MY CEO : STOP KISSING ME !!!

MY CEO : STOP KISSING ME !!!
HARI YANG MELELAHKAN


__ADS_3

Di pinggir jalan tempat lalu lalangnya berbagai jenis kendaraan, terlihat seorang wanita cantik sedang menggerutu kesal sambil menendang-nendang frustasi ke ban mobil yang terlihat kempes didepannya.


Dia mengacak-acak rambutnya sambil sesekali menggeram kesal. Dia melihat waktu di jam tangannya sekilas, kemudian dia terlihat seperti sedang mengutuk. dia sedang terburu-buru rupanya .


Gadis yang terlihat frustasi itu adalah Zahra Johansson. pagi ini William corporation mengadakan meeting penting dengan mitra bisnis mereka yaitu perusahaan Mega Group.


Sebagai sekretaris, dia memegang materi rapat hari ini. seharusnya materi yang ada bersamanya di berikan kepada bos nya. tuan James William. Namun, bagai terkena sial. serangkaian kecelakaan terus terjadi sejak pagi tadi mengganggu aktivitasnya. mulai dari bangun kesiangan, lemari es yang kosong tanpa satupun bayang-bayang bahan makanan, sampai mobilnya yang tiba-tiba mogok. serangkaian kejadian itu membuatnya ingin muntah darah sangking kesalnya.


Tak ingin membuang waktu lagi. Zahra segera berlari ke jalan yang ramai untuk mencegat taksi. Namun, lagi-lagi sepertinya Tuhan membuat lelucon padanya hari ini. benar-benar sial untuknya, tidak ada satupun taksi yang datang menghampiri.


"Astaga.... " Zahra menggeram tak berdaya, dia memijat kepalanya yang berdenyut nyeri, "kalau begini terus aku bisa ketinggalan rapat!!!


Melihat waktu yang semakin berjalan, Zahra tidak bisa bersanta lagi. dia segera berlari dengan tergesa-gesa ke kantornya.


Sudah sepuluh menit dia berlari. Zahra sangat lelah, namun mau bagaimana lagi. sejak tadi benar-benar tidak ada taksi yang lewat.


saat ini dia berlari dengan Stiletto lima centimeternya, betisnya benar-benar terasa nyeri. tapi dia hanya menggerakkan giginya kuat menahan sakit.


Zahra yang kelelahan menjadi tidak seimbang saat berlari. tiba-tiba dia hampir terjungkal karena hak sepatunya patah, dia membungkuk melepaskan sepatunya, "Stiletto Si*lan..!!" makinya kesal


Dia kemudian melepaskan sepatu Stiletto nya yang satu lagi, dan kemudian melanjutkan larinya tanpa alas kaki.


.....


WILLIAM CORPORATION 09:04 A.M


Zahra sudah tidak memperdulikan tatapan orang-orang yang terkejut melihatnya berlari tanpa alas kaki, dia juga tidak peduli dengan penampilannya yang tidak ada anggunnya sama sekali.


Dia agak memperlambat larinya ketika sudah memasuki gedung William corporation. dengan nafas tersengal dia hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya menyapa resepsionis yang juga terkejut melihat penampilannya yang berantakan.


Zahra berjalan sambil merapikan penampilannya. tidak butuh waktu lama dia sampai di tempat rapat masih dengan nafas tersengal.


di sana dia melihat asisten pribadi bosnya, Briyan. dia sepertinya sedang menunggu Zahra, karena ketika melihatnya mendekat Briyan langsung melambaikan tangan agar dia mempercepat langkahnya.


"Paman Briyan, apa rapatnya sudah di mulai?" Zahra bertanya dengan gugup kepada pria berusia empat puluhan di depannya


Briyan mengangguk, "materi mu sudah di tunggu! cepat masuk!" katanya

__ADS_1


mendengar itu Zahra bergegas masuk ke ruang rapat. begitu masuk dia langsung menjadi pusat perhatian. Zahra menekan kegugupannya, dia membungkuk sembilan puluh derajat sebagai tanda permintaan maaf karena menunda rapat.


"maaf semuanya... karena ketidak profesionalan saya, membuat anda semua menunggu di sini."


dia diam menunggu respon mereka, Zahra menggigit mulut dalamnya karena gugup


"Sudah, tidak perlu di pusingkan.." tiba-tiba Bagas CEO dari Mega Group menyela


James William juga setuju, "karena materi nya sudah ada, mari kita lanjutkan rapat hari ini!"


melihat tidak ada keberatan di wajah para peserta rapat. akhirnya Zahra bisa menghela nafas lega. dengan senyum sopan dia membawa materi rapat kepada bosnya James. lalu rapat pun di mulai.


dua jam berlalu. rapat akhirnya berakhir. karena kesepakatan di antara dua perusahaan sudah terjalin, maka semua peserta rapat keluar dengan wajah puas penuh senyum.


