
"Ada apa Bos? kenapa kita berhenti! pria mati ini sangat berat bos!" salah satu pria yang memiliki tindik di hidungnya bertanya dengan heran.
Sejak tadi Bos kelompok pria itu berdiri diam memandang curiga ke semak-semak yang ada di dekat pintu masuk gudang. Entah apa yang dia pikirkan, namun dia nampak serius mengamati.
Pria yang di panggil bos itu menoleh. dengan wajah galak, dia memberi jitakan keras tepat di kepala bawahannya yang mengenakan tindik hidung itu, "Tinggal menggendong saja mengeluh terus kau! mau ku pecat ya?"
"BOS!!!!"
Bos geng itu tidak memperdulikan teriakan kesakitan dari salah satu bawahan yang baru dipukulnya, dia memimpin yang lain berjalan memasuki gudang tak terpakai di depannya.
Kemudian lingkungan berubah menjadi sepi, hanya bunyi jangkrik dan bunyi samar percakapan para pria tadi yang meramaikan malam. Zahra akhirnya bisa bernafas dengan lancar. sejak tadi dia tidak berani bernafas karena takut mereka akan mendengar deru nafasnya yang panik.
Zahra menyandarkan kepalanya ke batang pohon di sampingnya. Dahinya masih di penuhi keringat, wajahnya putih pucat. Zahra mengusap sudut matanya yang basah, dia belum pulih benar dari ketakutannya. Tubuhnya saat ini masih sedikit gemetaran, sepertinya kejadian malam ini akan sedikit membekas dalam ingatannya.
Ketika keadaan sudah benar-benar aman. Zahra memberanikan diri memindai lingkungan tempat dia bersembunyi.
Saat ini dia tidak tau apakah harus menangis atau tertawa, ternyata dia bersembunyi tepat di samping gudang tak terpakai tempat preman-preman itu membawa pria yang tidak sadar tadi.
Zahra menyipitkan matanya memandang lubang kecil yang ada di dinding gedung tersebut. Dia sekali lagi memindai keadaan sekitarnya, setelah itu dia merangkak mendekati lubang dinding tersebut untuk mengintip apa yang terjadi di dalam.
.....
Sang bos nampak puas ketika melihat pria tak sadarkan diri itu terikat di kursi, "Bangunkan dia!"
"Baik bos!!"
BYURRRRR!!!
Pria yang terikat di kursi itu mengerutkan kening begitu seember air dingin di guyurkan ke tubuhnya. Perlahan, dia membuka mata hitam pekatnya yang bisa menenggelamkan siapa pun yang memandangnya.
Matanya menyipit tajam, pria itu mengangkat satu alisnya ketika memandang seluruh ruangan. kemudian dia menatap bos preman sambil mengangkat sudut mulutnya menyeringai, "Penculikan heh...!"
"Haha menarik!! sudah sekarat pun kau masih bisa tersenyum."
Pria terikat itu hanya menatapnya acuh tak acuh "Apa."
"Haha... jika semua tawanan yang ku tangkap bisa pintar seperti kamu! aku pasti akan mati karena bahagia!"
Pria di kursi hanya mendengus keras. melihatnya seperti itu bos preman tidak marah sama sekali, "Baiklah baiklah... to the points saja. kami di sini untuk membunuhmu! nyawa mu ada di tangan ku!"
Laki-laki itu terkekeh seperti baru saja mendengar lelucon, "jadi apa." tanyanya dengan malas
Bos preman tidak senang melihat responnya yang masih acuh tak acuh, "kau tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti! saya di bayar untuk membunuhmu, jadi cepat atau lambat kau akan mati!"
__ADS_1
"Ya sudah, lakukan!"
"KAU!!!" bos preman memekik keras, "aku bisa melihat bahwa setelan yang kau kenakan tidak murah. jadi mungkin kita bisa membuat kesepakatan dengan sedikit uang! apa kau tidak menyayangi nyawa mu hah!!"
"Tidak," jawab laki-laki itu masih dengan acuh tak acuh " lakukan saja apa yang ingin kau lakukan!"
"Brngs*k," maki bos preman murka, "mari kita lihat, seberapa lama lagi kamu bisa terus acuh tak acuh sementara nyawa mu ada di tangan kami!" ujarnya
"Yah... mari kita lihat!"
