
Ya, walaupun aku akan kesepian setelah itu. Tapi tidak apa, aku cukup puas bersamanya untuk waktu yang lama. Aku sakit hati karna orang tuaku tidak menemaniku selama aku dirawat.
Tapi lagi lagi aku yang naif memaklumi semua itu. Aku akan cukup senang saat esoknya kembali bertemu dengannya. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama saat aku mengetahui semuanya.
Saat itu aku sedang tertidur. Tidak, lebih tepatnya aku hanya memejamkan mataku. Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Walau didalam kamarku sunyi aku tau karna angin berhembus kencang dengan cahaya petir yang kulihat dari balik jendela.
Aku takut, karena itulah aku memejamkan mataku. Sayup sayup terdengar suara langkah kaki masuk kedalam ruanganku. Diselingi suara kedua orang tuaku yang saling menyahut membicarakan berbagai hal.
Aku ingin bangun, namun aku sudah berjanji untuk tidur agar pagi cepat datang dan aku bisa bertemu lagi dengannya.
"kamu yakin bakal ngerahasiain hal sebesar ini dari nina, gimana kalau nanti nina tau. Dia pasti bakal sangat terluka pa" ucap mamaku dengan nada pelan.
"apa kalau nina tau, nina bakal nerima nano?" papaku menjawab pertanyaan mamaku dengan nada sendu. nano? Siapa nano? Cowok yang selalu bersamaku? Aku bahkan tidak tau siapa namanya.
"tapi cepat atau lambat nina bakal tau kalau kita ngadopsi nano buat jaga jaga kalau terjadi sesuatu sama nina" terjadi sesuatu? Jadi mereka dengan semudah itu ingin menggantikan keberadaanku.
Saat itu aku ingin segera bangun dan menanyakan apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun entah kenapa sekujur tubuhku mendadak kaku. Hanya air mataku yang terus jatuh membasahi bantalku.
Setelah mendengarkan percakapan kedua orang tuaku malam itu. Aku tidak lagi ingin bermain dengan seseorang yang pernah kuanggap sebagai sahabat itu. Keseharianku di rumah sakit hanyalah melamun, melamun, melamun, dan menangis.
Hingga pada akhirnya aku keluar dari rumah sakit dan pulang. Aku tidak diperbolehkan pulang ke rumahku, lebih tepatnya aku dititipkan di rumah nenek dan kakekku. Orang tuaku beralasan akan pergi ke luar kota.
Jarak rumahku dan rumah kakek nenekku lumayan jauh. Tapi aku bukan lagi bocah sd yang bisanya hanya menangis. Suatu hari setelah pulang sekolah aku diam diam pergi ke rumahku sendiri. Aku mengendap endap masuk.
Saat itu aku meminta agar pembantu di rumahku merahasiakan kedatanganku. Aku masuk lewat pintu belakang bersama pembantuku. Aku ingin membuat surprise untuk kedua orang tuaku, namun kalian tau apa yang aku lihat?.
Saat itu jam menunjukkan pukul lima sore. Aku melihat papa, mama, dan anak laki laki yang selalu mengunjungiku tengah berada di ruang keluarga sambil menonton tv bersama. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Tanpa aku tentunya.
Dadaku menyesak melihat pemandangan itu. Air mataku langsung jatuh dari pelupuk mataku. Aku menangis dalam diam. Sakit sakit sakit. Aku memukul mukul dadaku agar tangisanku cepat mereda.
Niat hati ingin memberikan surprise pada mama dan papa ternyata justru aku yang menerima surprise. Tangisanku tak kunjung mereda dan justru aku semakin terisak melihat pemandangan itu.
Saat itu mama menoleh dan terkejut mendapati keberadaanku yang tengah menangis. Mama langsung melihat kearah papa dan mengatakan sesuatu lalu mereka berdua langsung berjalan menghampiriku.
