Mercenary System: The Eternal Life

Mercenary System: The Eternal Life
Bab 24 Pertarungan


__ADS_3

Aku sempat bertanya-tanya bagaimana caranya untuk menaikkan tingkatan karakterku. Sejak aku mengalahkan pejuang orc kala itu, aku secara mengejutkan mengalami lonjakan peningkatan sebanyak lima kali dan terus bertambah selama perjalanan menuju Kota Lopentine. Dalam game RPG yang pernah kumainkan, biasanya ketika karakter mengalami kenaikan tingkat akan menerima semacam poin atribut atau semacamnya, yang dapat didistribusikan ke dalam atribut yang diinginkan.


Sayangnya, dalam kasusku, poin atribut tidak diperoleh tiap kali aku mengalami kenaikan tingkat. Bukan berarti atributku tidak memiliki peningkatan. Tiap-tiap atributku secara otomatis menerima penambahan poin dalam jumlah yang besar dengan distribusi yang tidak merata. Yang paling banyak menerima peningkatan adalah VIT. Sekarang, bagian atribut VIT telah mencapai hampir seratus poin!


Yah, meskipun poin pada VIT akan lebih rendah kalau aku tidak mengenakan Full Paladin Armory dan pengaruh dari salah satu bakat yang kumiliki, yaitu Paladin.


Menurut apa yang dikatakan oleh Bianca sebagai pengetahuan umum, pejuang orc pada dasarnya adalah lawan yang tangguh bagi kebanyakan orang. Pada saat itu, meski dibantu oleh Bianca, aku hanyalah seseorang yang masih berada di tingkat satu. Mampu melawan pejuang orc tentu saja termusak sebuah keajaiban, bahkan aku sampai mengalahkannya meski sempat terluka parah. Dalam hal ini, aku seharusnya dapat menghadapi para berandalan tanpa dibantu oleh Bianca.


Hanya saja aku belum pernah bertarung lagi melawan seseorang sejak aku melarikan diri dari kejaran anak buahnya D'Meatros. Bukan berarti aku takut terhadap mereka. Di kota yang lebih besar dibandingkan Kota Pelabuhan Vorlte, perkelahian mungkin saja akan masuk ke ranah hukum kalau ketahuan oleh para prajurit.


"ITU MEREKA!"


Di belokan jalan, satu per satu berandalan muncul. Jumlah mereka ada sebelas orang. Mereka mungkin berandal, tetapi aku dapat menebak bahwa mereka bukanlah berandalan biasa. Dari persenjataan yang mereka kenakan, aku cukup yakin mereka bekerja sebagai petualang.


Tidak ada informasi mengenai lawan. Ini bisa jadi mudah, bisa juga berbahaya.


"Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tetapi terima kasih karena tidak kabur," orang yang paling depan berkata sambil menyeringai. "Berpikir bahwa aku akan kehilangan mainanku sempat membuatku kesal. Aku akan membiarkanmu pergi kalau kau menyerahkan wanita itu."


Entah apa yang dipikirkan pria yang paling depan itu, yang bertingkah seperti dialah yang memimpin bersepuluh orang di belakangnya, dia sangat percaya diri.


Aku tersenyum kecil. Memang tidak berhak untuk marah ketika Bianca dianggap sebagai mainan belaka oleh mereka, malah aku bersyukur karena aku memiliki alasan yang cukup kuat untuk ikut campur dan menghajar mereka. Tidak mungkin aku membiarkan Bianca dinodai oleh sekelompok orang dengan perawakan yang mengerikan seperti mereka, bukan?


Tanpa menanggapi perkataannya, aku berjalan ke depan dengan santai. Aku perlu membuat jarak dengan Bianca yang ada di belakang ketika pertarungan berlangsung. Tentu saja, aku tidak boleh sampai membuat perhatian mereka beralih ke Bianca bagaimanapun caranya.


"Oh?" Pria itu mengerutkan keningnya saat dia melihat ke arahku. "Apa yang kau lakukan? Kurasa aku telah memberimu keringanan, tetapi beginikah pilihanmu?"


Tidak seperti ketika aku menghadapi pemimpin dari sekelompok tentara bayaran, pria di depanku benar-benar menghunuskan pedang lebih awal. Dia berjalan mendekatiku dengan salah satu tangan yang menggenggam pedang. "Kau akan menyesalinya," gumamnya begitu dia memasang kuda-kuda bertarung, sebelum menerjang maju.

__ADS_1


"Hmph!"


Arah gerakannya berubah ketika dia telah mengikis jarak sampai mampu membuatku berada dalam jangkauan serangannya hanya dalam satu kedipan mata. Tidak seperti pejuang orc yang menyerang langsung dari depan, lawanku adalah manusia yang mampu memikirkan strategi dalam pertarungan.


DENTANG!


Dia berhasil menebas pergelangan tanganku yang dibaluti Sacred Armguard dari bawah, tetapi aku tidak mengalami kerusakan apapun. Tidak berhenti di sana, dia juga lanjut mengayunkan pedangnya pada pahaku dari atas sebagai serangan lanjutan dari tebasan pertama. Lalu berakhir sedikit menjaga jarak sambil menusukkan pedangnya pada area tulang rusukku.


