
"aku tau kamu ngerasa nggak nyaman. Tapi aku nggak peduli. Kenapa aku harus peduli akan hal itu?" kenzo meringis saat darah mulai menetes dari matanya seperti sebuah tangisan.
"aku bakal terus ngebuat kamu nggak nyaman. Aku pengin liat kamu ngrasain sesuatu yang orang orang sebut 'nggak nyaman' selamanya" kenzo terbatuk. Dia memuntahkan banyak sekali darah.
"kalau kamu pikir aku kenzo yang asli. Itu artinya kamu naif banget" kenzo berkata lagi. Aku benar benar terbungkam.
"kamu mau tau siapa aku?" kenzo tersenyum.
"arggghhhh" aku terbangun dengan nafas memburu. Sesaat aku merasakan pusing yang begitu hebat sebelum akhirnya aku kembali tersadar.
Aku menoleh dan menatap kenzo yang juga tengah menatapku dengan tatapan khawatir. Aku menjauh saat kenzo hendak mengulurkan tangannya kepadaku. Kenzo tampak kebingungan.
Sepertinya aku baru saja bermimpi buruk. Namun itu terlalu nyata sampai setiap kejadian itu masih berbayang didalam kepalaku. Aku ini kenapa sebenarnya?. Akhir akhir ini kenapa terus terjadi keanehan pada diriku sendiri.
Apa karna terlalu kelelahan? Mungkin. Tapi kejadian mengerikan itu membuatku sedikit ngeri melihat kenzo. Walau semua itu hanyalah sebuah mimpi. Aku memutuskan untuk menjauhi kenzo sementara ini.
***
Setelah kucari tau ternyata aku pingsan saat jam pelajaran. Kenzo yang membawaku ke uks. Dan saat bermimpi ternyata aku masih berada di sekolah.
Aku mengetahuinya dari guruku. Saat beliau menanyakan tentang keadaanku. Beliau menjelaskan tentang kejadian yang sama sekali tak bisa kuingat.
Aku belum sempat mengucapkan terimakasih pada kenzo. Aku sudah terlebih dahulu menjauhinya. Dia selalu mengikutiku tapi aku mendiaminya. Benar benar menjauhinya. Aku kembali bersikap dingin pada semua orang.
Egois memang. Tapi sejak awal aku dan kenzo tidak dekat. Hubungan kami hanyalah sebatas simbiosis mutualisme antara makhluk hidup saja. Tidak lebih.
Keputusan ini kubuat sepihak. Membuat kenzo kebingungan dan selalu bertanya apa salahnya? Sehingga aku tiba tiba saja menjauh dan mendiaminya. Tapi aku tidak peduli dengan perasaannya. Aku ingin seperti semula.
Sendirian dan terus sendirian. Karakter kenzo terlalu berlawanan dengan karakterku. Aku membencinya. Benar benar membencinya. Kenzo itu muka dua dan menyebalkan. Dia tidak pernah menjadi dirinya sendiri.
Aku menghentikkan langkahku. Didepan kenzo yang mencegatku, menatapku dengan sorot rumit. "apa salah aku sama kamu?" aku mengabaikannya.
"kenapa kamu tiba tiba kayak gini?" kenzo semakin bingung..
Aku tetap mengabaikannya. Aku berjalan lalu berhenti tepat disebelahnya. Perlahan bibirku terangkat memperlihatkan sunggingan hampa.
"anggap aja kamu baru aja di campakkin" setelah mengatakannya aku kembali berjalan meninggalkan kenzo. Kenzo tak tinggal diam, dia mengejarku. Aku berhenti melangkah. Aku muak.
"kenapa aku harus dicampakkin saat aku nggak ngelakuin kesalahan apapun?" kenzo bertanya dengan nada putus asa.
"kamu nggak harus ngelakuin kesalahan buat dicampakkin. Jadi mulai sekarang berhenti buat ikut campur dan ngedeketin aku lagi. Kamu tau aku bener bener muak sama kamu" aku menghela nafas berat. Lama tak berbicara sepanjang ini membuatku lelah. Tapi aku harus menjelaskannya agar kenzo benar benar mau menjauh.
