
Tidak ada jawaban untuk Zahra, Arlland tergeletak di tanah tanpa bergerak. Zahra langsung shock, dia mengguncang tubuhnya agar dia bangun. namun Arlland tetap tak sadarkan diri. Air mata mengalir dari mata Zahra tanpa sadar. Dia tidak mungkin mati! tidak mungkin!
"Hey— Bukan saya yang tertembak!" Arlland memaksakan bicara dengan suara seraknya, ketika melihat Zahra menangis.
Zahra akhirnya tersadar. Dia segera memindai kondisi Arlland, syukurlah dia memang tidak tertembak. Walaupun dia hampir kehilangan kesadaran, namun itu bukan karena luka tembak. Melainkan karena luka-lukanya yang parah.
"Kalau bukan kau. Jadi—" ucapnya tiba-tiba terpotong
AHHH AMPUUNNN!!!!
Zahra terkejut saat mendengar teriakan nyaring dari belakangnya, saat dia berbalik dia melihat ke dua preman yang mengejar tadi. yang satu tak sadarkan diri, dan yang satu lagi berteriak kesakitan.
Tidak jauh dari posisi preman itu, ada tiga orang pria berpakaian hitam lagi yang memegang pistol.
Zahra terkesiap kaget setelah melihat senjata di tangan mereka. Sebelum dia bisa mengangkat kembali tubuh Arlland dalam gendongannya, tiba-tiba saja kilatan flash menerangi dirinya dan Arlland.
"Damn... Ternyata gak ada ruginya sama sekali aku nyia-nyiain liburan ku!" pria yang baru saja menggunakan sinar flash saat memfoto, sedang menyeringai bahagia, "haha... Kapan lagi bisa memotret bos besar Arlland di gendong seorang gadis! untung saja, aku sempat mengabadikan momen bersejarah ini haha!!!"
Bos besar Arlland! Zahra mengernyitkan alisnya heran, "Kau mengenalnya?" bisiknya pelan di telinga Arlland.
Arlland memandangi wajah kotornya yang sedang mengernyit. Dia mengangkat sudut mulutnya tersenyum, "Hanya pria tanpa otak. Jangan pedulikan dia!" katanya ringan.
"Brngs*k..... Gini-gini pria tanpa otak ini sudah menyelamatkan mu tau! memangnya kau pikir bisa selamat begitu saja tadi! kalau saja, anak buah ku terlambat sedetik saja! kau pasti sudah mati! " Victor memekik tak terima di bilang tanpa otak.
Beberapa waktu yang lalu, ketika Victor tertidur di dalam mobil. bawahnya menelpon karena menemukan barang milik Arlland. betapa terkejutnya dia, ketika mendengar orang yang mereka cari-cari ada di dalam gudang.
Tanpa pikir panjang dia bergegas ke lokasi, tapi siapa yang menyangka kalau dia akan mendapat pemandangan yang sangat menakjubkan. Arlland di gendong seorang gadis.
Mana mungkin seorang Victor menyia-nyiakan momen langka seperti ini. jadi dia mengambil beberapa foto definisi tinggi untuk di simpan sebagai kenang-kenangan.
Di sisi Arlland, dia hanya diam sejak tadi. dia sama sekali tidak menghiraukan kekesalan Victor, Sepertinya dia terlalu malas menanggapi temannya yang ber-IQ rendah ini.
Melihat ekspresi Arlland yang santai, Victor jadi makin berang. Dia berkata sambil bertolak pinggang, "Ada apa dengan ekspresi mu itu! Setidaknya kau harus berterima kasih pada ku! Kucing liar saja bakalan bertindak manja, sebagai rasa terima kasih kalau sudah di kasih makan! Apa yang kau lakukan sekarang?"
Arlland mendengus pelan, "Terima kasih karena tidak terlambat walaupun hanya sedetik. Ngomong-ngomong aku bukan kucing!" balasnya malas.
__ADS_1
"Damn.... Aku sama sekali tidak bisa menangkap rasa terima kasih dari mulut mu itu!" ucap Victor mencibir
"Hentikan! Apa kau tidak bisa melihat tubuhnya terluka parah? seharusnya kau segera membawanya ke rumah sakit, kenapa kau malah mengajaknya berdebat!" Zahra sudah tidak tahan lagi mendengar perdebatan mereka yang tidak bermanfaat. bukanya seharusnya pergi ke rumah sakit adalah prioritas utama.
