
Luna sedikit menyesal karena celana yang dia pakai agak kebesaran sehingga terlihat lebih berisi dan merasa iri dengan gadis-gadis lain yang memakai baju ketat pas dengan lekukan tubuhnya dan celana jeans pendek dengan sepatu dan bentuk rambut terurai bak artis Korea. Cantik. Ya, mereka terlihat cantik. Luna merasa sedang berada di Korea, terbayang salju, udara dingin dan cowok ganteng. Luna teringat Gilang, lelaki pujaannya yang memberikan sejuta inspirasi sekaligus sahabat dekatnya. Cowok bermata sipit yang humoris serta berperawakan tinggi dengan suara lembutnya yang menggetarkan hati. Tujuh tahun sudah Luna memendam rasa cinta yang tak kunjung berbalas. Sampai tiba waktunya tepat di hari ulang tahun Gilang, Luna diperkenalkan dengan wanita pujaan Gilang. Sosok wanita yang sempurna, tinggi semampai, rambut panjang lurus terurai dengan penampilan feminim bak seorang putri. Senyum yang ditunjukkan Luna adalah bentuk rasa cinta yang teramat dalam kepada Gilang. Hati Luna hancur, Luna menangis dan ingin pergi sejenak melupakan lara. Jatuh cinta, layu sebelum berkembang. Luna ingin berteriak bebas mengeluarkan kata-kata cinta yang tertahan. Dan Luna memilih Bromo sebagai tempat pelampiasan kata-kata yang membuat sesak di dada.
Dan seketika dia sadar, cuaca memang dingin bahkan dia pun menggigil, kemudian bersyukur dengan celana yang kebesaran, jaket yang kebesaran, syal, sarung tangan dan kupluk yang dikenakannya. Kadang pikiran yang berlebihan mengacaukan segalanya, baik dan buruk tidak ada yang tahu, cukup merasa puas dengan yang dimiliki. Dalam hati, Luna terkekeh menertawakan gadis-gadis itu kedinginan berebut syal kepada penjual perlengkapan aksesoris musim dingin. Pikirannya memang kadang-kadang di luar kendali, sebentar merasa terasing, sebentar lagi merasa menang dan merasa paling penting. Entahlah, dia sendiri masih bingung apa maunya. Handphone-nya bergetar tanda pesan masuk.
Dari Gilang: Di mana? Hang out yuk?
Luna hanya membaca pesan tanpa membalas. Kemudian disusul deringan nada sambung, Gilang menelepon. Luna membiarkan handphone-nya bergoyang.
Rombongan tur ke Bromo yang membawa Luna sudah berada di parkiran, tinggal menunggu beberapa jam menuju Bukit Tengger dan akan berganti dengan kendaraan yang lebih kecil. Di sekeliling mereka gelap, Luna melirik jam tangan yang menunjukkan pukul dua pagi. Mereka menunggu dengan gelisah karena dingin di pelataran parkir, menunggu mobil yang akan membawa mereka ke Bukit Tengger. Mereka mulai berbicara satu sama lain dengan mulut mengeluarkan uap, tertawa dan berbagi cerita. Senyum Luna sumringah, ini hal yang paling dia tunggu seumur hidupnya. Kakinya terus bergerak-gerak mencoba melupakan apa itu dingin namun tubuhnya masih menggigil. “Papih, mamih...” rengekan anak kecil itu membuat Luna terhibur. Anak itu namanya Carol dan adiknya bernama Karin. Anak itu menghampiri Luna dan memberinya satu bungkus permen bertuliskan ‘good mood’ pernah terpikir seperti apa kelak rupa anak Luna. Ah, lagi-lagi pikirannya bekerja terlalu jauh dan seenaknya sendiri.
“Terima kasih Carol” ucap Luna. Bocah manis berambut pendek itu tersenyum. Gadis-gadis yang berambut pirang, panjang terurai itu sedang sibuk memotret dirinya sendiri.
“Sama-sama Kakak,” jawab Carol. Luna segera memakan permen itu, menikmatinya sambil menatap ke arah Carol yang berlari menghampiri mamanya. Carol menatap balik Luna sambil tersenyum Carol mengacungkan telunjuknya ke arah Luna. Dengan spontan Luna melambaikan tangannya. Tiba-tiba wajahnya tegang dan merasa malu karena yang membalas lambain tangannya adalah seorang lelaki berperawakan sedang, rambut cepak, rapi, dan berkacamata hitam. Terlihat keren, Luna menjadi salah tingkah. Perutnya merasa kembung dan seolah banyak hewan menari di dalam perutnya. Luna memalingkan wajah sejenak kemudian melihat ke arah lelaki itu lagi, tetapi yang terlihat Carol dan Karin yang sedang bercanda. Dia... Luna menghembuskan napasnya dan tertawa sendiri. Ya mirip Gilang.
“Eh sorry ya!” kata gadis-gadis berambut pirang yang tiba-tiba duduk di sebelah Luna.
