
“Ssst... siapa tuh?” tanya Nikita pada Noval, pacarnya. “Ssst... jangan keras-keras, nanti dia denger,” kata Noval sambil meminta Nikita duduk di ruang tamu sejenak. “Aku ganti pakaian dulu ya, habis ini kita makan malam,” kata Noval.
Noval menghilang ke dalam kamar kost-nya. Nikita yang duduk di ruang tamu masih terus memperhatikan cowok yang sedang memegang piring berisi nasi dan sepotong perkedel kentang sambil terus mengetuk-ngetuk piring itu. “Ayo semut... pindah ke sini ya?” kata cowok itu sambil memotong bagian ujung perkedel yang dikerumuni semut. Potongan perkedelnya diletakkan di pojokan teras. Tangannya masih terus mengetuk-ngetuk pinggir piring agar semut pergi dari perkedel dan piringnya.
Agak miring nih otak cowok ini, batin Nikita. Cowok itu kemudian berdiri, tersenyum sekilas pada Nikita lalu masuk ke kamar kost-nya.
Noval keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. “Yuk... kita makan malam sekarang,” kata Noval pada Nikita.
Saat sudah agak jauh dari tempat kost, Nikita tak sabaran untuk bertanya, “Siapa sih cowok tadi yang ngomong sama semut? Semut sayang, pindah ke sini ya?” Kontan Noval tertawa keras. “Richard namanya. Anak baru, baru seminggu dia kost. Kuliahnya di Ekonomi. Anaknya sih baik, malah kelewat baik dan dianggap lebay serta ‘agak miring’ sama penghuni kost lainnya,” kata Noval sambil meletakkan jari telunjuknya di kening.
Baru seminggu dia di tempat kost, tingkah anehnya sudah cukup banyak. Ya, kayak tadi, ngomong sama semut. Kamu tau sendiri ‘kan, di kost-an saya banyak sekali semut. Kalau taruh segelas teh manis di atas meja, lupa diletakkan di piring atau mangkuk yang sudah diberi air, sebentar saja sudah diserbu semut,” cerita Noval.
“Semut saja dibelain segitunya. Kalau saya, piring makanan disemutin, pilihannya cuma dua: taruh piring di atas tutup panci yang sedang digunakan untuk masak air panas atau buang saja semuanya dan beli baru. Males nungguin dan nyuruh semut itu pindah. Cara paling cepat, taruh saja piring di atas tutup panci yang panas, semutnya kocarkacir, ketika turun ke tutup panci, menggelepar sebentar, mati deh... Semuanya beres, nggak pake lama,” Noval tertawa. Nikita pun tersenyum, “Pacarku memang hebat.”
* * * * * * * * * * *
Ada sebuah meja panjang, di atasnya ada piring berisi bungkusan emping, kerupuk udang, lalu ada tisu gulung, tempat tusuk gigi, serta tempat sendok dan garpu. Inilah suasana warung tenda di kaki lima yang menyajikan menu pecel lele, tahu, dan tempe goreng, ayam goreng, bebek goreng, serta soto ayam.
Vicko duduk di bangku panjang di bagian paling kanan. Di ujung sebelah kirinya ada 2 orang bapak yang sedang menikmati makan malamnya. Udara dingin Kota Bandung membuat suasana makan malam jadi lebih nikmat.
“Permisi...” suara seorang pemuda mengalihkan perhatian Vicko. Vicko menoleh, eh... rupanya ada seorang pemuda yang juga mau makan. Vicko menggeser duduknya agak ke kiri agar pemuda tadi bisa duduk. Memang agak sulit untuk duduk di bagian tengah bangku panjang ini karena persis di belakang Vicko, kain tenda penutup warung ini menempel di punggung. Jadi jika ada pengunjung yang baru datang, pengunjung yang sudah duduk duluan, biasanya bergeser ke tengah.
Setelah pemuda tadi duduk, ibu pemilik warung pecel lele menghidangkan dua gelas teh, satu gelas untuk Vicko dan satu gelas untuk pemuda tadi.
“Pesan apa Dik?” tanya ibu pemilik warung pada kami. Pemuda yang baru datang langsung menyebut “Nasi putih dan pecel lele Bu. Sambelnya yang pedes ya?” “Kalau adik?” tanya ibu pemilik warung kepada Vicko. “Nasi putih dan ayam goreng Bu,” kata Vicko.
