
Jam pertama akan dimulai lima belas menit lagi. Aku berjalan keluar dari kelasku. Aku hendak pergi ke toilet untuk mencuci tanganku.
Namun baru saja membuka pintu toilet ada seorang siswi yang menubrukku dari dalam. Tubuhnya basah kuyup, matanya merah, dan suaranya serak.
Aku mencoba menyingkirkan tubuh siswi itu yang justru memeluk erat tubuhku. Aku tidak peduli meskipun dia sedang ketakutan setengah mati. Lagipula ini kan bukan urusanku.
Setelah siswi itu mau melepaskan pelukannya. Aku menatapnya dengan tatapan dingin. "m....mmm...maaf" ucapnya dengan bibir bergetar.
"lebih baik kamu temuin dokter di uks, kayaknya kamu lagi kurang sehat" setelah mengatakan hal itu aku bergegas masuk. Namun, dia malah menarikku membuat tubuhku sedikit tertarik ke belakang.
"jangan masuk.... Disitu" ucapnya dengan raut memohon, matanya mulai kembali berkaca kaca. Namun aku menepis kasar tangan gadis itu.
"ini bukan urusan kamu" setelah itu aku langsung masuk kedalam toilet yang tidak ada siapapun didalamnya.
Aku menghela nafas berat. Seseorang. Bukan bukan, dia makhluk halus. Energinya lemah tapi dia tidak bisa diremehkan juga. Fisiknya tidak hancur dan tidak berbau busuk. Namun saat berada didekatnya aku merasakan rasa tidak nyaman yang luar biasa.
Setelah selesai mencuci tangan aku menutup kran dan menatap lurus kearah kaca. Hanya ada pantulan bayangananku disana.
"kamu lihat aku kan?" tanya makhluk itu. Aku mengabaikannya.
"kamu gadis yang membosankan. Tidak menarik seperti gadis yang baru saja keluar" aku kembali mengabaikannya. Aku berjalan dan hendak keluar dari toilet. Namun pintu tiba tiba tertutup sendiri dan terkunci.
Beberapa detik kemudian makhluk itu sudah berdiri diatas pundakku. Berat? Tentu saja. Aku sampai harus berpegangan pada pintu agar tubuhku tidak ambruk.
"berani sekali makhluk rendah sepertimu mengabaikanku" aku tersenyum sinis dan mendongakkan kepalaku.
Netra kami saling menumbuk. Aku tersenyum sinis. "jangan ngelawan tabu kalau tidak ingin lenyap"
"cih, menyebalkan" makhluk itu lenyap. Dan pintu toilet kembali berfungsi.
Aku berjalan kembali menuju kelasku. Baru beberapa menit aku duduk guru yang mengajar dikelasku masuk. Namun atensinya langsung terarah padaku, begitupula anak anak dikelas. Kenapa?.
Sang guru berjalan mendekat kearahku. Dia menatapku dengan tatapan khawatir. "kamu lebih baik ke uks" suruhnya.
"saya baik baik saja" jawabku sopan.
"kamu tidak mungkin baik baik saja. Lihat bahu kamu" aku menoleh kearah bahu sebelah kiri dan kananku. Dan mendapati seragamku yang sedikit sobek dengan lumuran darah yang terus mengucur dari luka itu. Sejak kapan?.
Seseorang datang dan menyelimutkan sebuah jaket untuk menutupi bahuku. Aku mendongak dan mendapati ketua kelaslah yang melakukannya. Dia tersenyum ramah kearahku.
"tolong kenzo antarkan nina ke uks" suruh guru sejarah itu pada ketua kelas.
"baik bu" kenzo mengangguk dan langsung menggenggam lenganku dan menarikku. Aku tidak bisa melawan karna memang luka di bahuku mulai terasa perih.
Saat keluar dari kelas, kenzo melepaskan tanganku. Dia masih saja tersenyum. "bisa berhenti buat senyum?"
"eh" kenzo nampak terkejut. Namun, aku biasa saja. Reaksi seperti ini sudah aku perkirakan akan ditunjukkannya.
"kamu menyebalkan" kenzo terkekeh. Apanya yang lucu?.
