MUAK

MUAK
episode 9


__ADS_3

Muak#9


Mama, papa, dan pembantu sedang sibuk menyiapkan makanan. Aku terperangah melihat kenzo masuk bersama papa. Saat mata kami bertemu kenzo tersenyum. Tangan kanan dan kirinya menjinjing sebuah paper bag besar.


Papa menyambut kenzo hangat. Papa langsung menyuruh kenzo untuk duduk di kursi makan. Kakek dan nenek ikut berdiri dan berpindah tempat duduk. Keduanya ikut duduk di kursi makan.


Aku mau tak mau ikut pergi dan duduk di kursi makan. Semua sudah berkumpul di meja makan. Kecuali nano. Andai keluarga kami hanya seperti ini. Hanya berlima akankah saat ini keadaan kami baik baik saja?


Namun kata andai dalam dunia nyata tidak ada gunanya. Kata yang dikeluarkan saat seseorang menyesali sesuatu.


Nano turun sambil membawa kado. Dia ikut bergabung bersama di meja makan. Mama tersenyum. Mama kemudian menyalakan lilin yang sudah ada di atas kue.


Lilin pun dinyalakan. Tanpa menunggu semua bernyanyi, berdoa, atau mengucapkan harapan. Aku langsung meniupnya.


Semua nampak canggung namun berakhir dengan tepuk tangan karna tak punya pilihan. Atmosfer meja makan terlalu aneh. Rasanya menyesakkan walaupun tidak terjadi apa apa.


"katanya kamu pacarnya nina? Nama kamu kenzo bener?" tanya papa pada kenzo. Kenzo tersenyum dan mengangguk.


"iya om" jawabnya.


"nano udah cerita banyak soal kamu. Kami harap kamu bisa jagain nina dengan baik" papa mengulas senyum canggung. Aku masih mendengarkan.


"iya om nggak perlu khawatir soal nina" kenzo menjawab sopan.


Semuanya kembali diam.


"kak selamat ulang tahun" nano menyodorkan kado. Namun aku hanya meliriknya tanpa minat.


"sejak kapan kita jadi kakak adik?" tanyaku pada nano. Nano sedikit gugup. Begitupula dengan ekspresi mama dan papa yang ikut berubah.


Mama mengeluarkan boneka beruang besar berwarna pink. Tangan gemetarnya mencoba memberikannya padaku.


"sejak kapan aku pernah suka sama warna pink?" mama mengurungkan niatnya. Dia meletakkan kembali hadiahnya. Dari matanya kembali mengalir butiran butiran bening.


Papa meletakkan sendok makannya. Wajahnya mengeras. Aku tau papa marah tapi aku sama sekali tidak terusik.


"bukannya kamu udah keterlaluan?" papa bertanya dengan nada lebih tegas.


"kalian yang keterlaluan" aku mengulas senyum hampa. "kalian bahkan udah buang aku. Dan sekarang kalian bikin acara buat ngerayain ulang tahun aku seakan itu bisa ngehapus dosa kalian?"


Papaku terdiam. Tangisan mamaku semakin deras. "kalian bahkan nggak pernah tau kalau aku ngidap penyakit jantung dari kecil"


Kini semua orang ternganga. Kecuali kenzo. Karna kenzo memang sudah mengetahuinya. Kakek dan nenek yang awalnya tidak peduli saat ini benar benar fokus menunggu penjelasan dari perkataaan yang baru saja kulontarkan.


"itu nggak mungkin. Selama ini kamu selalu sehat. Rekam medis kamu nggak ada yang bermasalah" papa mencoba menyangkal. Rautnya masih tegas belum berubah sama sekali.

__ADS_1


"karna rekam medis milik aku udah aku palsuin sejak awal" aku muak. Aku benar benar muak. Aku membuka resleting tasku, mengeluarkan sebuah map berwarna putih bening.


Didalamnya terdapat setumpuk kertas. Aku meletakkannya diatas meja. "ini rekam medis asli yang aku simpan sejak pertama kali periksa ke dokter jantung"


Papa langsung mengambil alih map itu. Membuka dan langsung membacanya satu persatu. Mama yang ikut membaca langsung menangis keras. Tidak bisa membendung lagi perasaannya.


