
“Pak, baru saja ditemukan mayat laki-laki dalam kondisi gosong terbakar di bawah pohon beringin tua itu,” kata Sumini kepada Sumarto, suaminya.
“Ibu dengar dari siapa?” tanya Pak Marto.
“Barusan dari Ibu RT yang lewat depan rumah kita,” kata Sumini.
Hari Minggu pagi ini, di sekitar rumah Pak Marto jadi ramai sekali. Banyak orang berdatangan untuk melihat mayat pria yang ditemukan tewas di bawah pohon beringin tua yang terkenal angker itu.
Bukan hanya warga sekitar yang berdatangan, orang dari daerah lain pun banyak yang berdatangan. Ini bisa dilihat dari banyaknya motor yang terparkir di sekitar lokasi. Daerah itu seperti jadi lokasi wisata dadakan. Warga sekitar pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan menjadi tukang parkir. Karena polisi belum datang, jenazah belum dievakuasi, berita ini menyebar cepat via SMS dan menarik banyak orang untuk datang dan melihat jenazah korban keganasan penunggu pohon beringin tua.
Mayat pria yang diperkirakan berusia sekitar 30 tahun itu sudah ditutupi dengan sehelai kain sarung, sambil menunggu datangnya petugas kepolisian.
Warga sekitar tak ada yang mengenal pria itu, bisa dipastikan pria itu bukan warga sana. Tewasnya pria itu membuat cerita mistis yang sudah beredar selama ini semakin berkembang.
* * * * * * * * * * *
Pohon beringin tua itu berada tepat di samping rumah yang dulu ditempati Pak Ponco bersama Ponirah, istri dan anak semata wayang mereka, Bondan. Dari keluarga ini, Pak Ponco-lah yang pertama meninggal dunia. Pak Ponco meninggal dunia secara mendadak, tanpa sakit terlebih dahulu. Warga sekitar mengaitkan meninggalnya Pak Ponco dengan dunia mistis. Entah dari mana asalnya, warga meyakini Pak Ponco punya ilmu hitam dan meninggalnya Pak Ponco karena hantu wanita yang dipeliharanya minta tumbal.
Setahun kemudian, Ponirah istrinya meninggal karena sakit demam berdarah. Dan selang seminggu setelah meninggalnya Ponirah, Bondan anak mereka yang saat itu berusia 17 tahun tewas tergantung di pohon beringin tua itu. “Bondan meninggal murni bunuh diri,” kata pihak kepolisian.
Sejak saat itu, rumah keluarga Pak Ponco dibiarkan kosong. Entah di mana sanak keluarga mereka. Tapi sejauh yang Pak Marto tau, mereka tak pernah mendapat kunjungan dari saudara mereka. Jadi sebagai tetangga, Pak Marto pun tak tau harus ke mana untuk menghubungi keluarga atau ahli waris Pak Ponco. Pak Marto hanya tau mereka berasal dari Jombang, Jawa Timur.
Bagi Pak Marto, keluarga Pak Ponco baik. Cuma memang Pak Ponco agak pendiam dan tertutup. Hidup mereka pun terlihat wajar, tak ada yang terlihat berbeda dari warga lain. Tidak kaya, tidak menampakkan tingkah laku yang ganjil, tidak melakukan ritual aneh. Hidup mereka seperti kebanyakan warga sekitar, mereka sekeluarga adalah buruh tani. Tak tau siapa yang menghembuskan isu bahwa Pak Ponco mempunyai hubungan dengan dunia mistis.
Rumah Pak Ponco sudah mulai lapuk termakan usia. Pohon beringin tua di samping rumah Pak Ponco semakin rimbun sehingga menambah kesan angker. Tidak banyak warga yang berani mendatangi atau sekedar berteduh dari hujan di bawah pohon beringin tua itu. Untungnya, kambing warga sekitar senang merumput di sana sehingga tanah sekitar pohon itu tidak ditumbuhi rumput atau semak belukar yang tinggi.