"siapa kamu? Siapa kamu? Siapa kamu berani nyuruh aku ini dan itu? Kamu pikir kamu hebat? Nggak sama sekali. Aku juga benci kamu dan mulai sekarang aku nggak bakal lagi ikut campur sama hidup kamu. Kamu kan suka sendirian, aku bakal ngeliat kamu hancur dalam kesendirian itu" kenzo berbalik dan pergi. Aku menghela nafas lega. Seakan beban yang selalu memberatkan punggungku terangkat begitu saja. Aku kembali melanjutkan langkahku.
__ADS_1
***
Aku keluar dari rumah sakit. Hari ini hujan turun dengan derasnya walau masih pagi. Aku baru selesai melakukan konsultasi dengan dokter. Aku memeluk tubuhku sendiri. Bahkan jaket tebal yang membalut tubuhku, tak mampu menghalau hawa dingin yang berhembus.
Aku meringis saat mengingat perkataan dokter beberapa waktu yang lalu. Aku difonis mengidap penyakit jantung kronis. Tak tersembuhkan. Sebenarnya penyakit ini memang sudah ada, hanya saja aku selalu lupa akan keberadaannya.
Dadaku sering terasa sesak, walau aku jarang menunjukkannya. Aku memang memiliki jantung yang tidak baik sejak kecil. Aku sakit sakitan sejak kecil. Namun penyakit ini semakin parah setelah mengalami kejadian menyakitkan beberapa tahun lalu.
Sudah kubilang. Beberapa kali aku mencoba untuk mengakhiri hidupku. Bagiku hidupku memang terlalu sia sia. Kebahagiaan yang kurasakan selalu semu dan itu membuatku benar benar muak.
Tak ada salahnya untuk mengakhirinya lebih cepat kan?.
Tapi bagaimana dengan dendam yang semakin membuat dadaku terasa sakit dan sesak. Haruskah kulepaskan saja?. Haruskah aku membalaskannya sebelum aku benar benar kehilangan kesempatan itu.
Aku menangis sesenggukan didepan rumah sakit. Tangisku teredam hujan. Tak ada aktivitas didepan rumah sakit karna sedang hujan. Masalah penyakitku sebenarnya tidak ada yang mengetahuinya.
Sejak kecil aku selalu menyembunyikannya. Entah kenapa aku tidak ingin orang lain tau tentang diriku. Aku mulai berkonsultasi dengan dokter sejak umurku 12 tahun. Aku selalu pergi ke rumah sakit sendiri.
Dengan menggunakan uang jajan yang selalu kutabung membuatku bisa melakukannya sendiri. Awalnya dokter tidak mengijinkan konsultasi sendiri pada anak sekecil itu. Namun aku mengatakan bahwa aku harus melakukannya sendiri agar orang lain tidak perlu kesusahan karena diriku.
Aku meremas plastik berwarna bening yang berisi beberapa botol obat dengan jenis dan warna berbeda. Aku mengatur nafasku, aku mencoba menyadarkan diriku. Tak ada gunanya menangis. Semua hal memang terjadi bukan karna kebetulan. Semua sudah ditakdirkan bukan?.
Perlahan bibirku membentuk lengkungan. Aku tersenyum manis. Akhirnya....... Akhirnya...... Aku menemukan cara paling mematikan untuk membalas dendam. Sudah cukup untuk mengetahuinya dan menahannya sendirian.
Aku akan membuat kedua orang tuaku terus dibayangi dengan rasa penyesalan. Penyesalan telah membuangku dan penyesalan terlambat mengetahui kondisiku yang sebenarnya. Aku akan menghancurkan hidup keduanya hingga mereka tak lagi mampu untuk membuka mata.
Aku akan merebut kembali apa yang sudah direbut dariku. Aku akan menghancurkan nano sampai dia bisa mengerti kenapa kebencianku padanya begitu dalam. Aku ingin dia membuka mata dan melihat kenyataan. Dan sadar dimana tempatnya seharusnya.
