
"apa salah gue sama lo kak?" tanyanya lirih. Aku menghentikkan langkahku, aku menoleh dan menatap dingin kearah nano. Tatapan menusuk yang dipenuhi dengan kebencian.
"salah kamu? Kamu sudah merebut milik orang lain. Tidak, bahkan kamu lahir saja sudah menjadi kesalahan terbesar"
"oh ya satu lagi. Jangan pernah mengajak saya bicara dimanapun kamu melihat saya. Tidak, bahkan kamu tidak pantas untuk menatap saya. Itu sangat menjijikan dan memalukan" aku bisa merasakan bahwa nano menangis dalam diam. Air matanya terus menetes dan ia terus saja memukul mukul dadanya.
Menyesakkan? Kamu bahkan tidak tahu apa itu arti menyesakkan yang sebenarnya. Entahlah apa alasanku sampai aku benar benar sangat membencinya.
Saat keluar dari perpustakaan aku bertemu dengan kenzo. Dia menatapku sejenak lalu kembali berjalan masuk kedalam perpustakaan. Aku tau kenzo mendengar semuanya. Perpustakaan sedang sepi tak ada siapapun disana. Staf yang sedang berjaga keluar untuk mengambil sesuatu.
Ponsel yang ada di saku seragamku tiba tiba bergetar. Aku mengeluarkannya dan melihat siapa yang sedang mencoba menghubungiku.
'mama?' ternyata anak sial itu cepat sekali mengadu. Yah, biarpun begitu aku tidak terlalu peduli. Aku menerima panggilan itu.
"kamu baik baik saja nina?" mamaku mulai bertanya dengan suara lirih. Memuakkan kenapa dia perlu berbasa basi untuk mengetahui keadaan putranya.
"anda tidak pandai untuk berbasa basi"
"nina kamu baik baik saja kan nak? Apa kamu butuh sesuatu?"
"tidak"
"nak tolong jangan terlalu membenci adikmu. Dia tidak tahu apa apa"
"akhirnya anda to the point juga"
"kamu apa bakal terus bersikap seperti ini? Kamu tau kamu semakin jauh dari mama, papa dan nano. Kamu mau meninggalkan kami"
"meninggalkan?" aku tertawa hampa. "anda dan suami anda yang terlebih dahulu melakukannya"
'prakkkkkk' aku langsung melemparkan ponselku ke sembarang arah. Aku benar benar muak dengan semua ini.
Aku berjalan meninggalkan perpustakaan. Langit yang awalnya cerah mendadak mendung. Perlahan rintikan hujan turun. Aku terus berjalan menyusuri koridor hingga tiba disebuah tempat. Sunyi. Ya, itu hawa yang kurasakan.
Aku duduk diatas pembatas gedung. Aku sedang berada di rooftop. Memandangi deretan gedung yang tampak usang. Merasakan hujan yang terus merintik dan membasahi setiap inci tubuhku.
Aku sepertinya akan membolos pelajaran hari ini. Lagian tubuhku sudah basah kuyup karna hujan. Aku tidak memiliki keinginan untuk beranjak dari rooftop. Meski dingin semakin menusuk tubuhku dan membuat tubuhku menggigil. Aku memejamkan mataku.
"kamu memang punya harga diri setinggi itu ya? Sampai sampai nggak mau cuma mata dan pipi yang basah tapi seluruh tubuh biar nggak keliatan abis nangis" aku membuka mataku.
"kamu tau apa yang paling aku benci dari diri kamu? Sikapmu! Sikapmu yang suka ikut campur itu benar benar .mdmuakkan"
"kamu pikir cuma kamu yang bisa benci? Aku juga bisa! Aku benci kamu! Aku benci setiap sisi kamu yang selalu merasa benar, selalu merasa kuat padahal kamu sama lemahnya kayak orang lain!"
"ken, aku yakin banyak hal yang bisa kamu tanggepin. Kenapa harus aku? Kenapa kamu selalu mau ikut campur urusan aku?" kenzo berdecih. Kali ini aku menoleh dan melihat wajah yang sedang menatapku dengan tatapan murka.
