Mercenary System: The Eternal Life

Mercenary System: The Eternal Life
Bab 25 Pertarungan II


__ADS_3

Pemimpin berandalan menerjang ke arahku. Dia menebaskan pedangnya dengan sangat cepat sampai-sampai membuatku hanya dapat melihat pantulan cahaya pada bilah pedangnya.


Aku dapat merasakan banyak benturan di paha, perut, dan lengan. Tapi, tentu saja tidak ada serangan yang melukaiku. Meskipun tanganku mencoba untuk menangkis, tubuhku pun secara refleks mengelak dari serangan lawan, aku tetap menerima serangan tebasan pedang dari pemimpin berandalan.


Daripada memikirkan serangan pemimpin berandalan, aku mencoba melihat pergerakannya untuk mengubah arah pertarungan dari awalnya bertahan menjadi menyerang.


Bagaimanapun, bakat Close Combat takkan secara langsung memberikanku kekuatan. Setidaknya, aku mulai merasakan adanya sedikit perubahan padaku. Awalnya aku dibuat kebingungan dengan apa yang harus kulakukan ketika aku kehilangan senjata. Aku bisa saja mencoba untuk mengambil Sacred Shield, tetapi itu akan membuat pemimpin berandalan mengalihkan perhatian kepada Bianca.


Memang tanpa Close Combat sekalipun, aku masih dapat bertarung dengan tangan kosong. Tapi, efisiensinya akan sangat berkurang. Meski bukan pertarungan di atas ring atau orang yang ahli beladiri, orang yang kulawan bahkan tidak bisa dibandingkan dengan orang-orang di duniaku sebelumnya. Apalagi, aku sama sekali tidak memiliki dasaran teknik beladiri. Kuharap, dengan adanya Close Combat, aku dapat menyerap referensi dari tontonanku mengenai beladiri.


Baiklah, aku akan mencoba untuk menggunakan gaya bertarung karate yang tampak lebih jelas dan mudah menurutku. Aku mulai memasang kuda-kuda bertarung dari teknik dasar karate. Tidak ada yang istimewa, aku hanya memposisikan kedua kaki selebar bahu dengan sedikit menekukkan lutut, menempatkan kedua tangan yang mengepal di pinggang, sebelum memukul ke depan.


"Kuh!"


Pemimpin berandalan mundur tiga langkah. Dia mengusap dadanya menggunakan punggung jari tangan yang tidak memegang pedang seolah ada kotoran di tempat dadanya yang terkena pukulan lurus yang baru saja kulakukan.


"Sudah kuduga, kau sebenarnya lemah. Pukulanmu terasa seperti pukulan dari seorang gadis. Kau yang hanya mengandalkan perlengkapan mahal jangan bermimpi untuk menghalangiku!"


Pergerakannya menjadi lebih cepat. Aku terpaksa kembali berada di posisi bertahan dengan mempertahankan kuda-kuda dasaran karate. Pada waktu ini, aku mengamati anak buahnya orang yang menjadi lawanku. Apakah Bianca masih dapat menahan mereka selama aku masih belum dapat mengalahkan orang ini?


Lagipula, meskipun Bianca bisa menahannya lebih lama, orang yang melawanku bisa saja memanfaatkan kelebihannya dalam kecepatan gerak untuk menargetkan Bianca terlebih dahulu.


Sebisa mungkin, aku harus menjadi pusat perhatian pemimpin berandalan. Lebih bagus lagi kalau aku dapat mengalahkannya. Tapi, bagaimana? Pukulanku yang pertama hanyalah kebetulan mengenai tepat di dadanya. Aku mencoba untuk menyerangnya beberapa kali selama menempatkan diri di posisi bertahan, tapi baik pukulanku maupun tendangan tidak ada yang berhasil mengenai pemimpin berandalan.


Di tebasan yang terakhir, dia melompat mundur. Kuda-kuda bertarungnya kembali berubah, itu cukup kukenali karena belum lama ini aku melihatnya.


