MISTERI PENUNGGU POHON TUA

MISTERI PENUNGGU POHON TUA
Sabaidee Laos


__ADS_3

Saya pernah nekat pergi ke Jepang yang meskipun diawali dengan tekad bulat untuk tidak tahu-menahu dengan urusan izin cuti, akhirnya saya pulang dimarahi oleh boss dan disuruh menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Aneh! Padahal saya sudah berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan saya sebelumnya dan bahkan beberapa pekerjaan yang seharusnya baru akan saya selesaikan minggu depannya. But as you know, tetap saja pekerjaan kantor menumpuk bagaikan hadiah dari neraka. Setelah berkutat dan lembur (tanpa dibayar) seminggu lebih untuk menyelesaikannya, saya baru bisa bernapas agak lega.


Eits, tunggu dulu, dua bulan ke depan adalah libur tahun baru. Wuah mau ke mana ya saya kali ini. Beberapa menit kemudian saya mulai menjelajahi dunia virtual, mencari lokasi-lokasi wisata unik dan murah tetapi kalau bisa bernuansa Buddhis. Habis duit tabungan kemarin untuk pergi ke Jepang. Haha… Pilihan akhirnya jatuh ke sebuah negara kecil di ASEAN yaitu Laos. Bukan bumbu, bukan bambu. Laos adalah negara Buddhis yang masih agak terbelakang perkembangan ekonomi maupun pariwisatanya. Tetapi negara ini mampu menghipnotis banyak orang dan turis asing dari berbagai negara untuk datang karena nuansa Buddhisnya yang kental dan kekayaan budaya masa lampau yang mistis. Luang Prabang, lamunku sejenak sebelum tiba-tiba seorang teman saya menepuk bahu saya dengan cukup keras.


Anjritt!! jeritku dalam hati.


“Woi, kerja Sen! Kerja! Ini malah inet aja kerjanya. Wkwkwkwk…” canda Erik temanku.


“Ah elu, biasa aja kalee.. Daripada elu kerjanya googlinggoogling face face ama boss mulu. Hehe...,” kubalas canda dia. Dia hanya merengut masam.


“Eh, mau ngapaen kamu? Mau jalan-jalan luar negeri lagi ya? Ikut dong… Aku punya paspor setahun lalu tapi masih kosong nih,” pinta dia.


“Ah emoh ah! Gua mau pergi sendiri aja. Lagian lu juga kan bisa pergi sendiri juga. Lebih enak tahu pergi sendirian,” kataku pura-pura menolak tapi dalam hati berharap dia ikut juga. Kan lebih enak pergi bareng orang yang dikenal, jadi kalau ada apa-apa gampang bray.


“Ah, ayolah. Lu juga biasanya minta makan bareng di kantor. Ajak si Arvi juga yuk. Biar bertiga lebih seru. Kita juga ‘kan seumuran dan seagama. Pasti dia tertarik tuh diajakin ke Laos,” sekali lagi dia minta.


“Ya udah, kamu coba aja ajak dia. Kalau dia mau, kita jadi berangkat.Sekarang gua mau nyari-nyari referensi dan tur-nya dulu.Kamu coba ajak dia, tapi ingat dia harus mau ikut kalau tidak ya tidak jadi,” balasku. “Sip bro.”


Keesokan paginya, si Erik datang ke mejaku dengan wajah senyam-senyum bersama si Arvi. “Bro, ini gue udah ajakin Arvi dan dia mau. Hehe...,” kata temanku yang kurus seperti kuda laut kering ini.


“Eh iya, gua mau dong ikutan. Laos, Luang Prabang, ah..” si Arvi mulai melamun. “Eh, iya kapan nih kita berangkat?”


“Dua bulan lagi, pas libur tahun baru. Kalian ndak ada acara apa-apa kan?” tanyaku.


“Sip, ok bro,” keduanya menjawab serempak.

__ADS_1


Setelah itu kami pun berdiskusi panjang lebar untuk memilih paket wisata yang ditawarkan. Kali ini kami hanya ambil paket wisata 4 hari 3 malam. Soalnya lebih murah, wisata di Laos juga tidak terlalu banyak, dan kami berarti masih punya waktu untuk berleha-leha menghabiskan akhir pekan di rumah sambil beristirahat sebelum pekerjaan awal tahun dimulai lagi. Tur yang masih dua bulan lagi sudah terbayang-bayang di kepala kami.


