
“Sepulang kuliah menaiki angkot, di tengah perjalanan aku melihat seorang nenek yang sedang terbaring pingsan di tengah jalan dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya, ketika itu tidak ada yang berani menolong. Apakah yang akan aku lakukan? Akan adakah yang menolong nenek tersebut?Apakah nenek tersebut bisa diselamatkan?”
Cerita kali ini merupakan cerita singkat satu kisah nyata kehidupan yang saya alami sendiri.
Saya Sultan Hendrik merupakan mahasiswa di salah satu universitas di Kota Medan yang juga berprofesi sebagai relawan sosial dan aktivis Buddhis.
Pada hari Senin tanggal 10 November 2014, merupakan hari pahlawan. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 malam yang menunjukkan kelas perkuliahan malam itu telah usai. Hari itu saya telah belajar banyak hal dari pelajaran-pelajaran yang sudah diberikan oleh para dosen.
Seperti biasa saya berniat untuk pulang sendirian. Namun keterbatasan saya yang tidak memiliki kendaraan memutuskan untuk saya memilih antara pulang dengan naik angkutan kendaraan umum seperti becak, angkot, ataupun berjalan kaki – tidak seperti teman-teman saya yang lain yang memiliki sepeda motor dan mobil mewah. Saat itu waktu sudah larut malam, suasana yang gelap dan lokasi kampus saya yang jarang dilewati kendaraan umum.
Tiba-tiba datang seorang perempuan yang memanggil saya, dia adalah seorang anggota relawan dari salah satu yayasan sosial Buddhis yang cukup terkenal. Perempuan tersebut pun menawarkan untuk ikut dengannya naik mobil yang sedang dikendarai abangnya, namun karena lokasi rumah kita yang sangat berjauhan dan berbeda arah, maka dia pun menawarkan sampai ke tempat tertentu agar saya lebih mudah mendapatkan kendaraan umum untuk pulang.
Awalnya saya sedikit segan, namun kemudian saya menerima niat baik dirinya dan ikut dengannya. Selama di perjalanan kami membahas banyak hal, termasuk bercerita tentang kisah kehidupan saya. Setelah sampai di lokasi yang lebih memungkinkan untuk mendapatkan kendaraan umum, saya pun hendak turun dan mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua. Namun perempuan tersebut mengingatkan saya untuk tidak berjalan kaki dikarenakan sudah sangat malam dan masih amat rawan terjadi tindakan kriminal karena tidak ingin saya menjadi korban lagi (sebelumnya saya pernah, bahkan sering menjadi korban tindakan kriminalitas).
Dia juga menawarkan untuk memberikan saya tumpangan setiap hari setelah pulang kuliah, saya pun kembali berucap “Gan En” (berterima kasih dengan rasa syukur). Rasa syukur dan bahagia yang saat itu sangat saya rasakan tanpa bisa saya ungkapkan. Setelah turun, saya pun menunggu becak yang lewat karena kalau sudah terlalu malam biasanya sudah tidak ada angkot lagi. Namun ternyata masih ada sebuah angkot yang melintas dan saya pun menumpang angkot tersebut.
Di tengah perjalanan, jalanan yang biasanya lancar tibatiba mengalami macet. Seluruh penumpang angkot terlihat kebingungan akan penyebab kemacetan apa yang sedang terjadi. Saya pun ikut melihat ke kaca depan angkot dan melihat banyak kerumunan warga di tengah jalan. Angkot pun mulai berjalan lambat dan melewati kerumunan warga. Ternyata di tengah jalan terkabar tubuh seorang nenek berbadan kurus dalam keadaan pingsan dan kepala mengeluarkan darah yang terus mengalir. Di samping tubuh nenek tersebut, seorang lelaki berteriakteriak meminta tolong. Parahnya tidak ada satu pun warga yang menolong nenek tersebut, mereka semua hanya mengelilingi untuk sekedar melihat dan menonton.
Mengetahui hal tersebut, saya pun segera turun dari angkot dan membayar dengan uang yang sudah saya sediakan di tangan saya, lalu segera berlari kembali menuju ke lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP) tadi. Sesampainya di lokasi kejadian saya pun segera bertanya apa yang terjadi, namun tidak ada yang menanggapi dan menjawab. Saya langsung menuju ke tubuh nenek yang sedang pingsan tersebut. Ketika melihat nenek tersebut saya pun kaget dan merasa seperti pernah mengenal nenek tersebut, kemungkinan nenek tersebut adalah seorang gelandangan (maaf) yang tidak mampu dan sering berkeliaran di pinggir jalan untuk mencari makan yang dulunya juga pernah saya berikan bantuan berupa makanan.
