Mercenary System: The Eternal Life

Mercenary System: The Eternal Life
Bab 29 Surat Untukku


__ADS_3

Setelah menyelesaikan dua misi, itu hanya menambah sedikit sekali tabunganku yang memang telah setipis kertas. Di sini uang masih berupa koin, jadi pada dasarnya aku telah kehabisan uang sebelum mengambil misi pertama karena digunakan untuk menyewa kamar dan makan.


Hanya dengan 3 koin perak yang didapatkan dari misi mengumpulkan bunga percikan biru dan 5 koin perak dari perburuan, itu hanya dapat membeli sepasang pakaian dan celana bekas saja.


Tentang mata uang di dunia ini, ada tiga tingkatan secara umum: perunggu, perak, emas. Masing-masing memiliki perbandingan nilai tukar sepuluh kali lipat dengan perunggu yang memiliki nilai paling rendah, dan emas adalah yang tertinggi. Saat aku melakukan tukar tambah pakaian milikku yang berasal dari dunia sebelumnya di Anna's Store, aku memiliki kembalian sebesar 2 koin emas.


Pada awalnya aku belum begitu paham besaran harga jual koin emas, yang membuatku sempat berpikir pakaianku dihargai dengan sangat murah atau ditipu. Mengingat latar waktu di dunia ini masih jauh dari peradaban modern, jadi kupikir pakaianku bernilai jual tinggi.


Tidak banyak yang perlu dipersiapkan untuk misi nanti. Pakaian milikku saat ini hanya ada tiga pasang dengan celananya, itu takkan menjadi masalah. Tentang makanan pun, aku tinggal mengeluarkannya dari Inventory, asalkan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Palingan aku hanya membeli beberapa peralatan, seperti pisau, alat praktis untuk menyalakan api unggun, dan barang semacam hamok untuk membuat tidur lebih nyaman ketika di hutan.


Masih ada sekitar dua jam lagi untuk orang-orang yang mengambil misi pengawalan untuk berkumpul di tempat klien, mungkin aku pergi ke sana saja sekarang. Lagipula aku masih belum yakin apakah tempatnya sesuai dengan yang kuperkirakna di Map.


Sebuah toko besar yang menjual berbagai jenis barang, yang di Map bertuliskan Coinfield, di sana adalah tempatnya. Sambil menunggu, aku bisa melihat-lihat bagian dalam toko, siapa tahu ada barang bagus. Dilihat melalui Map, gedung Coinfield berada cukup jauh dari tempatku berada sekarang ini.


"Hm, kalau Nona Alma sedang mendapat giliran kerja, aku mungkin sekalian berpamitan," aku bergumam pelan sambil terus berjalan menuju tujuan. Aku akan melalui gedung Serikat Petualang untuk sampai ke sana.


Di Serikat Petualang cukup sepi ketika aku masuk, tepatnya di lantai satu. Pada waktu ini, memang wajar sepi karena sebagian besar para petualang mestinya sedang menjalankan misinya masing-masing. Hanya ada beberapa yang tampaknya baru saja menyelesaikan misi, ada juga yang masih melakukan perbincangan antara petualang dengan klien. Gedung Serikat memang bisa dijadikan tempat pertemuan untuk keperluan misi, asalkan masih ada tempat yang kosong.


"Ah! Tuan Kaellan," Alma melambaikan tangan begitu dia melihat kedatanganku. "Kebetulan anda ke sini. Apakah Tuan telah selesai bersiap-siap?"


Aku mengangguk sambil tersenyum. "Selama beberapa hari, saya akan melakukan perjalanan."


"Iya. Saya berharap, perjalanan nanti tidak ada masalah dan selamat sampai tujuan. Dan syukurlah Tuan datang ke sini. Beberapa saat yang lalu, ada seseorang yang menyerahkan surat yang ditujukan untuk Tuan Kaellan."

__ADS_1


"Surat? Dari siapa?"


"Orang itu hanya menyerahkan suratnya," Alma menggelengkan kepala pelan, sebelum mengambil sesuatu yang berada di bawah meja.


Pada bagian pembungkus surat tersebut, memang tertulis namaku. Sebagai penerima surat, Alma tentunya tidak mengetahui isinya. Untuk mengetahuinya, aku membuka pembungkus, kemudian membaca isi surat. Tulisannya dapat kubaca, tentu saja, tetapi hal yang membuatku mengerutkan kening adalah tinta yang digunakan untuk menulis berwarna merah gelap.


Sedikit bau amis, tidak mungkin, surat teror? Tapi, dari siapa?