“Aduh lupa...,” kata pemuda di sebelah Vicko seolah berkata pada diri sendiri. “Aduh maaf Bu, lele-nya besar atau kecil?” tanya pemuda itu. “Silakan pilih Dik, ada yang besar dan ada yang kecil. Masih seger, semuanya masih hidup. Sini lihat sendiri di ember, mau pilih yang mana?” kata ibu pemilik warung itu ramah.
“Ehm... kalau begitu, ayam goreng saja deh...,” kata pemuda tadi. Ibu pemilik warung tampak melongo mendengar ucapan pemuda ini. Dua bapak yang sedang makan pun menoleh dan melihat ke arah pemuda itu dengan pandangan bingung.
Sesaat kemudian hidangan datang, Vicko dan pemuda itu tenggelam dalam keasyikan masing-masing, menikmati makan malam di warung tenda kaki lima di kota yang dijuluki Paris van Java ini.
Sebenarnya Vicko pun merasa aneh dengan tingkah pemuda ini.Waktu datang begitu semangat pesan pecel lele, eh... tiba-tiba berubah pikiran dan ikut-ikutan memesan ayam goreng.
__ADS_1
Vicko melihat tumpukan buku milik pemuda itu, yang diletakkannya di atas meja. Dari tumpukan bukunya, Vicko menebak ia seorang mahasiswa. Wow... ada buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” karya Ajahn Brahm. Mungkinkah ia seorang Buddhis, batin Vicko.
“Kamu mahasiswa ya?” Vicko memulai pembicaraan. “Ya, Kak,” jawab pemuda itu. Vicko sulit menemukan kalimat apa yang harus ia ucapkan untuk memastikan apakah benar pemuda ini seorang Buddhis. Tentu tidak etis banget, masa’ baru kenal, langsung tanya: kamu agama apa? Lagi pula, yang baca buku Buddhis, apalagi karya Ajahn Brahm tidaklah harus seorang Buddhis.
“Asli Bandung?” Vicko mengulur waktu mencari kalimat apa yang tepat untuk mengetahui apa sih agamanya. Hehehe... kepo ya?
“Bukan, saya dari Palembang,” jawabnya.
“Wah... keren bacaannya. Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya karya Ajahn Brahm. Saya best seller baca buku best seller itu. Banyak teman yang bilang, isinya bagus tapi saya belum sempat baca. Di perpustakaan vihara ada, tapi saya belum sempat pinjam,” Vicko menemukan kalimat yang pas untuk mencari tau agamanya. Sengaja ia memberi penekanan pada kata perpustakaan vihara.
“Kakak Buddhis?” dia langsung antusias.
Vicko hanya mengangguk.
“Saya Richard,” kata pemuda itu. “Kakak siapa?” “Saya Vicko,” jawab Vicko.
Itulah awal pertemuan Vicko dengan mahasiswa Buddhis semester satu, yang kini jadi teman diskusi Vicko soal Dhamma. Ia bernama Richard Bryan.Dulunya Richard aktivis Buddhis di Vihara Dharmakirti, Palembang. Usia Vicko dan Richard berbeda 5 tahun, makanya Richard selalu menyapa Ko Vicko saat berbicara pada Vicko.
* * * * * * * * * * *
“Lho... bukankah itu melanggar sila pertama dari Pancasila Buddhis jika saya tetap pesan pecel lele?” tanya Richard.
“Kita ‘kan tidak membunuh lele itu?” Vicko balik bertanya.
“Ko Vicko, dalam Dhamma, syarat terjadinya pembunuhan itu: adanya makhluk hidup, kita tau bahwa makhluk itu hidup, ada niat, ada usaha untuk membunuh, makhluk tersebut mati sebagai hasil pembunuhan. Memang kita tidak membunuh secara langsung, tapi karena kita memesan, maka lele itu terbunuh,” Richard mengemukakan argumennya.
“Oh... gitu ya?” Vicko terdiam sejenak. “Wah... kalau gitu, selama ini Ko Vicko salah dong. Cuek saja pesan pecel lele. Nggak pernah pikir sampai ke sejauh itu,” kata Vicko.
“Saya dulu juga begitu Ko. Pernah saya pesan pecel lele, trus tiba-tiba terdengar suara keras diikuti suara seperti ikan menggelepar. Ternyata suara keras itu hantaman balok ke kepala lele,” Richard berhenti sejenak seolah membayangkan kejadian saat itu.
