
Sosok yang berada di tubuh Bu Lastri terus berteriak kesakitan dan tak lama kemudian keluarlah asap putih dari tubuh Bu Lastri, Bu Lastri Pun terjatuh karena besarnya kekuatan yang dimiliki sosok itu. Guru-guru ikut membantu Bu Lastri dan menidurkannya di sofa ruangguru.
"Huh … akhirnya,"keluh Ara.
"Tapi temen, Kakak gimana?"tanya Davin yang melihat teman-temannya ikut pingsan karena energi mereka terkuras oleh kila.
"Mereka hanya pingsan, Kak, sebentar lagi juga akan bangun, jangan khawatir,"ucap Ara menenangkan. Sejujurnya di dalam hati ketiga perempuan itu terbesit rasa bersalah, bagaimanapun juga mereka lah yang melibatkan Kakak kelasnya.
Davin hanya mengangguk mendengar penjelasan Ara.
***
KRIING…
"Nad, Pulang sama siapa?"tanya Kila.
"Nada dijemput sama supir,"jawab Nada yang sedang membereskan buku-bukunya.
"Kita main, yuk!"ajak Kila.
"Nada si ikut aja,"jawab Nada.
"Kalau kita nginap di rumah Nada, gimana?"tanya Ara.
"Boleh saja, pintu rumah Nada selalu terbuka untuk siapa saja,"ucap Nada.
"Okay, nanti Ara sama Kila ke rumah Nada, ya … jangan lupa sherlock,"kata Ara.
Mereka akhirnya pulang ke rumah masing-masing setelah tadi sempat berbincang sebentar di parkiran untuk menemani Nada yang belum dijemput oleh supirnya, sedangkan Ara dan Kila mereka pulang dengan menggunakan mobil milik Ara. Karena rumah Kila searah dengan Ara jadilah mereka pulang bersama.
Nada Pun sampai di rumahnya,ia langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Ibu … Nada pulang,"ucap Nada saat mencapai pintu rumahnya.
"Eh, udah pulang, Nak?ayo sini makan, Ibu udah buatin makanan kesukaan kamu," ucap Ibu Nada.
Nada berjalan menghampiri Ibunya,ia melihat di atas meja makan sudah ada makanan kesukaannya, membuat perutnya yang lapar ini semakin lapar.
Mereka makan dengan diiringi celotehan Nada.
"Nak, nanti sore Ibu mau pergi karena ada pekerjaan, kamu tidak apa-apa jika di tinggal?"tanya Ibu menatap Nada dengan raut wajah yang sedih.
"Hmm?Nada gak apa-apa kok, Bu,kan biasanya juga begitu,"ucap Nada.
Nada tidak masalah jika ditinggal oleh ibunya untuk bekerja, karena ia tahu ibu nya bekerja juga untuk kebaikan dan kebutuhan dirinya, lagi pula ibunya tidak pernah lama jika bepergian.
__ADS_1
"Tapi … ibu akan lama disana,"ucap ibu.Ia jadi tidak tega meninggalkan anaknya sendirian dalam waktu yang lama. Tapi mau bagaimana lagi?ia harus pergi untuk mengurus kantor cabang milik suaminya. Dan kelak itu semua akan menjadi milik Nada.
Nada menghela nafasnya. "Berapa lama Ibu di sana?"
"Mungkin sekitar tiga bulanan,"jawab Ibu.
Waktu yang lama menurut Nada, karena ini pertama kalinya ibunya pergi selama itu. Tapi ia ingat jika nanti teman-temannya akan menginap di rumahnya, sekaligus untuk menemaninya di rumah yang sepi ini.
"Oiya, Bu. Nanti teman-teman Nada mau menginap di sini, apa boleh?"
"Tentu saja boleh, biar Nada ada teman di rumah tidak sendirian, jadi Ibu tidak khawatir lagi jika pergi,"jawab Ibu
Tok!tok!tok!
"Itu pasti teman-teman, Nada,"Nada bangun dari duduknya dan berjalan ke arah pintu.
"Biar Bibi saja, Nada,"ucap Bi Neni.
"Gapapa, Bi, Nada saja,"ucap Nada Setelah membuka pintu tampaklah Ara dan Kila dengan tas mereka berisi baju-baju dan seragam.
"Kalian, ayo masuk."ucap Nada.
"Ma, kenalkan ini teman-teman Nada,"ucap Nada.
