MUAK

MUAK
episode 8


__ADS_3

Aku turun dari mobilku. Setelah kenzo membukakan pintunya untukku. Kenzo itu sangat posesif dan menyebalkan. Walau sudah menikah dia masih se posesif seperti remaja yang baru saja mengenal cinta.


Awalnya aku tidak yakin apakah keputusan untuk menikah muda adalah keputusan yang tepat. Terutama yang kunikahi adalah kenzo si muka dua yang sering kuserapahi.


Tetapi ternyata keputusanku untuk menikah muda dan menikahi kenzo tidaklah terlalu buruk. Kepribadian kami sangat cocok. Kenzo menggandengku dan mulai berjalan masuk ke area kampus.


"jangan deket sama cowok atau nanti cowok itu bakal aku hukum. Kamu tau kan hukuman versi kamu dan orang lain itu beda" kenzo mengecup keningku. Aku mengangguk.


Kami berpisah didepan gedung fakultas. Aku mengambil jurusan dokter hewan sedangkan kenzo mengambil jurusan hukum. Aku masuk kedalam gedung, sedangkan kenzo berjalan lurus menuju gedung fakultas hukum.


Aku masuk kedalam kelas. Mengeluarkan beberapa buku. Sembari menunggu dosen masuk aku membuka dan membaca buku. Setelah dosen datang dan kelas dimulai aku mulai fokus pada materi yang sedang dosen ajarkan.


***


Aku keluar saat kelas sudah selesai. Jam menunjukkan pukul 15.00. Aku berjalan menuju kantin untuk membeli minuman. Namun belum sempat melangkahkan kaki menuju kantin. Kenzo sudah duduk dan menunggu disalah satu bangku yang terletak tak jauh dari tempatku berdiri.


Ponselku bergetar. Aku mengeluarkannya dari saku dan menjawab telpon itu.


"sayang kamu udah selesai kelasnya?" siapa lagi yang akan berbicara dengan kalimat selebay itu jika bukan kenzo.


"jangan basa basi" kenzo tertawa.


"kamu mah galak galak mulu. Nanti kalau aku selingkuh gimana?"


"emang ada yang mau sama kamu? Nikah sama aku aja kamu harus sujud syukur. Manusia emang diciptain berpasang pasangan. Tapi kamu spesial, jadi nggak ada pasangannya" kenzo terdiam cukup lama.


"tumben kamu mau ngomong panjang"


"soalnya aku nggak ngomong pendek" kenzo tertawa keras. Dia itu gila atau apa? Aku bukannya ingin menjadi istri yang durhaka. Hanya saja jika ada yang menyebut kenzo waras bukankah dia yang sakit.


"sayang........"


"bisa kita ketemu aja? Buang buang pulsa tau nggak!"


"ciee kangen" aku langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak. Kenzo kalau terus diladeni akan semakin melunjak.


Kenzo berdiri dan berbalik badan. Kenzo tersenyum saat mata kami saling bertemu. Kenzo berjalan kearahku. Kenzo langsung menggenggam erat tanganku dan mulai berjalan. Aku hanya mengikutinya.


"kamu mau masak apa hari ini?" tanya kenzo padaku. Aku mengendikkan bahu.


"kamu maunya apa?" aku bertanya pada kenzo. Kenzo tampak berpikir untuk sejenak.


"steak?"


"aku bukan chef. Daging sapi mahal. Jangan ngadi ngadi" kenzo cemberut.

__ADS_1


"padahal aku nafkahin kamu loh. Aku kasih kamu uang yang banyak. Tapi kenapa kamu ngeluh?" aku menghentikkan langkahku. Melirik tajam kearah kenzo.


Aku melepaskan genggaman tanganku. Dan berjalan mendahului kenzo. Kenzo tersenyum lalu berlari mengejarku. Merengkuh lenganku dan berjalan bersama menuju mobil.


***


Aku duduk di sofa ruang tv. Kenzo duduk disampingku. Dia sedang bermain game. Sesekali dia menatap kearahku. Tersenyum lalu kembali fokus pada game nya.