Saya bersama dengan seorang lelaki yang di samping nenek tersebut meminta warga sekitar untuk bersama membantu membawa nenek tersebut ke rumah sakit, namun tidak ada satu pun yang bersedia. Mengingat nyawa si nenek yang amat mengkhawatirkan bila dibiarkan begitu lama dan jalanan yang akan semakin macet, maka saya bersama seorang lelaki tersebut pun segera mengangkat tubuh nenek tersebut ke pingir jalan dan menggendongnya ke atas sepeda motor milik lelaki tersebut lalu dengan cepat membawanya ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
Karena nenek tersebut masih pingsan dan seluruh tubuhnya lemas, dan juga khawatir bila otak dan syarafnya terganggu karena kepalanya tergoncang dan jatuh, maka saya pun menggunakan lengan saya untuk menopang kepala nenek yang lemas. Darah terus-menerus mengalir keluar dari telinga kiri nenek tersebut dan membasahi baju dan tangan saya. Selama perjalanan saya pun melakukan sedikit terapi ketenangan (psikologis) dengan berusaha berbicara sambil mengelus-elus kepala dan tubuh si nenek agar merasa tenang dan nyaman.
Sempat terpikir bahwa si nenek sudah koma atau bahkan segera meninggal dunia melihat kondisinya yang pingsan dan lemas tak berdaya, namun saya masih yakin bila nenek tersebut masih hidup dan bisa diselamatkan. Dalam perjalan mencari rumah sakit, saya pun bertanya pada lelaki tersebut tentang kronologi kejadian yang dialami oleh nenek tersebut.
Lelaki tersebut pun bercerita, ternyata nenek tersebut ditabrak tanpa sengaja oleh sebuah sepeda motor yang melaju dalam kecepatan sedang ketika nenek tersebut menyeberang jalan dan terjatuh. Namun hal yang membuat saya kaget adalah si penabrak adalah lelaki yang sedang membawa sepeda motor dan sedang berbicara dengan saya ini. Ternyata lelaki tersebut ingin bertanggung jawab akan apa yang telah terjadi, hal itu membuat saya takjub dan amat salut akan keberanian lelaki tersebut untuk bertanggung jawab.
Singkat cerita, kamipun sampai di sebuah rumah sakit dan segera membawa si nenek ke IGD (Instalasi Gawat Darurat). Seorang dokter wanita menghampiri kami dan menanyakan kronologi kejadiannya.Dengan jujur si lelaki menceritakan kronologi kejadian itu dan mengakui kesalahannya. Saya segera meminta pasien untuk ditangani dan dirawat dahulu, pasien pun di tangani sementara oleh sekitar 3 orang suster.
Namun kemudian si dokter tadi kaget karena mengetahui bahwa kami bukan keluarga pasien dan meminta kami agar menghubungi keluarga pasien yang untuk ke rumah sakit tersebut. Hal tersebut membuat kami kebingungan karena kami tidak mengenal maupun mengetahui keluarga nenek tersebut. Saya pun segera mengeluarkan smartphone saya dan meminta (meminjam) kartu identitas si pelaku (lelaki). Si pelaku pun mengeluarkan kartu SIM-nya dan segera saya mem-foto kartu SIM si pelaku menggunakan smartphone saya sebagai bukti dan pegangan. Alangkah kaget dan paniknya saya ketika melihat baterai smartphone saya sudah merah (lowbat) pertanda tenaga baterai akan segera habis dan sudah amat lemot dengan mengeluarkan tanda jam pasir yang lama terus-menerus.
Saya pun segera menghubungi beberapa orang yang saya temui di contact smartphone saya, namun belum ada satu pun contact yang bisa dihubungi. Saya membuka salah satu fitur aplikasi chatting dan mengetik di salah satu grup yang pertama kali saya temui. Grup tersebut merupakan grup acara kegiatan dari salah satu komunitas sosial
Saya mengeluarkan charger smartphone saya dan meminta izin kepada suster untuk mengecas baterai smartphone di rumah sakit itu, suster pun mengizinkannya. Tak berapa lama, dokter wanita yang tadi pun berkali-kali meminta saya untuk tidak mengecas smartphone di rumah sakit tersebut dengan alasan takut hilang, saya segera mencabut charger saya dan meminta maaf.
