
Pintu kamar Nada terbuka lebar dengan suara yang keras. Kalian tahu siapa pelakunya?Yups, hantu yang usil.
Hantu itu berdiri di daun pintu dengan kepala yang miring. Tangan hantu itu penuh dengan goresan tipis-tipis dan beberapa jahitan.
Kretek … kretek.
Suara tulang patah semakin membuat mereka bertiga ketakutan. Bagaimana tidak, hantu itu memutarkan kepalanya hingga tiga ratus enam puluh derajat. Suara patahan tulang itu membuat Nada dan teman-temannya ikut merasakan linu-linu di tubuh mereka.
Hantu itu memutar kepalanya sambil berjalan ke arah Nada. Ara yang menyadari itu langsung berteriak,"Nada, awas!!"
Belum sempat hantu perempuan itu menyentuh tangan Nada, Ara sudah menarik tangan Nada dan melindunginya di belakang tubuhnya.
Melihat tingkah Ara dan kawan-kawannya, hantu itu tersenyum lebar hingga lima belas sentimeter.
"Kalian bisa melihatku?"tanya hantu itu kepada Ara. Lalu Ara menggeleng, memang benarkah Ara tidak bisa melihat?jika tadi ia berhasil melindungi Nada itu hanyalah sebuah kebetulan, karena Ara merasa Nada dalam bahaya Dan… Ara bisa mendengar suara hantu itu karena hantu itu ingin menunjukkan keberadaan dirinya melalui suaranya.
"Gadis berbaju pink, apakah kau bisa melihatku?"Hantu itu menengok ke arah Kila. Kila pun menggeleng. Ia mencekram tangan Ara kuat-kuat karena saat ini dirinya sangat takut.
Ternyata diam-diam hantu itu sedang menarik energi Kila. Ia merasa tenaganya hampir habis karena energinya ditarik oleh hantu itu.
Ara yang melihat keadaan tidak memungkinkan untuk melawan, segera menarik Nada dan Kila ke kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.
"Kenapa kesini?kan hantu itu juga bisa nembus,"ucap Nada.
Ara tidak mendengarkan ucapan Nada, tatapannya terfokus pada satu benda, yaitu kalung yang Nada pakai. Kalung itu memiliki permata yang indah berwarna biru muda berbentuk setengah lingkaran.
Batu permata penakluk ilmu hitam?batin Ara.
"Nada, Ara pinjam kalungnya,"ucap Ara.
"Hah, untuk apa?"tanya Nada.
"Nanti Ara jelaskan, Ara pinjam kalungnya, cepat!!"desak Ara.
"Sebentar,"Nada buru-buru melepas kalungnya dan memberikannya kepada Ara. Entah untuk apa kalung itu, ia pun hanya menuruti Ara.
"Semoga,"gumam Ara yang menempelkan batu permata itu pada daun pintu. Kila dan Nada hanya menyaksikan apa yang Ara lakukan.
DOR!DOR!DOR!!
Hantu itu menggedor pintu kamar mandi namun pintu itu tidak terbuka, kemudian ia terpental saat Ara menempelkan batu permata di daun pintu. Hantu itu tidak bisa menembus dinding karena Ara sudah memasang sebuah perisai dengan bantuan batu permata.
"Buka, buka!,buka…!!"hantu itu berteriak dengan suara yang semakin membesar.
__ADS_1
"Hihihi."hantu itu tertawa lirih dengan suara yang melengking.
"Aku akan kembali,"ucapnya lirih. Dia Pun menghilang.
Merasa keadaan sudah aman, mereka pun keluar dari kamar mandi.
"Kenapa tadi bisa seperti itu?"tanya Nada.
Kila mengangguk."Ayo jelaskan,"desak Kila.
Melihat teman-temannya penasaran, Ara pun menceritakan tentang apa yang ia lakukan tadi. Mereka duduk di atas kasur dan mencari posisi yang enak untuk mendengarkan cerita Ara.
"Sebenarnya, kalung yang digunakan Nada itu memiliki kekuatan untuk menghancurkan ilmu hitam, namun batu permata itu tidak utuh,"ucap Ara.
"Tapi kenapa tadi bisa Ara gunakan?"tanya Nada.
"Batu permata itu memang mempunyai kekuatan, tapi jika batu permata itu utuh kekuatannya akan lebih besar. Dan Nada harus mencari batu permata itu,"jelas Ara.
"Kenapa harus mencarinya?"tanya Kila.
