MUAK

MUAK
episode 6


__ADS_3

"aku rasa di masa depan kamu bisa ngelindungin aku. Aku rasa juga aku bisa ngehasilin bibit yang unggul" kenzo itu sedang bicara apa?. Aku benar benar tidak tau arah pembicaraannya.


"kamu tau nggak apa yang baru aja terjadi?" tanya kenzo dengan raut serius. Aku menggeleng.


"tadi kalo aja kamu nggak pingsan dan kita tetep nyebrang mungkin kita udah tiada sekarang" aku terdiam. Apa maksudnya?.


"kamu inget tadi kita lagi nungguin lampu hijau buat nyebrang?" tanya kenzo lagi. Aku mengangguk. "tiba tiba kamu jatuh pingsan. Aku pikir kamu kecapekan jadi aku bawa kamu ke rumah kamu. Tapi gara gara itu kita berdua selamat"


"bisa nggak usah bertele tele?" kenzo menutup mulutnya kembali. Ia mengurungkan niatnya untuk berbicara.


"jadi intinya tadi ada kecelakaan dan semua orang yang nyebrang ngga ada satupun yang selamat. Juga ada beberapa korban lain yang luka luka. Banyak mobil hancur dan parahnya truk yang nabrak mobil didepannya sekaligus penyebab kecelakaan terjadi meledak waktu nabrak trotoar"


"separah itu?"


"iya"


"aku saranin kamu besok lewat jalan lain" ucapku spontan.


"kenapa?"


"jalannya pasti ditutup"


Kenzo membeo. Mungkin dia berpikir bahwa aku memperingatinya karna ini berhubungan dengan hal hal spiritual. Sedikit sedikit pasti kenzo tau bahwa aku bisa melihat sesuatu yang tidak orang lain lihat. Memang sebenarnya bukan rahasia juga.


Toh disekolah yang memiliki kemampuan yang sama denganku juga lumayan banyak. Bahkan memang ada yang bisa melihat karna keturunan dari keluarganya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, aku belum juga kunjung tertidur. Hari ini aku merasa bingung dengan diriku sendiri. Apakah yang kulihat tadi adalah masa depan.


Rasanya terlalu berlebihan jika aku menyimpulkannya seperti itu. Tapi semua yang kulihat memang terjadi tak lama setelah itu. Tapi aku menepis pikiran yang mengatakan itu adalah masa depan.


Manusia itu memiliki kemampuan yang terbatas. Tidak ada manusia yang hebat. Manusia hanya unggul dalam beberapa hal saja yang membuat mereka menonjol. Namun, memang tidak bisa dipungkiri terkadang ada segelintir manusia yang memiliki kemampuan mengerikan yang tersembunyi.


Tapi tetap saja aku tidak percaya bahwa manusia bisa melihat masa depan. Ramalan? Itu sebenarnya tidak pernah ada. Semua yang terjadi hanya kebetulan bagi manusia yang memang sudah ditentukan oleh yang kuasa.


Jadi aku rasa semua ini hanya kebetulan. Kebetulan mengerikan yang benar benar terjadi disekitarku untuk kesekian kalinya. Aku memilih untuk berhenti berpikir dan memutuskan untuk tidur.


***


Paginya aku benar benar lewat jalan lain. Aku sudah menduga jalan kearah sekolah ditutup setelah menonton berita. Saat melihat lokasi kejadian yang dipenuhi oleh darah yang mengering diatas aspal juga mobil mobil ringsek yang belum dipindahkan.


Aku bisa langsung merasakan energi yang tidak dapat dijelaskan. Jalan ditutup memang lebih baik untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Walau pada akhirnya aku harus naik angkutan umum karna jarak rumahku dengan sekolah jika lewat jalan lain jadi lebih jauh.


Sesampainya disekolah aku berjalan memasuki gerbang seperti biasa. Banyak siswa dan siswi yang hilir mudik membincangkan kecelakaan yang baru saja terjadi kemarin.

__ADS_1


Kabarnya ada satu korban yang masih sesekolahan denganku. Dia juga menjadi salah satu korban yang meninggal di tempat. Informasi itu kudapat dari kenzo yang tiba tiba saja menelponku menggunakan telepon rumah.