“Ya, silakan,” jawab Luna.
“Hah, semoga kita ketemu cowok ganteng atau harta karun ya,” kata mereka sambil tertawa. Luna menggelengkan kepalanya. Mereka menatap Luna sinis, segera Luna berdiri dan menggosokan kedua tangannya. Mereka lagilagi tertawa, kali ini menertawakan Luna yang merasa kedinginan. Raut muka Luna sedikit tidak enak dipandang, seolah berkata “masalah buat lo!” Tapi ya sudahlah, Luna tak menghiraukannya.
Tak berapa lama kemudian, mobil datang untuk membawa mereka menuju Bukit Tengger. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok supaya bisa berangkat semua. Rasa senang membuncah, tidak sabar melihat keindahan alam. Luna ingin lari dari masalah dunia, yang menjeratnya dari hari ke hari. Sepanjang hari, setelah matahari terbit hingga senja menjemput dan matahari pun tenggelam digantikan dengan malam yang disambut bulan dan bintang. Kadang malam pun tak berbintang, suram tak bercahaya. Kadang Luna masih percaya dengan sinar yang akan memberi terang tapi kadang gelap lebih menang menelan semua ambisi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, udara yang menyusup melalui kaca jendela mobil membuat seluruh tubuh Luna serasa beku. Jalanan yang menanjak dan berkelok-kelok mengguncang perutnya dan hampir saja mual. Untunglah pikirannya menyelematkannya dengan melayang jauh membayangkan hal yang ingin dia bawa ke puncak Bromo. Luna duduk paling depan dekat sopir, dia memandang ke sekeliling dan menengok ke belakang.
__ADS_1
Cepat-cepat pandangannya di tarik ke depan, lelaki yang membalas lambaian tangannya, yang berbicara pada Carol saat ini sama-sama berada di dalam mobil yang sama. Jantungnya berdegup lebih kencang dan matanya berbinar. Luna melihat Gilang pada sosok lelaki itu. Segera Luna mengusap kedua bola matanya, rasa itu selalu membayanginya. Luna ingin menjadi orang yang lebih baik, semua orang bisa melakukan dan mengucapkannya, hanya saja Luna ingin menapakkan kaki di puncak Bromo menerima anugerah indah dari alam yang hanya bisa dirasakan ketika Luna berdiri di sana. Dan ada hal lain, ini tentang keyakinan dari hati. Luna ingin berteriak bebas di atas gunung.
Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, sampailah mereka di Bukit Tengger waktu subuh. Mobil Landrover banyak terparkir, yang akan membawa mereka menuju lautan pasir sebelum menaiki puncak Bromo setelah subuh nanti. Banyak orang sudah berkumpul menghadap ke bukit menanti sang raksasa siang menampakkan dirinya. Serasa berada di dalam kulkas, minum kopi serasa minum air biasa. Dan yang di nanti pun muncul, semua tercengang dan Luna sendiri pun takjub seraya berkata wow! Luna tersenyum lebar sambil menatap matahari terbit dengan mata berkaca-kaca. Dia semakin dekat dengan apa yang dinantinya.
“Indah banget ya?” kata seseorang yang berada di belakang Luna. Luna menoleh dan mengusap matanya.
“I...ya.” balas Luna. Lelaki itu lagi, kali ini jarak mereka sangat dekat.
“Saya Rangga, kakaknya Carol,” ucapnya.
“O... saya Luna.”
“Apa yang membawamu ingin berada di sini?” Luna terdiam sejenak. Bahkan suaranya mirip Gilang.
Rangga tertawa ringan kemudian mengangguk, lalu Carol memanggil Rangga meminta dipotret. Semua orang sibuk dengan kameranya sedangkan Luna sibuk dengan pikirannya sendiri. “Orang aneh!” bisik Luna.
Menatap indahnya matahari beranjak keluar dari peraduannya itu seperti memandang diri sendiri yang lahir kembali dari noda kegelapan, perlahan terang semakin terang, dan pada akhirnya redup kembali. Kesunyian terpecahkan dengan suara-suara kamera dari para wisatawan yang berdecak kagum. Keindahan ini belum berakhir, setelah puas berfoto mobil Landrover membawa Luna dan yang lain menuju lautan pasir. Dalam perjalanan sopir mobil bercerita bahwa biasanya pada sekitar bulan sepuluh ada festival kasada tahunan. Saat festival itu suku Tengger datang ke Bromo melemparkan sesajen yang terdiri dari sayuran, ayam, dan uang ke dalam kawah gunung berapi. Rasa penasaran semakin berkecamuk dengan mata berapi-api Luna menyiapkan kamera saku. Jalanan menurun tajam menahan napasnya dan kaki serasa kram, sopir nekad karena terbiasa dengan kondisi lalu lintas yang tidak beraturan.
