan. Sementara itu, meski Bianca belum mengenalku dengan baik, dia merasa tidak mungkin bagiku untuk kalah. Kemenangan ini bukanlah sesuatu yang mengejutkannya.
"Mau kamu apakan mereka?"
"Menurutmu bagaimana?"
Aku berjalan ke arah Bianca sambil menunjuk ke belakang, bertanya tentang balasan terhadap perlakuan mereka yang buruk kepadanya. Bagaimanapun, Bianca lebih berhak untuk memutuskan balasan apa yang pantas untuk diberikan kepada mereka. Tapi, dia malah bertanya balik, meminta pendapat dariku.
"Akan banyak perempuan yang menjadi korban kalau mereka tidak dibuat jera. Mungkin, menghancurkan kebanggaan mereka sebagai sesama pria lebih mengerikan dibandingkan kematian itu sendiri. Dan, kupikir, mereka pantas merasakan kengerian tersebut."
Mengutarakan pendapat yang kejam seperti itu, aku tanpa sadar malah tersenyum. Bagiku sendiri, bagaimanapun, kebanggaan pria adalah masa depan itu sendiri. Tanpa itu, untuk apa melanjutkan hidup? Memang ada orang yang sejak awal tidak dikaruniai apa yang seharusnya menjadi miliknya, tetapi kalau sampai kehilangan sesuatu yang amat berharga ketika kamu pernah memilikinya akan lebih menyakitkan.
Andaikan saja aku tidak melewati jalan ini, aku mungkin takkan bertemu dengan Bianca. Dalam hal ini, Bianca kemungkinan besar akan berakhir menjadi mainan mereka untuk memuaskan hasrat duniawi. Dengan alasan ini, aku malah merasa senang untuk segera membalas perilaku mereka.
"Kebanggaan pria? Apa itu?"
Aku sedikit tertegun mendengar pertanyaan dari Bianca. Dia mempertanyakan hal itu dengan wajahnya yang polos. Di usianya yang telah matang untuk mulai memiliki keturunan itu, apakah dia sungguh tidak mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan pria? Meskipun memang penggunaan kataku sedikit kurang jelas, dia seharusnya paham yang kumaksud.
__ADS_1
Rasanya aneh kalau wanita secantik Bianca tidak populer di kalangan pria. Selama Bianca menerima banyak lamaran dari pria, dia setidaknya pernah sekali memiliki pacar, bukan? Dari situ, dia bisa mengetahui hal-hal mengenai pria meski sedikit.
Tapi, Bianca tampak seperti seorang gadis muda yang sangat polos ketika dia mempertanyakan pernyataanku.
Mengetahui sedikit fakta tentang Bianca, aku malah semakin ingin menghancurkan masa depan para berandalan ini. Membayangan Bianca yang polos dilecehkan oleh sebelas orang berandalan membuatku sangat muak.
"Tidak. Lupakan tentang itu. Kurasa, aku menemukan hukuman yang cocok untuk mereka."
Bagaimanapun, obrolanku dengan Bianca masih dapat didengar oleh para berandalan. Mereka yang mendengar ini mulai menunjukkan ketakutan. Wajah mereka berubah menjadi pucat dalam sekejap. Aku bisa melihat, ketika aku menoleh ke arah mereka, mereka tersentak dan tubuhnya mulai gemetaran.
"He-hey, Tuan ..., saya ... sa-saya bisa menyerahkan semua harta yang saya miliki untuk anda, tapi ... tolong biarkan saya pergi, ya?"
"Saya ...! Saya bersedia menjadi b-bu-budak anda, asalkan saya dibebaskan dari hukuman ini."
Tidak seorangpun yang rela kebanggaannya dihancurkan. Dengan jumlah mereka, memang masih ada kemungkinan untuk dapat mengalahkanku dalam pertarungan. Tetapi, bagaimanapun, Bianca menggunakan sihirnya untuk mengekang tubuh mereka agar tidak bisa bergerak. Dalam kondisi tersebut, bagaimana mereka memberontak?
Kalau memungkinkan, mereka bahkan ingin menghajarku yang mengusulkan hukuman tersebut untuk mereka.
Aku tidak menghiraukan kepanikan mereka. Sambil berjalan mendekati mereka, aku mengambil Sacred Shield. Bagian bawah perisai milikku ini yang membentuk segitiga cukup ideal untuk menghancurkan kebanggaan para berandalan itu yang berada di antara kedua pangkal kaki mereka.
