MUAK

MUAK
Episode 1


__ADS_3

Aku berjalan melangkah memasuki sebuah bangunan yang masih sepi. Sekolah. Ya, sekolah tempat menuntut ilmu yang terkadang justru beralih fungsi menjadi tempat bermain dan tempat bertemu dengan seseorang yang disukai.


Teman teman dan suara berisik saat kelas tak dimasuki guru. Kelak akan dirindui oleh semua yang pernah masuk kedalamnya. Bangun di pagi buta hanya untuk melihat semua yang kelak akan kita semua tinggalkan.


Aku berjalan menaiki tangga. Satu demi satu tangga kupijaki. Aku Nina gadis pendiam berusia 17 tahun. Aku duduk dibangku kelas 2 sma. Kegiatanku sehari hari tak jauh beda dari kegiatan murid murid pada umumnya.


Namun, menurutku semua tampak selalu biasa dan membosankan. Aku tidak memiliki satupun teman dikelas maupun disekolah. Aku selalu menyendiri dan duduk menepi sambil membaca buku.


Bukannya aku dikucilkan tapi aku yang mengucilkan diri. Aku bagai bongkahan es yang tak tersentuh. Terlalu dingin dan mengerikan. Aku jarang bicara kecuali saat diperlukan saja.


Sebenarnya aku tidak terlalu pintar namun karena kebiasaanku yang terus belajar dan belajar karna tak memiliki kegiatan yang harus dilakukan. Aku menduduki peringkat 1 di kelas dan peringkat 2 dari satu angkatan.


Aku berhenti saat kakiku mulai berat untuk diajak berjalan. Aku menghela nafas panjang saat kudapati seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun memeluk erat kakiku.


Kedua bola matanya tidak ada dan wajahnya retak. Aku tidak tau dia laki laki atau perempuan tapi yang aku yakini dia laki laki menurut potongan rambutnya yang pendek.


Aku berjongkok dan menatap lekat kearah mata anak kecil itu yang kosong. Anak itu tersenyum sumringah saat aku terus menatap kearah matanya yang mengerikan dan berbau busuk.


"melihatku?" tanyanya dengan suara layaknya anak kecil. Aku menghela nafas pasrah dan membiarkannya terus memeluk erat kakiku.


Entah sudah sejak kapan aku mulai melihat hal hal yang mengerikan. Aku tidak mengingatnya dengan pasti. Tapi ada satu hal yang kuingat dan kuyakini hingga kini.


Aku mulai melihat hal hal yang seharusnya tak kulihat sejak kecelakaan yang kualami beberapa tahun lalu. Saat itu aku duduk di bangku kelas 2 smp. Saat pulang aku menaiki bus yang membawaku hampir menjemput ajalku sendiri.


Tak terlalu banyak penumpang di bus itu. Hanya ada 10 orang termasuk aku dan sang supir tentunya. Waktu itu aku baru saja pulang dari tempat les piano sekitar pukul 19.00.


Awalnya semua tampak baik baik saja. Tidak ada yang aneh termasuk bus yang berjalan dengan kecepatan yang sama pada setiap menitnya.


Aku duduk dikursi paling belakang sedangkan penumpang yang lain duduk di depan. Bus yang kutumpangi berhenti di sebuah halte dan mengangkut satu penumpang lagi.


Penumpang itu seingatku cukup aneh. Ada aroma busuk yang menguar dari tubuhnya. Dan sialnya kenapa orang itu harus duduk disampingku. Aku mati matian menahan mual.


Hawa yang dikeluarkan oleh manusia pada umumnya adalah hangat karna pada dasarnya manusia itu masih hidup dan bernafas. Namun, tidak dengan tubuh penumpang itu yang mengeluarkan hawa cukup dingin


Aku sempat berpikir bahwa orang itu adalah mayat hidup. Namun, adakah yang semacam itu didunia ini? Aku pun tidak tau dan tidak mau tau.

