Merebut Pasangan Protagonis Wanita (Menjadi Umpan Meriam)

Merebut Pasangan Protagonis Wanita (Menjadi Umpan Meriam)
Dunia Pertama 8


__ADS_3

Di lorong menuju kelas, terlihat Aylise berjalan dengan tangan terkepal erat, raut wajahnya gelap,


Mungkin jika ada orang di sana dia akan terkejut dan takut melihat Aylise saat ini.


[ Tuan anda harus menekan amarah anda, jika ada yang melihat mereka akan takut ]


{ Aku ingin tapi tidak bisa, apakah ini amarah Aylise asli? aku pun tidak tahu, ini pertama kalinya aku memiliki keinginan membun*h } Ucap Aylise bingung.


[ Tuan..]


[ Maafkan sistem Tuan, inilah yang sistem takutkan jiwa asli akan menguasai anda, anda harus memiliki tekat yang kuat Tuan! ]


{ Huff.. Baiklah sudah aku putuskan, sistem aku akan bertindak menurut apa yang menurutku benar, dan kali ini aku akan benar-benar membuat Arasya palsu itu menyesal!, Menyesal karena dia merebut kehidupan Asya!! } Ucap Aylise dengan serius.


[ Tuan ಥ⁠╭⁠╮⁠ಥ.]


[ Sistem akan membantu anda! ]


{ Ya mari kita bekerja lebih keras lagi sistem 。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。} Kata Aylise dengan semangat


" Aylise kamu tidak perlu khawatir, kamu cukup tenang disana bersama Asya biarkan aku menyelesaikan urusanmu disini " Batin Aylise dengan menutup mata.


( Terimakasih Kaivan, aku menyerahkan tubuhku padamu, semoga kamu di jauhkan dari bahaya.) Ucap Aylise asli tulus, tetapi itu hanya Aylise lah yang mendengar dan tanpa sadar Aylise meneteskan air matanya.


Tiba-tiba seseorang datang memeluk Aylise dengan tubuh bergetar.


" Tidak apa-apa, ada aku disini, tidak apa-apa" Ucap yang yang memeluk Aylise dengan nada bergetar.


" Apa.. Apa yang terjadi kak? Ada apa? " Tanya Aylise khawatir sebab Yoga datang langsung memeluknya,


Ya seseorang itu tak lain adalah Protagonis Laki-laki Yoga, dia datang mencari Aylise setelah Aylise pergi dari kantin.


Saat ini Yoga datang memeluknya dengan tubuh bergetar, apalagi ketika Yoga berbicara suaranya juga terdengar serak dan lemah bahkan sekarang Aylise merasakan pundaknya menjadi basah, " Dia menangis" kata itulah yang terlintas di otak kecil Aylise.


" Tidak apa-apa jika kau malu menangis, biarkan aku menggantikan mu menangis, Asal jangan menyimpan kesedihan itu sendirian, jadi hiks.. aku mohon jangan memendamnya sendiri hiks.." Kata Yoga yang semakin erat dengan pelukannya.


Deg


Sekarang barulah Aylise paham, dia pasti sempat melihat sewaktu ia di kuasai perasaan Aylise asli,


Dia adalah Protagonis Laki-laki yang baik, dia juga seorang teman yang perhatian tidak pantas untuk wanita licik seperti Arasya palsu, Yoga lembut dan tulus.


" Terimakasih " Ucap Aylise tulus dengan membalas pelukan Yoga


Beberapa hari setelah kejadian itu, Aylise di sibukkan di toko bunga milik sang tante atau lebih tepatnya mama baru Aylise,


Ya pada akhirnya Erica mengatakan tujuannya untuk mengangkat Aylise sebagai putranya, dia juga bercerita tentang dia yang pernah menikah namun karena dokter mengatakan ia tidak bisa melahirkan sebab luka akibat kecelakaan sang suami memutuskan untuk bercerai, tentu saja Aylise menerimanya dengan senang hati karena hal itulah yang ingin Aylise asli miliki yaitu keluarga.