Dokter wanita tersebut berkali-kali mendesak kami untuk memanggil keluarga pasien ke rumah sakit secepatnya, saya pun meminta kepada si lelaki yang tadi bersama saya untuk meminjamkan handphone-nya agar saya bisa mencari bantuan dengan menghubungi beberapa temanteman saya, namun lelaki tersebut tidak bisa meminjamkan handphone-nya, karena alasan handphone lelaki tersebut juga sudah lowbat. Kami pun menunggu sambil membantu suster untuk menangani dan merawat nenek tersebut. Si lelaki pun berkali-kali menghampiri saya dan berkata bahwa dia ingin bertanggung jawab namun tidak membawa banyak uang untuk biaya pengobatan si nenek di rumah sakit tersebut dan khawatir bila si nenek semakin lama di rumah sakit tersebut maka biaya pengobatannya akan semakin bertambah. Selain itu dia juga meminta bantuan saya untuk membantunya berbicara dengan keluarga korban bila sudah bertemu keluarganya agar dirinya tidak terlalu ditekan dan disudutkan oleh keluarga si nenek bila hal tersebut terjadi karena dirinya sudah mau bertanggung jawab, lalu saya pun juga menenangkan dirinya. Tak lama kemudian si nenek siuman, saya pun segera menyapa si nenek untuk menenangkan dirinya, namun si nenek seakan lupa ingatan sementara dan selalu bertanya apa yang terjadi pada dirinya dan mengaku tidak tahu maupun ingat apa-apa.
Saya bertanya tentang nama, alamat, dan identitas si nenek, namun nenek tidak merespon perkataan saya tetapi berkata hal lain yang seakan tidak nyambung dengan perkataan saya. Berkali-kali saya berusaha menanyakan identitas si nenek hingga nenek hanya berhasil menjawab nama dan alamat si nenek walaupun kurang jelas dan lengkap. Nenek itu berkali-kali ingin turun dari tempat tidur dan ingin pulang karena tidak menyukai rumah sakit dan dokter maupun suster yang sedang menanganinya, namun kami terus membujuk si nenek agar tidak turun dari tempat tidur dulu, dan akan membawanya kembali pulang bila sudah selesai. Karena nenek terus seakan memberontak ingin pulang, maka darah terus keluar dari telinga nenek dan nenek mengalami pusing.Saya membujuk nenek untuk tidur dahulu dan nenek menuruti perkataan saya lalu tertidur.
Melihat kepala nenek yang miring dan menyebabkan darah yang masih terus mengalir keluar, si lelaki pun segera melepaskan jaketnya lalu memberikan dan meminta kepada saya untuk menopang kepala nenek tersebut dengan jaketnya. Dokter menghampiri kami dan berkata bahwa si nenek tidak bisa berlama-lama berada di ranjang IGD rumah sakit tersebut. Saya meminta tambahan waktu, namun petugas rumah sakit segera menarik dan mendorong ranjang nenek keluar dari IGD dan menempatkannya di samping pintu keluar-masuk IGD rumah sakit namun dengan ranjang dan selang infus yang masih terpasang. Tujuan ranjang nenek dikeluarkan agar ruang IGD lebih luas dan bisa digunakan oleh pasienpasien lainnya.
Kami menunggu cukup lama, si lelaki semakin khawatir biaya rumah sakit akan semakin tinggi dan meminta agar segera memikirkan solusinya. Setelah sekitar hampir dua jam, keluarga si lelaki pun sampai di rumah sakit menggunakan sepeda motor. Mereka juga kebingungan, tidak bisa berbuat apa-apa. Si lelaki menghampiri saya dan menyarankan agar tidak terlalu lama, menghabiskan terlalu banyak waktu dan biaya di rumah sakit. Si lelaki akan melunasi biaya administrasi rumah sakit dahulu dan kami akan bersama-sama membawa nenek tersebut kembali kerumahnya menggunakan sepeda motor sambil mencari rumah nenek tersebut di sekitar lokasi TKP. Yang paling dikhawatirkan adalah bagaimana bila alamat rumah nenek tersebut tidak ketemu ataupun nenek tersebut ternyata tidak mempunyai tempat tinggal.