Taraaa..Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Saya dan Erik pergi ke indekos si Arvi sambil membawa ransel yang berisi baju-baju kami. Setelah itu kami pun naik taksi menuju Bandara Soetta yang entah sampai kapan selesai renovasinya. Sesampainya di terminal keberangkatan internasional, kami pun sudah ditunggu oleh pemandu wisata dan dia mulai mengumpulkan paspor kami dan surat-surat lain yang diperlukan. Beberapa saat kemudian dia pergi meninggalkan kami beserta rombongan yang turut serta paket wisata Simply Beautiful Laos. Total kami berjumlah 22 orang. Si pemandu akhirnya tiba dan membagikan tiket pesawat PP kami. Setelah satu setengah jam kemudian, kami pun mulai boarding ke dalam tubuh burung besi bernama garuda. Tak ada yang istimewa di perjalanan pesawat kali ini bagiku, tetapi bagi kedua temanku ini merupakan kali pertama mereka naik penerbangan internasional. Deg-degan pastinya dan excited banget kata mereka.


Sampai di kota Vientiane, ibukota Laos yang kelihatannya masih tidak banyak terjamah oleh kemajuan teknologi, kami pun diantar ke sebuah hotel bintang 3. Karena kami bertiga adalah teman, pas sekali kami dapat kamar yang sama. Di dalam kamar itu ada 3 tempat tidur ukuran 110x200 jadi pas masing-masing dapat satu. Kami hanya menghabiskan 1 malam di kota ini karena tujuan wisata utama Laos adalah Luang Prabang yang katanya menawarkan fasilitas wisata lebih baik dari ibukota. Menjelang makan malam dengan masakan khas Laos, kami berdiskusi untuk pergi keliling melihat keindahan malam kota ini sejenak.


Jadi selesai santap malam kami pun pergi melihat beberapa bangunan peninggalan masa penjajahan di Indocina ini. Kami pun sempat berfoto di Patuxai Gate yang mirip Arc de Triomphe di Paris dan di kompleks Candi Pha That Luang. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Kami harus pulang ke hotel karena besok pagi kami akan melanjutkan perjalanan ke Luang Prabang. Meskipun kami semua terkesima dengan suasana baru yang terkesan jadul itu, si Erik kelihatannya tidak terlalu nyaman dengan kemiskinan yang ada. Sesekali dia mengomentari banyaknya anak-anak jalanan di sana, yang persis seperti di Jakarta. Ia kesal dengan pemandangan seperti ini.


Besoknya kami bersiap menuju Luang Prabang. Sebuah kota yang menjadi tumpuan utama wisata di Laos. Kota ini juga merupakan kota warisan dunia UNESCO. Jadi kami yakin kota ini wajib dikunjungi. Sepanjang perjalanan kami disuguhi rimba dan sungai bak petualangan Indiana Jones. Akhirnya kami sampai juga di Kota Luang Prabang.


Kota kuno Luang Prabang ini adalah jantung kebudayaan Laos dan termasuk salah satu kota kuno yang masih lestari di Asia Tenggara. Terdapat 34 kuil Buddhis dan beberapa bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur kolonial dan Tiongkok. Sungai Mekong menjadi urat nadi perdagangan dan transportasi di kota ini. Ada pula yang berdagang di atas perahu mirip-mirip pasar apung di Banjarmasin. Kami sangat senang bisa mengunjungi kuil-kuil Buddhis di sini yang rasa-rasanya perpaduan gaya Tiongkok dan Thailand. Apalagi Erik, dia dengan bangganya bercerita tentang budaya-budaya dan simbol-simbol Buddhis kepada kami. Dia memang senang berdiskusi Dharma dan sering berdebat dengan banyak dharmaduta-dharmaduta di wihara dekat indekos kami. Sambil berfoto sana sini, tak terasa kami menghabiskan hari kedua begitu saja.


Peristiwa genting terjadi esok hari. Awalnya dimulai dengan kami bertiga hendak pergi jalan-jalan sebentar di luar hotel sebelum pukul 9 nanti, kami pergi ke tempattempat wisata lain di Luang Prabang. Di depan hotel, kami langsung dikerumuni banyak anak-anak kecil penjaja miniatur dan patung-patung kecil. Agak risih memang, tapi saya dan Arvi bisa memaklumi mengingat ekonomi Laos yang baru mulai berkembang. Tetapi tidak dengan Erik. Dia merasa kesal dan sangat tidak nyaman dan hampir membentak seorang anak yang ngotot berusaha menjual barang dagangannya. “Sabar Rik! Sabar! Jangan terlalu cepat emosian. Kasian mereka masih anak-anak dan namanya juga usaha,” bilang saya.


“Yah, kan mungkin karena mereka tidak tahu kita menolak.


Kita kan tidak bicara bahasa Laos ke mereka,” timpal Arvi.


Tiba-tiba karena kesal atau kenapa, Erik terjatuh dengan cukup keras. Kami berusaha membantunya berdiri lagi. Erik masih saja bermuka masam. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke hotel.