__ADS_1


Juga terkadang protagonis pria pun datang berkunjung entah itu, membantu di toko atau menjemput Aylise ke sekolah sampai, Aylise pun melupakan rencana untuk membalas dendam Asya.


" Pagi tante.." Sapa Yoga dengan ramah tanpa senyum dan wajah yang datar.


Erica yang datang ingin membuka toko di pagi hari pun terkejut melihat kedatangan Yoga, meskipun Yoga sering datang dan berkunjung namun, Erica merasa jika Yoga sedang berusaha mendapatkan hati sang putra angkatnya.


' Aku selalu merasa seperti ibu mertua jika di depan anak ini ' keluh Erica dalam hati


Meski begitu dia tetap membalas Yoga dengan ramah " Nak Yoga sudah lama disini.. Kenapa tidak langsung masuk saja ke dalam?".


" Tidak, saya baru datang tante " jawab Yoga dengan nada seperti biasanya.


" Pagi Mama~, pagi Kak~ " Sapa Aylise dengan senyum cerahnya


Tentu saja Yoga yang melihat jelas senang bukan main, " Ekhem, Pagi " dengan sedikit senyum jangan lupakan telinganya yang memerah.


Erica di sana hanya geleng-geleng sudah terbiasa melihat tingkah Yoga yang sedang salah tingkah dengan sapaan putra angkatnya.


" Pagi Sayang, hari ini putra mama cantik sekali, Mama jadi sedih pasti di luar sana banyak sekali yang menyukai putra cantik mama " Kata Erica sedih yang seakan enggan mengirim putranya ke sekolah.


Dengan cemberut Aylise berkata " Mama ihh Aylise cuma ke sekolah ya, "


" Tapi tetap saja Mama tidak rela" rengek Erica dengan memeluk erat Aylise


Melihat pemandangan di depannya tentu saja Yoga merasa cemburu, cemburu karena dia tidak bisa memeluk Aylise saat ini " Ekhem, Saya akan menjaga Aylise di sekolah tante, jadi tolong lepaskan Aylise biarkan kami berangkat " Ucap Yoga sedikit tekanan


" Iya Ma lepasin Aylise, ntar kalau Aylise telat terus di hukum suruh lari gimana? Mama ngak kasian sama Aylise apa? " sedikit menakuti Erica agar melepaskan pelukannya.


Terkejut Erica langsung menggeleng dan menjawab " Mana mungkin mama tega Aylise kecapean? " dengan terpaksa erica melepaskan pelukannya.


Aylise tersenyum dan mencium punggung tangan Mamanya " Kalau begitu Aylise pamit ya Ma dahh ~ " tidak lupa ia melambaikan tangan ke arah Erica


" Saya juga pamit tante " setelah mengikuti apa yang di lakukan Aylise yang mencium punggung tangan Erica Yoga pergi membukakan pintu mobil untuk Aylise.


" Huff Hati-hati di jalan " dengan senyum Erica melambaikan tangannya setelah mobil berjalan dan tak terlihat Erica masuk dan bersiap membuka tokonya.


Sesampainya di Sekolah pemandangan yang di lihat Aylise setelah turun dari mobil adalah seorang gadis yang penampilannya sangat kacau bahkan wajahnya pun tidak terlihat sebab tertutup akan telur dan tepung bakan baju seragam yang ia kenakan sudah basah dan bau.


" M@ti aja si@lan, dasar orang kampung! "


" HA HA SUKURIINN MAKANYA JADI CEWEK JANGAN KECENTILAN LOAKAN TUH TELUR "


" GUYS NYIUM BAU BAU NGAK? "


" Bau apa tuh? "


" BAU CEWEK MUNAFIK!!"

__ADS_1


" HAHA HAHAHA BENGEK GUE, LIAT LIAT MUKANYA NANGIS NGAK TUH!!"


" Hiks.. hikss..hikss.. A aku ng ngak hik gi gitu ya hikss... Ber.. Berhenti.. Hiks.. " ucap Arasya yang terduduk di halaman depan kelas dengan menutup wajahnya sesegukan.