__ADS_1
Setelah berpikir, saya memutuskan bila hal tersebut terjadi, maka nenek tersebut untuk sementara akan saya izinkan tinggal di rumah saya hingga sembuh sambil mencarikan tempat yang layak untuknya. Kami pun menemui dokter dan membicarakan hal tersebut, namun dokter tidak mengizinkan dengan alasan harus ada keluarga nenek yang datang dahulu. Dan bila diizinkan untuk dibawa pulang, maka sudah pelanggaran karena risiko yang amat besar bisa terjadi dan menyarankan agar melakukan scan otak terlebih dahulu.
Atas pertimbangan akan hal tersebut, kami pun memutuskan untuk membatalkan niat kami membawa nenek keluar dari rumah sakit. Si lelaki berkata bahwa bila untuk melakukan scaning dia belum mampu untuk membayar biayanya. Kami memutuskan untuk menunggu dan berharap teman-teman saya untuk datang, karena saya masih yakin bahwa grup tersebut bisa saya percaya karena grup tersebut sudah saya anggap layaknya keluarga sendiri. Karena menunggu terlalu lama, maka kami menyepakati agar keluarga dari si lelaki tadi untuk segera mencari keluarga si nenek.
Saat akan melangkah keluar dari rumah sakit, kami kaget. Tepat di hadapan kami, di sebelah ranjang nenek yang berada di samping pintu, berdiri seorang ibu yang sedang berbicara dengan nenek tersebut. Ternyata ibu tersebut adalah adik dari si nenek dan beberapa keluarga dari si nenek juga datang. Mereka mengetahui hal ini karena si nenek tak kunjung pulang ke rumah, kemudian mereka mendapat laporan dari warga sekitar atas kejadian tersebut.Mereka telah mencari ke sekitar 6 rumah sakit dan klinik yang ada. Rumah sakit ini adalah rumah sakit terakhir yang dicari. Awalnya mereka tidak mengetahui adanya rumah sakit ini, namun ketika mencari mereka melihat sebuah papan plang arah ke rumah sakit ini, di mana rumah sakit tersebut sudah berada di pinggiran pedalaman desa.
Awalnya mereka pun tidak yakin nenek dibawa ke rumah sakit itu, namun mereka akhirnya memutuskan untuk tetap mencari ke rumah sakit ini dengan harapan menemukan nenek tersebut. Ketika sampai di rumah sakit ini, seorang keluarga mengintip dan langsung melihat nenek yang terbaring di pintu keluar-masuk IGD rumah sakit. Keluarga korban bertanya tentang kronologi kejadian kepada kami, kami pun menceritakannya. Belum selesai kami bercerita, salah seorang keluarganya yang baru datang mendengar dan telah terpancing emosi langsung menuduh dan mengira saya sebagai pelaku yang menabrak nenek tersebut. Setelah dijelaskan, pihak keluarga pun mengerti dan berkali-kali berterimakasih kepada saya.
Saya berkata bahwa seharusnya keluarga berterima kasih kepada si pelaku yang telah berani bertanggung jawab untuk menyelamatkan nyawa nenek yang telah ditabraknya sendiri. Pihak keluarga pun berterima kasih juga pada si lelaki. Tak lama kemudian seorang bapak yang juga merupakan salah satu anggota grup saya pun datang. Beliau juga adalah seorang relawan aktivis sosial yayasan Buddhis yang cukup terkenal. Bapak tersebut juga sudah berpengalaman dalam menangani berbagai kasus seperti ini di yayasan tersebut. Setelah melihat dan mengetahui kondisi pasien (nenek) juga berhubung biaya di rumah sakit tersebut yang terlalu mahal dan kurangnya fasilitas rumah sakit, maka diputuskan agar nenek dipindah ke rumah sakit lain.
Keluarga nenek menyetujui agar nenek dipindah ke sebuah rumah sakit swasta yang lebih murah dan memiliki fasilitas dan pelayanan yang lebih memadai. Setelah si lelaki membayar seluruh biaya administrasi di rumah sakit sebagai wujud tanggung jawabnya, kami pun memindahkan nenek ke dalam ambulans dan bersama-sama menuju ke rumah sakit yang baru. Sesampainya di rumah sakit swasta yang baru tersebut, si lelaki merasa bingung karena rumah sakit yang berada di dalam kompleks luas ini merupakan rumah sakit yang sangat besar dan mewah. Ternyata rumah sakit tersebut telah menjalin hubungan kerja sama dengan beberapa organisasi sosial termasuk yayasan sosial Buddhis kami. Nenek dirawat oleh beberapa dokter dan suster-suster yang sangat baik dan sangat ramah, juga sangat peduli pada pasien.