"bukannya kamu terlalu percaya diri untuk mengatakan itu?"
__ADS_1
"kurasa" aku turun dari tempat dudukku. Aku berjalan mengambil tongkat base ball Sepertinya seseorang meninggalkannya diwaktu yang tepat.
Aku berjalan dan berhenti tepat dihadapan kenzo. Tanpa ragu aku mengayunkan tongkat base ball itu kearah kepala kenzo dengan keras. Kenzo jatuh akibat pukulan itu.
Belum sampai disitu aku terus memukul bagian tubuhnya yang lain. Tiba tiba saja aku memiliki hasrat untuk melenyapkan manusia. Kenzo masih duduk diam. Darah mengalir dari hidung dan pelipisnya yang bercampur dengan air hujan.
"kamu tau kalau nggak ngelawan kamu bakal mati" aku tertawa bengis. Namun, kenzo tiba tiba menahan tongkat base ball yang kuayunkan. Aku mencoba menariknya, namun dia menahannya, kuat sekali.
Kenzo mulai berdiri dan merebut tongkat base ball yang kupegang dalam satu hempasan. Kali ini kesempatannya untuk membalas setiap luka yang kuciptakan di tubuh dan hatinya.
Aku tidak akan meminta ampun. Untuk apa?. Lagipula aku pantas mendapatkannya. Namun kenzo justru melakukan hal yang tak terduga. Dia membuang tongkat base ball itu dan menarikku kedalam dekapannya.
Dia memelukku dengan sangat erat. Hangat? Tidak, tubuhnya sangat dingin. Untuk sesaat aku terdiam. Namun, saat menyadarinya aku langsung mendorong tubuhnya. Kenzo mundur beberapa langkah.
"kenapa? Kenapa? Kenapa kamu nglakuin ini?" kenzo berteriak frustasi. Aku tertegun saat melihat ekspresinya yang benar benar putus asa.
"kenapa kamu ingin tau? Kalau aku jadi kamu, aku bakal ngekhawatirin diri aku sendiri. Kamu hampir aja mati kenapa kamu masih mikirin orang lain?" Aku berbalik badan dan berjalan meninggalkan rooftop.
"KARENA AKU SUKA KAMU!" aku menghentikkan langkahku. 'suka?' aku tersenyum hampa.
"alasannya?" aku mulai mengajukan pertanyaan tanpa menoleh sedikitpun.
"kenapa aku butuh alasan untuk itu?"
"karna rasa suka timbul beserta sebuah alasan"
Sekolah sudah sepi? Apa semua dipulangkan lebih awal. Mungkin saja. Aku bergegas masuk kedalam kelasku.
Aku melihat kelas kosong. Aku merapihkan buku bukuku yang masih ada didalam laci dan memasukannya kedalam tas. Setelah itu aku bergegas keluar dari kelas. Diujung koridor aku melihat kenzo yang berjalan kearahku.
Tubuhnya sama sama basah kuyup. Ia berlari dan melewatiku begitu saja. Namun, tak lama kemudian kenzo sudah mensejajarkan langkahnya denganku. Kenzo masih berekspresi dingin begitupula denganku.
Aku terus berjalan tanpa memedulikan kenzo yang berada di sampingku. Namun langkahku terhenti ketika melihat seseorang berjalan dengan langkah terseok. Di punggung, kepala, bahu. Bahkan kaki. Ada yang menempel pada anak itu. Namun, aku sama sekali tidak peduli.
"kak tolong gue" nano berkata dengan nada lirih. Air matanya terus menetes menyusuri kedua pipinya. Nano berjalan membungkuk sambil menyeret kakinya. Hatiku sama sekali tidak tergerak meskipun nano memohon dengan tatapan menderita dihadapanku.
Tapi berbeda dengan kenzo yang langsung berlari menghampiri nano dan menanyakan keadaannya. Orang itu memang suka sekali ikut campur.
Saat melewati nano semua makhluk yang menempelinya melirik kearahku. Aku tidak ingin menjelaskan satu persatu fisik mereka. Namun energinya lumayan kuat karna tergabung menjadi satu.