Mama menangis sejadi jadinya. Suasana ruang makan semakin berat. Kakek dan nenek ikut meneteskan air mata. Nano sudah tidak bisa membuka matanya lagi.


Sebenarnya kenapa mereka menangis? Menyesali perbuatan mereka padaku? Menyesali karna terlambat untuk mengetahui? Atau karna mereka menyayangiku?.


Apapun alasannya ini sudah terlalu terlambat. Aku sudah menduga respon seperti inilah yang akan mereka tunjukkan. Tapi tidak menyangka akan sampai separah ini.


Kenzo terdiam. Dia tidak tau ingin memberikan respon seperti apa. Untuk biasanya dia yang selalu memberikan ekspresi palsu, kini dia benar benar jujur. Dengan tidak berekspresi sama sekali.


"maafin mama sayang" mama yang hendak berhambur memelukku. Kudorong pelan. Aku berdiri dan berjalan sedikit menjauh.


"anda pikir anda punya hak buat nyentuh aku?" tubuh mama meluruh ke lantai. Mama menangis sesenggukan. Papa tidak tinggal diam. Papa berdiri dan ikut memeluk mama. Mencoba untuk menenangkannya.


"nina, maafin kami karna terlambat menyadari semuanya. Kami akan mengirim kamu ke luar negri untuk berobat sampai kamu sembuh" papa mengambil keputusan dengan raut tenang.


"kalian pikir siapa bisa nyuruh nyuruh aku?. Kalian pikir kalian punya hak buat buang aku untuk kedua kalinya?. Kesalahan kalian terlalu besar. Kalian kehilangan hak sebagai orang tua. Kalian nggak berhak ikut campur hidup aku lagi"


Aku menarik lengan kenzo agar ikut berdiri. Kenzo yang tidak tau hanya menuruti perintahku saja. Aku menggenggam lengannya erat.


"untuk terakhir kalinya kita bicara sebagai anak dan orang tua. Tolong restuin aku buat nikah sama dia setelah lulus sma. Meski aku nggak yakin aku harus minta restu sama kalian dan kalian pantes buat ngerestuin aku, tapi aku cuma mau bilang aja. Toh aku bakal tetep nikah sama dia walau kalian nggak ngerestuin" aku meremas jemariku. Jujur aku benar benar sangat gugup, aku takut kenzo menolak lamaranku didepan mereka semua yang kubenci.


Kenzo menggenggam erat tanganku. Kenzo tersenyum manis. Dia memiringkan kepalanya.


"mohon bantuannya pa ma. Aku bakal jadi suami yang sempurna buat nina" aku mengangguk. Eh, dia baru saja menerima lamaranku.


Semua terjadi begitu saja. Itu terlalu spontan dan mendadak. Lamaran yang kubuat sebagai bentuk balas dendam justru menjadi jembatan yang menjadi landasan terbentuknya takdir dalam hidupku.


Flash back off


***


Aku mengetuk ngetuk bolpoin yang berada di tanganku. Aku sedang berada di kafetaria kampus. Mengamati setiap orang yang berlalu lalang.


Tidak. Sebenarnya aku tidak sedang mengamati mereka. Lebih tepatnya aku sedang mengamati sepasang cowok dan cewek yang tengah asik bercengkrama.


Aku sedang menunggu seseorang di kafetaria untuk membahas tugas. Tapi ternyata pemandangan yang seharusnya tak kulihat justru kutemui.


Aku melihat kenzo sedang asik bercanda dengan seorang cewek berambut sebahu. Dia tampak asik sampai tidak sadar akan keberadaanku. Aku bukannya cemburu. Hanya saja melihat suami terlihat asik bercanda dengan cewek lain itu menyebalkan.


Aku menoleh saat ada seseorang yang mengambil duduk dihadapanku. Aku melihatnya beberapa saat. Lalu langsung memberikan beberapa kertas yang sudah aku print.

__ADS_1


"wah lo buru buru banget. Gue baru aja duduk mau pesen minuman" cowok didepanku tersenyum dan mengambil beberapa lembar kertas itu.


"hm" aku menjawab tanpa minat. Aku benar benar terusik dan tidak nyaman karna terus memikirkan kenzo.


