
...Happy Reading!!!...
Nada duduk di bangkunya di samping orang yang menabrak tubuhnya. Guru Pun masuk ke dalam kelasnya dan memulai pelajaran.
"Selamat pagi anak-anak Ibu, hari ini ada murid baru yang bergabung dengan kelas ini, itu dia anak barunya yang duduk di samping Nada,"ucap Bu Nining sambil menunjuk ke arah murid di samping Nada.
"Perkenalkan dirimu, Nak,"ucap Bu Nining.
Anak baru itu pun berdiri dari duduknya dan memperkenalkan dirinya dengan tangan yang dimasukkan ke kantong celananya.
"Perkenalkan nama saya Arvin Altezza dipanggil Arvin, Saya pindahan dari kota J, terima kasih,"Setelah selesai memperkenalkan dirinya, ia duduk kembali.
begitu ia duduk,banyak yang langsung ingin berteman dengannya. Bagaimana tidak?Arvin cowok tercool di kelas nada. Dengan wajah tampannya banyak yang terpesona dengan Arvin.
Nada melirik ke sampingnya, ingin perkenalan tetapi takut melihat wajah dinginnya Arvin. Ia pun memberanikan dirinya mengulurkan tangan terlebih dahulu.
"Salam kenal, gue Nada,"ucapnya.
Arvin hanya menengok ke arah Nada tanpa berniat membalas uluran tangan Nada. "Hmmm,"Arvin hanya berdehem. Nada tersenyum kecut melihat respon Arvin. Ia Pun menarik tangannya kembali.
Usai perkenalan Arvin, para murid pun fokus kembali memperhatikan Bu Nining. Di tengah-tengah pembelajaran, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
Tok, tok, tok …
"Maaf mengganggu waktunya, Bu Nining,"ucap satpam sekolah.
"Iya, gapapa, Pak. Ada apa, ya?"tanya Bu Nining.
"Ini, ada anak baru kesasar, katanya dari kelas ini, Bu,"kata Pak Satpam.
"Owalah,masuk,Nak!"Bu Nining menyuruh dua anak baru itu untuk masuk ke dalam kelas.
"Kalau gitu saya permisi dulu ya,Bu,"pamit Satpam itu.
"Oh iya, makasih ya,Pak sebelumnya,"ucap Bu Nining.
"Iya,Bu.Saya permisi,"Satpam itu kemudian pergi dan kembali ke gerbang untuk berjaga.
Seisi kelas dibuat terpana dengan pesona anak baru itu,tak terkecuali Nada.Mereka menunggu anak baru itu untuk perkenalan diri.
"Silahkan, kalian perkenalkan diri kalian,"kata Bu Nining.
__ADS_1
"Hallo semua, namaku Amara Zaneeta. Biasa dipanggil Amara,"ucap Amara.
"Hallo, namaku Syakila Fitriani, di panggil Kila,"ucap Syakila.
"Ada yang mau ditanyakan?"tanya Amara pada teman-temannya.
Dari bangku barisan tengah tiba-tiba mengacungkan tangannya."Pindahan dari sekolah mana?"tanya Zico Sang ketua kelas.
"Kita pindahan dari sekolah Insan Cendekia,"jawab Kila.
"Ada yang mau bertanya lagi?"tanya Kila.
Dari barisan belakang pojok tiba-tiba mengacungkan tangannya."Rumahnya dimana?"tanya Ardi Sang Playboy cap Bunglon di kelas Nada. Seisi kelas yang Mendengar pertanyaan Ardi yang menanyakan alamat rumah Kila dan Amara langsung menyoraki Ardi.
"Jangan mulai deh,Di."
"Tau nih, anak baru cewe aja langsung di tanyain alamat rumah,"ucap Zico.
"Di, urusin dulu tuh cewek lo yang bejibun itu,"
"Cewe aja langsung, kenapa si Arvin gak ditanya alamat rumah?"tanya Ziki. Seisi kelas langsung tertawa mendengar penuturan Ziki.
Arvin yang mendengar namanya disebut langsung duduk tegak dari tidurnya. Belum sehari dirinya masuk kelas sudah ada saja yang membawa-bawa namanya. Ardi hanya menggaruk tengkuknya. Apa salahnya jika menanyakan alamat rumah, siapa tau nanti sekelompok jika ada kerkom. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan.