Dengan kecepatan geraknya, aku tidak bisa bereaksi sedikitpun. Aku hanya merasakan adanya sedikit hantaman pada bagian tubuh yang diserang olehnya. Seolah tidak pernah diserang, aku mengayunkan perisai ke samping di mana pria yang menyerangku baru saja menusukkan pedangnya.


"Tsk, sialan. Armormu rupanya sangat keras," dia melompat mundur, sama sekali tidak terganggu oleh ayunan perisaiku yang sangat lambat dibandingkan dengan kecepatan geraknya.


Pria yang memimpin berandalan itu menoleh ke belakang, tampaknya berniat untuk meminta bantuan. Tetapi, mereka sedang disibukkan oleh lilitan banyak tangan hitam yang bermunculan dari bawah bayangan masing-masing. Mereka berusaha untuk melepas diri dari lilitan tersebut.


"Bukankah duel satu lawan satu lebih menyenangkan?" aku tersenyum kecil di balik Sacred Helmet.


"Armormu memang keras. Tetapi, apakah masih akan bisa bertahan dari jurusku ini?"


[Blazing Sword Move: Mountain Slash]


Dua tebasan mengenai bagian atas perisai di kedua sisi hampir secara bersamaan, mengandung daya rusak yang tinggi. Andaikan tebasan tersebut mengenai target secara langsung, maka orang itu akan kehilangan kedua tangannya meskipun mengenakan pelindung dari logam. Namun, berkat pengaruh dari Sacred Greaves dan Sacred Boots, aku sama sekali tidak goyah saat menahan jurus darinya.


Perisai yang menahan jurus tersebut pada bagian yang dikenai berubah menjadi merah menyala membentuk garis. Andaikan logam biasa yang dikenainya, mungkin itu akan meleleh atau benar-benar terpotong oleh jurus tersebut.


Tampaknya, meskipun tidak bisa dibandingkan dengan pejuang orc dalam hal kekuatan, pria di depanku memiliki kemampuan yang mumpuni dalam menggunakan pedangnya.


[Blazing Sword Move: Spiral Thrust]

__ADS_1


Kemudian, jurus berlanjut dengan tusukan pedang yang tepat mengenai bagian tengah perisai, hampir saja menembus lapisan logam yang melindungiku dari jurus mematikan tersebut. Tangan yang memegang perisai semakin terasa memanas, sehingga aku pada akhirnya terpaksa melempar Sacred Shield ke arah lawanku.


"Apa yang-"


Setelah mengelak sambil menangkis lemparan perisai yang datang padanya, pemimpin dari berandalan menatapku dengan tak percaya. Dia memang begitu percaya diri bahwa kedua jurus yang baru saja digunakannya akan mampu melukaiku. Pada kenyatannya, itu hanya membuatku melepas perisai saja.


"Jadi begitu. Perlengkapan yang kau kenakan sepertinya sangat mahal," dia perlahan mengubah kuda-kudanya ke kuda-kuda bertarung awal, mulai berjalan ke samping kiri dan kanan untuk menemukan kelemahan padaku.


"Jangan salahkan aku kalau aku membuatmu miskin setelah ini."


Aku hanya mendengus kecil mendengar perkataannya. Setelah menerima dua jurus darinya, aku sempat khawatir bahwa mungkin saja kali ini aku harus menerima secara langsung jurus yang akan datang kalau aku tidak berhasil menghindarinya. Tapi, dia tampaknya tidak akan kembali menggunakan jurus pedang yang mematikan.


Mungkinkah dia tidak bisa menggunakannya secara berturut-turut? Aku menduga, jurus tersebut membebani tubuhnya kalau digunakan secara berlebihan, atau disebabkan oleh kondisi yang lainnya. Dalam pertarungan, memang akan berbahaya ketika seseorang salah mengambil langkah.


Tanpa menerima jurus yang mampu melelehkan logam, aku cukup yakin tidak akan menerima kerusakan yang berarti dari serangan pedang darinya tanpa perlu menggunakan perisai.


"Hm, tombakku belum dikeluarkan," gumamku pelan. Dalam situasi sekarang, aku tak mungkin mengeluarkan senjata secara tiba-tiba. Aku perlu menghindari hal-hal yang mungkin saja membahayakanku di masa depan, yaitu tentang Inventory.


Aku berpikir, tidak ada salahnya untuk membeli bakat Close Combat yang memungkinkanku untuk memiliki kecocokan dalam bertarung. Asalkan pertarungan jarak dekat, baik menggunakan senjata maupun tidak, aku akan dapat mempelajari cara bertarung dalam pertarungan langsung. Bakat yang satu ini terbilang salah satu bakat yang mahal.


Tanpa memerlukan senjata, aku bisa melanjutkan pertarungan ini. Dengan referensi pergerakan beladiri dari tontonan yang kuingat, mungkin saja aku bisa menirunya, dan menerapkannya.


Poin Quest akan habis separuhnya dari jumlah yang kumiliki, tetapi ini sepadan dengan hasil yang akan kurasakan di masa depan. Di dunia yang penuh dengan kekerasan ini, memiliki bakat dalam pertarungan sangatlah diperlukan.


Mungkin Close Combat takkan memberikan pengaruh banyak karena baru saja dibeli. Kupikir, dalam pertarungan ini, aku bisa memanfaatkan lawan untuk memberikan pengalaman bertarung.


[Selamat, Anda berhasil membeli bakat Close Combat seharga 55 Poin Quest]

__ADS_1


__ADS_2