
Tuuutttt….Tuttuuttt…. Jesss… jesss….
Kereta api Sri Tanjung jurusan Banyuwangi menuju destinasi akhir Stasiun Tugu Yogyakarta melaju kencang membawa rombongan study tour para murid SMA Negeri 2 Banyuwangi.
Di luar jendela nampak deretan warna hijau yang sejukkan mata, dan beberapa petak padi yang mulai menguning dan siap untuk dipanen. Sementara gumpalan awan memutih bak kapas menggantung di pelataran langit yang bergulung iringi laju kereta, menambah semarak cerah cuaca yang mendukung acara kepergian mereka.
Suasana tiga gerbong kereta riuh rendah.Terdengar suara percakapan, senda gurau, tawa, dan nyanyi para siswa yang antusias dan gembira. Dari kursi 22B yang kududuki cukup jelas untuk melihat sosok indah itu, yang duduk di 19C sambil membahas topik hangat bersama ketiga rekan wanitanya. Kesekian kalinya sorot matanya menatapku, bagai anak panah melesat tepat menembus jantungku. Dan untuk kesekian kali pula, aku hanya tersenyum dan memalingkan muka berpura larut dalam percakapan dengan teman sebangkuku, Arya. Di hadapanku, Mira dan Lina sudah tertidur entah ke alam mana mimpi membawanya.
Dasar orang IPA, semua hal bisa jadi perbincangan mengarah perdebatan. Dari masalah ilmu alam, politik, kenaikan BBM, kebijakan pasar ekonomi, psikologi hingga asmara. Jelas kudengar, Wiwin mendebat dan menjelaskan semua sanggahan dan argumennya. Demikian pula Suhartini dan Mike. Namun, ia tak miskin opini, hingga suatu topik yang menahannya dalam keheningan yang lama.
“Coba kau pikir, Wan. Kita telah tinggal bersama orangtua kita selama 17 tahun. Dan selama itu pula, napas, darah dan asupan makanan berasal darinya. Demikian pula, dengan pemikiran dan keyakinan. Agama yang kita anut, dipilih dan diajarkan oleh kedua orangtua kita. Apakah kita tega kita lepaskan demi seorang manusia yang berbeda, demi wanita yang kau cintai? Kau baru mengenalnya. Paling lama 3 tahun ini. Sedangkan agama yang kau anut, dari keluarga begitu jauh rentang waktu pembandingnya.”
Pemuda yang matanya mirip elang yang sedari naik kereta dari stasiun Rogojampi tadi mengganggu hatiku, mulai komentar, “Benar, Win. Tapi ingat, seperti kau bilang. Tuhan memberikan kehendak bebas. Free will. Untuk manusia memilih.”
Suhartini yang terkenal menyebut nama orang secara lengkap, menukas, “Awan Satria, apakah engkau belum yakin dengan keyakinan yang kamu anut saat ini?”
Lelaki yang bernama Awan tadi hanya menunduk terdiam, matanya sekilas menatapku dengan sayu. Lalu, tatapan itu ia buang ke sekelabat rerimbun hijau di luar sana… hening.
Ia yang selalu mewakili sekolah dengan sederet prestasi, dari lomba debat, cerdas cermat dan kontes ilmiah, tampak galau tertohok oleh pertanyaan Suhartini. Wanita berkerudung itu telah lama dekat dengan Awan. Bukan sebagai kekasih, melainkan sahabat karib tempat Awan mencurahkan segala isi hati berikut kepenatannya. Akulah yang bermimpi bersanding dengannya. Sebagai kekasihnya.
Tiga hari selanjutnya, selama wisata di kota pelajar Ngayogyakarto, kerap kulihat raut mukanya. Datar, dan cenderung masam. Seakan senyum yang senantiasa terulas di ujung bibirnya raib entah ke mana. Apakah ia
masih memikirkan pernyataan Wiwin dan Suhartini, atau kadang aku usil berpikir, bahwa ia cemburu kedekatanku dengan Arya? Entah...
Borobudur, Prambanan, Parangtritis, Keraton Dalem, Malioboro, Bakpia Pathok hingga Dagadu seakan tiada mampu kembalikan senyum itu. Hei…mengapa aku memikirkannya terus? Aku merindukan senyum itu? Ya, aku rindu. Mungkinkah aku jatuh cinta? Aku mencintai Awan Satria.