" Gue ngak nyaka ya pantesan aja dia sombongnya minta mampun ternyata sifat bawaan orang tuanya guys!!"


" Cih munafik ngak sih pantesan dia kalau liat Regina bawaannya cari masalah terus, ternyata eh ternyata dia takut guys!!"


" Takut apa tuh?"


" Takut ketahuan kalau bukan hartanya haha haha "


" Malu ngak tuh??"


Aylise yang melihat pun terkejut, namun tiba-tiba tangan besar muncul di depan matanya dan menutup pemandangan di depan.


" Jangan di lihat, itu akan menyakiti matamu, Okey " ucap Yoga lembut tepat di sebelah telinga Aylise.


" Kita tidak perlu mengurusnya lebih baik kita ke kelas, sebentar lagi bell akan berbunyi" lanjutnya


Sedangkan Aylise hanya menatap Yoga bingung namun, dia tetap mengangguk dan berjalan ke kelas bersama Yoga.


{ Apa yang terjadi sistem? Kenapa tiba-tiba mereka membully Arasya? Aku bahkan belum sempat membalas? Jangan bilang ini ulah kamu? } kata Aylise sedikit menuduh sang sistem.


[ Jahat, Anda jahat sekali dengan sistem imut, padahal Anda sendiri yang terlalu terbuai samapi lupa dengan Iblis itu Huh, Sistem tidak ingin berbicara lagi dengan Tuan ]


{ Heh.. apa kamu bilang? Jika bukan kamu cepat katakan apa yang terjadi ? }


[ Huh, Mana saya tahu乁⁠ ⁠˘⁠ ⁠o⁠ ⁠˘⁠ ⁠ㄏ Tanya saja pada pacar Tuan <⁠(⁠ ̄⁠︶⁠ ̄⁠)⁠> Bye Tuan]


{ Sistem? SISTEM SI@LAN!! SIAPA YANG KAMU BILANG PACAR KU HA..}


" Ada apa? Tidak mau masuk, atau Aylise ikut kakak?" tanya Yoga bingung sebab orang di depannya berdiam diri di depan kelas.


" Tidak kak hehe hehe " Ucap Aylise sedikit canggung karena tertangkap tengah melamun .


" Kalau begitu belajar yang rajin" Ucap Yoga tersenyum manis, sebelum pergi ia menyempatkan untuk mengusap Aylise terlebih dahulu setelah berbalik, wajah yang awalnya tersenyum itu kembali seperti semula datar.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN? SELAMA INI AKU BERFIKIR KALAU GINA BAIK-BAIK SAJA BERSAMA PAMAN DAN BIBINYA, TAPI TERNYATA AKU SALAH! JIKA KAU TIDAK BERNIAT MERAWATNYA BIARKAN AKU YANG MERAWATNYA!! " Sungguh laki-laki tua itu sangat kecewa dan marah, ia kecewa mengetahui jika cucu dari anak pertamanya di perlakukan tidak adil oleh sang paman,


" Jika aku tahu, aku tidak mengizinkanmu merawat Regina, kau membuatku kecewa Bram! " Laki-laki tua itu memandang sang anak yang berdiri di depannya dengan kecewa,


" Ayah.. Aku.." Namun sebelum Bram membela diri, putri kesayangannya lebih dulu bertanya,


" Kakek? Pa? Ma? Ada apa ini? " Arasya dengan bingung menatap mereka satu-persatu,


Bukan menjawab pertanyaan Arasya, sang mama lebih terkejut melihat penampilan putrinya yang kacau, " Sayang apa yang terjadi? Kenapa matamu sebab? Katakan pada Mama apa ada yang mengganggumu?" cemasnya,

__ADS_1


Arasya menunduk dan menjawab dengan lemah " tidak apa-apa Ma," jedanya lalu menatap sang kakek " Kenapa kakek datang tidak mengabari Arasya?"


Tuan Tua Wirata malah menatap dingin Arasya yang berada di depannya, lalu pergi menuju ruang kerjanya meninggalkan mereka yang mengawatirkan keadaan Arasya.


__ADS_2