Luna tak mampu berkata apa pun, hanya perasaan senang yang ringan seperti berteriak menghapus beban. Lautan pasir terhampar luas, terlihat mengagumkan saat matahari menyapukan sinarnya yang kejinggaan di pagi hari. Luar biasa, matanya hidup. Luna berlari sekuat tenaga menikmati indahnya alam yang tak bisa dia dapatkan di sembarang tempat. Di belakangnya, menjulang gunung yang berdiri kokoh dengan rerumputan hijau, Luna menari dan berteriak tak peduli orang mau berpikir apa. Napasnya mulai sesak karena udara yang terlalu dingin dan debu pasir yang beterbangan. Segera dia sadar bahwa dia harus menghemat tenaga untuk memanjat, menaiki tangga ke puncak Bromo.
Matahari terbit, lautan pasir, berkuda, dan secangkir minuman hangat mungkin itu salah satu keindahan menikmati hidup. Mata Luna menatap ke atas pada anak tangga yang akan membawanya di puncak teratas Bromo. Luna mengayunkan langkahnya setapak demi setapak untuk mencapai 250 anak tangga terakhir di atas sana. Di tengah perjalanan rasanya ingin menyerah, napasnya sudah tersengal dan nyaris habis. Luna berhenti sejenak menarik dan membuang napas. Berdiri menatap sekeliling yang dipenuhi lautan pasir dan Luna serasa berada di atas awan. Luna meneteskan air mata, sampai di sinikah dia harus berhenti? Hanya di tengah-tengah, yang tidak tahu arah tujuan. Bahkan di bawah sana masih banyak yang berjuang untuk mencapai puncak. Para turis dengan muka cemong, wisatawan yang bermandikan keringat dan ketika memandang ke atas mereka bersemangat tanpa mengeluh menatap pada tujuannya. Luna menyapu air matanya, sekarang atau tidak sama sekali. Sama halnya dengan hidup, Luna tidak akan menjadi berarti jika dia sendiri tidak tahu arah tujuan hidupnya. Hanya mengambang dan akhirnya menyesal dan semua itu siasia. Dengan tekad yang kuat dan berusaha maka segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.
“Mari kubantu?” Rangga tiba-tiba muncul mengulurkan tangannya. Luna hanya menatapnya tanpa berkata apaapa dengan napas yang masih tersengal-sengal.
__ADS_1
“Wei, silakan?” ucap Rangga lagi. Luna meraih tangan Rangga. Melanjutkan setengah perjalanan yang masih tertunda.
Semangat itu muncul kembali pada detik-detik ketidakberdayaannya. Luna bersyukur masih diberi kesempatan untuk memilih, langkahnya maju tak gentar meski semakin ke atas napasnya semakin menyempit. Dan aahh... akhirnya Luna sampai di puncak. Setelah perjuangan yang sempat dia ragukan. Celana panjangnya dipenuhi debu yang menempel serta masker yang sudah layak dibuang. Fuuhh... seperti orang yang baru menemukan harapan, Luna menatap langit biru yang terbentang luas, di sana harapannya selalu digantungkan dan di dalam hatinya Luna selalu bertekad dan dengan langkah serta keyakinan Luna percaya bisa mewujudkannya. Dan apa yang ingin kau ucapkan setelah sampai di puncak Bromo hey gadis? Luna tersenyum girang, melupakan segala lelah yang mendera, segala beban yang dipikul, segala pilu yang bersandar. Yang Luna tahu hatinya damai, bersinarlah matahari pagi selalu berilah harapan pada hidup dan orang-orang yang kehilangan arah ataupun yang sedang menapaki jejak hidup. Memberilah tanpa pamrih, karena sesungguhnya kita tidak akan kehilangan apaapa, seperti matahari.
Luna berdiri tegak, menatap ke bawah dilihatnya gadisgadis pirang itu menaiki kuda dan kembali ke parkiran mobil tidak berkesempatan berpijak di puncak Bromo. Lalu Luna menatap ke dalam kawah Bromo dan berkata dalam hatinya.
“Semoga di puncak Bromo ini aku menemukan cahaya yang akan membimbingku menunjukkan arti hadirku.”
Luna membalikkan badan dan membuka matanya, tepat di depannya Rangga tersenyum dan melambaikan tangannya.
“Halo Kak,” teriak Carol dan Karin yang tepat berada di belakang Rangga.
“Hai...,” balas Luna dengan raut muka bersemu merah.
“Ayo kita berteriak bersama-sama,” ajak Rangga. Luna mengangguk.
“Gilaaaaaaaaaaaang....” teriak Luna.
“Lunaaaaaaaaaaa...” teriak Rangga.
Mereka saling menatap kemudian terkekeh bersama. Ketika harapan satu hilang, harapan akan muncul di tempat yang tak terduga. Luna membalas pesan Gilang. “Aku berada di puncak Bromo seperti yang kumau.”
Dan Luna tersenyum bangga, bahwa hidup harus terus bergerak mengikuti putaran roda dan waktu. Karena hanya waktulah yang akan membuat segalanya baikbaik saja.
__ADS_1