Jalan setapak di samping rumah Pak Ponco dan melewati samping pohon beringin tua itu sebenarnya jalan pintas menuju jalan utama, tapi karena kesan angker yang ditimbulkan cerita-cerita misteri, banyak warga memilih lewat jalan lain yang lebih jauh. Ada beberapa warga yang masih berani lewat jalan pintas ini, namun biasanya mereka berjalan cepat tanpa berani menoleh ke bekas rumah Pak Ponco maupun pohon beringin itu. Ada juga warga yang terpaksa ke sana karena mencari kambingnya yang belum pulang meski hari sudah sore.
* * * * * * * * * * *
__ADS_1
“Paman, ada berapa banyak sih orang yang meninggal di sekitar pohon beringin tua itu,” tanya Bagas, keponakan Pak Marto yang kemarin baru datang dari kota. Sehabis pujabakti bersama paman dan bibinya tadi siang, Bagas berkunjung ke rumah temannya. Malam ini Bagas dan Pak Marto, pamannya, sedang ngobrol di ruang tengah.
“Hmmm... seingat Paman, ini orang ketiga,” jawab Pak Marto.
“Sebenarnya, mereka yang meninggal di sekitar pohon itu karena apa? Bagas jadi penasaran karena cerita dari orang-orang tadi pagi. Ada yang bilang pohon beringin tua minta tumbal, ada yang bilang hantu perempuan peliharaan Pak Ponco minta korban, dan macam-macam,” tanya mahasiswa akuntasi itu penasaran.
“Ya, tidak jelas meninggal karena apa. Pertama seorang pria ditemukan tewas dengan badan gosong. Korban ditemukan malam hari oleh saudaranya. Menurut cerita, pria ini datang ke daerah sini mau beli kambing untuk pesta. Sore itu hujan cukup deras. Karena sampai malam tak kembali, saudaranya datang ke sini mencari pria itu. Pria itu ditemukan tewas di bawah pohon beringin dengan badan gosong. Ada yang menduga tersambar petir, tapi rasanya sore itu hujan tidak deras dan tidak disertai petir,” Pak Marto bercerita sambil mengingat kejadian waktu itu. “Korban langsung dibawa pulang oleh keluarganya untuk dimakamkan,” lanjut Pak Marto.
“Korban kedua, juga seorang pria. Pria ini ditemukan tewas oleh warga yang melintas di sekitar rumah Pak Ponco. Pria ini ditemukan tewas dengan posisi celana bagian atas terbuka. Isu yang beredar mengatakan pria ini dibunuh hantu wanita penunggu pohon yang marah karena tempat tinggalnya dikencingi pria ini,” Pak Marto memandangi keponakannya. “Korban tewas juga bukan warga sekitar sini,” Pak Marto memandang ke luar jendela.
“Korban ketiga, juga pria dan lagi-lagi bukan warga sekitar sini. Korban ketiga adalah pria yang ditemukan tadi pagi,” Pak Marto mengakhiri ceritanya.
“Hmmm... Paman percaya pada cerita yang beredar bahwa keluarga ini memelihara hantu perempuan dan mereka sekeluarga jadi tumbal dan sekarang hantu itu terus memakan korban?” Bagas mencoba minta pendapat pamannya.
“Yah...gimana ya? Sebenarnya paman tidak percaya. Menurut paman, keluarga Pak Ponco adalah keluarga baik meski beliau agak pendiam dan tertutup. Sepanjang pengetahuan paman yang beberapa kali main ke rumah mereka, tak ada kesan mistis sama sekali. Kalau korban yang terakhir, menurut paman, ia meninggal karena tersambar petir. Bagas tau sendiri ‘kan, semalam hujan deras sekali dan petir berkali-kali menggelegar. Badan pria itu gosong,” Pak Marto mencoba memberi argumen. “Ya sih...” Bagas membenarkan pendapat pamannya, tapi ada hal yang mengganjal di hatinya.