Aku tau balas dendam adalah kesalahan. Aku sangat mengetahuinya. Tapi aku tidak ingin merasakan akibat dari perbuatanku sendirian. Aku harus mengajak mereka semua untuk menderita bersama.
Hujan tak kunjung reda. Aku semakin memeluk tubuhku yang kian menggigil. Aku lupa membawa syal. Aku tidak terkejut saat seseorang mengulurkan jaketnya untukku.
Lagi lagi kenzo melihat kelemahanku. Aku menoleh dengan mata sembabku. Aku memberikan sorot dingin kearah kenzo. Kenzo berekspresi datar. Melihatku yang tak kunjung mengambil jaketnya. Kenzo menghela nafas dan menyelimutkan jaketnya ke tubuhku.
"kamu itu lemah. Jadi jangan sok kuat" kenzo mencibir.
"kamu itu nggak tau apa apa. Jadi lebih baik diem aja" kenzo berdecih saat aku menjawab ucapannya.
"kadang aku nggak habis pikir" kenzo menghela nafas panjang.
"emang kamu pernah mikir?" tanyaku kejam. Kenzo meringis sambil menggeleng.
"bisa bisanya aku suka sama cewek aneh. Individualist, intovert parah, kejam, narsistik. Biasanya di dongeng pangeran jatuh cinta sama tuan putri yang anggun, baik hati, dan ramah. Tapi disini pangeran jatuh cintanya sama nenek sihir yang buruk rupa dan jahat" kenzo mengoceh. Aku meliriknya sekilas.
__ADS_1
"kamu nganggep diri kamu pangeran?" kenzo tertawa kecil. Tangannya terulur dan mengelus puncak kepalaku lembut.
"tapi sekarang nenek sihir yang aku suka sakit. Dan kemungkinan besar bakal cepet mati"
"bukannya omongan kamu udah keterlaluan?"
"aku belajar dari kamu" kenzo tertawa kencang. Dia ternyata jauh lebih aneh dari perkiraanku.
"mau aku anterin pulang?" tanya kenzo sambil tersenyum manis.
"nggak" jawabku cuek.
"mau pulang sendiri?"
"iya"
"mau jadi pacar aku?"
"nggak"
"mau jadi ibu dari anak anak aku?"
"nggak" kenzo tertawa garing. Kenzo bejalan dan berdiri didepanku. Dia mempertepis jarak.
Sebuah ciuman mendarat tepat di kening ku. Untuk pertama kalinya ada cowok yang melakukannya padaku. Aku tidak tau harus merespon dengan reaksi seperti apa jadi aku memilih untuk diam saja.
Kenzo memelukku posesif seakan aku ini miliknya. "selamanya kamu milik aku" kenzo berkata dengan raut serius.
"mimpi itu lagi" aku terbangun karna mimpi buruk yang baru saja aku alami. Bisa bisanya mimpi menggelikan itu terus berulang disetiap tidurku.
"sayang, udah aku bilang berapa kali sih. Kalau semua itu nyata bukan mimpi" seseorang naik keatas tempat tidur. Mendekat dan memelukku erat.
"aku lupa. Ternyata itu kenyataan yang bahkan lebih mengerikan dari mimpi buruk" kenzo cemberut. Ia semakin mempererat pelukannya.
"sayang. Udah lama sejak kita lulus sma loh. Mulut kamu masih suka jahat aja, jadi pengen cium" kenzo memajukan bibirnya. Aku mendorong wajah kenzo menjauh.
"kamu aja yang mesum" kenzo berdecih lalu melepaskan pelukannya. Kenzo tersenyum manis.
"kayaknya nggak ada deh cowok yang semental baja aku buat nikahin nenek sihir kayak kamu" aku memukul kepala kenzo pelan.
"tukang kdrt lagi" lanjutnya semakin songong.
"kayaknya aku cewek baik yang mau dinikahin sama cowok aneh model kamu"
__ADS_1
"sayang jangan keterlaluan ah. Nanti kamu aku hukum loh" kenzo mengulas senyuman jahat. Kenzo memang masih se misterius itu.