
Aku melihat ke sekelilingku. Semua teman-temanku sibuk bekerja. Tak ada yang mempedulikanku. Padahal hari ini aku sedang sakit. Tapi, aku masih harus bekerja, mencari makan untuk disimpan di gudang penyimpanan karena musim dingin sebentar lagi akan tiba.
Aku berjalan kesana-kemari dengan wajah murung. Saat sakit seperti ini seharusnya aku tidur di lubangku. Tapi, demi kelangsungan hidup koloniku, aku harus ke luar dari lubang dan mencari makanan. Di saat seperti ini, aku ingin satu orang saja memberikan semangat untukku.
Kulihat lagi wajah-wajah serius teman-temanku. Tak ada yang menoleh padaku. Ah, ya, memang siapa aku ini? Aku hanyalah seekor semut merah kecil yang bertugas sebagai pencari makanan. Aku bukan siapa-siapa.
Karena didekatku sudah banyak semut-semut yang berkeliaran, aku mengambil jalan lain. Aku menyusuri jalan berbatu yang tak jauh dari lubangku. Kalau tak salah jalan ini menuju ke sebuah restoran. Ketua rombonganku pernah beberapa kali mengajakku dan teman-temanku ke sana. Di sana banyak makanan. Tapi pemilik restoran itu sangat galak. Jika ia melihat kami, ia akan menyiramkan air panas pada kami. Karena itulah ketua rombongan melarang kami pergi ke restoran itu.
Aku memberanikan diri berjalan menuju ke restoran itu. Begitu aku tiba di ambang pintu restoran, remah-remah makanan yang jatuh ke lantai menyambut kedatanganku. ‘Aha! Sungguh beruntungnya aku!’ teriakku dalam hati. Langsung saja kuambil sepotong remah roti yang paling dekat denganku.
Aku mengangkut remah roti itu di punggungku. Setelah itu aku melihat ke sekelilingku. ‘Eh, di sana ada remah roti yang lebih besar!’ pikirku saat melihat ada remah roti yang letaknya hanya beberapa sentimeter dariku. Aku melempar remah roti yang tadinya kuangkut dan berlari ke remah roti yang lebih besar.
Uh, oh! Remah roti yang satu ini rupanya cukup berat! Tapi demi mendapatkan makanan yang banyak, kuangkut saja remah itu. Waktu berjalan sambil mengangkut remah itu kakiku bergetar. Pasti ini karena aku lagi sakit, pikirku. Namun, aku memaksakan diri untuk terus berjalan.
Saat aku sudah dekat dengan pintu restoran, pemilik restoran mengetahui keberadaanku. Ia berteriak dan menyiramkan air ke arahku. Aku berusaha berlari sekuat tenaga. Pyashh! Air disiram. Untunglah tidak mengenai aku.
Aku memang tidak terkena siraman air, tapi sekarang jalanku terhalang oleh genangan air. Jalanku menjadi lambat karena harus memutar kesana-kemari untuk mencari jalan yang bebas dari air. Karena terlalu banyak berputar, aku merasa tak kuat lagi memanggul remahan roti. Aku meletakkan remah roti itu ke tanah. Nahasnya, saat aku meletakkan remah roti itu kakiku yang gemetaran membuatku tergelincir. Aku jatuh ke genangan air yang ada di dekatku.
“Tolong! Tolong!” teriakku. Aku berusaha menggapai sesuatu. Tapi aku hanya menggapai. Aku berteriak lagi sampai beberapa menit. Tetap tak ada yang mendengar teriakanku. Akhirnya aku kelelahan dan mulai putus asa. Mungkinkah ini akhir hidupku? Aku pasrah saja saat air mulai masuk ke tenggorokanku. Kurasa aku mulai tenggelam.
__ADS_1
Saat aku mulai merasa sekelilingku gelap, sebuah jari manusia mendekatiku dan berusaha meraih tubuhku. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, aku berusaha sekuat tenaga menggapai jari itu. Dan, aku berhasil! Aku memegang jari manusia itu erat-erat.
Jari itu mengangkatku lalu meletakkan aku ke tanah dekat dengan remahan roti yang aku letakkan tadi. ”Syukurlah kau selamat, semut kecil!” kata pemilik jari. Aku menengadahkan kepalaku. Dia adalah anak si pemilik restoran. ”Terima kasih sudah menyelamatkan aku,” kataku padanya. Tentu saja ia tak bisa mendengarku karena aku menggunakan bahasa semut.