__ADS_1


Perjalanan saat itu benar benar terasa lama. Aneh bukan? Padahal harusnya jarak halte tempat penumpang itu naik ke halte berikutnya tak terlalu jauh.


Benarkah? Tapi itulah yang kupikirkan. Entah mungkin perjalanan itu terasa lama karna aku benar benar tidak tahan dengan seseorang disampingku. Orang itu terus menggumamkan kata yang tak kutahu.


Aku pasrah dan mencoba memejamkan mataku. Namun aku kembali membuka mataku saat merasakan getaran hebat dari bawah kakiku. Disusul suara isak tangis dan jeritan minta tolong dari dalam bus.


Ternyata bus yang kutumpangi sudah berada di bibir jurang. Kedua ban depan sudah melayang diatas udara. Jadi sebentar lagi bus ini akan terjun? Jadi sebentar lagi aku akan mati? Benarkah? Aku mulai bertanya tanya pada diriku sendiri.


Ekspresiku masih setenang biasanya walaupun hatiku terus saja panik dan gelisah. Namun sekuat apapun semua orang berusaha untuk menyelamatkan diri bus itu terlanjur jatuh dan terguling.


Semua tubuh melayang dan berputar. Kaca kaca bus mulai retak dan pecah. Aku menyaksikan itu semua dengan mata kepalaku sendiri. Namun ketenanganku tak bertahan lama saat tubuhku mulai terjatuh dan bertubrukan dengan badan bus.


Aku mulai kesulitan bernafas. Kepalaku mulai berdenyut sakit seiring cepatnya bus itu terguling. Namun ada hal yang aneh. Kenapa seseorang yang tadi duduk disampingku tiba tiba menghilang.


Dia lenyap bagai asap. Namun bukan itu yang kupikirkan sekarang. Sepertinya saat bus ini menyentuh dasar ledakan akan terjadi. Saat itu kurasa tubuhku akan hancur bersama bus itu.


Namun belum sempat menyaksikan ledakan yang aku perkirakan. Aku sudah terlebih dahulu tak sadarkan diri saat sebuah kaca menancap tepat diubun ubun kepalaku.


Aku menangis dalam diam saat merasakan tajamnya serpihan kaca mulai menembus kepalaku. Darah segar mengalir dari luka itu. Dan pandanganku mulai memburam hingga akhirnya gelap.


Entah bagaimana caranya tapi aku sudah terduduk sambil menyandar pada pohon pinus besar. Aku melihat bus yang ringsek dan gosong tak berbentuk. Yang lebih mengerikan aku melihat mayat bergelimpangan dengan kondisi yang mengerikan.


Ada yang kakinya terpotong, lehernya tersayat, dan wajah yang rusak akibat kecelakaan itu. Mengerikan? Tentu saja. Bahkan aku sampai harus bolak balik menemui psikolog hampir satu tahun lamanya akibat trauma yang tak kunjung hilang.


Namun, belum terlalu lama aku sadarkan diri. Kepalaku kembali berkunang dan akhirnya kembali tak sadarkan diri. Suara terakhir yang kuingat saat itu adalah jeritan minta tolong dari dalam bus yang sudah hancur diselingi sirene polisi dan ambulans yang mulai berdatangan.


***


Saat itu aku kembali sadar. Aku tau aku berada dimana. Aku berada di rumah sakit dengan perban yang membebat hampir seluruh tubuhku. Separah itukah? Kurasa begitu.


Aku melihat sekeliling yang tampak sepi. Benarkah aku masih hidup? Jika aku sudah mati, aku masih mendengar detak jantung dan juga merasakan hembusan nafasku sendiri.


Setelah sedikit membaik aku dipindahkan ke ruang rawat inap vvip. Di Sana aku melihat kedua orang tuaku yang terus menatapku dengan tatapan sendu. Mamaku terus menangis sambil menyebut nyebut namaku.


Berlebihan? Kurasa. Aku memang tipe manusia yang tidak tau diri. Padahal sebentar lagi nyawaku benar benar akan meninggalkan ragaku. Namun, bagaimana mungkin aku bisa bersikap sesantai itu.

