Mercenary System: The Eternal Life

Mercenary System: The Eternal Life
Bab 22 Menarik Perhatian Itu Melelahkan


__ADS_3

Pria yang beberapa tahun lebih tua dariku, mungkin pertengahan 20 tahun, meluncurkan kepalan tangannya tanpa ragu yang mengarah ke wajahku. Dibandingkan ketika aku menghadapi seseorang dari tentara bayaran ketika aku masih dalam pelarian, aku masih dapat melihat pergerakan orang ini.


Aku mengelak ke arah luar pukulan dengan sedikit mencondongkan badan ke depan. Itu membuat adanya celah yang lebar pada pria tersebut di seluruh bagian samping tubuhnya.


Pada umumnya, teknik pukulan dasar yang ada dalam banyak bela diri disebut dengan Hook.


Satu pukulan yang kudaratkan pada bagian iga pria tersebut membuatnya sedikit terdorong kesamping, sementara kedua tangannya segera memegangi bagian tubuhnya yang baru saja terkena pukulan. Dia perlahan ambruk, kemudian meringkuk di atas tanah sambil mengerang kesakitan.


Hm, apakah mungkin aku tepat mengenai titik lemahnya? Aku tidak tahu.


"Orang gila ini," orang yang satunya menatapku dengan tajam, namun tampak ragu-ragu untuk menyerang. "Si-siapa sebenarnya kau?! Kenapa mengganggu urusan kami?!"


Aku berjalan mendekatinya sambil memikirkan tentang alasanku membantu orang yang tidak dikenal. Benar juga, aku memang tidak mengetahui alasan pastinya. Mengapa aku membantu pemuda yang bahkan wajahnya pun belum kulihat sama sekali? Ah, anehnya tubuhku terasa panas, penuh dengan energi yang bergejolak. Entah mengapa, rasanya memuaskan ketika pukulanku berhasil membuat satu orang meringkuk kesakitan.


Dia mendecakkan lidahnya, sebelum berteriak untuk menumpahkan emosinya sambil bergerak maju ke arahku.


Serangan yang sama lagi, dia benar-benar berandalan yang hanya mengandalkan intimidasi dan jumlah. Dia sama sekali tidak memiliki teknik bertarung. Karena itu, aku dapat kembali mengelak ke samping dengan sangat mudah. Kali ini, aku melakukan tendangan menyamping yang di arahkan pada perut bagian atasnya.


"Guhk!!"


Aku sekilas menatap pemuda yang menjadi korban. Dalam kondisi kepalanya yang sedikit menunduk ke bawah, dia tampak memaksakan diri untuk melihat ke arahku walaupun kelopak matanya akan menutup kapan saja. Dia terduduk lesu bersandar pada dinding bangunan.


Sambil berjalan keluar gang sempit, aku berkata, "Lain kali, cobalah untuk lebih berani."


Nasihat yang kuberikan padanya memang tak pantas untuk keluar dari mulutku yang selama bertahun-tahun dilanda ketakutan oleh bayanganku sendiri. Aku dapat keluar dari lingkaran itu karena mendapatkan bantuan yang luar biasa hebat dari Sistem. Meskipun begitu, nasihatku pada dasarnya ditujukan untuk diri sendiri.


Untuk alasan yang tidak kuketahui, aku tidak merasakan lagi rasa takut akan sesuatu. Biasanya, bahkan untuk berjalan-jalan dengan santai di tempat yang ramai sekalipun membuatku tertekan.


Perasaan itu telah hilang tanpa kusadari.


Namun, sejak hari terakhir perayaan Hari Valentine, aku selalu merasa khawatir pada hal yang tidak diketahui. Aku tahu perasaan ini bukan disebabkan oleh keramaian atau hal-hal yang berkaitan dengan sosial, bukan pula disebabkan oleh berakhirnya perayaan. Bagaimanapun, meskipun perayaan telah berakhir, toh aku masih bisa bertemu dengan Bianca. Mungkin aku akan menemukan kesempatan untuk dapat menjadi lebih dekat dengannya, mengenalnya lebih jauh, itu bisa dilakukan selama aku dan dia tidak berada di dunia yang berbeda.

__ADS_1


Dunia ini sempit, kesempatan untuk saling bertemu dapat terjadi kapanpun meski sempat dipisahkan oleh jarak.


Jadi, kenapa aku perlu mengkhawatirkan hal itu?


"Inikah Serikat Petualang, gedungnya memang sangat mencolok, ya," gumamku pelan ketika aku secara tak sadar telah sampai di depan gedung yang memiliki tiga lantai dengan lebar bangunan yang setara dengan tiga sampai empat rata-rata ukuran bangunan yang kulihat di sepanjang jalan.


Di bagian depan bangunan, bertepatan di lantai dua, ada papan persegipanjang berukuran besar yang terukir pada permukaannya tulisan yang bergaya. Papan persegi di bawahnya memiliki ukiran dari kombinasi persenjataan, seperti perisai yang berada tepat di tengah, pedang yang bersilangan di depannya, tombak yang tepat memotong titik persilangan pedang, dan busur di kedua sisi perisai.


Banyak orang yang keluar-masuk pintu Serikat Petualang. Dilihat secara langsung, para petualang tampak mengesankan dengan keanekaragaman persenjataan yang sedang mereka kenakan. Sejauh yang kutemukan, tidak ada seorang pun yang memiliki persenjataan modern.


Ini memanglah dunia lain.


Aku mengatur napas terlebih dahulu, sebelum benar-benar masuk ke dalamnya.