* * * * * * * * * * *
Sebagai Buddhis, Bagas bukannya tidak percaya adanya makhluk dari alam lain. Cuma saat mendengar cerita pamannya, Bagas menduga ada hal lain yang menjadi penyebab meninggalnya tiga pria ini. Bagas mengeluarkan tespen digital dari tas ranselnya. Alat ini bukan seperti tespen biasa. Pada tespen biasa, ujung tespen yang berbentuk obeng harus disentuhkan ke lubang stop kontak atau ke benda yang diduga beraliran listrik, jika lampunya menyala artinya benda tersebut ada aliran listrik. Tespen digital lebih canggih. Tespen digital bahkan bisa mendeteksi kabel putus di bagian mana, cukup dengan mendekatkan tespen ke kabel tersebut tanpa harus menyentuh. Jika ada aliran listrik, maka tespen akan mengeluarkan suara.
Alat ini dibelinya waktu Bagas coba memperbaiki lampu di meja belajarnya. Saat tes dengan tespen biasa, ternyata stop kontak ada aliran listrik. Jadi masalah bukan di stop kontak. Saat lampu dicoba ke tempat lain, lampunya menyala, artinya lampunya belum rusak. Permasalahan ada pada kabelnya, pasti ada kabel yang putus tapi dari luar tidak terlihat. Di bagian mana kabel harus dipotong kemudian disambung lagi? Teman kost yang anak teknik elektro meminjamkan tespen digital ini. Gerakkan alat ini di sepanjang kabel, jika ada aliran listrik maka alat ini akan mengeluarkan suara. Gerakkan alat ini menyusuri kabel dari dekat stop kontak ke ujung yang ada lampunya. Ketika suara berhenti, itu menunjukkan di titik tersebut kabelnya terputus. Akhirnya Bagas juga membeli tespen digital ini. Tespen digital yang berukuran kecil ini selalu Bagas bawa saat bepergian, fungsinya untuk mengencangkan baut kacamatanya yang sering kendur.
Setelah menyiapkan peralatannya, memakai kaos bola dan celana pendek, Bagas pamit pada pamannya. “Tumben pagi-pagi sekali sudah bangun?” sapa paman.
“Mau olahraga, lari-lari sekitar sini saja Paman,” kata Bagas.
* * * * * * * * * * *
Akhirnya Bagas sampai di bekas rumah Pak Ponco dan pohon beringin tua. Bagas tidak punya niat mengganggu makhluk alam lain jika memang ada yang menghuni tempat ini. Sepanjang jalan Bagas mengucapkan “Sabbe satta bhavantu sukhitatta.”
__ADS_1
Bagas datang hanya ingin mencari tau, apakah cerita yang beredar itu benar atau hanya isu yang tak bertanggung jawab. Kasihan juga makhluk ini jadi korban fitnah manusia. Bagas tidak berniat untuk menangkap mereka ataupun mengusir mereka dari tempat ini. Buddhis diajar untuk belajar hidup damai ketika berdampingan dengan makhluk apa pun. Dan satu lagi, ehipassiko, jangan mudah percaya begitu, tapi buktikan sendiri.
Ada rasa takut juga, jangan-jangan Bagas malah diganggu makhluk penunggu rumah dan pohon beringin tua ini atau makhluk itu malah masuk ke tubuh Bagas, yang biasa disebut kerasukan. “Sabbe satta bhavantu sukhitatta,” berulang-ulang Bagas mengucapkan kalimat itu. “Semoga semua makhluk hidup berbahagia, saya datang hanya untuk mencari tau, bukan ingin mengganggu apalagi mengusir kalian,” ucap Bagas.
Mata Bagas mengamati rumah tua itu dengan saksama dan mencari apakah masih ada kabel beraliran listrik di sana. Semua pintu dan jendela terbuka sehingga Bagas dapat melihat ke dalam dengan leluasa.