"bagi aku senyum udah kayak nafas. Berbeda sama kamu yang nggak pernah senyum justru aneh dimata aku" kenzo mulai berbicara. Ia masih terus berjalan dibelakangku.
"tapi aku suka kamu. Kamu itu beda dari yang lain. Cuma aku nggak tau aku punya rasa suka kagum atau rasa suka sebagai pria dan wanita ke kamu" kenzo memalingkan wajahnya saat aku menoleh kearah belakang.
"tapi aku nggak suka kamu" jawabku skeptis.
__ADS_1
"aku udah duga sih. Kayaknya kamu emang nggak pernah suka sama siapapun"
"kamu muji atau ngehina?" kenzo menggaruk belakang kepalanya salting.
Aku sudah sampai di uks. Ada dokter disana. Dokter itu terlihat pucat begitupula tatapannya sangat kosong. Rupanya ada sesuatu yang menggelayuti lehernya.
Aku tidak peduli dan langsung duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan dokter tersebut. Aku langsung membuka jaketku. Dokter itu tampak tak terkejut dan seperti dokter pada umumnya, ia membimbingku untuk duduk di brankar.
Setelah menutup tirai dokter langsung mengobati lukaku. Dokter itu perempuan yang masih muda. Parasnya cantik walau tatapan matanya kosong. Kania namanya. Aku tau bahwa otak manusia mudah sekali berspekulasi dan menyimpulkan sendiri. Dia bukan laki laki seperti yang sebagain dari kalian pikirkan.
Setelah selesai mengobati luka aku disuruh untuk beristirahat dahulu. Tirai itu masih tertutup. Tiba tiba suara langkah kaki mendekat kearah brankar dimana aku beristirahat.
Aku tau dia siapa meskipun sedang memejamkan mata. "pergi"
"jahatnya..." aku tersenyum sinis dan akhirnya membuka mata. Aku baru mengetahui bahwa kenzo memiliki sisi seperti ini.
"gimana kamu bisa tau ini aku?" tanyanya dengan raut polos.
"bau kamu" kenzo sedikit terkejut dan mengendus membaui tubuhnya sendiri.
"aku nggak bau"
"parfum"
"ohh..." kenzo mengangguk mengerti. "Aku baru tau kalau kamu seperhatian itu sama aku. Sampai kamu tau bau aku kayak gimana"
"bau ******" kenzo tertawa. Apanya yang lucu? Cowok ini aneh sekali padahal dirinya sedang dihina.
"lebih baik kamu kembali ke kelas. Kalau kayak gini aku nggak bisa istirahat" usirku dengan nada halus.
"jenuh" jawabku jujur.
"tapi..."
"tapi aku udah biasa. Belajar udah jadi kebiasaan bagi aku. Jadi aku nggak keberatan dan udah jadiin itu sebagai rutinitas" aku memotong sebelum kenzo menyelesaikan ucapannya.
"gimana kalau akhir pekan kita keluar?" kenzo menawarkan dengan raut datar.
"kamu ngajak kencan?"
"kenapa harus dibenerin kan aku malu"
"kamu punya malu?" kenzo tertawa lagi. Dia itu sedang memasang ekspresi palsu atau memang dia tipe manusia yang sereceh itu?.
"kamu apa selalu sejahat itu?"
"hm" aku bangkit dari brankar. Memakai sepatu dan berjalan melewati kenzo. Kenzo langsung berjalan mengikutiku.
"kamu mau kemana? Kamu harus istirahat" tanyanya dengan nada panik.
"bukan urusan kamu" kenzo berhasil mensejajarkan langkahnya denganku. Ia memegang lenganku yang membuatku berhenti berjalan.
"berhenti berlagak seakan kita ini akrab. Dan kamu nggak perlu bereksperesi seperti itu. Nggak perlu maksain diri buat seseorang" aku menarik tanganku dan kembali berjalan.
"aku nggak tau kamu sesempurna apa sampai kamu berhak bilang itu sama aku" aku menghentikkan langkahku.
