MUAK

MUAK
episode 5


__ADS_3

"apa?rumahku emang disekitar sini kok" aku berdecih lalu kembali berjalan. Aku membuka pintu dan masuk kedalam rumah. Saat hendak kembali menutup pintu kenzo menahannya dan langsung masuk kedalam rumahku.


Aku menatap kenzo dingin. Dia balas menatapku dengan tatapan dingin. Aku tersenyum manis. Perlahan aku mengeluarkan cutter dan mengarahkan cutter itu tepat disebelah leher kenzo.


Kenzo berjengit mundur. "wah kamu emang kayak psikopat" aku menurunkan cutterku kembali.


"kamu tau kamu harus tanggung jawab sama semua lebam yang kamu ciptain?"


"kamu tau kamu punya kaki buat lari waktu aku pukul?"


"wah parah banget harusnya kamu minta maaf. Dan lagi aku masih sakit hati sama omongan kamu tempo hari" kenzo berjalan mendahuluiku dan duduk diatas sofa. Aku masih melihatnya saat celananya yang basah mulai membasahi sofaku.


"dasar double face"


"aku aslinya emang kayak gini. Disekolah aja keliatan teladan" aku mendengus lalu langsung masuk kedalam kamarku.


Aku kembali dengan handuk bersih, sweater dan training. Aku meletakannya didepan kenzo. "kamu boleh pakai kamar mandi yang ada di kamar tamu. Aku benci ngeliat kamu yang udah bikin basah sofa aku"


"bilang aja kamu takut aku kena flu kan?"


"kalau begitu lebih baik kamu pergi sekarang"


kenzo tersenyum miring lalu bergegas masuk kedalam kamar tamu setelah kupersilahkan. Sedangkan aku masuk ke kamarku sendiri untuk membersihkan tubuhku.


30 menit kemudian aku sudah melihat kenzo kembali duduk di sofa ruang tamu. Ternyata lebam diwajahnya lumayan parah juga. Tapi aku tidak merasa menyesal telah memukulinya.


Aku berjalan menghampiri kenzo dengan kotak p3k ditanganku. Aku memberikannya pada kenzo. Kenzo merengek minta diobati, namun aku menolaknya. Perutku sudah sangat lapar.


Aku berjalan masuk kedalam dapur dan meninggalkan kenzo. Tiba tiba kenzo berada dibelakangku saat aku memasukkan mie kedalam panci.


"kamu nggak cuma minta diobatin kan? Tapi juga minta makan?" tanyaku dengan nada sinis.


"iya" jawabnya tanpa malu


Setelah mie matang dan disajikan. Akhirnya dengan sangat terpaksa kami berdua makan bersama di meja makan. Kenzo itu...... Seperti tunawisma yang kelaparan dilihat dari caranya makan yang terburu buru.


"kamu tau etiket yang baik waktu makan? Pelan pelan" kenzo menghentikkan aktifitas makannya dan menatapku sejenak lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.


Setelah selesai aku meletakkan semua piring kotor juga panci kedalam wastafel dan langsung mencucinya. Sedangkan kenzo membuka kulkas dan melihat lihat isi didalamnya.


"selain nggak punya malu, ternyata kamu juga pencuri ya" kenzo berhenti meminum susu yang diambilnya dari dalam kulkas.


"aku nggak bakal minta maaf tapi makasih" kenzo kembali menutup kulkas.


Setelah selesai mencuci piring dan tangan. Karna bosan dengan kenzo yang terus merengek akhirnya aku mau mengobatinya. Walau aku benar benar tidak menyesal telah memukulinya.


"kapan kamu mau pergi?" tanyaku sambil mengemasi kotak p3k. Sekarang sudah pukul setengah tujuh malam. Walau hujan belum kunjung reda.


"kamu nggak takut kesepian kalau aku pergi?" kenzo bertanya dengan nada sok imut.

__ADS_1


"aku selalu kesepian dan aku nggak masalah" kenzo tercenung mendengarkan pernyataanku.


