
Bocah kecil itu termenung sambil menyenderkan dagunya di bingkai jendela, menatap ke luar melihat pejalan kaki yang sesekali berlalu lalang. Sesekali hening menyelimut, hanya terdengar detak jarum jam dinding.. tik.. tok.. tik.. tok.. seirama dengan laju perubahan yang tidak terbendungkan...
Ya, memang laju perubahan sangatlah drastis di desa dekat pinggiran kota ini. Hanya dalam hitungan beberapa tahun, sawah-sawah pun telah berubah menjadi jalan beraspal. Kompleks perumahan baru dibangun untuk memenuhi meningkatnya permintaan hunian populasi manusia yang kian meledak.
Matahari mulai tampak menjulang tinggi, bocah itu masih termenung di sana, di bingkai jendela kayu yang masih bau cat.
“Kita harus memikirkan strategi untuk meningkatkan penjualan!” “Tapi banyak sekali produk-produk saingan yang mulai bermunculan,” terdengar percakapan dua orang bapak-bapak berpakaian necis yang terlihat berjalan tergesa-gesa.
Tidak lama berselang, sekumpulan ibu-ibu pun lewat. “Duuh produk make-up ini bagus ya, bikin kulit jadi kinclong...” “Wah kapan nih kita narik arisan di rumahnya Mbok Ani.” “Eh kamu kapan punya anak lagi?” sambil terdengar gosip panjang bercampur baur suara cekikikan.
Bocah kecil itu sekedar mendengarkan dengan lesu tanpa semangat dan melanjutkan lamunannya. Sangat mungkin orang-orang yang lewat di depan bingkai jendela itu tidak ada yang menyadari keberadaan dirinya.
Lalu lalang demi lalu lalang orang-orang. Detak detik jam dinding terus berdetak-detak seakan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Tidak lama kemudian, seorang kakek tua tampak berjalan terhuyung-huyung, dan terdengar berkeluh, “Badan tua apa pun susah, masa-masa muda bagaikan embun yang sudah menguap...” dengan terlihat tangan si kakek yang gemetaran menahan tumpuan tongkat tuanya.
__ADS_1
Matahari mulai tampak turun di ufuk barat, menyemburatkan rona jingga kemerahan. Detak detik jam dinding pun terus berdetak-detak seakan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Keesokan harinya lagi-lagi tampak bocah kecil melamun di bingkai jendela, menatap kosong ke kejauhan. Perdu lidah buaya di pot dekat jendela terlihat kering kerontang, sepertinya sudah lama tidak dirawat.
Seperti biasanya, orang-orang terlihat berlalu lalang. Detak detik jam dinding pun terus terdengar berdetakdetak.
Lamunan bocah kecil pun melayang, ke masa beberapa tahun silam.
Sekelompok bocah kecil berkejar-kejaran di petak sawah. Salah satu bocah kecil terlihat lebih kecil dari bocah kecil di jendela. Salah satu bocah lebih kecilnya lagi berseru, “Lihat apa yang aku petik!” “Apa itu?” gerombolan bocah lain pun mendekat. “Rumput?” Bocah yang memegang setangkai rumput pun berseru, “Ini rumput ekor kuda, rumput ajaib!” sambil menyodorkan rumput yang ujungnya sedikit berjumbai menyerupai ekor kuda.
“Apanya yang ajaib?” tanya bocah lainnya. Bocah yang memegang setangkai rumput pun menyodorkan ujung jumbai rumput ke telinga temannya dan menggelitiknya. “Ha..ha..ha, duh geli,” mereka pun tertawa menahan geli sambil saling menggelitik dengan tangkai-tangkai rerumputan.
Lamunan bocah di bingkai jendela pun kembali ke tatapan kosong. Sesekali hanya terlihat lalu lalang demi lalu lalang orang-orang. Detak detik jam dinding pun terus berdetakdetak seakan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Hingga akhirnya mentari pun berpamitan diri di ufuk barat.
__ADS_1
Keesokan harinya lagi-lagi tampak bocah kecil melamun di bingkai jendela, menatap kosong ke kejauhan. Beberapa ekor serangga tampak tergesa-gesa mengangkut gumpal makanan ke lubang di bawah bingkai jendela. Awan gelap sedari pagi menggelantung di angkasa.
Detak detik jam dinding pun terus terdengar berdetakdetak, seakan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Awan gelap yang ga mampu menahan beban akhirnya melepaskan tetes-tetes air yang memberatkan dirinya. Butiran tanah kering gersang berlomba-lomba menyerap tetes air hingga menggemakan suara desah lemah. Semerbak bau tanah terbasahkan air hujan pun menguap.
Namun bocah kecil hanya melamun di bingkai jendela. Pikirannya seperti ikut terhanyut seperti alir jeram air hujan yang mengalir pergi.
Keesokan harinya lagi-lagi tampak bocah kecil melamun di bingkai jendela, menatap kosong ke kejauhan. Beberapa tunas rumput liar tampak malu-malu mulai menyembulkan diri dari petak tanah yang agak sedikit lembab.
Seperti biasanya, orang-orang terlihat berlalu lalang. Detak detik jam dinding pun terus terdengar berdetakdetak.
Bocah kecil hanya terus melamun, mentari pun tampak mulai meninggi. Siklus perubahan terus melaju, seakan tidak peduli dengan apa pun yang terjadi.
Dalam lamunan yang semakin dalam dan semakin dalam, tiba-tiba bocah kecil terhenyak. Di dekat bingkai jendela, berdiri seorang gadis kecil yang tersenyum, menyodorkannya setangkai bunga. Bunga yang sangat indah, seindah hati gadis kecil yang sedemikian tulus.
__ADS_1
Sesimpul senyum kecil pun tampak mengembang di sudut bibir si bocah kecil.
**** TAMAT ****