"Yah... Tuan Arlland William jangan salahkan aku karena menjadi kejam nanti! cih ... aku baru pertama kali menemukan orang yang lebih menyayangi uang lebih dari nyawanya sendiri!"
Pria yang baru di ketahui bernama Arlland tersebut hanya terkekeh geli. seolah-olah berkata, coba saja kalau kau bisa!
.....
"Ya ampun. sepertinya aku benar-benar akan menjadi saksi pembunuhan... apa yang harus ku lakukan sekarang!" Zahra mengerang dalam hatinya. Lewat lubang kecil, dia sudah melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi di dalam.
Zahra tidak pernah ingin bersikap heroik, namun dia juga merasa tidak bisa acuh tak acuh dengan masalah seperti ini. biar bagaimanapun ini menyangkut nyawa seseorang, jadi tidak mungkin Zahra akan menutup sebelah matanya tidak melakukan apa-apa.
Setelah berpikir sekian lama akhirnya Zahra ingat untuk memanggil nomor darurat, Untung dia punya telpon di sakunya. Zahra langsung menekan 112, dia juga tidak lupa untuk menyetel volume ke tingkat yang paling rendah.
"Selamat malam, kami melayani yang membutuhkan penanganan segera. Silahkan beritahu keluhan anda agar kami bisa mengirim bantuan secepat mungkin." suarara operator terdengar setelah bunyi Bip.
Mendengar Zahra berbisik sepertinya operator mengerti situasinya, dia menginstruksikan agar tetap tenang dan tidak perlu bicara apa-apa lagi. yang harus dilakukan adalah bersembunyi di tempat aman terlebih dahulu, "kami akan melacak keberadaan anda, lalu mengirim petugas polisi terdekat untuk menyelamatkan anda dan yang lainnya. Biarkan telpon tetap terhubung, cukup bisu kan saja suaranya!"
Karena operator berkata begitu, maka Zahra hanya bisa mengikuti.
Waktu berlalu... Namun polisi belum datang juga. Zahra sudah tidak kuat mendengar suara-suara pukulan dari dalam gudang, ujung matanya basah karena dia menangis sejak tadi.
Suara pukulan dan suara desissan kesakitan, tumpang tindih dengan gelakan tawa menyenangkan dari preman-preman tersebut.
Mereka seperti mendapat mainan baru ketika menyiksanya. Laki-laki itu sudah memiliki luka tembak di bahunya, apa jadinya jika dia di pukuli seperti itu.
Sepertinya polisi butuh waktu lama untuk sampai! aku tidak bisa diam saja... pria itu bisa mati kalau menunggu kedatangan polisi yang tidak pasti!
Zahra menggenggam erat ponsel di tangannya. Dengan penuh tekad dia mulai berbisik ke telponnya yang masih tersambung dengan panggilan darurat, "Nona operator... Saya tidak bisa diam saja! pria itu benar-benar butuh pertolongan, jadi saya akan mencoba menyelamatkannya!" setelah selesai bicara, Zahra langsung memasukkan ponselnya yang masih hidup ke saku bajunya.
Di dalam gudang.
"Bagaimana... Apa kau tetap tidak mau bekerja sama?" bos preman menjambak rambut Arlland mendongakkan kepalanya, "ayolah... jangan terlalu keras kepala. Apa kau tidak sayang dengan nyawa mu!"
Pria bernama Arlland yang saat ini sudah babak belur. Seluruh tubuhnya berlumuran darah, dia hanya bisa membalas dengan senyuman lemah. Tapi ketika bos preman melihat senyumannya dia langsung naik pitam, ada seringai di sudut mulutnya. *Brngs*k... dia mengejeknya*!
__ADS_1
"Melihat mu sudah sekarat seperti ini, aku akan memberi waktu lagi untuk berpikir jernih. sebaiknya kau memikirkannya dengan baik, atau kau akan menyesal!" Setelah mengatakan itu, bos preman pergi dengan rahang yang mengeras.