Akhirnya kenzo mau pulang setelah kupaksa dan kuusir berkali kali. Aku meminjamkannya payung. Namun aku berharap tubuhnya basah kuyup dan berakhir terkena flu agar besok kami tidak perlu bertemu.


***


Harapanku terkabul. Kenzo benar benar terkena flu. Namun dia terlalu keras kepala dan menyebalkan. Dia berangkat walau wajahnya tampak sangat pucat. Dia bersin bersin selama pelajaran hingga guru menyuruhnya untuk beristirahat di uks.


Dia memang menyebalkan. Dia beralasan bahwa aku bisa merawatnya. Hingga pada akhirnya aku berakhir di uks untuk menemani kenzo yang sedang tertidur pulas.


Tapi ada satu hal baik. Aku tidak perlu bertemu anak terkutuk itu untuk sesaat. Walau begitu aku tetap tidak menyukainya. Aku benci merawat orang lain. Aku tidak peduli meskipun orang itu tumbang didepanku.


"aku benci kamu!" gumamku lirih. Kenzo itu menyusahkan. Walau wajahnya terlihat sangat kesakitan dan tertekan. Aku tidak tersentuh.


Tiba tiba dokter kania menyibak tirai. Ia memberitahuku bahwa ada seseorang yang menungguku di luar uks. Aku mengangguk dan berdiri lalu berjalan keluar dari uks.


Tiba diluar uks aku tidak melihat siapa siapa. Lebih tepatnya aku tidak ingin melihatnya. Dia sangat menjijikan dan mengerikan. ~nano.


Aku kembali masuk namun nano menahan lenganku. Aku tersenyum sinis kearahnya dan menatapnya dengan tatapan menghina. "kenapa kamu nggak mati aja?" ucapku santai lalu menarik tanganku dan masuk kembali kedalam uks.


***


Aku duduk dikelasku saat bel istirahat berbunyi. Kelas kosong. Semuanya keluar. Aku mencatat materi yang masih tertulis di papan tulis. Kebetulan aku tidak terlalu lapar jadi aku tidak perlu ke kantin.


Tiba tiba ada yang meletakkan minuman bersoda didepanku. Itu minuman kesukaanku........ Sekitar beberapa tahun yang lalu. Aku membencinya kini. Setiap melihat minuman bersoda itu kepingan ingatan menyakitkan mulai berkumpul.


"serius kamu mau buang itu?" kenzo datang dan langsung merebut botol soda itu dari tanganku.


"aku benci soda" setelah itu aku langsung kembali kedalam kelas. Kenzo sepertinya sudah jauh lebih baik. Bahkan dia sudah menghabiskan sebotol soda dalam satu kali tegukan.


Aku kembali duduk dikursiku. Meneliti setiap tulisan yang baru saja aku catat. Sebenarnya tidak terlalu perlu. Namun, ini sudah menjadi kebiasaan bagiku.


Kenzo menyodorkan sebuah susu kotak rasa coklat yang sudah dibuka kedepan mulutku. Aku menepisnya pelan agar tidak tumpah.


"kenapa?" tanya kenzo tak mengerti.


"kalau nggak dimasukin racun pasti sedotannya udah nempel sama bibir kamu" jawabku asal.


"kok kamu bisa tau aku udah minum ini?" ketua yang terlihat teladan itu menyimpan berjuta kemesuman. Senyum manisnya itu menyimpan sejuta misteri. Kenzo itu..... Tak terduga dan tertebak.


"kamu tau nggak?"


"nggak" belum sempat kenzo mengajukan pertanyaannya, guru sudah masuk. Kenzo akhirnya kembali duduk di tempat duduknya sendiri.


***


Pulang sekolah aku berjalan seperti biasa. Karna jarak tempat tinggalku dengan sekolah tidaklah terlalu jauh. Awalnya semua biasa biasa saja. Namun, untuk kali ini ada hal lain yang berbeda.


Entah sejak kapan dan kenapa. Kenzo jadi sering mengikuti bahkan menempeliku seperti makhluk halus. Bahkan kali ini ia beralasan sama dengan kemarin. Kenzo berdiri disampingku. Menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki sebelum menyebrang.