Saat ini aku belum memiliki ponsel setelah kubanting ponselku saat itu. Namun aku tidak terlalu mempermasalahkannya. Bagiku ponsel bukan hal yang begitu penting.


Setibanya dikelas aku dikejutkan dengan satu hal yang berbeda. Seorang siswi yang duduk dengan baju dan kepala yang bersimbah darah. Jadi korban kecelakaan itu murid dikelasku?. Aku ternyata tidak menyadarinya.


Tapi bagi orang lain bangku itu kosong. Dia tetap bersekolah seperti biasanya. Tanpa ada yang merasa aneh pada dirinya. Sepertinya dia belum menyadari bahwa dirinya sudah tiada.


Aku duduk dan langsung mengeluarkan buku catatan. Meneliti setiap catatan dan membacanya ulang. Aku tidak memiliki pekerjaan lain selain melakukan ini.


Tiba tiba kenzo datang. Dia menyeret bangku kosong yang penghuninya belum datang dan duduk disampingku. Dia menungguku selesai memeriksa tulisanku.


Setelah menutup buku. Kenzo bersiap untuk menanyakan berbagai hal padaku. Sudah bisa ditebak raut wajahnya yang penuh dengan rasa penasaran.


"kamu indigo sejak kapan?"


"belum lama" jawabku apa adanya.


"jawabnya yang bener dong"


"sejak kelas 2 smp" kenzo manggut manggut.


"kamu liat makhluk halus disini?" tanyanya dengan raut penasaran namun takut. Aku menghela nafas.


"dimana?"


"disamping aku" kenzo langsung celingukan. Dia masih belum sadar kalau yang kumaksud adalah dirinya sendiri.


Saat dia tau yang kumaksud adalah dirinya. Kenzo mendengus jengkel. Namun, walau begitu dia tetap tidak beranjak dari tempat duduknya saat ini.


"serius dong!"


"hmm...." aku menghela nafas pasrah. Kenzo jika sudah penasaran tingkat menyebalkannya jadi berkali kali lipat.


"kamu jangan duduk dibangku kosong paling pojok. Itu keliatannya kosong tapi sebenernya ada yang duduk disitu" aku akhirnya memberi tahu kenzo. Aku ternyata mulai peduli padanya?. Aku menertawai diriku sendiri dalam hati.


Kenzo kembali manggut manggut. Saat hendak bertanya kenzo mengurungkan niatnya. Dia mengatupkan kedua bibirnya. Aku tidak tau dia akan mengatakan apa. Kenzo sangat andal menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sebenarnya.


Kenzo berdiri dari tempat duduknya saat ada seseorang yang memanggilnya. Aku kembali fokus pada kegiatan yang kulakukan sebelumnya.


***


Pulang sekolah hari ini aku tidak langsung pulang ke rumah. Aku menyempatkan diri untuk mampir ke toko buku. Aku tidak sendiri. Kenzo lagi lagi membuntutiku. Dia terlihat antusias saat melihat banyak buku baru yang berjejer.


Si ketua kelas sok teladan itu memang tak tertebak. Sikapnya sering kali berubah hanya karna hal hal kecil. Walau begitu aku membiarkannya. Aku fokus pada tujuanku, mengambil beberapa buku yang kubutuhkan kemudian membayarnya. Setelah selesai aku pulang ke rumah.

__ADS_1


Kenzo tidak langsung pulang ke rumah. Dia mampir terlebih dahulu ke rumahku untung numpang makan. Aku tidak pernah tau tentang keluarganya atau ingin tau. Dia terlalu rumit untuk diterka.


Saat sampai didepan rumah ada sebuah paket yang tergeletak didepan pintu. Kenzo mengambilnya saat ada namaku tertulis diatasnya. Setelah masuk kenzo langsung membuka paket itu dengan raut wajah penasaran.


Aku tidak memesan paket apapun akhir akhir ini. Namun aku membiarkan kenzo membukanya. Setelah bungkus pelindung terbuka ternyata isinya adalah sebuah ponsel. Dengan note kecil yang tertempel diatasnya. Aku membaca note itu.