Aku menghela nafas panjang. Untuk sejenak aku berpikir kenapa takdir hidupku terlalu misterius?. Kenapa aku bertemu dengan jodohku semudah itu?.


Banyak pertanyaan serupa yang selalu berputar didalam kepalaku. Aku tiba tiba kehilangan kemampuan supranaturalku. Bukannya tidak senang, aku sangat senang. Hanya saja semua itu terjadi terlalu tiba tiba.


"sayang besok jadwal buat cek jantung kamu?" tanya kenzo memecah keheningan.


"hmm" jawabku tanpa minat.


"jangan takut ya. Aku bakal nganterin dan temenin kamu" kenzo mematikan ponselnya. Meletakkannya diatas meja.


Kenzo beralih menatapku dengan tatapan penuh perhatian. Kenzo lalu memelukku. Aku menenangkan diriku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku masih tidak bisa mempercayai fakta bahwa cowok misterius ini adalah suamiku.


"kenapa takdir itu sesempit ini?" aku bertanya pada kenzo. Kenzo mengeratkan pelukannya.


"bukan takdir yang sempit. Tapi kamu yang terlalu luas" kenzo mengaduh saat aku mencubitnya. Dia memang tidak bisa diajak serius.


"kadang aku mikir. Aku cantik dan pinter tapi kenapa mau nikah sama kamu?" aku bertanya dengan nada lempeng. Kenzo menghela nafas berat.


"aku nggak pernah minta buat sakit padahal" kenzo melepaskan pelukannya. Kenzo menangkup wajahku menggunakan kedua tangannya. Mengulas senyuman manis.


"nggak papa mau sakit atau nggak asal itu kamu aku tetep suka, sayang, dan cinta kok" aku mengangguk. Kali ini aku yang memeluknya terlebih dahulu. Kenzo balas memelukku.


***


Flash back


Setelah kenzo mengetahui penyakitku. Sejak saat itu kenzo mengumumkan bahwa kami berdua berpacaran. Aku hanya diam. Tidak merespon. Aku hanya akan melihat seberapa lama kenzo akan bertahan di sisiku.


Aku tidak pernah memintanya tapi dia melakukannya dengan sukarela. Aku tidak pernah butuh teman apalagi pacar. Menurutku dua hal itu hanya membuang buang uang dan waktuku.


Saat ini aku sedang berada disebuah cafe. Menyedot minuman yang sudah kupesan. Aku menatap dingin seseorang yang tengah duduk dihadapanku. Orang itu tampak gugup.


"kk...kamu punya pacar sekarang?" mama bertanya dengan terbata.


Aku meletakkan minumanku. "wah informannya lebih cepet dari merpati pengantar pesan ternyata" aku tersenyum sinis. Aku tau mama sangat terluka dengan perkataanku. Air matanya mulai menggunung di pelupuk matanya, dan siap terjun.


Tapi aku tidak peduli. "jangan nangis nggak mempan soalnya" aku menghela nafas panjang. ~membosankan sekali.

__ADS_1


"maafin mama" mama terisak. Mencuri perhatian pengunjung lainnya untuk sejenak. Aku semakin malas dengan situasi seperti ini.


"jadi ada apa?" tanyaku to the point.


"besok ulang tahun kamu kan? Kamu harus pulang ya. Mama bakal masakin semua makanan yang kamu suka" mama tersenyum. Dia menyeka air matanya. Dari matanya sangat terpancar harapan aku mau menuruti perkataannya.


"emang mama tau apa yang aku suka? Semua hal udah berubah termasuk apa yang aku suka. Jadi jangan bersikap seakan akan mama tau segalanya tentang aku" aku berdiri. Aku muak dengan semuanya. Drama keluarga ini akan kuakhiri besok.


"tapi aku bakal tetep dateng besok" setelah mengatakannya, tanpa menunggu respon dari mama aku berlalu begitu saja. Aku keluar dari cafe.


