Mercenary System: The Eternal Life

Mercenary System: The Eternal Life
Bab 27 Kemudahan yang Tak Terduga


__ADS_3

Kedatangan tiga orang asing membuatku terpaksa harus berhenti untuk memberikan hukuman kepada para berandalan. Dari penampilannya, dia tidak bisa diabaikan. Bisa jadi dia adalah seorang bangsawan. dan kalau bukan sekalipun setidaknya dia seseorang yang memiliki pengaruh. Aku dapat merasakan tekanan yang kuat darinya.


Lagipula, tindakanku yang semena-mena menghukum orang jahat meskipun di pihak yang menjadi korban, dari sudut pandang orang yang tidak melihat kejadian secara menyeluruh akan menimbulkan kesalahpahaman.


"Hm ... Apa mungkin kalian dirampok oleh mereka?" Pria itu mengamati para berandalan yang masih dililit oleh tangan-tangan hitam, sebelum menatapku dengan tatapan yang merendahkan.


Aku mendengus keras. "Apa kau petugas keamanan?"


"Bukan."


"Jadi, kurasa aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu," kataku yang tidak memberikan jeda begitu dia menjawab pertanyaanku. Aku berdiri tepat di hadapannya, balas menatap sepasang mata biru itu dengan tajam. "Kuharap, kau tidak ikut campur masalah yang sedang terjadi di sini lebih dari kau mengganggu waktu kami."


Aku mencoba untuk mengabaikannya dengan membalikkan badan, berjalan mendekati pria yang berada di ujung kanan barisan. Rupanya, pria itu masih berdiri di tempatnya semula. Aku yang akan menjadi mimpi buruk para berandalan masih belum mulai menghukum mereka.


"Bisakah kalian enyah dari sini? Kalian sungguh mengganggu," kataku tanpa menoleh ke belakang setelah menghela napas pelan.


Suara tawa yang dalam, seperti terbawa oleh hembusan angin malam, terdengar.


Tubuhku sedikit tersentak ketika tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundakku, padahal aku tidak mendengar suara langkah kaki. Meski tidak terdengar sekalipun, aku seharusnya dapat merasakan ada seseorang yang mendekat. Instingku telah sedikit ditempa ketika dalam perjalanan ke kota ini.


Bagaimanapun, perjalanan yang memakan waktu sampai berhari-hari melalui hutan belantara tidaklah mudah untuk dilakukan. Aku memang tidak merasakan kelelahan yang berlebih secara fisik karena memiliki vitalitas yang tinggi, tetapi itu tetap menguras mental karena harus tetap bersiaga bahkan ketika tidur sekalipun. Dengan melakukan perjalanan bersama seorang wanita, aku tidak mungkin menyerahkan tanggung jawab penjagaan kepadanya.


Ketika aku berada di kota ini, aku mulai menyadari bahwa aku dapat merasakan kehadiran makhluk hidup di sekitarku sejauh beberapa langkah. Tentu saja, untuk rincian yang lebih kecil seperti serangga, aku lebih suka mengabaikannya.


Jadi, bagaimana orang ini bisa luput dari indera keenamku? Kecuali dia memiliki kemampuan untuk menyelinap dengan baik, atau dia memiliki kekuatan yang jauh di atasku, atau dengan kemungkinan yang lain, dia tidak bisa diabaikan. Aku memang tidak berharap dia akan mudah untuk mendengarkan perkataanku.


"Ya ampun. Lihatlah pria muda ini, apakah anda tuan tanah di sini? Hm ...?"

__ADS_1


Mendengar suara bisikan itu, bulu kudukku berdiri tegak. Bagaimanapun, selama waktu yang singkat ini, amarahku mulai reda. Kalau diingat-ingat, aku memang tidak memiliki kuasa untuk mengusir orang lain dari jalan ini.


"Saya ingin berada di sini maupun tidak, itu urusan saya, bukan begitu?"


Dia menatapku dari samping di jarak yang cukup dekat dengan tatapan yang begitu menusuk sampai membuatku kesulitan untuk bernapas.


Dilihat dari manapun, perkataannya tidaklah salah.


Kalau dipikir-pikir, Bianca baik-baik saja, itu seharusnya patut untuk disyukuri bahwa takdir menuntunku untuk berjalan melalui jalan ini. Mereka mungkin akan membahayakan Bianca lagi di masa depan, tetapi aku bisa membuat mereka jera dengan cara yang lebih baik di lain waktu. Pada waktu itu, aku berniat untuk menjadi lebih kuat agar tidak kesulitan menghadapi situasi yang serupa.


"Kalau begitu, habiskanlah waktu semuamu di sini," kataku pelan.