Bagas dan James masih tinggal di ruangan, mereka masih mengobrol seputar kerjasama mereka yang baru terhubung. melihatnya, Zahra pamit undur diri kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


begitu di memasuki ruangannya sendiri, Zahra bersandar malas di kursinya. dia benar-benar ingin menangis sangking letihnya.


dia tidak pernah berolahraga selama ini, tiba-tiba berlari. tentu saja itu berdampak pada seluruh anggota tubuhnya. Zahra bisa merasakan tulang-tulangnya akan copot karena nyeri.


"Paman Briyan..."


Briyan menyerahkan kotak makanan kepada Zahra, "Makan... Paman tau, kamu pasti tidak sempat sarapan!"


Zahra menatap pria paruh baya di depannya dengan tatapan haru, " memang cuman paman yang paling mengerti Zahra di dunia ini! makasih ya paman!"


"kamu harus ganti mobil, supaya kejadian kaya gini gak terulang lagi..."


mendengar Briyan menyebut-nyebut mobil, Zahra yang sejak tadi tenang langsung panik.


dia berdiri dari kursinya, "ASTAGA... aku meninggalkan Mettie di pinggir jalan!!!" pekikannya menggelegar di ruangan sempitnya


Dengan panik, Zahra memanggil sahabatnya untuk mengambil mobilnya yang tertinggal di pinggir jalan. setelah menelpon untuk waktu yang lama, akhirnya dia bisa bernafas lega karena sahabatnya setuju mengambil mobilnya, Mettie.


ketika Zahra mendongak dia melihat Briyan menatapnya jenaka, "ada apa paman?"


"Berdoalah semoga Mettie mu tidak di derek petugas..." jawab Briyan ringan

__ADS_1


"ASTAGA!!! Mati aku!!" Zahra menepuk dahinya keras


Briyan meninggalkan ruangan dengan kekehan pelan. benar saja, tak lama sahabatnya Mila menelpon kalau mobilnya sudah tidak ada di tempat. mendengarnya, Zahra hanya bisa menangis tanpa air mata.


.....


18:00 p.m


Zahra keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di rambutnya, kelelahan tergambar jelas di wajahnya yang sayu. karena malas mengeringkan rambutnya, dia langsung berbaring di tempat tidur memejamkan matanya.


Dia bersyukur hari ini tidak terlalu banyak pekerjaan di kantor. Dia pulang pukul tiga sore tadi, jadi Zahra memiliki waktu untuk menebus Mettie yang di derek petugas keamanan.


baru saja Zahra benar-benar akan tertidur, bunyi dering ponsel tiba-tiba mengganggunya. dia mendecakkan bibirnya kesal, ketika melihat id penelepon alisnya mengerut sesaat.


Dengan malas dia mengangkat teleponnya, "Ayah..."


"Di mana kamu?" terdengar suara berat dari seberang telpon


Zahra berjalan ke arah jendela. dia memandang lampu-lampu rumah di kompleks perumahannya, "Di rumah— ada apa Yah?"


ayahnya mendengus dari seberang telpon, "kakak mu histeris lagi! tidak ada yang bisa membujuknya. ayah menelpon mu supaya kamu membantu membujuk kakak mu!"


Zahra mengerutkan bibir nya, "Kami tidak dekat... kakak tidak akan mau mendengar ku!"


"Kamu bahkan belum mencoba, tapi sudah membuat kesimpulan sendiri," pria yang di panggil ayah itu membentaknya lewat telepon "apa itu yang di ajarkan ibu mu hah? tidak memiliki kasih sayang untuk saudaranya sendiri! apa dia mengajari mu begitu?"


Zahra menyipitkan matanya dingin, dia mengepalkan tangannya erat ketika dia menyebut-nyebut ibunya. dia menolak untuk menjawab


karena tidak ada balasan, ayah di sebrang telpon menjadi semakin marah. dia berkata dengan suara keras, "Aku ingin kamu datang sekarang, kalau kamu tidak datang. jangan salahkan ayah karena menjual rumah peninggalan ibumu itu tanpa persetujuanmu!"


"AYAH!!!" Zahra berseru protes


"Datang kalau tidak mau rumah itu terjual besok pagi!" tanpa sepatah kata lagi, dia memutuskan telpon sepihak


Zahra meremas kuat ponsel di genggamannya, tidak ingin membuang waktu lagi dia segera bergegas pergi ke kediaman ayahnya tanpa berganti pakaian. Zahra hanya mengambil mantelnya untuk mencegah kedinginan.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2