__ADS_1


Setelah pulih dan perban mulai dilepas dari tubuhku. Disitulah hal mengerikan mulai muncul dan mengusik segala ketenanganku selama ini. Awalnya hanya bayangan hitam dan putih yang berseliweran.


Namun, makin lama mereka semakin berani menunjukkannya. Entah siang atau malam mereka tak menggunakan waktu untuk menunjukkan diri. Makhluk makhluk aneh bermunculan silih bergantian dengan wujud yang berbeda.


Ada yang tak memiliki kaki, tangan, bahkan yang terparah tak memiliki kepala. Baunya bermacam macam ada yang amis, busuk, dan bau bau yang menjijikan lainnya.


Awalnya? Sangat takut? Tentu. Bahkan aku sampai terus menjerit dan berkata 'pergi'. Aku tidak pernah berani membuka mata dan terus menutup mataku. Setiap membuka mata selalu ada saja hal yang membuatku bertatapan langsung dengan sesuatu yang tak pernah kuharapkan.


Tapi itu semua telah berlalu. Aku sekarang sudah terlalu terbiasa dengan semua hal. Aku yang tertutup semakin tertutup dan semakin mengisolasi diri dari manusia Jadi seperti itulah awal mula, aku memiliki kemampuan yang tak pernah kuharapkan.


Kini tak hanya kakiku yang terasa berat. Tapi pundak dan leherku mulai terasa berat. Jalanku menunduk, semakin lambat dan nafasku semakin terengah.


Aku melirik sekilas dan mendapati seorang perempuan dengan wajah hancur yang mengaitkan tangannya di leherku. Kedua hantu itu memang pemalas dan tak mau jalan sendiri.


Aku berhenti berjalan saat berada diujung tangga. Seseorang lewat dan berhenti tepat di sampingku. Aku tidak menoleh dan tak memedulikan orang itu.


"sering ketempelan bisa ngebuat kamu cepat mati loh" ucapnya lalu berlalu begitu saja.


Aku menghela nafas dan menatap balik wajah wanita yang lehernya mulai memanjang dan balik menatap mataku. Aku tersenyum sinis dan memelototinya.


"pergi" wanita itu tersenyum dan menampakkan semua gigi taringnya yang hitam. Lalu lenyap begitu saja menjadi asap.


Aku kembali menatap anak kecil itu dan mengucapkan kata yang sama. Tak berselang lama anak kecil itu juga menghilang menjadi kepulan asap.


Setelah merasa ringan. Aku meregangkan tubuhku yang benar benar terasa pegal. Aku sudah terbiasa mengalami ini. Ya, kebiasaan buruk yang sebenarnya harus dihilangkan.


Saat sudah sampai dikelas aku langsung duduk di tempat dudukku. Dan membuka sebuah buku yang aku bawa. Aku mulai membukanya dan membacanya.


Aku larut dalam buku bacaanku. Hingga seseorang datang dan menyentuh bahuku. Aku mendongak dan menatap siapa yang menyentuhku. Ketua kelas, dia tengah tersenyum ke arahku. Aku menatap tangannya yang masih bertengger di bahuku. Dia langsung menariknya.


"maaf abisnya aku udah panggil panggil kamu tapi kamu tetep diem" aku mengangguk mengerti.


"tugas kimia milik kamu udah jadi? Mau aku kumpulin soalnya" aku menoleh, ternyata kelas sudah ramai. Sejak kapan? Selama itukah aku membaca buku?.


Aku menutup buku yang kubaca dan mengeluarkan buku lainnya. Buku kimia itu ku periksa sekali lagi dan setelah itu kuberikan buku itu ke ketua kelas.

__ADS_1


Dia tersenyum dan pamit dari hadapanku. Aku menghentikan aktivitasku dan kembali memasukkan bukuku. Aku berdiri dan keluar dari kelas.


__ADS_2