"kalo diajak bicara itu ngeliat yang lagi ngomong. Nggak sopan!" dia berbicara lagi. Aku menghembuskan nafas kasar.


"kayaknya kita nggak sedekat itu sampai bisa bicara santai. Bukannya itu yang lebih tepat buat disebut sebagai nggak sopan?" cowok didepanku diam.


"aku udah kerjain semua bagian aku udah aku koreksi juga. Kamu harus punya waktu buat koreksi ulang karna kamu ketua yang bakal jadi orang pertama yang bertanggung jawab kalau ada kesalahan. Kalau kamu nemuin kesalahan langsung bilang" aku berdiri hendak pergi dari kafetaria.


"kamu nggak mau makan siang dulu?" tanyanya. Aku menggeleng singkat lalu berjalan meninggalkan kafetaria.


Aku melirik sekilas kearah tempat kenzo duduk. Sudah tidak ada siapa siapa. Kenzo sudah beranjak dari sana. Aku mengendikkan bahu dan tetap melanjutkan perjalananku.


Hari ini kelas sudah selesai. Aku berjalan meninggalkan area kampus. Kenzo mengatakan bahwa dia masih ada kelas. Aku hanya mengiyakannya saja. Aku memang sedang tidak ingin bertemu dengan kenzo.


Mengingat kejadian di kafetaria masih membuatku kesal. Dia memang menyebalkan. Aku berjalan menyusuri trotoar. Aku belum ingin pulang sebenarnya, namun aku tidak memiliki tempat untuk dituju.


Aku berhenti berjalan saat dadaku terasa sesak. Kenapa tiba tiba?. Sudah lama rasanya. Jadwal untuk memeriksakan jantung masih besok. Namun dadaku seperti dihantam oleh sesuatu yang keras, membuatku sulit untuk bernafas.


Aku tidak kuat bahkan untuk menopang berat tubuhku. Tubuhku meluruh ke tanah. Jalanan sepi jadi tidak ada yang melihat dan menolongku. Aku menangis saat dadaku semakin terasa sakit.


Menyebalkan. Kenapa harus sekarang. Aku berharap kenzo muncul bak seorang kesatria kesatria yang ada didalam buku dongeng. Aku berharap dia muncul dan menolongku. Aku sudah sepenuhnya bergantung pada kenzo.


Aku masih individualist tapi tidak jika didepan kenzo. Aku benar benar sangat membutuhkannya walau jarang menunjukkannya. Bagiku kenzo memang segalanya. Dia memang suami sempurna walau seringkali bersikap jahat.


Aku menangis tersedu. Merasakan dadaku yang kian menyesak. Aku benar benar sudah menjadi benalu dalam hidupnya.


"kamu bukan benalu. Kamu istri aku" kenzo datang dengan senyumnya yang cerah. Dia mengatakan sesuatu yang justru seperti menjawab suara dalam pikiranku.


Kenzo langsung memberikan obat dan juga air putih. Aku segera meminumnya. Setelah merasa lebih tenang, kenzo mengajakku untuk duduk disalah satu bangku taman.


"kenapa kamu nggak nunggu aku?" kenzo bertanya sambil mengelusi pipiku. Menghapus jejak air mataku.


"aku mau pulang" jawabku dengan nada lemah.


"kenapa kamu nggak nunggu aku?" kenzo mengulangi pertanyaanya.


"aku lagi kesel sama kamu" aku menjawab jujur. Toh tak ada gunanya juga berbohong.


"tapi kamu bisa aja mati kalau nggak ada aku" aku mendesis semakin jengkel. Kenapa dia selalu bersikap semenyebalkan itu. Mulutnya terlalu jahat.


"ada atau nggaknya kamu. Aku bakal tetep mati. Jangan lupa kamu punya istri yang penyakitan" kenzo menjitak kepalaku pelan.


"kamu nggak akan kemana mana. Aku bakal selalu jagain kamu. Meski harus mati kita harus mati sama sama" kenzo berkata meyakinkan. Kata katanya memiliki arti yang cukup dalam. Walau cara penyebutannya alay dan lebay.

__ADS_1


"kamu egois" aku menyandarkan kepalaku didadanya. Rasa sakit di dadaku pelan pelan hilang. Kenzo menepuk pundakku pelan.


"ini semua gara gara kamu"


__ADS_2