
Pov Yoga
Nama saya Yoga Evran Gentala satu-satunya pewaris Keluarga Gentala, Keluarga terkaya di negara xx.
Dari saya kecil saya sudah di didik menjadi pemimpin, berbisnis, dan bela diri, di luar sana banyak mereka yang mengincar penerus Keluarga Gentala.
Dan satu-satunya agar saya selamat hanya dengan tidak mempercayai mereka, saya harus benar-benar menilai mereka pantas atau tidaknya,
Karena saya tahu, mereka yang mendekat hanya menginginkan Kekuasaan dan Uang.
Jika di tanya apakah saya bahagia jawabannya saya tidak tahu, saya berfikir itu kewajiban saya,
Setiap hari saya menjalani hidup monoton tidak ada teman ataupun saudara, bahkan jika sewaktu SMP mereka masih bermain-main, tapi berbeda dengan saya, saya sudah bisa memegang perusahaan sendiri.
Saya tidak pernah menyangka jika suatu saat saya akan melihat setitik warna di dalam hidup saya yang gelap,
Pertama kali saya melihatnya di sekolah, dia datang dengan penampilan yang kacau, baju yang kotor, rambut yang acak-acakan dan tangan kaki yang terluka.
Ketika Wakil bidoh saya Fandy mendekat dan berbicara padanya, saya tidak menghiraukan nya, pandangan saya tidak lepas dari pemuda itu, seakan terdapat magnet yang menarik saya.
Melihatnya terluka entah kenapa saya ingin bertanya,
" Hei kau.. " Sebelum Wakil bodoh saya selesai berbicara, Saya lebih dulu berbicara.
" Anda terjatuh? lutut dan tanganmu berdarah, dan anda sangat pucat." Tanya saya masih dengan nada datar, meskipun begitu saya sangat cemas,
Namun kali ini saya akui ini adalah pertama kalinya saya berbicara panjang dan menghawatirkan seseorang, saya bisa melihat dari sudut mata saya bagaimana Wakil bodoh yang selalu ketakutan itu memiliki ekspresi yang mengangga,
Saya tidak menghiraukan nya dan masih menatap pemuda itu, dan sepertinya pemuda itu sempat mengagumi wajah tampah saya, saya tidak narsis tapi itu yang selalu mereka katakan kepada saya, dan sepertinya dia terkejut mendengar ucapan saya.
" Apa..Arrgghhh sakittt.. hikss.. sakit.." Rengek sambil melihat lukanya yang berdarah.
Saya yang bingung, dan berfikir "Apa pemuda itu tidak tahu jika dirinya berdarah?"
" I ini gara-gara kamu, apa kamu tidak tahu jika melihat lukanya langsung itu akan terasa sakit hiks.. " Kesal pemuda itu dengan mata berair dan hidungnya merah.
Entah kenapa mendengar ia menyalahkan saya, saya tidak marah, malahan hati saya sakit melihat dia menangis, wajahnya pucat itu menjadi merah.
" I itu.. Ketua .." Sebelum Fandy selesai berbicara saya lebih dulu mengendong ala tuan putri, yang saya pikirkan hanya cepat-cepat membawanya ke UKS saya tidak tahan melihatnya meringis kesakitan.
__ADS_1
" Katakan padanya aku sibuk" Sambil menggendong pemuda itu menuju UKS.
Saya sadar jika tindakan saya itu membuatnya terkejut dan membatu, untung saja tidak ada orang di sana selain Wakil bodoh saya itu dan pemuda yang saya gendong.
.
Setelah di UKS saya mengambilkan seragam untuk ia kenakan namun, yang ada hanya seragam olah raga saya.
" Ganti seragam anda dengan ini, Ekhem mungkin ini akan sedikit kebesaran " Kataku sedikit melirik pemuda itu, mungkin jika dilihat telinga saya sedikit memerah karena malu,
' Ini pertama kalinya saya menghawatirkan seseorang, melihatnya menangis ada perasaan aneh pada diriku.' Batin saya
.
" Anu ini bukan lagi sedikit, ini sangat besar siapa pemilik seragam olahraga ini " Dia tampak kesal, tapi bagi saya dia terlihat imut, dan manis, setelah berganti pakaian ternyata dia adalah pemuda yang cantik, dan jantung saya sedikit berdebar.
Bagi orang lain tinggi sekitar 175 cm itu sudah terbilang tinggi dan tubuhnya yang ramping, jika ia berdiri di samping saya yang tingginya 193 cm lebih, ia akan terlihat pendek itu benar benar imut.
