
Doni adalah seorang anak kampung yang miskin. Doni bersama kedua adiknya tinggal bersama kakek dan neneknya. Kedua orang tua mereka telah meninggal saat mereka masih kecil. Walaupun terlahir dalam keluarga miskin, namun hidup mereka selalu ceria dan selalu diselingi canda tawa bersama keluarga, tetangga sekitar, dan teman-teman sehari-hari untuk sekedar melepaskan beban dan melupakan sejenak penderitaan kehidupan mereka.
Kakek dan nenek adalah penjual kue tradisional. Mereka membuat kue dari bahan seadanya yang didapat kakek dari hutan, lalu diolah oleh nenek di rumah dan dijual bersamasama dengan berkeliling desa. Walaupun usia kakek dan nenek yang sudah amat tua, mereka tetap semangat dan berusaha bekerja keras walau cuaca terik maupun hujan deras menerpa desa. Mereka tetap harus berjualan untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Kehidupan mereka yang miskin memaksa mereka hanya makan sehari sekali, itu pun kalau ada uang untuk membeli makanan atau bila masih ada kue yang tersisa karena tidak laku. Suatu hari nenek meninggal dunia karena usia yang sudah tua, maka kakek meneruskan usahanya berjualan kue yang dibantu oleh Doni usai pulang dari sekolah.
Doni merupakan murid kebanggaan di sekolah. Karena kepintarannya dalam belajar dan prestasi yang selalu diraih, tak jarang guru-guru dan murid-murid di sekolah memuji Doni. Suatu hari Doni lulus sekolah dan ingin melanjutkan kuliah, kakek pun sangat mendukung. Namun karena belum ada kampus di dekat desa tersebut, kakek memutuskan mereka semua untuk pindah dari kampung (desa) di pedalaman terpencil ke sebuah kota besar dengan harapan untuk mendapat pekerjaan, tempat menuntut ilmu dan kehidupan yang layak bagi mereka.
__ADS_1
Sesampainya di kota metropolitan yang sangat besar tersebut, mereka sangat terkagum-kagum melihat keindahan gedung-gedung bangunan yang terjulang sangat tinggi dan mobil-mobil mewah yang memenuhi sepanjang lintasan jalan raya. Mereka sangat terpikat oleh pesona kota, maklum wong kampung kok, hehehe. Di kota besar tersebut, dikarenakan biaya sewa rumah diperkotaan yang sangat mahal, mereka menyewa sebuah gubuk kecil seadanya di pinggiran kota untuk dijadikan tempat tinggal. Tetapi ketika akan berkuliah, Doni ditolak oleh beberapa kampus karena tidak mampu untuk melunasi uang pendaftaran untuk berkuliah. Tidak hanya itu, kedua adik-adik Doni pun tidak bisa bersekolah karena terkendala biaya. Namun kakek tidak putus asa, kakek mencari pekerjaan di kota besar tersebut untuk mendapatkan uang agar bisa menguliahkan dan menyekolahkan cucu-cucunya.
Berkali-kali kakek mencari kerja, berkali-kali pula kakek ditolak dengan berbagai alasan seperti karena tidak masuk klarifikasi persyaratan yang dicari, tidak pernah tamat sekolah, tidak memiliki ijazah, tidak memiliki pengalaman di bidang/jabatan tertentu, tidak memiliki SIM bahkan kendaraan pun tidak punya, usia yang terlalu tua, dan lain-lain. Bahkan sering pula ditolak tanpa alasan.
Akhirnya kakek pun berhasil diterima di sebuah pabrik roti dan kue karena perekrut tenaga kerja di pabrik tersebut terkesan dan merasa kasihan dengan ketika mendengar cerita kakek tersebut. Doni dan adik-adiknya akhirnya bisa bersekolah dan berkuliah dengan uang hasil tabungannya sejak kecil ditambah warisan keluarga seadanya dan penghasilan dari kakek di pabrik kue tersebut. Tidak hanya di sekolah, ketika berkuliah pun Doni termasuk anak yang pintar, cerdas dan rajin hingga berhasil meraih berbagai prestasi yang membanggakan kampusnya. Di sela-sela waktu kuliahnya Doni berpartisipasi dan berinisiatif dalam menyumbangkan berbagai ide-ide maupun tenaga untuk memajukan kampusnya dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan di kampusnya. Berkat Doni, nama baik kampus pun terangkat dan berhasil menjadi kampus unggulan yang cukup populer di kota tersebut.
Dikarenakan lokasi tempat tinggalnya dengan kampus yang begitu jauh dan juga tidak memiliki kendaraan, membuat Doni harus berjalan kaki berjam-jam untuk berkuliah yang membuat Doni sangat kelelahan. Melihat hal tersebut, kakek pun menjadi sangat sedih dan membelikan Doni sebuah sepeda baru untuk Doni berkuliah. Sepeda tersebut dibeli kakek ketika melihat sebuah sepeda butut yang sudah sangat kotor dan tidak pernah dipakai lagi oleh salah satu rekan kerja kakek di sebuah gudang tua pabrik tempat kakek bekerja. Dulunya sepeda tersebut dipakai untuk berjualan kue keliling, namun karena perkembangan jaman, sepeda tua tersebut pun tidak pernah digunakan lagi. Walaupun merupakan sepeda bekas, Doni pun terlihat sangat gembira menerima sepeda barunya.