Zahra memandang bos preman yang pergi meninggalkan gudang. Entah karena terlalu percaya diri atau apa, pria yang sedang sekarat itu di tinggalkan sendiri tanpa pengawasan. Mereka hanya meninggalkan dua penjaga di pintu masuk gudang, itupun mereka tidak menjaga dengan serius.
Memindai sekali lagi ke sekeliling bagian luar gudang, akhirnya Zahra menemukan celah tepat di bagian belakang gudang tak terpakai tersebut. Kebetulan sekali dia melihat besi berbentuk huruf L, tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Zahra segera mengambilnya untuk di gunakan sebagai pencongkel pintu, melihat situasinya masih aman dia mendekati pintu tersebut dengan langkah ringan.
Pelan-pelan dia membuka pintu berlubang itu tanpa suara, bagian ini sangat membuatnya frustasi. bagaimanapun kekuatan seorang wanita tidaklah besar, sampai-sampai sanggup mencongkel pintu yang terkunci itu dalam sekali percobaan.
......
Di sisi lain, 2 km jauhnya dari gudang.
Seorang pria dengan setelan hitam terlihat sedang bersandar malas pada mobil Porsche merahnya. Di antara jari-jarinya ada rokok yang masih menyala, tiba-tiba seorang pria lain datang ke hadapannya.
pria itu mematikan rokok dengan menginjaknya dengan sepatunya, "Belum ada kabar?" tanyanya dengan ekspresi ringan
"Maaf tuan Victor.... Semua orang kami sudah di keluarkan untuk mencari keberadaan tuan Arlland, namun belum ada satu pun dari mereka yang memberi kabar sampai sekarang!"
Pria yang di panggil Victor itu mengalihkan pandangannya ke langit gelap yang tak berbintang. Ekspresinya tenang, dia berdiri dengan kedua tangan berada di sakunya. Namun sorot matanya saat ini, membuat pria yang baru saja melapor menjadi ketakutan. Matanya sangat dingin.
Namun pria tersebut belum menyelesaikan laporannya. dengan gugup dia melanjutkannya lagi, "Tu—tuan... sebenarnya saya masih punya satu kabar lagi! Em saya tidak tahu apakah saya bisa mengatakannya atau tidak!"
Victor masih tanpa ekspresi, "Katakan!"
Pria itu melanjutkan perkataannya setelah mendapat persetujuan dari atasannya, "Beberapa saat yang lalu seorang wanita menelpon panggilan darurat, wanita itu berkata dia melihat seseorang akan di bunuh. Dugaan sementara, wanita itu terjebak di lokasi pembunuhan. Karena lokasi kita lebih dekat dengannya, kantor panggilan darurat meminta kita untuk datang sebentar untuk menyelamatkannya. Apa yang harus kita lakukan, tuan Victor."
"Bukankah kita menganggur, tidak ada salahnya menolong wanita itu." balasnya singkat
"Baik tuan. Kami akan segera pergi ke lokasi!"
Di gudang.
Butuh waktu hampir sepuluh menit sebelum pintu akhirnya terbuka, Zahra memasuki ruangan yang gelap tanpa penerangan. Gudang itu tidak besar, jadi Zahra tidak berjalan terlalu lama untuk menemukan pria yang terikat di kursi.
Sepertinya pria tersebut bisa merasakan keberadaannya yang hanya beberapa langkah di belakangnya. Begitu Zahra akhirnya bisa melihatnya, matanya bertabrakan dengan mata hitam pekat milik pria itu yang menyipit tajam ke arahnya.
Zahra sempat terpaku saat mendapat tatapan tajam darinya, namun dia memberanikan diri memberinya isyarat untuk diam. Dia kemudian mendekat, "Tenang.... Aku akan menyelamatkan mu!" bisik Zahra pelan
Tidak ada ekspresi apapun di wajah Arlland, dari awal dia hanya menunjukkan wajah tenang. Namun ketika dia mendengar, Aku akan menyelamatkan mu!. Arlland memfokuskan pandangannya menatap wajah kecil wanita di depannya, ada sedikit perubahan ekspresi di wajahnya yang masih di lumuri darah.
Jika ada seseorang yang mengenalnya melihat ekspresinya saat ini, mereka pasti akan terkejut. Ada senyum samar di wajahnya yang selalu tanpa ekspresi itu.
__ADS_1
TO BE CONTINUED