"Aku akan menunjukkan hukumannya. Setelah ini, kamu bisa melanjutkan hukumannya kepada semua orang yang tersisa," aku menoleh ke arah Bianca.
"Hm, baiklah. Aku juga penasaran hukuman apa yang ingin kamu berikan kepada mereka."
Mereka semakin histeris. Seolah menghadapi kematian, mereka memberontak sekuat tenaga untuk melepas diri dari kekangan tangan hitam. Sayangnya, tidak seorangpun yang berhasil terlepas.
__ADS_1
Untuk menunjukkan hukumannya, aku berjalan ke salah seorang berandalan yang paling dekat. Hanya tiga sampai empat langkah lagi untuk sampai di depannya, langkahku terhenti begitu saja karena aku mencium bau yang tak asing. Begitu aku melihat ke bawah, dahiku segera mengerut.
"Ya ampun, apa kau tak malu ngompol di celana? Tsk tsk," aku menggelengkan kepala sebelum menjauhinya dengan berjalan ke target yang lain.
Saat pandangan mataku bertemu dengan seorang pria paruh baya yang telah kehilangan satu gigi bagian depannya, dia langsung membeku. Tentu saja, dia tahu dari tatapan tersebut, dirinya malah mendapat giliran pertama dari hukuman yang akan kuberikan. Padahal dia berada di barisan paling kanan yang berada lebih jauh dari yang lain, kesempatan untuk mendapat giliran pertama cukup rendah.
Tapi, apa-apaan ini?! Dia berteriak dalam hatinya. "Obrah sialan! Dia malah kencing di celana," gumamnya pelan dengan suara yang bergetar, karenanya dirinya kini menjadi target pertama dari hukuman yang mengerikan ini.
Melihat wajah yang sangat pucat itu, aku semakin tersenyum lebar. Rasanya menyenangkan sekali melihat orang-orang bejat seperti mereka menderita. Hukuman bahkan belum dimulai, tetapi mereka telah sangat ketakutan. Ini sangat bagus untuk memperlama proses eksekusi. Mereka akan terus dilanda ketakutan karenanya.
"Kuh hehehe ...," aku mengangkat perisai dengan bagian bawahnya mengarah ke target hantaman. Mataku tak bisa berpaling untuk terus melihat raut wajah yang ketakutan itu.
Lihatlah sepasang bola mata yang bergetar itu ketika melihat perisai di depannya yang siap untuk menghancurkan masa depan miliknya. Selama waktu ini, apakah dia menyesali atas segala perbuatan yang telah dirinya lakukan? Atau hanya ketakutan yang ada dalam pikirannya? Untuk situasi yang dirinya hadapi, dia pasti tak mungkin memikirkan penderitaan orang lain yang telah disakiti olehnya. Untuk itu, masa depan yang dimilikinya, sudah wajar kalau pada akhirnya ada yang menghancurkannya.
Perisai mulai berayun menuju target yang tidak berdaya. Hanya dengan hantaman yang tidak begitu kuat, itu bisa hancur saking lemahnya. Atau, seharusnya memang begitu, tapi di pertengahan jalan ada suara seseorang yang membuatku terpaksa menghentikannya.
"Apa yang sedang terjadi di sini?"
Yah, cukup mengejutkan jalanan ini sempat sepi selama beberapa waktu. Sepi dalam artian tidak ada orang yang lewat selain dua pihak yang sedang bertikai. Padahal cukup lama di sini terjadi keributan, tetapi sejauh ini memang tidak ada terlihat ada orang lain yang muncul selain saat ini.
Pertanyaan tersebut datang dari seorang pria yang mengenakan jubah putih yang mengalir di belakangnya. Ada dua orang lainnya yang berjalan di samping kiri dan kanan, mereka perempuan kembar identik. Mereka berpenampilan luar biasa kalau saja pakaian yang mereka kenakan, rambut, maupun kulit, tidak kusam. Dari bagaimana mereka berpakaian, mereka seharusnya petualang.
"Menurutmu?"
Kedatangan mereka bukanlah sesuatu yang diharapkan olehku. Tentu saja, mereka mengganggu karena membuatku terpaksa harus berhenti memulai penghukuman para berandalan. Aku tanpa sadar bertanya dengan nada yang bermusuhan, termasuk caraku menatap pria tersebut.
__ADS_1
Mungkinkah akan ada pertarungan lainnya yang terjadi?