* * * * * * * * * * *
Sejak aku mengenalnya, pada hari pertama masuk sekolah SMAN 2. Kesan low profile, murah senyum, dan bersahaja tertangkap dalam aura kesehariannya. Jauh dari kata angkuh atau belagu, malah terkesan apa adanya dan ga neko-neko. Padahal ia-lah selama 3 tahun ini, yang mengisi koleksi trophy sekolah untuk cabang bola basket, dan berbagai kejuaraan ilmiah. Hingga banyak wanita memperbincangkannya, dekat dengannya, ingin bertanya dan belajar padanya. Menanyakan hampir tiap hal. Entah itu modus atau tulus.
Ketika sesi pengenalan, pada hari pertama tersebut. Aku melihatnya seorang diri duduk di gasibu bawah beringin, depan kantin sekolah. Kuhampirinya, memberanikan diri untuk menyerahkan buku diari perkenalan teman. Hal yang lumrah kala itu. Di mana tiap wanita memiliki album data diri teman-temannya. Gayung bersambut. Ia menerimanya, dengan diawali jabat tangan lembut dan tatap lugu kebingungannya yang menggemaskan.
Sejak saat itu, kita berteman dan bersahabat. Meski tidak kentara. Maksudku, tiada seorang pun di sekolah ini yang tahu. Karena predikatku. Aku benci untuk menceritakan ini. Status orangtuaku yang menjadi orang terkaya di kota pisang ini. Pengusaha pangan terbesar dan pemilik dua hotel berbintang. Seakan perlu menitipkan kepada dewan guru, bahwa aku anaknya telah ditunangkan dengan seorang perwira akademi angkatan udara. Hal ini membuat tiada seorang lelaki pun berani mendekatiku. Selain Arya, anak dari Tante Irma. Dan Awan, dalam mimpi dan… goretan kertas.
* * * * * * * * * * *
Meski kita berbeda kelas. Aku di 1.1 dan ia di 1.2, banyak guru yang mengajar di kelas yang sama. Sehingga, beberapa kali aku dapat meminjam buku catatan darinya. Baik itu biologi dan kimia. Bidang yang paling ia gemari, katanya. Dan tiap kali pula, kutemui secarik kertas berisi puisi-puisi indahnya.
“Cintaku padamu tlah berurat akar dalam menghunjam ke persada jiwaku erat lekat tiada mungkin sirna di telan zaman.
Cintaku padamu ibarat sungai yang selalu berhilir
ke samudera luas
senantiasa mengalir menuju ke delta hatimu
Meski jurang pemisah begitu dalam, namun tiada mungkin
menepis gelora rinduku padamu Meski ruang dan waktu membelah jauh,
__ADS_1
namun tiada mampu melenyapkan gairah kangenku padamu
Tiada kupungkiri, harap ingin bercengkerama dengan jiwamu
Sekadar bersenda gurau apa pun yang kau mau
Tiada kuingkari, rasa ingin menyentuh jemari lentikmu
Sambil merangkai bait puisi indah hanya untukmu Tiada kudustai diri, hasrat ingin mendekap harum tubuhmu
Hingga kukecup kuntum bibirmu, sepenuh hatiku…
Di antara kutuk dan ratap akan alur nasib,
Kupilin asa demi menatap seulas senyum indahmu
Di antara pedih dan lara akan surat takdir,
Kurajut doa demi mengiba sebongkah bahagia hatimu
Senyummu, bahagiamu,
Itulah bahagiaku sudah… “
Ketika kupertanyakan padanya, untuk siapakah puisi indahmu, ia hanya tersenyum seraya berkata, “Ada dech!?” Aku makin penasaran. Ia pribadi sederhana yang multi talented. Tak heran semua guru begitu menyayanginya, termasuk teman-temannya. Demikian pula aku. Andai ia tahu.
Bersenandunglah lagu “Andai Ia Tahu” karya Kahitna di dalam relung-relung hatiku.
* * * * * * * * * * *
Tempat ini kupilih, karena dekat dengan Stasiun Gubeng, sambil menghantarkan kepergiannya untuk bersiap dimutasi tugas kerja ke Bandung.
“Tampaknya, kau lapar banget! Lahap sekali makanmu? Hehe…” aku mencoba menyelanya menikmati bakmie goreng, menu favoritnya.
“Aku bergegas, karena tak mau kehilangan momen detik-detik bersamamu.” Kerling senyum itu masih sama indahnya dengan dahulu.
“Sepulang dari wihara, kamu langsung ke mari? Jauhkah wiharamu dari Delta?” aku menutupi kekikukanku dengan pertanyaan konyol. Karena aku dengar, ia seorang aktivis wihara yang cukup terpandang di kota pahlawan ini. Bahkan pernah menjabat sebagai ketua UKM Buddhist di kampusnya, ITS.