__ADS_1
"aku nggak sempurna tapi setidaknya aku nggak cacat kayak kamu!" setelah mengatakannya aku pergi begitu saja. Ekspresiku datar seperti biasanya, namun anehnya kali ini terbesit rasa sesal telah mengatakan hal sekejam itu pada kenzo yang tidak tau apa apa.
"lagipula ini bukan urusan aku"
***
Setelah kejadian saat itu. Hubunganku dengan kenzo semakin berjarak. Hubungan? Tidak ada yang seperti itu sejak awal. Aku tidak berniat membangun hubungan spesial dengan manusia manapun.
Tapi memang kuakui perkataanku pada hari itu keterlaluan. Tapi aku tidak memiliki niat untuk meluruskan kesalah pahaman itu. Aku membiarkannya karna kupikir itu akan lebih baik. Aku benci saat ada seseorang yang mencoba untuk membuatku bergantung padanya.
Guru masuk kedalam kelas. Kelas yang awalnya riuh menjadi hening. "hari ini ibu punya pengumuman penting". Semuanya hening.
"hari ini akan ada anak baru yang bergabung dengan kalian" seseorang masuk kedalam kelas.
"silahkan perkenalkan namamu pada teman teman barumu"
"halo, saya Nano pindahan dari SMA 0227. Mohon bantuannya" semua anak sekelas menjawab kecuali aku. Nano dipersilahkan duduk di bangku yang sudah disediakan. Setelah itu guru keluar dari kelas dan kelas kembali ribut.
Aku muak dengan suasana seperti ini. Jadi kuputuskan untuk keluar. Sepertinya aku akan ke perpustakaan untuk mengisi jam kosong. Guru yang mengajar mendadak izin karna anaknya yang sakit.
Sadar seseorang berjalan mengikutiku sejak tadi. Aku berhenti berjalan untuk sejenak dan kembali melanjutkan perjalananku. Sesampainya di perpustakaan aku langsung masuk.
Staf yang menjaga perpustakaan tak mengajukan pertanyaan sama sekali. Melihat betapa seringnya aku pergi ke perpustakaan membuatnya mulai tau seperti apa karakterku.
Kutu buku? Mungkin itu julukan yang pas bagiku. Namun staf itu mengajukan pertanyaan pada seseorang yang baru saja masuk kedalam perpustakaan.
Saat menarik buku aku melihat bola mata. Tenang saja, ini bukan hal yang menakutkan. Dia manusia, manusia yang sedaritadi mengikutiku.
"begitukah etika yang ditunjukkan oleh si pintar, anak yang terlahir dengan sendok emas menurut mitos. Tidak sopan sama sekali" aku mengabaikan perkataannya.
"jika kau menjadi artis pasti kau sudah didepak dari agensimu karna terlibat banyak skandal seperti mengabaikan orang lain yang sedang berbicara. Tidak, sebelum itu terjadi kau bahkan tidak akan pernah muncul ke mata publik karna perangaimu yang seperti sosiopat" anak itu banyak bicara. Menyebalkan.
"kak lo kejam banget sih sama adik lo yang kiyowo nan menggemaskan ini" aku berdecih lalu menatap seseorang yang sudah berdiri dihadapanku sejak tadi.
"saya tidak berbicara dengan orang asing"
"jahat banget sama adiknya" dia merengek.
"saya tidak punya adik"
"wah dasar psikopat, bisa bisanya lo nggak ngakuin gue"
"sebelum mengatakannya, bisa terlebih dahulu dicari tau apa itu psikopat"
"gue bakal bilang ini sama mama"
"saya tidak peduli" aku berjalan melewati nano yang berdiri dihadapanku.
"kak lo apa selalu bersikap sekasar dan sedingin ini ke siapapun? Bukannya lo bakal nggak punya temen kalo lo terus kayak gini?"
"saya tidak butuh teman apalagi adik" nano bergetar. Tubuhnya tremor, dari pelupuk matanya mulai menetes cairan bening.
"apa salah gue sama lo kak?" tanyanya lirih. Aku menghentikan langkahku, aku menoleh dan menatap dingin kearah nano.
"kesalahan lo adalah lahir ke dunia ini"
__ADS_1