"Gawat," aku merapatkan gigi. Aku telah dapat menebak bahwa dia akan menggunakan jurus yang mampu membuat Sacred Shield hampir ditembus. Tanpa menggunakan jurus saja tebasan pedangnya sulit untuk dilihat, apalagi menggunakan jurusnya yang sungguh berbahaya. Tanpa Sacred Shield, kali ini aku pasti akan terluka.

__ADS_1


[Blazing Sword Move: Mountain Slash]


Secara refleks, aku melompat mundur untuk menghindari dua tebasan cepat yang meninggalkan jejak berwarna merah menyala di udara. Baru saja mendarat, Sacred Armor yang melindungi kedua ujung bahu terasa semakin panas. Aku dapat melihat garis vertikal merah yang mengepul di kedua sisi bekas tebasan.


"Ugh! Panas sekali ...."


Padahal aku bergerak jauh lebih awal sebelum dia menggunakan jurusnya untuk menyerangku, tetapi apa-apaan itu?!


Terpaksa, aku melepaskan Sacred Armor dengan bantuan dari Sistem. Tentu saja itu berlaku untuk seluruh persenjataan yang kukenakan.


"Ckckck," dia menggelengkan kepalanya. "Sungguh disayangkan perlengkapan tangguh seperti itu digunakan oleh pemula sepertimu. Mungkinkah ini takdir? Aku bisa mendapatkan perlengkapan yang mahal ketika aku memang membutuhkannya sekarang?"


Dalam situasi ini, aku bisa saja kehilangan nyawa dengan melepas Full Paladin Armory. Nilai VIT sekarang berkurang separuhnya. Meskipun nilai vitalitasku masih terbilang tinggi, tanpa pelindung badan, aku ragu kulitku akan cukup kuat untuk menahan tebasan pedang. Dalam hal ini, hanya Close Combat lah yang dapat diandalkan untuk saat ini meskipun itu tergantung dari bagaimana aku memanfaatkannya.


Pertarunganku dengannya telah memakan waktu belasan menit. Bukan hanya aku yang sedang berjuang di sini, Bianca pun sedang menahan anak buahnya yang pasti akan merepotkanku kalau mereka ikut bertarung.


Aku mendengus kecil.


Setelah kuamati selama pertarungan ini, aku menemukan bahwa pemimpin berandalan ini telah melupakan keterlibatan Bianca. Dia tampak lebih menunjukkan ketertarikan pada Full Paladin Armory. Bagaimanapun, Full Paladin Armory telah menunjukkan ketangguhannya. Mungkin saja dia benar-benar lebih terpikat oleh persenjataan daripada wanita? Kuharap memang begitu.


Entah mengapa, memikirkan pemimpin berandalan yang telah melupakan tujuan awalnya memulai pertarungan ini membuatku merasa lega. Aku menghela napas pelan, sebelum mulai melompat-lompat kecil dengan sedikit mengubah kuda-kuda bertarung.


"Dengan tanpa pelindung badan dan tangan kosong, apa yang bisa kau lakukan, hm?"


Pemimpin berandalan tersenyum menyeringai. Dia tampak lebih percaya diri akan kemenangan, berbeda dari sebelumnya ketika aku tidak dapat ditembus oleh tebasan pedangnya.


Tenanglah. Fokus. Dia pasti memerlukan waktu lagi untuk dapat menggunakan jurus andalannya yang membuatku terpaksa melepas Full Paladin Armory. Tanpa itu, dia akan jauh lebih tidak berbahaya kalau dibandingkan ketika aku bertarung melawan pejuang orc. Itu benar, aku bahkan hampir kehilangan nyawa ketika datang untuk menyelamatkan Bianca.

__ADS_1


Lawanku saat ini jauh lebih lemah, apalagi aku sendiri telah mengalami peningkatan. Tanpa persenjataan sekalipun, aku telah jauh lebih kuat dibandingkan aku yang dulu bahkan meskipun aku yang dulu mengenakan Full Paladin Armory.