“Perasaan saya jadi tidak enak, gara-gara saya pesan pecel lele, seekor lele terbunuh. Lalu saat ada Bhante memberikan Dhammadesana di Vihara Dharmakirti, saya tanya ke Bhante. Akhirnya saya lebih mengerti tentang maksud sila kedua Pancasila Buddhis. Jadi, jika masih suka makan daging, beli atau pesanlah makanan berunsur hewan, yang awalnya memang sudah mati saat kita ke sana. Kalau mama saya ke pasar, saya juga berpesan agar mama beli ikan laut saja. Ikan laut ‘kan sudah mati saat dijual? Kalau ikan sungai atau ikan yang diternakkan seperti ikan mas, ikan lele, ikan gurame, biasanya dijual dalam kondisi hidup. Beli ayam juga ayam yang memang dipajang dalam keadaan mati dan sudah dibersihkan. Itu tidak melanggar sila. Bukan pilih ayam dalam kandang, lalu minta penjualnya memotong,” Richard bercerita panjang lebar.
“Makanya sejak saat itu, jika saya pesan pecel lele, saya cari tau dulu, apakah lele-nya sudah mati atau belum. Ya, kayak kemarin, pura-pura tanya lele-nya besar atau kecil. Di warung tenda langganan saya di Palembang, lele-nya sudah dalam keadaan mati dan sudah direndam bumbu. Pelanggan datang, tinggal digoreng. Waktu pertama ketemu Ko Vicko, saya benar-benar lupa. Jadi langsung pesan pecel lele,” lanjut Richard.
__ADS_1
“Saya sering mendapat tatapan aneh dari pengunjung warung tenda ketika saya berubah pesan ayam goreng atau bebek goreng justru di saat penjual mengatakan ikan lele-nya masih segar, masih hidup,” Richard tertawa.
“Orang awam, pasti memandang aneh kepada Buddhis ketika hal ini terjadi. Orang lain justru tidak jadi pesan kalau ikan lele-nya sudah mati, maunya yang masih fresh, masih hidup dan baru dipotong setelah kita pesan. Kita sebagai Buddhis, justru kebalikannya,” ujar Richard.
Itu sih belum seberapa. “Saya malah sering dianggap nggak waras karena menyelamatkan segerombolan semut yang mengerubungi makanan saya. Saya perlahan mengusir semut-semut itu, sementara orang lain lebih suka menaruh piringnya di atas tutup panci yang panas sehingga semua semut itu mati,“ kata Richard sambil menerawang jauh.
“Biarkan sajalah... Bahkan kadang teman kost ada yang ngeledek dan kasih tugas ke saya. Richard, tolong nih usirin semut dari piring saya, kalau nggak saya taruh di atas panci panas nih. Kesel juga sih, kebaikan kita jadi bahan olokolok. Tapi sudahlah, kita terima dengan lapang dada saja. Bukankah itu ladang subur untuk menanam kebajikan? Saya beberapa kali dapat tugas membersihkan semut dari makanan mereka yang diserbu semut. Tak peduli apa kata orang, kalau kita merasa itu baik menurut Dhamma, lakukan saja,” ucap Richard.
“Tapi karena tingkah teman-teman kost yang sudah keterlaluan, saya memutuskan pindah kost saja. Sebentarsebentar, ada yang teriak nyuruh saya menyelamatkan semut. Richard, ini ada banyak semut di kamar saya, tolong pindahin atau saya semprot Baygon nih... Richard, di ruang tamu banyak laron yang sayapnya sudah lepas dan jalan ke sana kemari. Kalau kamu nggak pindahin, semua akan mati terinjak,” teriak anak kost lain.
“Tapi saya harus lebih bijak di tempat kost baru, saya tidak akan memperlihatkan bagaimana saya peduli pada hidup makhluk hidup lain agar tidak lagi disalahgunakan teman kost,” Richard mengakhiri ceritanya.
Vicko mendengarkan dengan saksama saat Richard bercerita. Usia Vicko memang lebih tua, tapi soal pengetahuan Dhamma, Vicko jauh di bawah Richard. Vicko terlahir sebagai Buddhis, tapi awalnya ia tak mengenal Dhamma. Hanya saat berpacaran dengan Vita, Vicko mulai mengenal Dhamma.