" Ekhem, itu seragam saya, maaf " Kata saya sedikit bersalah, setelah itu saya membatu mengobati lukanya, lagi-lagi saya di buat tertegun, dengan ucapan tulusnya.
" Umm, Terimakasih kak " Ucap pemuda itu tulus,
" Aylise, nama saya Kaivan Ayalisse, aku tidak sedang sakit dan nama kakak?" Tanyanya dengan memandang lurus ke arah saya
Mata tajam saya bertemu dengan mata cerah dan berair milik Aylise membuat saya tertegun kembali.
' Deg, perasaan ini lagi, perasaan apa ini? tapi aku tidak membenci perasaan ini ' Batin saya
Dan nama itu Ayalisse cocok untuknya yang memiliki arti cantik,
" Ekhem Yoga " Jawab saya singkat, menyembunyikan kegugupan.
Lalu tiba-tiba dia tersenyum, dengan ragu bertanya ada apa dan jawaban yang saya dengar membuat wajah saya panas.
" Eh tidak hanya saja kakak tampan he he " dan jawaban itu jujur.
Saya sering mendengar kata tampan namun, kali ini mendengar kata itu keluar dari mulut pemuda itu membuat jantung saya berdetak lebih cepat, wajah saya semakin panas, lalu seperti terdapat kupu-kupu di dalam perut saya,
Sejenak saya tidak tahu harus berkata apa saya yang malu dan salah tingkah itu menutup wajah yang sudah merah dengan sebelah tangannya.
__ADS_1
" Lo aku salah ya.. diakan memang tampan, padahal aku sempat iri melihat wajah tampannya, yang aku punya hanya wajah cantik, tidak tampak seperti laki-laki " Gumam pemuda itu yang masih bisa saya dengar,
" Ekhem terimakasih Anda juga cantik " Meski nadaku datar tetapi saya tulus
" Tapi aku laki-laki, kulitku pucat itu tidak cocok di sebut laki-laki" Ucap pemuda itu sedikit pelan dengan wajah lesu,
Mendengar nada lesu dan merendahkan dirinya saya tidak suka, saya langsung memegang kedua pundaknya dan berkata " Tidak, itu cocok untuk anda," sedikit lembut dan tulus.
" Terimakasih " Ucap pemuda itu tulus, ia tersenyum manis ke arah saya,
Tanpa sadar saya bergumam" Cantik " dan sedikit tersenyum itupun tidak akan ada orang yang melihatnya,
Namun, setelah itu tidak ada yang mengawali berbicara, dan ini adalah pertama kalinya saya benci diri saya sendiri, saya yang di kenal genius tapi berhadapan dengan pemuda itu saya tidak bisa berkata-kata dan itu sangat canggung.
Ketika dia berbicara saya senang, pemuda itu juga menyuruhnya untuk berbicara informal aku kamu seperti anak-anak lainnya, tetapi saya tidak terbiasa setelah mendengar kata " Tidak Suka " dari pemuda itu membuat saya takut, apa jika saya tidak berbicara informal dia akan menjauh.
Lalu setelah saya mengatakan saya akan berusaha ke padanya, saya tahu dia adalah pemuda yang baik meski saya tidak pandai bicara ,dia tidak akan menjauhi saya.
Meskipun tidak rela tapi saya tahu saya tidak boleh mengekangnya atau ia akan menjauh, setelah ia kembali ke kelas, saya juga harus kembali ke Ruang OSIS,
Saya berharap saya bisa bertemu dengan nya lagi, meski dia mendekati saya untuk kekuasaan, saya tidak keberatan asal dia ada di samping saya.
.
.
Menit telah berlalu jam terlewati, dulu tugas OSIS yang membuat saya senang dari pada harus berdiam diri, sekarang tugas ini lah yang membuat saya susah untuk bertemu dengannya lagi.
" Ketua ada apa dengan anda, apa sakit, tidak anda tidak boleh sakit, bagaimana bisa kita membuat penerus Keluarga Gentala sakit, kita akan di hukum " Ucap Fandy frustrasi.
" Saya merindukannya " Batin saya menatap luar jendela.
" Berisik " Ucap saya tegas, jujur saya merasa pusing mendengar ocehan Wakil bodoh setiap saat, dan mungkin hanya dia yang mengoceh di depan saya meski ia sedang ketakutan.
.
.
.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...