"Tante ibunya Nada, panggil ibu saja,"ucap Ibu Nada. Ara dan Kila sedikit terkejut dengan permintaan ibunya Nada. Memanggilnya ibu?bukankah itu panggilan untuk orang terdekat?padahal Ara dan Kila kan masih baru berteman dengan Nada.
"T—tapi, Tante …."Mereka berdua merasa canggung dengan ibunya Nada yang meminta dipanggil 'Ibu'.
Seakan Ibunya Nada tau isi pikiran Ara dan Kila, ia berkata, "Tidak apa-apa, Ibu tau kalian teman yang baik untuk Nada. Kalian satu frekuensi dengan Nada, kan?" Kila dan Ara mengangguk.Dalam hati mereka bagaimana Ibunya Nada bisa tau?
"Ayo, kalian juga ikut makan,"ajak Ibunya Nada.
Usai makan, Nada, Ara, dan Kila berkumpul di ruang tamu sambil berbagi cerita. Tidak lupa dengan tv yang menyala dan berbagai cemilan diatas meja kecil.
Mendengar suara seperti sebuah roda, Nada melihat ibunya yang sedang menuruni tangga dengan koper di tangannya.
"Nak, Ibu pamit. Hati-hati di rumah, ya?"pesan Ibu.
Nada mengangguk. "Ibu juga hati-hati di sana, dan cepat pulang," Ibu mengangguk dan tersenyum kecil.Ia berusaha menahan air matanya yang sudah berkumpul di kelopak matanya. Kedua anak dan Ibu itu saling berpelukkan menahan sesak di dada.
Ibu melepaskan pelukannya."Ara, Kila, Ibu titip Nada, ya. Kalau Nada melakukan kesalahan tegur saja, karena anak Ibu ini suka ceroboh,hihi"ucap Ibu di sertai kekehan kecil.
"Ibu …,"Nada merengut kesal menambah kesan imut dengan wajah masamnya.
Mereka Pun mengantar Ibu Nada ke bandara, pulangnya mereka pergi ke supermarket untuk membeli cemilan dan lain-lain.
__ADS_1
Malam harinya di kamar Nada …
Nada duduk di meja riasnya, sedangkan Ara dan Kila duduk di atas kasur sambil memakan cemilan.
" Jadi Kalian serius mau ikut masuk Ekstrakurikuler balet?"Nada pembuka pertanyaan terlebih dahulu.
"Jadi dong!besok latihannya, kan?"tanya Ara. Nada mengangguk membenarkan.
"Jujur, Kila gak enak sama kakak kelas yang udah Kila ambil energinya,"tutur Kila.
"Sama, Ara juga,"sambung Ara.
Nada mengangguk. "Nada juga, gimana kalau besok kita minta maaf?"usul Nada. Mereka mengangguk menyetujui usulan Nada. Jika tidak ada kakak kelas mereka, entah apa yang akan terjadi kepada Bu Lastri.
Duk!Duk!Duk!
Seketika semua yang di kamar Nada menjadi hening.
"Ara dengar?"tanya Kila.
Ara mengangguk."Ara denger, kok. Kalian pikirannya jangan kosong,"ucap Ara.
"Emang itu apa,Ar?"tanya Nada yang kini sedang berjalan ke arah kasurnya. Ia tidak terlalu mendengarkan suara tersebut karena pikirannya sedang memikirkan hal lain. Jika Nada tahu mungkin ia akan ketakutan.
"Mereka yang usil,"jawab Ara.
Tiba-tiba suara tersebut terdengar lagi.
Duk!Duk!Duk!
"Ar …"lirik Kila. Ia merapatkan tubuhnya dengan Ara. Kila memang penakut, tetapi tidak dengan Ara. Sebenarnya Ara juga penakut, tetapi tidak seperti Kila yang orangnya penakutan banget.
"Nada, tetap fokus, pikirannya jangan kosong,"ucap Ara. Nada merasakan bulu kuduknya merinding,tiba-tiba tubuh Nada menegang saat ada angin berhembus menyapu kulitnya.Ia merinding!
"Ara bisa merasakan auranya?"tanya Kila.
"Iya, hitam pekat tapi sedikit abu-abu,"jawab Ara.
"Apa berbahaya?"tanya Nada.
"Sepertinya nggak, tapi kita harus waspada,"jawab Ara.
Baraaakk!!
__ADS_1