Setelah itu aku berlari pulang sambil menggotong remahan roti. Sampai di lubang sarang, aku menceritakan pengalamanku pada ketua rombongan.”Oh, untunglah kau selamat, Simi!” kata ketua rombongan. ”Lihat remah roti yang kau dapat! Besar sekali! Kau hebat!” seru seekor semut. ”Ya, dengan adanya remah roti itu, maka persediaan makanan kita jadi cukup!” seru semut lainnya. Mendengar celotehan teman-temanku aku merasa senang. Syukurlah aku bisa membuat persediaan makanan menjadi cukup. Usahaku tidak sia-sia.
* * * * * * * * * * *
Beberapa waktu kemudian, aku bersama teman-temanku sedang mencari makan. Saat sedang mencari makanan, sayup-sayup aku mendengar suara gonggongan anjing. Kemudian disusul dengan teriakan seorang anak. “Hush! Hush! Pergi, jangan ganggu aku!” begitu suara teriakan yang kudengar. Mendengar suara itu, aku menyadari bahwa itu adalah suara anak pemilik restoran yang pernah menyelamatkanku.
“Itu suara anak yang pernah menyelamatkanku!” pekikku. Seketika teman-temanku yang sedang sibuk membaui makanan menoleh ke arahku. “Benarkah?” tanya seekor semut. “Iya, benar!Aku yakin itu suaranya!” seruku. ”Kalau begitu, ayo segera cari dia!” ajak ketua rombonganku. ”Ia pasti dalam bahaya sekarang!” lanjutnya.
Kami rombongan semut merah berbaris rapi menuju ke arah suara anak pemilik restoran. Saat kami menemukannya, si anak sedang berdiri di dekat sebuah tembok tinggi.
“Hei Tuan Anjing, jangan ganggu anak itu!” sergah ketua rombongan.
“Diam kalian semut kecil! Aku hanya ingin bermain-main dengan anak ini!” hardik si anjing.
“Tapi, dia tak bersalah, ‘kan? Biarkan dia pergi,” pinta ketua rombongan.
__ADS_1
“Dia memang tak bersalah. Tapi wajah ketakutannya itu membuatku geli dan ingin bermain-main dengannya,” jawab si anjing. Ia menggonggong semakin keras.
Mendengar gonggongan yang semakin kencang, si anak berteriak histeris.”Aaaggghh!! Pergi! Pergi!”
“Cukup! Kalau kau tidak berhenti menggonggong. Maka kami akan mengusirmu secara paksa!” seru ketua rombongan.
“Mengusirku?Coba saja kalau kalian bisa!” ejek si anjing. Ia tertawa lalu kembali menggonggongi si anak. Anak itu sekarang menangis sekuat-kuatnya.
“Baiklah kalau begitu,” kata ketua rombongan kami.
”Pasukan semut!Ayo beraksi!” perintahnya.
Mendengar kata itu, kami rombongan semut merah langsung berlari mendekati si anjing. Kami mengerubungi kakinya. Setelah itu kami mengelitiki kakinya. Si anjing terganggu dengan ulah kami. ”Hei, hei! Hentikan aksi kalian!” teriaknya. ”Baiklah, aku tidak akan mengganggu anak ini lagi. Tolong jangan mengelitiki kakiku lagi!”
Ketua rombongan memerintahkan agar kami menghentikan aksi kami dan turun dari kaki si anjing. Kami menuruti perintah beliau. Si anjing berlari menjauhi kami dan si anak pemilik restoran. ”Nah, kini anak itu selamat!” kata ketua rombongan.
Si anak berhenti menangis. Ia melihat ke arah kami. “Jadi kalian yang menyelamatkanku?” tanyanya. Ia berlutut untuk melihat kami. “Terima kasih ya semut-semut kecil,” katanya.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah roti dalam plastik yang sudah dimakan separuh. Ia mengeluarkan roti dari dalam plastik dan menyobek sedikit roti. Lalu sobekan kecil itu ia pecah-pecah menjadi bagian yang kecil-kecil dan ditaburkannya di dekat kakinya.
__ADS_1
“Ini untuk kalian,” katanya sambil menunjuk remah-remah roti itu. Setelah itu ia berdiri dan berjalan meninggalkan kami. Ketua rombongan segera memerintahkan kami untuk membawa remah-remah roti itu ke lubang sarang kami. ”Terima kasih, Nak! Semoga kau selalu berbahagia!” seru ketua rombongan pada anak itu.
* * * * * * * * * * *