"dasar perempuan jahat"
"memang wanita kejam"
"dia tidak peduli meskipun adiknya mati"
"kejam"
__ADS_1
Sayup sayup aku mendengar bisikan bisikan menyebalkan dari para makhluk itu. Benar aku memang tidak peduli meskipun anak itu mati.
"kak to...... Long" nano tetap melihat kearahku dan mencoba mencari belas kasihku.
Namun aku tetaplah aku yang tidak pernah peduli tentang keberadaan anak itu. Kenapa aku harus menolong seseorang yang selalu kuharap lenyap dari muka bumi ini?.
'benar benar kejam'
'wanita ini sangat menarik karna kepribadiannya sangat busuk'
'ternyata dia lebih busuk dari perkiraan'
'hahaha dasar wanita menyedihkan'
Aku menjerit saat merasakan kepalaku berdengung. Kenapa? Kenapa ini menjadi urusanku jika anak itu mati karna ulahnya sendiri? Kenapa? Kenapa Anak sial itu terus merepotkanku?.
"kenapa? Kenapa harus aku? Kenapa aku harus peduli jika kamu mati sialan?!!!!!" aku berteriak murka. Aku........ Benar benar terpancing oleh omong kosong para makhluk itu.
Kenzo dan nano memandang kearahku. Aku masih mencoba untuk mengendalikan diriku yang sudah tertelan oleh emosi. Aku berjalan kearah nano dan langsung mencekik lehernya dengan keras.
"sebelum mereka membunuh kamu, sebelum kamu semakin merepotkanku, sebelum kamu mengambil semua yang tersisa dalam hidupku. Aku....... Aku akan terlebih dahulu melenyapkanmu" kemarahanku semakin membara. Aku semakin menekankan cekikan tanganku dilehernya.
Nano memegangi tanganku, wajahnya memerah akibat kesulitan untuk mengambil nafas. Kenzo ikut menarik tanganku agar melepaskan nano. Aku benar benar kehilangan kendali.
Satu persatu hantu yang menempeli nano lenyap menjadi asap. Namun, aku tak kunjung melepas cekikanku. Inikah saatnya? Saatnya untuk melenyapkan dia agar lenyap dari dunia.
Namun, sebelum itu berhasil. Kenzo sudah terlebih dahulu berhasil menarik tubuhku. Nano jatuh terbatuk batuk. Wajahnya masih memerah begitupula dengan lehernya.
Aku menarik napas dalam dalam dan membuangnya. Lalu kembali berjalan meninggalkan kenzo dan nano. Tanpa sadar air mataku terus menetes membasahi kedua pipiku yang memang sudah basah karna air hujan.
***
Beberapa tahun yang lalu.......
Setelah aku terbangun dari koma. Aku kehilangan kemampuan bicaraku untuk sementara. Perban melilit semua bagian kepalaku kecuali mulut, hidung dan mataku.
Saat itu aku melihat mama, papa, dan seorang remaja yang tampak sebaya denganku. Kukira dia anak rekan bisnis papa. Aku senang karna akhirnya aku bisa memiliki sahabat. Pikirku saat itu.
Namun, tidak. Semua hanya perkiraanku. Semuanya berubah semenjak anak itu datang. Semuanya mulai meninggalkanku termasuk mama dan papaku.
Awalnya semua baik baik saja. Dia baik, sopan, ramah, murah senyum, ceria. Kepribadiannya sangat bagus. Selama di rumah sakit dia selalu menemaniku. Dia selalu menceritakan banyak hal yang membuatku tertawa.
Saat itu aku sangat bahagia bersamanya. Hingga aku sempat berpikir untuk menikah dengannya saat aku sudah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan. Tapi ternyata itu adalah keinginan yang sangat menjijikan dikepalaku kini.
Setelah bersama seharian denganku, menemaniku berjalan jalan, dan terkadang menyuapiku makan. Papa dan mama akan datang dan menjemputnya saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Ya, walaupun aku akan kesepian setelah itu. Tapi tidak apa, aku cukup puas memilikinya di sisiku.
__ADS_1