'jangan sering banting ataupun buang hp. Kakek sama nenek mulai miskin' aku berdecih. Dua orang itu aku tidak tau jalan pikirnya. Tapi aku membiarkannya saja.


"wah kakek sama nenek kamu perhatian banget. Jadi pengen jadi cucunya" kenzo berkata sok manja.


"nggak ada lowongan untuk itu" kenzo terkekeh mendengar jawabanku.


aku pergi ke dapur untuk memasak sedangkan kenzo berpindah ke ruang keluarga untuk menonton tv. Kenzo akhir akhir ini memang bersikap seenaknya terhadapku.


Namun entah kenapa aku merasa biasa saja. Kenzo tertawa renyah saat melihat acara tv yang sedang dinyalakannya. Apa selucu itu? Entahlah semua acara tv membosankan di mataku. Tidak ada yang menarik sama sekali.


Aku membuka kulkas. Ternyata bahan makanan banyak yang sudah habis. Haruskah aku mencari pekerjaan? Aku tau kakek selalu men supply kebutuhanku dengan mengirimkan uang saku setiap bulan. Jumlahnya lumayan walau tidak banyak.


10 juta per bulan ditambah uang saku yang diberikan oleh papa 20 juta per bulan. Secara finansial aku tidak kekurangan. Tapi entah kenapa selalu ada lubang yang membuatku merasa kosong dan kesepian.


Tapi bagaimana jika orang orang itu tiba tiba berhenti mengirimiku uang. Walau aku selalu berhemat dan menabung tapi tidak bisa dipungkiri uang uang yang kukumpulkan akan habis suatu hari nanti.


Setelah selesai memasak dan menyajikannya diatas meja. Tanpa kupanggil kenzo sudah duduk di kursi meja makan. Kenzo berdiri dan beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


Setelah itu dia kembali. Dan langsung menyantap makanan yang kumasak. Jadi ini rasanya makan bersama seseorang? Perasaan senang tiba tiba mengetuk dan menyentuh tabir pertahananku. Aku tidak boleh berbuat lebih dari ini.


Aku harus memasang batas yang lebih kokoh agar tidak bisa dilewati oleh siapapun lagi. Aku membenci diriku sendiri saat mulai membuka pintu untuk orang lain masuki. Aku benar benar membencinya.


Garis itu harus tetap ada agar tidak seorangpun dapat melewatinya. Garis yang kubuat atas dasar kemauanku sendiri bukan karna keterpaksaan. Garis yang dapat menjagaku agar aku tidak kembali terluka.


Tapi entah kenapa untuk kali ini terasa sangat berat. Padahal aku biasa memutuskan hubunganku dengan orang orang yang mencoba mendekatiku. Bersikap kasar agar mereka tak lagi mau mengingat namaku.


Aku sudah berjanji pada diriku sendiri agar tak lagi percaya pada siapapun. Tapi kenapa kali ini ada satu diriku yang mengatakan. 'kamu tidak boleh seperti itu. Tidak semua yang kamu lihat adalah kenyataannya'.


Lalu apakah selama ini aku salah menilai? Kurasa tidak. Aku hanya terlalu lelah sendirian. Aku lelah terus membohongi diriku. Rasanya yang kulakukan selama ini hanyalah hal yang sia sia.


"kenapa kamu terus nempelin aku? Kamu tau aku nggak suka itu kan?" tanyaku sesaat setelah aku menyelesaikan makan siangku.


"aku tau, tapi aku juga nggak peduli" kenzo menjawab. Dia mengambil potongan buah, lalu memasukkannya kedalam mulutnya.


"maksudnya?" tanyaku tak paham.


"aku tau kamu ngerasa nggak nyaman. Tapi aku nggak peduli. Kenapa aku harus peduli akan hal itu?" kenzo meringis saat darah mulai menetes dari matanya seperti sebuah tangisan.


"aku bakal terus ngebuat kamu nggak nyaman. Aku pengin liat kamu ngerasain sesuatu yang orang-orang sebut 'nggak nyaman' selamanya" kenzo terbatuk. Dia memuntahkan banyak sekali darah.

__ADS_1


__ADS_2