"nina kamu kapan datengnya? Kenapa nggak bilang bilang?" tanya mamaku dengan senyum manisnya. Kenapa aku harus mengatakan sesuatu? Ini kan rumahku!. Namun aku tidak berani menyuarakan isi hatiku. Aku terlalu pengecut.
__ADS_1
Seketika air mataku langsung berhenti mengalir. Namun dadaku justru terasa semakin sesak. Samar samar aku mengukir sebuah sunggingan. "surprise" mama dan papaku terdiam.
Aku langsung berlari keluar dari rumah. Aku menabrak apa saja yang ada didepanku. Mama dan papaku terkejut dan langsung berlari mengejarku.
Tiba didepan gerbang karna satpam tak kunjung mau membukakan gerbang. Aku memanjat gerbang tinggi dan jatuh. Kakiku saat itu kesleo tapi aku tetap memaksa untuk berlari.
Hingga pada akhirnya aku melihat sebuah cahaya terang, yang perlahan lahan mendekat kearahku hingga akhirnya menubruk tubuhku. Aku terpental begitu jauh. Kepalaku membentur trotoar. Darah mengalir dari belakang kepalaku.
Inikah akhir dari hidupku? Setelah selamat dari kematian apakah ini akhirnya? Aku hanya bertahan untuk beberapa saat. Pandanganku mulai mengabur hingga akhirnya menggelap. Namun sayup sayup terdengar suara orang berlarian dan meminta tolong.
***
Saat terbangun lagi lagi aku berada di sebuah ruangan serba putih. Perban yang sudah dilepas kini kembali melekat di kepalaku. Menyedihkan. Aku melihat mamaku yang terus menangis tanpa henti sambil merapalkan permintaan maaf secara berulang.
Saat aku terbangun dari koma, aku sedikit tersentuh melihat kedua orang tuaku yang sedang menangis. Namun, kali ini tidak sama sekali. Ekspresi palsu itu menjijikan. Rasanya aku ingin memutus nadi kedua orang tuaku sebagai balasan karna mereka telah mengkhianatiku.
Namun aku masih mencoba untuk berpikir normal dan menerima kenyataan. Kakek dan nenekku ada disana. Mereka juga ikut menangis. Tapi sepertinya mereka tau semua yang terjadi saat aku koma. Hanya aku, hanya aku yang tidak mengetahuinya.
Perasaan marah dan kecewa semakin bergejolak saat melihat anak laki laki itu. Dia tidak berekspresi sama sekali saat melihatku terbujur kaku. Dia pasti senang!.
Lagi lagi aku menerimanya. Aku diajak pulang ke rumahku sendiri. Walau sulit aku akan mencoba berlapang dada dan menerimanya. Lagipula tidak ada gunanya membantah, semua sudah terjadi.
Semua kembali normal. Tidak ada yang berubah kecuali satu hal. Aku tidak akan pernah mempercayai manusia manapun lagi didunia ini. Aku dan hati kecilku sudah dipenuhi dendam dan kebencian sejak saat itu. Namun aku lebih memilih diam dan menahannya.
Aku akan menyiksa semua orang yang telah mengkhianatiku dengan caraku sendiri.
Setelah aku pulang ke rumah, aku banyak diam dan sering melamun. Aku lebih sering mengabaikan keberadaan mereka semua. Awalnya aku baik baik saja sebelum semuanya kembali berubah menjadi semakin rumit dan menyebalkan.
Bocah yang telah mengambil keluargaku itu, entah kenapa mudah sekali ketempelan. Awalnya aku ragu tapi saat aku menyentuhnya semua makhluk yang menempelinya hilang menjadi kepulan asap.
Aku senang karna akhirnya tanpa kusentuh anak itu akan mati karna kehabisan energi dan kehilangan diri. Tapi seakan dunia tidak mengijinkanku untuk menikmati pertunjukkan menyenangkan ini.
Setiap kali dia ketempelan, selalu saja ada hal yang membuatku menyentuhnya. Lama kelamaan orang tuaku menyadari dan mengetahui kemampuan yang kumiliki setelah bangun dari koma.