Aku hanya tidak perlu bergantung pada pertahanan diri belaka. Aku memiliki Close Combat yang membuatku dapat bertarung dengan baik dalam segala kondisi di pertarungan jarak dekat. Pada pertarungan ini, aku seharusnya bisa mengalahkannya. Dia hanya memiliki senjata dan kecepatan gerak. Dia mungkin menguasai teknik penggunaan pedang, tetapi aku juga memiliki banyak referensi dalam seni beladiri.


Keunggulanku saat ini adalah pengalaman bertarung melawan pejuang orc, sementara dia memiliki dua poin yang dapat diandalkan selain dari jurus miliknya yang mematikan.


"Namanya Taekwondo," kataku tiba-tiba di saat pertarungan baru saja dilanjutkan.


"Apa?"


Pemimpin berandalan terlihat jelas mulai menganggapku remeh. Tebasan pedangnya tidak seganas sebelumnya. Dia tampak mempermainkanku. Buktinya, aku dapat mengelak sebagian besar tebasan pedangnya.


Tidak ada luka tebasan selain di tangan yang kugunakan untuk menangkis tebasan pedang yang mengarah ke perut atau paha yang sedikit sulit untuk dihindari. Anehnya, luka tebasan di tangan tidak begitu dalam. Mungkinkah itu dipengaruhi oleh nilai vitalitas tubuhku? Meskipun terasa sakit, aku masih dapat mentoleransinya dibandingkan sakit dari rasa panas yang lebih menyengat.


Dia mempermainkanku, tetapi aku juga sebenarnya sengaja menunjukkan ketidakberdayaan dengan tidak bertarung secara agresif. Dia pasti berpikir bahwa aku lebih berhati-hati karena tidak memiliki pelindung badan. Meski memang benar sih, karena aku masih menghargai nyawaku.


Diam-diam, aku mencari momen yang tepat untuk melakukan gerakan tendangan yang mematikan dalam teknik taekwondo.


Teknik dalam Taekwondo lebih banyak menggunakan kaki. Dalam variasi gerakannya, baik seni maupun digunakan untuk tipuan sangat bagus. Misalnya gerakan menendang 540 derajat, di mana ahli taekwondo akan melakukan tendangan memutar di udara dengan cepat. Dalam pertarungan nyata, lawan takkan tahu gerakan apa itu tepatnya. Sehingga, entah di putaran yang mana ahli taekwondo ini akan melakukan tendangannya, lawan akan mendapatkan kejutan.


Seperti yang kukatakan, aku belum pernah belajar beladiri, hanya memiliki referensi melalui tontonan belaka. Tapi, aku merasa akan dapat melakukan tendangan memutar di udara sebanyak setidaknya satu putaran.


Ini mungkin saja pertaruhan. Namun, aku sangat yakin dapat melakukannya.


Bagaimanapun, aku tidak harus melakukan tendangan memutar di udara untuk menyerang lawan dengan gaya. Tergantung dari kesempatan yang muncul, aku hanya perlu menyesuaikan. Untuk itu, aku perlu memberikan serangan fatal yang mampu membuat lawan tidak sadarkan diri dalam sekali serangan.


Untuk memingsankan lawan, kepala adalah titik yang tepat untuk diserang, kurasa. Baiklah, aku berhasil menghindari tebasan secara diagonal dan sekarang aku berada di bagian luar tebasannya. Dengan kata lain, dia yang menggunakan tangan kanan sebagai tenaga utama untuk mengayunkan pedang membentuk celah besar di sebelah kanan ketika dia mengayunkan pedangnya dari pojok kanan atas ke pojok bawah kiri, dan aku berada di sebelah kanan darinya.

__ADS_1


Tanpa ragu, aku melakukan tendangan menyamping yang mengarah pada pelipisnya.


__ADS_2