“Aha... Bagas berteriak gembira. Masih ada kabel listrik di rumah ini meski kondisinya sudah jelek. Sepertinya pemulung juga tak berani masuk ke sini untuk mengambil segala barang yang masih bisa dijual. Pada beberapa bagian, kabel itu sudah ditutupi debu dan lumut. Bagas mengamati kabel itu dan mencari ke mana arah kabel itu paling rendah agar ia bisa mencari tau dengan tespen digital-nya. Bagas mengeluarkan tespen digital-nya.
Masih ada meja, kursi, meski kondisinya sudah rusak dan kotor. Bagas perlahan melangkahkan kaki ke dalam rumah. Bagas melangkah ke dekat dinding lalu meletakkan tespen digital-nya ke dekat kabel, ternyata mengeluarkan suara. Artinya kabel di rumah ini masih beraliran listrik. Jantung Bagas berpacu lebih kencang.
Mata Bagas mengamati satu persatu jalur kabel di rumah itu. Satu kabel menuju ruang tamu dan berakhir di lampu. Lampunya tidak menyala, mungkin lampunya sudah putus. Ada kabel menuju ke kamar tidur, juga berakhir di lampu. Ada kabel menuju ke teras, lagi-lagi berujung di lampu, tapi lampunya sudah pecah. Bagas tak berani menekan saklar untuk mengetahui apakah lampu di sana masih menyala, takutnya malah terjadi korsleting listrik.
Kabel terakhir yang Bagas amati jalurnya naik ke plafon, entah menuju ke mana. Untuk apa kabel itu menuju ke plafon? Bagas perlahan melangkah ke luar rumah. Ia memeriksa teras rumah sekali lagi, apakah kabel tersebut mengarah ke luar rumah. Bagas tak menemukan kabel yang keluar dari atap. Untuk apa ya kabel itu ke plafon?
Bagas mengamati sekali lagi dengan lebih teliti. Lalu Bagas coba mengitari rumah ini. Tepat di samping rumah, Bagas tersandung dan nyaris terjatuh. Permukaan tanah tidak rata, seperti ada yang membuat polisi tidur kecil atau orang menimbun pipa air di bawah gundukan tanah itu. Bagas mencari ranting, lalu mengorek tumpukan tanah tersebut.
Ternyata daun kering dan tanah menutupi kabel! Kabel tersebut menuju ke pohon beringin tua. Bagas melihat ke pohon tua itu dan menemukan kaleng bekas biskuit tergantung, ada tempat lampu tapi tanpa kabel. Bagas berkesimpulan bahwa kabel ini tadinya keluar dari atap menuju ke pohon beringin tua. Pak Ponco memasang lampu penerangan di pohon ini. Kaleng biskuit itu untuk melindungi lampu dari hujan. Kabel itu terputus dari sambungannya lalu terjuntai ke tanah hingga akhirnya secara alami tertutup oleh tanah dan daun-daun kering.
Bagas mengeluarkan tespen digital-nya lalu mendekatkan ke kabel, wah... ternyata berbunyi, artinya masih ada aliran listrik. Terjawab sudah misteri kematian pria-pria tersebut. Kemungkinan mereka tersengat listrik dari kabel ini, terlebih pada korban kedua. Bisa Anda bayangkan, Anda buang air kecil tepat mengenai kabel yang terkelupas dan spontan air seni Anda menjadi konduktor. Mereka tewas karena sengatan listrik, bukan karena hantu perempuan yang marah tempat tinggal mereka dikencingi.
Hmmm... jika orang-orang mengetahui penyelidikan Bagas ini, masihkah mereka beranggapan bahwa Buddhis itu dekat dengan dunia klenik, magis, penyembah patung?
Dengan Dhamma-nya, Buddha justru mengajar umatnya rasional menyikapi kedaaan, bukan percaya membabi buta.
* * * * * * * * * * *
Paman terpukau dengan penjelasan logis dari Bagas. Kalau begitu, nanti paman akan menemui Pak RT dan meminta beliau memperbaiki kabel listrik di bekas rumah Pak Ponco agar tidak memakan korban lagi. Bagas tersenyum puas.
Liburannya kali ini jadi seru dan bermanfaat. Case close...
__ADS_1