__ADS_1
Walaupun begitu, Doni tidak menyerah dan tetap berusaha datang ke kampus setiap hari dengan harapan dapat mengikuti pelajaran di perkuliahan walaupun selalu diusir dosen, dipermalukan hingga selalu diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya itu, beberapa dosen tidak memberikan nilai kepada Doni untuk mata kuliahnya.Nama Doni pun terancam dicoret dari mata kuliah tersebut. Parahnya, para dosen tersebut tidak mengetahui kondisi Doni saat itu bahkan tidak pernah bertanya pada Doni sehingga keputusan yang dosen tersebut membebani Doni. Padahal sebenarnya Doni adalah anak yang pintar dan cerdas juga berprestasi. Namun tidak demikian dengan seorang dosen lainnya yang mengetahui kondisi Doni. Walaupun telat, namun dosen tersebut tetap memberikan izin kepada Doni untuk mengikuti pelajaran perkuliahannya. Dosen tersebut sangat menghargai setiap usaha Doni untuk berkuliah. Karena mengikuti pelajaran di perkuliahan merupakan hak setiap mahasiswa – termasuk Doni. Di mata kuliah tersebut, seperti biasanya, Doni kembali mendapatkan nilai yang tinggi atas kepintarannya.
Namun dikarenakan banyak pelajaran mata kuliah lain yang tidak lulus karena keterlambatannya sampai di kampus hingga tidak diizinkan oleh dosen untuk masuk pelajaran, nama Doni pun terancam dicoret. Hal tersebut pun membuat Doni kembali terancam tidak bisa kuliah, hingga berkali-kali Doni mendapat surat peringatan (SP) yang sekaligus surat teguran dari dosen yang berisikan bahwa Doni akan terancam tidak bisa kuliah. Surat pun dibawa pulang dan tanpa sengaja terbaca oleh kakek. Membaca surat tersebut, kakekpun kaget dan merasa sangat sedih hingga penyakit jantung yang diidap kakek kambuh. Hal tersebut membuat kakek harus dilarikan ke rumah sakit. Namun karena keterbatasan biaya dan tidak ingin uang yang telah dikumpulkan habis untuk biaya rumah sakit, kakek meminta untuk pulang dan dirawat dirumah saja. Dengan terpaksa dan hati sedih, Doni dan adik-adiknya pun mengantar kakek ke rumah.
Berhari-hari Doni dan adik-adiknya harus merawat kakeknya yang sedang terbaring sakit. Namun kakek tetap meminta mereka untuk tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya dan harus tetap bersekolah dan berkuliah. Suatu hari kakek meninggal dunia. Doni dan adik-adiknya menangis dalam kesedihan. Hari-hari dilewati Doni tanpa semangat, tidak ada lagi keceriaan yang biasanya selalu terpancar dalam wajah Doni. Doni harus bekerja sendirian tanpa sang kakek untuk membiayai dirinya dan adikadiknya. Hal tersebut pula yang membuat Doni selalu tidak berselera makan sehingga membuat badannya kurus.
Doni mulai malas untuk berkuliah dan sempat berpikir untuk tidak berkuliah lagi. Suatu hari Doni menemukan sebuah surat, surat tersebut ternyata merupakan surat peringatan dari dosen yang pernah dibaca kakek. Di bawah surat tersebut berisikan tulisan dari sang kakek “Jangan Menyerah, Tetap Semangat Berusaha, Jadilah Dirimu Yang Terbaik, Raih Impianmu, Biarkan Dharma Sang Buddha Selalu Menyertaimu”. Tulisan tersebut membuat Doni tersentuh lalu merenung, hingga Doni kemudian berniat untuk tetap melanjutkan kuliahnya.
__ADS_1
Suatu hari pimpinan kampus mengetahui cerita kehidupan Doni dari salah seorang dosen. Pimpinan kampus yang mengetahui hal tersebut tergugah dan memberikan beasiswa kepada Doni atas jasa-jasa dan prestasinya yang berhasil membawa kampus menjadi universitas unggulan terfavorit di seluruh kota yang juga baru saja mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Selain dapat berkuliah gratis di kampus, Doni pun diterima bekerja dan diberikan tempat untuk berjualan kue di kantin kampus. Doni dan adik-adiknya pun tinggal di sebuah asrama yang baru didirikan dan disediakan oleh kampus tersebut dengan ide dari Doni.
Akhirnya Doni lulus dari kampus dengan nilai yang terbaik dan hingga kemudian berhasil menjadi seorang dosen di kampus tersebut. Selain menjadi dosen di kampus, Doni berhasil mendirikan pabrik kue miliknya sendiri. Doni sangat bergembira atas karma baiknya yang ditanamnya dengan sangat bersusah payah dan kini telah berbuah yang amat manis dan dapat dinikmati dengan keceriaan Doni.