__ADS_1


Saat tengah menunggu, tiba tiba kepalaku berdenyut pusing. Pemandangan didepanku mulai berbayang. Aku memegangi kepalaku. Rasa sakitnya kali ini cukup tidak tertahankan. Aku belum pernah merasakan rasa sakit sehebat ini sebelumnya.


Aku membuka mataku dan melihat lampu sudah hijau. Namun ada perasaan yang membuatku enggan untuk berjalan. Kepalaku semakin terasa berat.


Namun aku masih mencoba untuk mempertahankan kesadaranku. Samar samar aku melihat sebuah truk besar yang melaju kencang dari arah belakang.


Entah karna sopirnya lepas kendali atau rem blong. Tapi yang terparah truk itu melaju sangat kencang saat lampu merah sedang menyala untuk kendaraan. Semua orang akan mati dalam kejadian itu.


Benar saja akhirnya truk itu menubruk kencang mobil yang sedang berhenti sampai mobil itu terguling dan bertabrakan dengan orang orang yang sedang berjalan.


Truk itu berputar putar kehilangan kendali dan menabrak apapun yang dilaluinya hingga pada akhirnya berhenti setelah menabrak trotoar. Jeritan kesakitan menggema membuat kepalaku semakin sakit.


Aku menutup mataku karna tak sanggup melihat kejadian mengerikan itu. Tiba tiba suara berat menyapa pendengaranku. Suara yang begitu familier akhir akhir ini.


"nina kamu kenapa? Lampunya udah hijau ayo kita jalan" aku membuka mataku dan melihat kenzo yang sedang tersenyum kearahku.


Aku langsung mengedarkan pandanganku. Tidak terjadi kecelakaan apapun. Semuanya masih baik baik saja dan orang orang menyebrang seperti biasa. Lalu apa yang baru saja aku lihat.


Kepalaku kembali berdenyut sakit. Rasa sakit itu masih berlanjut dan tak tertahankan. Nafasku tersenggal. Darah mulai mengalir keluar dari hidungku.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi denganku?. Kesadaranku perlahan buyar. Hingga pada akhirnya aku benar benar kehilangan kesadaranku.


***


Aku terbangun dirumahku. Diatas tempat tidurku. Aku menghela nafas lega dan bangun dari tempat tidurku. Ternyata semua itu hanyalah mimpi buruk.


Namun, suara dengkuran halus membuatku terkejut. Aku mendapati kenzo tertidur di meja belajarku. Sejak kapan dia ada disini. Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menghampirinya.


Dia tertidur cukup pulas. Aku mengurungkan niatku untuk membangunkannya. Namun saat melangkah pergi kenzo justru terbangun. Waktu yang sangat tepat untuk bangun.


Aku menatapnya dengan tatapan dingin. Kenzo tersenyum sembari mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Wajahnya masih terlihat lesu.


"gimana kalau kita nikah aja?" tanya kenzo dengan wajah berbinar.


"kamu pasti masih tidur" jawabku malas.


Kenzo melenguh dan kembali meletakkan kepalanya diatas meja dengan tangan sebagai bantalannya.


"biarin aku tidur 10 menit lagi, aku capek" aku mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkan kenzo. Setelah selesai membasuh wajah dan menguncir ulang rambutku aku berinisiatif untuk mengusir kenzo keluar dari rumahku.


Saat kembali kenzo sudah bangun dari tidurnya. Aku duduk di ranjang sedangkan kenzo masih tetap duduk dikursi meja belajarku.


"jadi kapan kamu mau pergi dari sini?" tanyaku to the point.


"bentar lagi"


"kamu tau kenapa aku tiba tiba ngajak kamu nikah?" tanya kenzo lagi. Aku mengendikkan bahu tidak peduli.


"aku rasa di masa depan kamu bisa ngelindungin aku. Aku rasa juga aku bisa ngehasilin bibit yang unggul" kenzo itu memang suka ngelantur dan tidak jelas

__ADS_1


__ADS_2