“Ngagel Jaya ke mari mungkin empat puluh menit.” “By the way, semalam kamu nginap di mana? Apa kabar Mas Primas dan kedua anakmu, siapa? Genta dan Jasmine?”
“Perlukah kita membahas itu?” kataku dengan intonasi rada tinggi. Sambil menghela nafas panjang, aku berkata, “Semalam kami tidur di Marriot. Karena Mas Primas ada meeting di Hotel Tunjungan. Sementara anak-anak sedang jalan-jalan bersama neneknya di TP (Tunjungan Plaza).”
Ada jeda dua menit dalam keheningan…
“Awan, ke mana saja kamu selama ini? Mengapa baru sekarang kamu hadir kembali?” bendungan hatiku jebol, air meluruh dari pelupuk mataku.
Seraya mengenggam lembut jemariku, ia berucap, “Dee, kini engkau telah berkeluarga.” Ia menelan ludah, kemudian mengambil gelasnya berisi lemon tea, lalu menyeruputnya. Hanya ia-lah seorang yang memanggil Dee untuk nama asliku Diana Lestari.
“Dee, jalan kita telah jauh berbeda. Lihatlah kamu kini! Engkau telah berkerudung, berhijab! Engkau memiliki suami yang baik dan berpengertian seperti Mas Primas. Dan lagi, ada dua anak yang lucu-lucu. Kini, kau telah berbahagia. Dan aku pun berbahagia untuk itu.”
__ADS_1
“Wan, apakah kau masih mencintaiku? Seperti yang kau katakan by BBM beberapa minggu lalu. Lalu, apa maksud ungkapanmu itu? Mengapa kau menembakku kini? Mengapa tidak delapan belas tahun lalu? Mengapa?”
“Seperti di BBM lalu telah kujelaskan, ketika SMA dulu, kupikir kau telah bertunangan. Aku paling pantang untuk merebut milik orang lain. Meski yang kusesalkan, ternyata itu hanyalah permainan orangtuamu dan pihak sekolah guna menutupi statusmu. Andai aku tahu pun itu bohong, aku mungkin berpikir seribu kali untuk mendekatimu, Dee.”
“Mengapa?”
“Karena kau anak orang kaya, benar aku ketika itu orang yang minder dan berkecil hati. Belum lagi, aku ingin jadi contoh bagi adik-adikku. Oleh sebab itu, berbagai prestasi kuraih, demi dahaga orangtuaku. Bahwa orang berpenghasilan minim, dapat memiliki putra yang tidak minim prestasinya. Tapi, kau pun tahu, aku tak pernah memiliki pacar selama SMA. Kau tahu kenapa, karena tiada yang layak dan pantas, selain kamu. Tiada yang setara denganmu.”
“Tapi, istrimu kini juga tiada miripnya denganku, Wan?”
“Ya, seiring dengan perkembangan waktu dan kedewasaan, hanyalah mimpi belaka mencari padananmu. Seperti Jaka Tarub yang mendamba Nawang Wulan, bidadari dari surga.
Kini, aku lebih membumi. Mencari jelita yang berkenan mengiringiku di bumi.” Sedikit tertawa ia berkomentar.
“Aku bukan bidadari, Wan. Dan apakah, karena ungkapan Wiwin dan Suhartini di kereta dulu, kau tidak berani memilih aku yang muslim, sedangkan kamu buddhis?” nadaku mungkin terdengar mulai meninggi, namun aku masih yakin tiada orang di sebelah meja yang menangkap isi perbincangan kami.
“Kamu masih mengingat itu? Woow… mengapa?”
“Karena, sejak awal kenal, aku… aku sudah jatuh cinta padamu, Awan!”
“Hahhh…? Mengapa seorang model, public figure, wanita terpandai, primadona sekolah berkenan mencintai pemuda desa seperti Awan?”
“Entah mengapa, tapi aku melihat sosok sederhana, cerdas dan ga neko-neko ada pada dirimu. Dan aku melihat lelaki ‘bening’ dan berkarakter ada padamu. Dan kupikir, kamu menyukai Lina, teman sebangkuku. Karena tiap pelajaran agama Islam, kamu duduk-duduk di depan koperasi ngegodain dia.”
“Ha ha ha…” ia tertawa sambil menyeka sedikit air matanya. “itu cuman modus, Dee. Pengalih perhatian, bahasa seni perangnya Sun Tzu.”