"Batu permata itu bisa menjadi perisai kalau kita sedang membutuhkannya, dia juga bisa menangkal makhluk halus yang ingin masuk atau merasuki diri kita,"kata Ara. Nada dan Kila hanya mengangguk.
"Sudah, jangan ceritakan ini. Nanti mereka mendengar cerita kita, dan mereka akan merebut batu itu dari pemiliknya,"ucap Nada.
Di jendela kamar Nada, diam-diam ada yang mendengar cerita mereka. Orang itu tersenyum congkak dan kemudian pergi.
Di tengah-tengahnya malam, tidur Nada tidak tenang dengan raut wajah yang gelisah. Di dalam mimpinya, ia didatangi dengan seorang perempuan yang sangat cantik, kulit putih , rambut panjang, dan mempunyai belahan di dagunya. Sosok itu terus menuntut Nada untuk menolong dirinya yang terjebak di antara dua dunia.
"Bantu aku, tolong bantu aku…" ucap sosok itu.
Namun dalam sekejap, sosok itu berubah menjadi menyeramkan, wajahnya penuh dengan luka dan sayatan, dan di tubuhnya terdapat luka tembak dengan darah yang masih mengalir. Luka-luka di tangan dan kakinya masih menganga lebar.
"Tolong!tolong aku!bantu aku!!!" teriak sosok itu.
Deg!
Nada terbangun dengan keringat yang bercucuran di dahinya. Ia melihat ke arah samping, ternyata teman-temannya masih tertidur, ia mengingat-ngingat tentang mimpinya semalam, apakah ini termasuk teror?
Mengapa sosok itu datang kembali ke dalam mimpinya? apa maksudnya? Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi.
Ia pun turun dari tempat tidurnya dan berniat untuk membuat sarapan sebelum mereka berangkat ke sekolah.
"Loh, Nada sudah bangun?Bibi sudah siapkan sarapan,"ternyata sudah ada Bi Neni yang membuat sarapan.
__ADS_1
"Panggilkan teman Nada untuk sarapan, ya?"
Belum sempat Nada memanggil teman-temannya, ternyata mereka sudah turun duluan.
"Ayo, sarapan,"ajak Nada.
Setelah selesai sarapan, mereka bersiap untuk pergi ke sekolah. Mereka berangkat menggunakan mobil Ara.
"Kalian tahu gak sih, Nada semalam mimpi?" Tanya Nada.
"Mimpi apa?"tanya Kila yang duduk di belakang.
"Nada mimpi ada seorang perempuan, dia minta tolong sama Nada tapi nggak tau minta tolong untuk apa, terus dia minta tolong sambil nunjuk-nunjuk Nada,"ungkap Nada.
"Hmm, mungkin saja dia minta tolong sama, Nada,"ucap Ara.
Tiba mereka di sekolah, lalu masuk ke dalam kelas yang masih sepi, hanya beberapa orang saja yang sudah datang.
"Hmm, masih sepi,"gumam Kila.
"Iyalah, kan masih pagi,"timpal Ara.
"Eh, ke ruang balet, yuk!Ara mau lihat gimana ruangannya,"ajak Ara.
Mereka pun pergi menuju ruang balet, ekskul yang jarang sekali ada di sekolah-sekolah. Hanya sekolah ini yang memiliki ekskul tersebut Nada membuka pintu ruang baletnya.
Krieeet …
Suasana hening menyelimuti ruangan itu, sangat sepi. Kesimpulan pertama yang Ara rasakan ketika memasuki ruangan itu adalah keadaan ruangan yang sedikit pengap. Beda dengan Nada dan Kila, mereka tampak biasa-biasa saja.
"Nada, lihat gak?"tanya Ara. Nada bingung dengan maksud Ara.
"Maksudnya?"tanya Nada balik.
"Oh, tidaklah,"Nada yang mendengar ucapan Ara sambil mengernyitkan dahinya bingung. Mereka tampak menelusuri semua isi ruangan itu, Ara dan Nada pergi ke tempat loker sebuah tempat untuk menyimpan peralatan balet, entah itu baju, sepatu, atau yang lainnya.
Sedangkan Kila, ia pergi ke arah foto-foto yang menggantung di ruangan itu, ada foto anggota balet, ataupun memenangkan juara balet.
Brakk!!
Kila menjatuhkan salah satu foto tersebut yang mana menjadi pengalaman kelam bagi anggota-anggota yang mengikuti ekstrakurikuler balet.
"Hey! letakkan itu kembali!!"suara itu menggelegar memenuhi ruangan balet.
__ADS_1