Dilihat dari luar saja, gedung Serikat Petualang telah tampak berukuran besar. Di bagian dalamnya bahkan lebih mengesankan lagi. Di samping banyaknya orang yang memiliki kesibukan masing-masing, desain interiornya juga membuatku terpesona.


Dari lantai dasar ini, aku dapat melihat sebagian kecil langit-langit lantai dua. Itu karena pada bagian tengah langit-langit lantai dasar terdapat lubang besar berbentuk lingkaran yang di titik tengah lingkaran tersebut terdapat batuan berwarna biru terang yang terus berotasi dengan konsisten. Aku dapat melihat adanya guratan-guratan halus yang tembus pandang, bergerak dari bagian pinggiran keliling lingkaran lubang menuju batuan tersebut.


"Lihat itu! Perlengkapannya sangat mengkilap. Apa dia petualang veteran?"


"Ya ampun. Aku ingin menyentuh armor itu!"


Perhatianku kembali teralihkan dari mengagumi interior gedung Serikat Petualang karena mendengar suara para petualang yang berbincang di sekitar. Aku baru menyadari bahwa banyak orang yang melihat ke arahku.


Sebuah meja resepsionis tak sengaja kulihat, jadi aku mempercepat langkah kakiku menuju ke sana untuk melakukan pendaftaran.


Di tempat yang sangat ramai, apalagi menarik banyak perhatian, membuat jantungku berdegup kencang. Entah ekspresi apa yang ditunjukkan wajahku, beruntungnya aku telah mengenakan Full Paladin Armory sebelum memasuki gedung Serikat Petualang. Meskipun dalam situasi yang seharusnya lebih menegangkan daripada ini, seperti yang telah kualami sebelum tiba di Kota Lopentine, aku masih belum begitu terbiasa dengan keramaian.


"Ada yang dapat saya bantu, Tuan?"


"Ah, iya. Bisakah saya mendaftar menjadi petualang?"

__ADS_1


"Tentu. Tunggu sebentar, ya."


Wanita yang mengenakan seragam khas pekerja administrasi mengambil beberapa lembar kertas yang diserahkan padaku.


"Silahkan baca terlebih dahulu kontrak kerjanya. Jikalau anda telah menyetujui kebijakan yang diberikan oleh kami, anda dapat mengisi formulir ini," dia menyerahkan selembar kertas lainnya yang berisikan isian mengenai identitas, kemampuan, dan lain-lain.


Aku sempat gelisah mengenai huruf yang perlu kutulis.


Memang benar selama ini aku entah bagaimana dapat membaca huruf-huruf asing.


Kupikir, ini termasuk bantuan yang diberikan oleh Sistem. Bagaimanapun, sejak awal aku bahkan dapat mengerti apa yang orang-orang dunia ini katakan.


Ini seperti layanan terjemahan otomatis. Tidak hanya berlaku pada apa yang kudengar, tetapi juga huruf-huruf asing yang kulihat akan berubah menjadi huruf yang kukenali ketika pandanganku fokus pada satu kata sebelum berubah menjadi huruf awal setelah aku melihat kata berikutnya.


Selesai membaca kontrak kerjanya, aku mulai mengisi formulir pendaftaran. Ternyata, aku mengkhawatirkan hal yang tak perlu.


Tiap kali aku selesai menulis satu kata, huruf-huruf yang ditulis berubah menjadi huruf asing.


"Jarang sekali ada pendaftar yang mengenakan perlengkapan penuh seperti anda," kata resepsionis ketika aku sedang mengisi formulir. "Terlebih lagi, nampaknya zirah yang anda kenakan memiliki nilai jual yang tinggi. Latar belakang anda seharusnya istimewa."


Aku tertawa kecil mendengarnya. Biarlah dia menebak-nebak mengenai latar belakangku.


Wanita resepsionis itu mendekatkan dirinya padaku, menatap lekat-lekat kedua mataku. "Untuk itu, berhati-hatilah. Anda kemungkinan besar akan diganggu oleh petualang senior."


Ah, jadi dia memberikanku peringatan. Memang benar sih, aku dapat merasakan banyak tatapan tajam dari berbagai arah semenjak aku berada di gedung lantai dasar ini. Bahkan ketika aku sedang berada di pojokan ruangan pun untuk membaca dengan lebih seksama kontrak kerja yang berlembar-lembar itu, tatapan tajam dari orang-orang masih kurasakan. Ini membuatku ingin segera pergi dari sini. Aku sungguh menyesal karena mengenakan persenjataan yang mencolok.


Aku menghela napas panjang setelah menandatangani bagian kontrak kerja maupun formulir pendaftaran. Kemudian, aku kembali menyerahkan seluruh dokumen.


"Baik, terima kasih atas kerja samanya," dia sedikit membungkukan badan.


"Kami akan memproses pendaftaran. Paling lambat besok, anda dapat menerima lencana petualang."

__ADS_1


Tidak kusangka, pendaftaran untuk menjadi petualang akan secepat itu. Sejauh ini, aku tidak menemukan adanya uji kelayakan atau semacamnya, yang tentunya dapat dijadikan sebagai bagian dari proses pendaftaran sebelum benar-benar diterima. Mungkinkah hanya sebatas ini? Tapi, aku bersyukur dengan kesederhanaan prosedurnya. Jadi, aku bisa segera pergi dari tempat ini.


"Fyuh," aku akhirnya keluar. Tapi, aku tidak menyadari bahwa sekelompok petualang yang terus memperhatikanku diam-diam sedang merencanakan sesuatu.


__ADS_2