Di sepanjang perjalanan wisata kami, Erik masih terus saja mengomel tentang anak-anak tersebut. Bahkan juga menyinggung tentang anak-anak jalanan di Jakarta. Sampai bosan kami mendengarnya.Tapi ya sudahlah. Pukul 5 sore kami tiba kembali di hotel. Kami pun istirahat sebentar dan bersiap-siap turun santap malam. Saat itulah Erik dengan kalang kabut mencari kami berdua yang sudah duluan ke restoran di bawah.“Eh, bro. Paspor gua hilang!”


“Apa???!” balas kami terkejut. “Bukannya ada di tas paspor kecil elu itu?”


“Iya, tas kecil gua juga hilang. Gua cari-cari dari tadi tapi tetap tidak ketemu. Aduh mampus nih gua. Kagak bisa pulang Indo dong.”

__ADS_1


Karena kepanikannya kami berdua pun menjadi agak sedikit panik. Kami mencari tour guide kami dan menjelaskan duduk persoalannya. Ditanya kira-kira jatuh dimana, kami tidak tahu sampai akhirnya Arvi ingat kalau tadi pagi kami sempat ke pasar dekat hotel. Apakah dicuri atau terjatuh. Tapi tour guide kami orangnya cukup berpengalaman dan berkepala dingin. Dia segera menghubungi pihak hotel.


Setelah berusaha menenangkan Erik, si tour guide datang bersama seorang petugas hotel. Si petugas bertanya


kepada kami, “Is this your passport Sir? Are your name is Erik Boy?”


“Ah, yes. That is me,” jawab si Erik.


Dia pun segera memberikan paspor dan tas kecil itu kepada Erik untuk dicek. Kami pun lega bukan kepalang.


“Actually, around 3pm three street children came here and gave it to our staff. They said that they found it on the street at the market near our hotel and it may belong to one of our guests. Fortunately it’s true. If no one claims this passport, I will contact the embassy at Vientiane tomorrow morning. Well then, please enjoy your night and try not to lose any of your belonging again.” Si petugas itu pun dengan ramah undur diri. Tour guide kami juga akhirnya minta kami segera santap malam dan bersiap-siap untuk kepulangan besok pagi.Fiuh, lega sekali kami.


Tapi raut muka Erik merah. Bukan karena marah atau apa. Ketika kami tanya itu karena dia malu. Dia malu telah mengata-ngatai anak-anak kecil tadi pagi itu.Tiba-tiba Arvi berkata kepada kami bahwa ini mirip dengan salah satu cerita dalam Dhammapada Atthakatha. Kisah tersebut adalah tentang bhikkhu sesepuh bernama Upananda. Beliau adalah bhikkhu yang pandai berkhotbah tetapi sayangnya jarang mempraktikkan khotbahnya tersebut.


Buddha pun menegur bhikkhu Upananda dengan syair berikut:


Hendaknya pertama


meneguhkan diri sendiri dalam kepantasan, barulah membimbing orang lain.


Janganlah orang bijak menjadi kotor.


Esok paginya, sebelum pergi meninggalkan hotel dan negara ini, kami pun menyempatkan diri pergi ke pasar dekat hotel tempat yang kami lalui kemaren ditemani si pemandu. Kami menemui anak-anak yang sedang berdagang di sana. Setelah melihat kami mereka pun datang dan bertanya dengan bahasa Laos yang diterjemahkan oleh pemandu kami. Ternyata memang mereka yang menemukan tas paspor Erik yang terjatuh kemaren. Erik pun dengan rendah hati akhirnya meminta maaf karena hampir membentak salah satu dari mereka. Dia pun membeli sebuah replika kuil seperti yang kami beli sebelumnya. Mereka yang masih polos tentu senang barang dagangannya dibeli. Mereka mengucapkan thank you, thank you Sir ke Erik padahal Erik sedang menahan tangis karena seharusnya dialah yang banyak berterima kasih kepada mereka.


Well, akhirnya pukul 6 malam kami tiba di kos Arvi. Sebelum Erik dan saya pulang ke kos kami masing-masing, kami bercerita momen-momen luar biasa dan foto-foto perjalanan kami. Perjalanan ini memberikan pelajaran berharga buat kami, untuk selalu waspada dan berjagajaga terutama barang-barang penting di setiap perjalanan ke luar negeri tetapi juga untuk bersikap rendah hati dan bijaksana menyikapi berbagai fenomena kehidupan. Erik menyadari kekeliruannya selama ini dan bertekad untuk semakin waspada dalam bertindak dan berucap. Sejak itulah kami selalu mengenang kembali cerita ini ketika salah satu dari kami mengomel atau bersikap menyebalkan. Sekian catatan perjalanan saya kali ini. Sampai jumpa lagi di catatan perjalanan saya berikutnya. Sabaidee Laos!!!

__ADS_1


__ADS_2