“Gini Dee, jujur kukatakan. Aku pernah mencintaimu. Dan akan selalu mencintaimu. Meski kita tak mungkin bersanding sebagai sepasang kekasih. Kau sudah ada yang memiliki, aku pun ada yang punya. Setelah aku belajar Dhamma ajaran Buddha lebih dalam, aku dapati kotbah-Nya kepada Nakulamata, istri Nakulapita. Ada empat hal yang bila dimiliki, maka sepasang kekasih akan langgeng kehidupan pernikahannya, dan bila meninggal dunia kelak akan bertemu kembali sebagai pasangan. Empat hal tersebut adalah samma saddha (sepadan keyakinannya), samma caga (sepadan kedermawannya), samma sila (sepadan kemoralannya), dan samma pannya (sepadan kebijaksanaannya). Engkau dan Mas Primas sama keyakinan dan agamanya. Demikian pula, aku dan Venny. Itu, jauh lebih baik daripada beda. Misal beda, akan ketemu berbagai kesulitan. Dalam hal nanti mendidik anak. Anak akan mengikuti agama papa atau mamanya. Bila salah satunya sakit, akan memanggil pemuka agama yang mana? Dan bagaimana bila meninggal dunia, apakah melakukan prosesi doa bagi yang meninggal atau keluarga yang ditinggalkan? Terlepas dari itu semua, aku cuma bisa berharap, semoga di kehidupan selanjutnya kita dapat berjumpa kembali. Meski kamu tidak percaya akan hukum kelahiran kembali?”
“Ya, di agamaku sih sulit memahami kehidupan berikutnya. Selain ada alam antara untuk kemudian manusia dihadapkan pada hari penghakiman, kelak ia akan masuk ke surga bila banyak kebajikan atau neraka bila ia jahat.” “Nah, paham kekekalan dalam surga-nerakamu sulit kami cerna. Dan akan banyak perbedaan yang akan membingungkan anak-anak kita kelak yang hidup dengan orangtua beda agama.”
Ia kembali menggenggam jemariku, kini untuk kedua tanganku. “Dee, aku masih mencintaimu. Dan mungkin selamanya. Aku yakin kamu tahu itu. Aku hanya berharap dan berdoa, yang terbaik untukmu. Agar kamu dan keluargamu selalu berbahagia. Meski bukan bersamaku. Cinta tidak selalu untuk bersama.”
“Apakah kamu mencintai Venny, Wan?”
“Tentu, karena aku berharap ia bahagia. Seperti ia berharap demikian pula padaku. Dan dari rahimnya akan melahirkan anak-anak kami kelak. Yang berbahagia.”
“Terakhir, Wan. Apakah saat ini, kita sedang selingkuh? Aku masih mencintaimu dan kamu masih mencintaiku. Dan kita sembunyi-sembunyi bertemu di sini?”
Ia bersemu merah. Hening sejenak. Seakan kebingungan ia menjawab, “Aku tidak tahu harus menjawab apa. Entah apakah kelak aku dapat berbicara mengakui kepada Venny akan pertemuan kita ini. Sambil berkata aku pernah mencintai seorang wanita sedemikian rupa. Yang bayang wajahnya selalu menghantui malam-malam mimpiku dan semua puisi-puisiku terinsipirasi olehnya. Atau ini akan menjadi misteri hidupku selamanya hingga kubawa sampai mati. Entah.”
Aku tersenyum mendengar penjelasannya. Polos. Terus terang. Seperti Awan yang biasa kukenal.
* * * * * * * * * * *
Tuuutttt….Tuttuuttt…. Jesss… jesss….
Telah lewat satu jam kereta Argo Anggrek meninggalkan Stasiun Gambir Jakarta, destinasi Stasiun Tugu Yogyakarta. Bukan, bukan untuk study tour. Bukan pula bersama Awan. Meski di luar tampak awan-awan berkejaran menggumpal kelam pertanda hendak menitikkan rinai hujan.
Di sampingku duduk manis Mas Primas dengan mata terpejam kelelahan, setelah sepanjang pagi bermain dengan Genta dan Jasmine. Dan kedua buah hati kita pun sedang berebahan terlelap di bangku depan tempat duduk kita. Kulirik nomor bangku kereta. Nomor 19C dan 19D. Aku tersenyum melihat kemiripannya dua puluh tahun yang lampau.
__ADS_1
Kubuang pandangan keluar, menatap rerimbun warna hijau bersela warna kuning keemasan. Sambil menatap mentari yang makin condong ke barat, dan gumpalan awan yang tertinggal dan seraya berdoa, “Semoga engkau selalu berbahagia, Wan!”