* * * * * * * * * * *
“Cinta itu (tidak) buta, karena BMX dan BMW jelas berbeda,” itu kalimat yang tertulis di diary Vicko. Itu Vicko tulis saat baru putus dari Stella, yang mengkhianatinya setelah satu tahun berpacaran. Tanpa bertengkar, tanpa ada masalah, tiba-tiba Stella sudah jalan sama Steven, cowok pindahan dari SMA lain. Vicko memang kalah segalanya dari Steven, kalah tampan, kalah kaya, kalah tinggi.
Vicko tersenyum membaca kembali catatan yang ditulisnya sekian tahun lalu itu. Tak ada yang perlu disesali, semua itu bagian dari masa lalu yang tak bisa dihapus. Sekarang Vicko sudah memiliki Vita, calon pendamping hidupnya. Jauh lebih baik daripada Stella yang matre. Vita yang mengubah Vicko jadi lebih dekat ke Dhamma. Vita cewek yang setia, sayang, dan penuh perhatian.
Vita dan Richard, kalian berdua adalah orang yang pantas mendapatkan ucapkan terima kasih dariku, batin Vicko. Richard yang sudah dianggap seperti adik kandung Vicko adalah sahabat sejati Vicko. Dari Richard-lah, Vicko belajar banyak tentang Dhamma. Richard teman diskusi yang sangat menyenangkan, pengetahuan Dhamma-nya luas. Dan Vita, calon pendamping hidup Vicko yang sangat baik, selalu ada untuk Vicko.
* * * * * * * * * * *
Tiga bulan lalu, Richard memberikan link video YouTube dan meminta Vicko menyaksikannya jika sempat. Berkat video dengan link www.tiny.cc/metta yang diberikan Richard itulah akhirnya Vicko memantapkan niatnya untuk mulai ber-vegetarian, menyusul Richard dan Vita yang lebih dulu jadi vegan. Sebelumnya, Vicko memang sudah ada niat untuk mencoba vegetarian, ada perasaan tidak nyaman setiap menyantap hidangan yang berasal dari hewan, meskipun hal itu bukanlah pelanggaran sila. Tapi sejak menyaksikan video pidato Gary Yourofsky itu, Vicko mantap jadi vegan hingga sekarang.
Tapi Vicko juga bukan seorang yang sangat fanatik soal vegetarian. Ketika tidak ada menu vegetarian, yang ada hanya: rendang, ayam goreng, dan capchay, Vicko akan memilih capchay dan hanya memakan sayurannya. Intinya, sebisa mungkin Vicko akan menghindari makan makanan yang berasal dari hewan. Sama halnya ketika masih suka makan daging, Vicko lebih memilih ayam goreng daripada pecel lele agar tidak melanggar sila.
Sebenarnya, menjadi vegan bukanlah alasan agama. Buddha tidak pernah melarang umatnya makan daging dan menganjurkan untuk bervegetarian. Semua adalah pilihan. Rasa cinta kepada semua makhluk yang membuat Vicko menjatuhkan pilihan untuk menjadi vegan. Bagaimana kita bisa menikmati makanan dan menelannya ketika kita tau bahwa sebelum terhidang untuk kita, makhluk itu mengalami banyak penyiksaan hingga akhirnya makhluk yang juga punya hak hidup itu dibunuh demi memuaskan selera makan kita???
Semua makhluk di dunia ini ingin dan punya hak untuk hidup bahagia. Jangan rampas hak hidup mereka, jangan sakiti mereka. Bisakah Anda bayangkan, bagaimana takutnya sapi yang dibawa ke rumah jagal, bagaimana sakitnya leher ayam dipotong, sementara mereka ingin tetap hidup namun tak berdaya melawan kekuatan manusia.
Apa yang kita lakukan di dunia ini seperti bayangan. Apa pun yang kita lakukan, bayangan itu selalu menghasilkan gerakan yang sama. Itu cerminan apa yang kita tanam, itulah yang kelak kita petik.
__ADS_1
Vicko mengambil pulpen, lalu menggoreskan catatan di diary-nya. “Cinta itu seharusnya (tidak) buta karena ayam goreng dan pecel lele jelas berbeda. Tapi... saya lebih memilih mempertahankan hidup ini tanpa harus menghilangkan hak hidup makhluk lain.”