Aku berjalan ke arah Bianca, sebelum mengajaknya untuk pergi tanpa menoleh sedikitpun ke belakang. Apa yang dipikirkannya terhadap situasi tersebut, aku tidak tahu. Dia mungkin tidak memendam dendam, atau mungkin juga memendamnya diam-diam, bagaimanapun dialah korban sebenarnya dari kejaddian tersebut. Raut wajahnya begitu sulit untuk dibaca.


Setelah mengantar Bianca kembali ke tempat dirinya menginap, aku juga pulang karena tidak ada lagi urusan.


Untuk dapat menjadi petualang resmi, aku perlu setidaknya menyelesaikan tiga jenis misi yang berbeda. Menurut saran dari wanita resepsionis, misi pertama bisa dimulai dari misi pengumpulan bahan, kemudian dilanjut dengan perburuan binatang iblis atau monster tingkat rendah, sebelum diakhiri dengan pengawalan.


"Para petualang biasanya mengambil ketiga jenis misi tersebut, tentu saja tiap-tiap misi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Pengajuan ketiga jenis misi ini lebih tinggi dibandingkan jenis misi yang lain." Begitulah apa yang dikatakan Alma, nama dari wanita resepsionis.


Katanya, dia lupa memperkenalkan diri kemarin.


"Semoga beruntung di misi pertamamu, Tuan Kaellan," Alma melambaikan tangan melihat kepergianku sambil tersenyum dengan manis.


Ada yang membuatku semakin lebih bersemangat untuk menyelesaikan misi. Layar di depanku ini yang tidak dapat dilihat oleh siapapun selain aku adalah layar setengah tembus pandang berwarna biru yang memuat daftar Quest. Di antara Quest tersebut, muncul Quest yang sama dengan misi yang kuambil di papan misi.


[Misi dari Serikat Petualang, kumpulkan 25 bunga percikan biru (25 Poin Quest)]

__ADS_1


Bagaimanapun, di sudut atas kanan penglihatanku, ada tempat bagi Sistem untuk memberitahukan kepadaku adanya berita baru, Jadi, aku dapat mengetahui kemunculan Quest baru tersebut yang secara kebetulan menarik perhatianku ketika aku melihat subjek dari Quest.


Dibandingkan imbalan dari Sistem, imbalan yang diberikan dari Serikat Petualang tidaklah seberapa.


"Mungkinkah Quest akan muncul tiap kali aku mengambil misi di Serikat Petualang?"


Memikirkannya saja membuatku ingin segera menjadi petualang resmi agar aku mulai dapat mengalami pertumbuhan dalam peringkat petualangku. Dengan begitu, aku akan dapat mulai mengambil misi yang lebih sulit seiring pertumbuhan peringkatku sebagai petualang. Semakin sulit misi yang diambil, semakin besar imbalan yang akan kudapatkan dari Sistem.


Di tempat yang tidak ada kendaraan selain dari tunggangan dan kereta kuda, aku berjalan kaki untuk bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain. Membutuhkan hampri sejam untuk sampai ke Gerbang Lopentine.


Aku menunjukkan lencana petualangku kepada penjaga gerbang. Lencana petualangku diperiksa menggunakan semacam alat sihir, sebelum dikembalikan kepadaku.


"Anda boleh pergi, Tuan."


"Baik. Terima kasih," aku mengangguk pelan.


Sebelum aku benar-benar pergi, aku membaca buku Floripedia yang dipinjamkan oleh Alma sebagai bekal untuk misi. Dari informasi yang kudapatkan, bunga percikan biru berada di sebelah Tenggara dari Gerbang Lopentine. Di sana, aku akan menemukan sebuah perhutanan yang cukup gelap karena dedaunan yang sangat lebat.


Bunga percikan biru akan banyak tumbuh di tempat yang tidak terkena oleh cahaya matahari.


"Dua jam dengan berjalan kaki, ya. Cukup dekat juga."


Aku yang dulu pasti akan malas untuk berjalan kaki sampai dua jam. Kakiku pasti akan terasa sangat pegal kalau melakukannya dengan sekali jalan. Tapi untukku yang sekarang, berjalan selama dua jam bukanlah apa-apa.


Sesuai dengan tingkatan misi, mengumpulkan bunga percikan biru sangatlah mudah. Tidak ada sesuatu yang membahayakan. Jadi, aku dapat kembali ke kota tiga jam berikutnya dengan membawakan bunga percikan biru sesuai yang diminta. Dengan keberhasilanku ini, aku tersenyum dengan sangat lebar.


"Tak kusangka, aku akan mendapatkan Poin Quest sebanyak ini dengan sangat mudah."

__ADS_1


__ADS_2