Semenjak itulah mereka selalu menyuruhku untuk menjaga anak sialan itu. Mereka tidak peduli jika aku yang mati karna terlalu lemah melawan makhluk makhluk itu. Mereka egois dan menyebalkan.
__ADS_1
Namun ini tidak adil untukku. Aku dan jiwa penuh kebencianku mulai bersatu dan memikirkan banyak hal jahat untuk menyingkirkan anak itu. Tapi tentu saja tidak semudah itu.
Aku mulai kehilangan diriku. Aku mulai memikirkan banyak hal jahat. Seiring dengan bisikan roh jahat yang ingin menguasai tubuhku.
Aku mulai kehilangan kendali atas diriku. Aku mulai menyakiti diriku sendiri, dari mulai memukul, menjambak rambutku, menyayat nyayat bagian tubuhku, hingga yang terparah melilitkan tambang ke leherku.
Namun aku kembali berpikir. Kenapa aku harus menyakiti diriku saat semua orang menutup mata untuk itu. Kenapa aku harus menyakiti diriku saat aku bisa menyakiti orang lain. Aku muak hanya dijadikan alat dan tameng untuk bocah sialan itu. Ini terlalu tidak adil dan aku harus membalasnya!.
Tiba disuatu waktu aku berhasil menyakiti nano kesayangan semua orang. Aku tidak berhasil membunuhnya tapi setidaknya aku puas dengan menyakitinya saat itu.
Aku berhasil mengajaknya keluar bersama. Dan tanpa rasa bersalah aku mendorongnya terjun dari atas sebuah jembatan. Sayangnya tubuhnya jatuh kedalam air bukan diatas batu. Jadi dia masih hidup meskipun kondisinya kritis.
Saat itu orang tuaku tak terlalu menyadarinya. Hingga kejadian kedua terjadi saat aku mulai mencelakainya lewat hal hal kecil. Saat orang tuaku sadar semua kembali berimbas padaku.
Tidak dimarahi tapi langsung dimasukkan kedalam panti rehabilitasi. Aku difonis mengidap gangguan mental depresi. Setiap hari yang kualami hanyalah siksaan di panti rehabilitasi itu.
Kejut listrik, obat penenang, bius. Sudah menjadi teman bagiku untuk waktu yang lama. Aku harus mengalami semua itu selama 6 bulan. Penyiksaan tanpa akhir itu....... Hanya aku yang merasakannya.
Andai. Andai. Andai mereka tidak mengkhianatiku, berbalik memunggungiku dan meninggalkanku. Andai mereka mau membuka mata dan melihat kenyataan bahwa akulah anak mereka.
Tapi tentu saja kebahagiaan yang mereka rasakan selama 6 bulan tanpaku akan aku balas dengan siksaan yang berkali kali lipat. Setelah aku keluar dari panti rehabilitasi akan kubuat hidup mereka menjadi alam siksa setiap detiknya.
Hingga tiba saatnya aku bebas dari jeruji yang membelengguku selama ini. Dengan cara berpura pura agar cepat dibebaskan. Aku berpura pura baik baik saja dengan memasang wajah yang ceria agar cepat keluar dari sana.
Setelah keluar dari panti rehabilitasi aku memutuskan untuk tinggal di salah satu rumah milik kakekku.
Akhirnya....... Aku menyunggingkan bibirku saat tiba didepan sebuah bangunan. Pembalasan akan segera dimulai........
***
"apa mau kamu?" aku berhenti didepan rumahku. Aku menoleh dan mendapati kenzo berdiri tak jauh dariku.
"apa?rumahku emang disekitar sini kok" aku berdecih lalu kembali berjalan. Aku membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Saat hendak kembali menutup pintu kenzo menahannya dan langsung masuk kedalam rumahku.
Aku menatap kenzo dingin.
__ADS_1