Kondisi nenek saat itu mewajibkan untuk dilakukan scaning (rontgen) dan perawatan inap yang intensif sehingga membutuhkan banyak biaya, di mana si lelaki tidak sanggup untuk membiayainya. Dia terlihat sangat stres, duduk di depan rumah sakit. Bapak dan saya berusaha menenangkan lelaki tersebut karena untuk biaya khusus di rumah sakit yang baru ini akan dibantu oleh yayasan Buddhis kami yang bergerak di bidang sosial untuk menangani kasus ini. Lelaki tersebut terlihat sedikit lega namun batinnya masih merasa belum tenang karena masih shock dan merasa bersalah. Pihak keluarga nenek yang telah memaafkan lelaki tersebut pun berusaha menenangkan batin lelaki tersebut.
Kami bercerita tentang yayasan sosial Buddhis kami, yang ternyata pernah diketahui pihak keluarga nenek tersebut. Sementara di dalam rumah sakit, saya dan beberapa anggota keluarga nenek yang lain pun menemani nenek untuk menjalani berbagai perawatan dan pemeriksaan. Usai menjalani beberapa prosedur pemeriksaan, saya pun berbincang-bincang dengan keluarga lelaki yang merupakan kakak si lelaki tersebut. Kakak si lelaki tersebut menceritakan bahwa beberapa waktu yang lalu, ternyata si lelaki tersebut juga pernah mengalami kecelakaan karena ditabrak oleh sebuah kendaraan lain yang menyebabkannya terjatuh dan terluka. Namun bukannya meminta maaf dan bertanggung jawab, si pelaku yang menabrak lelaki tersebut malah memarahi si lelaki dan meminta sejumlah uang sebagai bentuk ganti rugi dengan berbagai ancaman.
Akibat peristiwa tersebut, si lelaki pun menyadari bahwa si pelaku penabrakan tidak seharusnya bersikap seperti itu karena seharusnya memahami dan mengerti posisi korban. Karena itu dirinya belajar dari pengalaman tersebut. Karena sudah tengah malam dan kami semua belum makan, maka pihak keluarga nenek pun membelikan makanan untuk kami. Namun si lelaki yang walaupun belum makan, tidak berselera untuk makan karena batinnya masih bergejolak dan belum tenang. Lelaki tersebut kemudian memaksakan dirinya untuk tetap makan karena harus memikirkan kesehatan dirinya sendiri.
Saya menghampiri si lelaki dan berusaha menenangkan batin lelaki tersebut sambil memuji dirinya yang telah berani bertanggung jawab. Si lelaki menuturkan bahwa dia melakukan hal (bertanggung jawab) tersebut untuk belajar memahami jika bagaimana bila dirinya yang berada di posisi korban dan merasakan hal tersebut. Ia tidak ingin hal yang sama menimpa dirinya kelak karena dirinya percaya akan adanya hukum karma, walaupun dia bukanlah seorang yang beragama Buddha. Pihak keluarga lelaki tersebut mengatakan mereka berencana akan membuat suatu bentuk semangat-semangatan (syukuran). Menjelang fajar subuh, saya dan bapak (relawan) pun memutuskan untuk pulang karena di pagi harinya saya harus bekerja dan si bapak harus berangkat untuk menjalankan tugas ke luar kota pagi-pagi sekali. Bapak pun menawarkan untuk mengantarkan saya pulang ke rumah dengan menumpang kendaraannya.
Saya berkali-kali mengucapkan terima kasih dan meminta maaf telah banyak merepotkan bapak. Kami berpamitan dengan pihak keluarga nenek, si lelaki dan pihak keluarga si lelaki dengan saling memberikan hormat dengan menundukkan kepala dan saling mengucapkan terima kasih berkali-kali. Di tengah perjalanan pulang, bapak bertanya pada saya apa perasaan yang saya rasakan hari itu? Dan pelajaran/hikmah apa yang saya dapat? Silakan para pembaca memikirkan sendiri apa jawaban saya dan bagaimana bila pembaca berada di posisi seperti saya ya? Lalu bagaimana juga bila pembaca berada di posisi yang lain? Siapakah yang pantas disebut sebagai “Pahlawan”?
__ADS_1