***


Hari ini hari ulang tahunku. Usiaku tepat 17 tahun. Hari ini aku akan mengungkapkan segalanya. Hari ini aku akan mengakhiri semuanya. Aku benar benar sampai pada batasnya.


Aku sedang menunggu bus. Menyumbat kedua telingaku menggunakan earphone. Aku masih menggunakan seragam sekolah. Aku tidak memiliki niatan untuk berganti pakaian apalagi berdandan.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.30. Hari sudah mulai petang. Aku pulang dari sekolah sekitar pukul 16.00. Ada banyak hal yang harus kukerjakan.


Bus yang kutunggu akhirnya datang. Aku berdiri dari tempat dudukku dan langsung naik kedalam bus. Meski pernah mengalami kecelakaan yang begitu tragis dan membekas didalam kepala, aku tidak merasa takut untuk menaiki bus.


Aku terlalu menganggap mudah hidupku. Aku merasa terlalu hampa sampai rasanya semua yang kumiliki tak ada harganya sama sekali. Aku duduk di bus bagian belakang.


Bus mulai melaju membelah keramaian. Jalanan tidak terlalu padat juga tidak terlalu lenggang. Bus melaju dengan kecepatan normal.


Aku menatap nyalang kearah luar bus. Melihat pemandangan perkotaan yang cukup menyesakkan.


***


Setelah turun dari bus. Aku berjalan. Menatap kosong kedepan. Pintu gerbang dibuka. Aku mendongakkan kepalaku. Menatap langit yang mulai berubah warna. Gumpalan hitam mulai berkumpul. Sepertinya malam ini akan sangat pas untuk mengakhiri drama.


Aku membuka pintu dan masuk ke rumah besar yang tampak hangat. Aku berjalan masuk. Wangi lemon langsung menyapa indra penciumanku. Aku menghela nafas. Aku tidak menyangkal perasaan rindu dengan rumah besar yang kutinggali sejak kecil.


Aku hanya rindu rumahnya. Bukan kenangan apalagi orang orang yang berada di dalamnya. Aku bisa merasakan siluet bayanganku sendiri saat kecil yang berlarian bersama papa dan mama. Tertawa dan tertawa. Ternyata aku sedang berhalusinasi.


Mama yang melihat aku datang langsung menyambutku dengan senyum canggung. Hendak menyentuhku namun kutepis. Aku berlalu menaiki tangga. Aku ingin melihat kamarku untuk terakhir kalinya. Karna sepertinya ini kali terakhir aku menginjakkan kaki di rumah ini.


Aku membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Pemandangan yang tak kuinginkan justru kutemui. Melihat nano dengan piyama tidurnya. Dia sedang sibuk membungkus kado.


Aku mengedarkan pandanganku. Aku menghela nafas berat. Ternyata kamarku juga sekarang bukan milikku. Semua benda yang pernah kumiliki lenyap entah kemana. Interior dan dekorasi berbeda.


Nano yang menyadari keberadaanku langsung menyapaku. Namun seperti biasanya, dia tidak pernah kuanggap ada. Aku menutup kembali pintu. Berbalik badan dan langsung berjalan kembali ke lantai bawah.


Sebenarnya apa yang membuatku sangat membencinya? Pertanyaan beberapa tahun silam kembali berputar didalam kepalaku. Aku selalu mengatakan karna dia telah merebut segalanya. Namun pada faktanya sepertinya bukan karna itu saja.


Aku kembali berjalan menuruni tangga. Aku melihat ada kakek dan nenek sudah duduk di sofa ruang tamu. Aku berjalan menghampiri mereka berdua.

__ADS_1


Aku melamun untuk sejenak. Namun, lamunanku buyar saat ada yang membunyikan bel. Mama yang sedang memasak menyuruh papa untuk membukakannya.


Mama, papa, dan pembantu sedang sibuk menyiapkan makanan. Aku terperangah melihat kenzo masuk bersama papa. Saat mata kami bertemu kenzo tersenyum. Tangan kanan dan kirinya menjinjing sebuah paper bag besar.


__ADS_2