Dalam surat, tidak dituliskan nama pengirim. Isi surat tersebut menanyakan kepadaku tentang keadaanku, apakah aku merasa sesak, bermimpi buruk tiap malam, dan hal-hal lainnya yang memang sedang kurasakan baru-baru ini.


"Kau memiliki nasibku, maka aku memiliki nyawamu."


Di bagian baris terakhir, aku menyipitkan mata karena pengirim surat menyuruhku untuk melihat bagian belakang surat. Di sana tertulis "Pelahap Jiwa". Apakah itu semacam kutukan? Aku tertawa masam ketika mengingat dunia ini bukan lagi dunia yang masuk akal. Apapun bisa saja terjadi ketika menyangkut sihir, termasuk adanya kutukan.


Belum lama ini, aku memang telah membuat masalah dengan sekelompok berandalan. Tapi, itu terjadi kemarin sore. Hal-hal yang membuatku merasa tak nyaman telah terjadi sejak hari terakhir perayaan Hari Valentine. Lagipula, selama perayaan itu, aku hanya fokus berkencan dengan Bianca.


Apakah orang itu D'Maetros?


Selama aku berjalan menuju Coinfield, aku mencoba mengingat tentang kemungkinan adanya orang yang merasa tersinggung olehku tanpa kusadari. Bagaimanapun, aku berkencan dengan Bianca hampir selama sepekan penuh. Bisa saja ada orang yang merasa iri denganku, kemudian karena kepengecutannya, dia mengutukku.


Tidak mungkin D'Maetros, yang sama sekali tidak mengenalku, mampu mengutukku dari jauh. Di dunia sebelumnya sekalipun, ada hal-hal di luar nalar yang mirip dengan ini. Sejauh yang kutahu, itu seharusnya memerlukan media milik orang yang hendak dicelakai, begitu juga dengan kutukan.


Hanya saja, kapan aku kehilangan sesuatu? Barang apa yang hilang?

__ADS_1


Apakah mungkin itu sesuatu yang berasal dari tubuhku, seperti rambut? Masa iya, orang itu mengambil rambutku yang rontok, bukan? Aku bahkan tidak mengingat pernah merasakan adanya penguntit. Orang yang paling mungkin untuk mendapatkan rambut atau sesuatu yang menjadi milikku untuk dijadikan media kutukan tidak lain adalah Bianca, tapi dia tak mungkin menjadi pelakunya.


"Tidak! Itu sangat tidak mungkin!" Aku menggelengkan kepala dengan keras.


Tanpa terasa, aku telah sampai di pertigaan jalan yang membentuk huruf "T", yang mana terdapat sebuah gedung besar yang tepat berada di tengah-tengahnya. Di sana telah ada banyak orang yang menunggu keberangkatan. Mereka seharusnya adalah beberapa kelompok petualang yang akan menjadi pengawal.


Semua pasang mata para petualang itu yang masuk ke dalam area pandangan segera mengarah padaku. Itu membuat langkahku melambat tanpa sadar.


Kalau dipikir-pikir, para petualang yang mengambil misi pengawalan ini tidak satupun yang bekerja secara perorangan, kecuali aku yang masih belum menjadi petualang resmi. Tentu saja, kemunculanku yang seorang diri tidak heran menjadi pusat perhatian mereka.


"Apa kau Kaellan?"


Suara itu datang dari belakang. Seorang pria jangkung dengan otot-otot menonjol di tubuhnya baru saja berhenti berjalan ketika jaraknya dua langkah lagi dariku.


"Dari ciri-ciri penampilanmu, sepertinya benar. Kau memang si Pemula Berzirah Perak itu."


Dia menaikkan dagunya dan menatapku dengan dingin. "Dengan kebesaranmu sebagai pemula, cobalah untuk menghambat perjalanan nanti, ya?" bisiknya pelan sambil menekan salah satu bahuku saat lanjut berjalan, melewatiku.


"Hm," aku menatap punggung lebar yang semakin menjauh itu dalam diam. Sepertinya akan ada yang menggangguku di perjalanan nanti, pikirku.


Dibandingkan denganku yang sebelum dikirim ke dunia ini, aku mungkin akan gemetar ketakutan hanya karena mendapat sedikit intimidasi tersebut. Bahkan, aku akan langsung menyerah, karena bayanganku terhadap kemungkinan yang akan terjadi pada suatu hal selalu membuatku berhenti melangkah. Tapi, kali ini itu hanya membuatku tersenyum kecil.


Aku mengangkat bahu, sebelum pergi ke dalam gedung Coinfield.

__ADS_1


__ADS_2