"Baik,Bu,"ucap Kila Dan Amara.
Mereka melihat-lihat tempat duduk yang sesuai. Dan mereka memutuskan untuk duduk di bangku belakang Nada dan Arvin.
Sesudahnya duduk di bangku mereka, Nada membalikan badannya ke belakang."Kalian kenapa gak duduk di barisan tengah, padahal duduk di sini lebih paling belakang banget lo dari pada barisan tengah?"tanya Nada.
"Tidak, ada seseorang di bangku itu,"jawab Amara.
Nada yang mendengar perkataan Amara sedikit terkejut. Dari mana mereka tahu kalau di bangku itu ada yang menempati?padahal bangku itu kosong. Apa jangan-jangan mereka bisa melihat tak kasat mata seperti dirinya?
"K—kau tahu?"Nada bertanya dengan ragu. Amara hanya mengangguk sambil mengeluarkan bukunya. Kila yang semenjak tadi hanya menyimak menjadi bingung, apa yang sedang dibahas mereka?
"Kau Pun pasti sudah tahu dari awal,benar?"tanya Amara. Kila yang mendengar perkataan Amara menjadi semakin bingung.
"Kau tahu aku bisa melihat mereka?"tanya Nada memastikan, dan lagi-lagi amara hanya mengangguk.
"Bagaimana bisa?"tanya Nada semakin bingung, dari mana teman barunya itu tahu?Ah … Nada sudah menganggap murid yang di depannya ini sebagai teman barunya. Tapi dari mana Amara tahu?padahal ia tak pernah cerita ke pada siapa-siapa.
__ADS_1
"Aku tahu kau indigo, karena aura tubuhmu berwarna biru keunguan,"jawab Amara.
"Kau juga bisa melihat mereka?"tanya Nada.
Kali ini Amara menggelengkan kepalanya."Aku hanya bisa melihat aura, merasakan aura, dan …,"belum selesai perkataan Amara tiba-tiba ada yang memotong perkataan Amara.
"Kalian mau belajar atau ngobrol?"tanya Arvin dengan Wajah datar.Ia heran dengan semua cewek, setiap ngobrol pasti tidak selesai-selesai, ada saja yang diobrolkan.
Nada dan Amara langsung terdiam, mereka kembali memperhatikan Bu Nining yang sedang menerangkan pelajaran yang sangat dibenci oleh para siswa. Yup!Matematika.
"Huft , kenapa harus minta pertolongan manusia?kenapa tidak menyelesaikan masalahnya sendiri?"gumam Nada. Ia memang tidak menyukai pelajaran matematika.Terlalu banyak rumus menurutnya.
Amara tersenyum mendengar gumaman Nada."Terkadang mereka harus meminta bantuan manusia untuk menyelesaikan urusannya, karena terkadang mereka tidak bisa menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain, dan harus memasukan peran di dalamnya,"gumam Amara.
Jam istirahat pun tiba.
Nada membereskan alat tulisnya dan memasukan kedalam tas. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.
"Istirahat bareng kita,yuk?"ajak Amara.
Nada balas tersenyum dan mengangguk."Ayok!"
Mereka bertiga pun berjalan menuju kantin. sesampainya di kantin, mereka memilih duduk di dekat tembok.
"Kita mau makan apa?"tanya Nada.
"Emmm gimana kalau bakso aja?"saran Amara. Nada mengangguk."Boleh."
"Kalo gitu biar Kila saja yang pesan,"ucap Kila
"Makasih Kila …,"ucap Amara dan Nada serempak.
Di tengah menunggu Kila yang sedang memesan makanan, Nada membuka topik pembicaraan.
"Amara, biar lebih akrab aku panggil Ara aja, ya?"tanya Nada.
Ara tersenyum,"Suka-suka Nada saja,"Nada balas tersenyum.
Dalam sekejap ekspresi Nada sudah berubah, ia menunduk menatap sepatunya yang berada di bawah meja. Ara yang menyadari tingkah Nada pun seketika memegang tangan Nada yang dingin.
"Apa ada sesuatu?"tanya Ara.
__ADS_1
"Hmm,"Nada hanya membalas dengan deheman. Ara memperhatikan bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri. Ia merasakan ada aura gelap namun lebih ke abu-abu. Ia tidak berani menengok kebelakang.
Tiba-tiba …