"Oh nona cantik, siapa namamu? apakah wonder woman!" Victor menatap Zahra kagum,
"kau pasti memiliki kekuatan super kan! aku memberi mu dua jempol karena kau mampu menggendong bos besar yang tidak bisa di sentuh ini!."
Victor sedikit menyeret Zahra ke samping lalu dia berbisik pelan, "ku beri tahu satu rahasia, dia pernah hampir mati sekali. tapi dia tidak mau di sentuh sedikit pun oleh dokter wanita yang akan memberinya perawatan! jadi ketika aku melihat mu tadi mampu menyentuh bahkan menggendongnya, kau sudah seperti pahlawan super di mata ku! aku akan mengandalkan mu mulai sekarang, ingat!!!"
"Vic, aku bisa mendengar mu!" Arlland berseru kesal, dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Zahra, "dia suka membual, jangan dengarkan omong kosongnya!"
"O—Oke. Aku mengerti!" jawab Zahra sambil menggaruk lehernya, gugup.
......
Di rumah sakit
Arlland kini berada di ruang ICU. Ternyata, walaupun dia sempat beberapa kali adu mulut dengan Victor. Tapi ketika di bawa ke mobil, dia langsung kehilangan kesadaran dalam perjalanan ke rumah sakit.
Yang menarik adalah, kata-kata Victor sebelumnya sepertinya benar-benar bukan omong kosong.
Lalu ketika Victor akhirnya keluar ruangan dia berkata padanya, "See. Aku tidak bohong kan! kau adalah wanita pertama yang aku tahu, bisa menyentuhnya! bagaimana menurutmu?"
Zahra tidak tahu harus menjawab apa, pada akhirnya dia memilih tetap diam tidak mengatakan apa-apa. Dia bertindak seolah-olah tidak mendengar apa yang di katakan Victor barusan.
Victor pun tidak melanjutkan lebih jauh, dia ikut mendudukkan dirinya di kursi tunggu yang sama dengan Zahra.
Pukul dua dini hari akhirnya ruang ICU di buka. Perawat mendorong brankar ke luar untuk di pindahkan, Zahra menatap wajah pucat Arlland yang terbaring lemah di brankar.
"Ayo!" ajak Victor mengikuti Arlland ke ruang VIP, "ngomong-ngomong siapa namamu? dari aku tidak tau memanggil mu apa!"
"Zahra." balasnya singkat
"Baiklah, ayo kita ke ruang VIP!" kemudian Victor yang sudah berjalan menghentikan langkahnya ketika tidak melihat Zahra mengikutinya, "Zahra, kenapa kau terpaku di situ? kau tidak mau ikut aku atau bagaimana!"
__ADS_1
"Emm.... Saya ingin pulang saja! bisakah?" Zahra mengajukan pertanyaan
"Bagaimana kalau Arlland sadar nanti dia mencari mu?" kata Victor menyeringai
Zahra melihat godaannya. dia mencebikkan bibirnya kesal, "Tolong tuan Victor, kamu harus masuk akal! saya hanya pejalan kaki yang secara tidak sengaja bertemu dengan teman mu. jadi jangan menatap saya seperti itu, aku benar-benar ngeri melihat seringai di bibir mu itu!" ucap Zahra apatis
Victor tidak marah. Sebaliknya dia malah terkekeh geli, "Baiklah.. Baiklah. jangan menakuti kamu!"
"Kalau begitu saya pulang dulu. salam untuk teman mu Arlland!"
Victor mencegahnya pulang dulu, "Tunggu. Saya akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan kamu pulang!"
"Tidak perlu. saya terbiasa pulang sendiri kok, tidak usah mengantar saya!" Zahra menolak tawaran dengan ramah
"Tidak. Saya tidak bisa mengambil resiko! bagaimana pun kau adalah penyelamat teman saya, jadi anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya karena kau sudah menyelamatkan teman ku!" ucap Victor tegas, tidak mau di bantah.
Melihatnya seperti itu, tidak baik untuk Zahra jika dia terus menolak. pada akhirnya dia menyerah dengan pulang bersama sopir yang dia kirim.
Dalam perjalanan pulang tiba-tiba telponnya berdering. Zahra mengangkatnya tanpa melihat sia yang menelponnya, "Hallo." katanya
"Halo, kami dari pusat bantuan darurat. Bagaimana keadaan kamu sekarang? apakah bantuan datang tepat waktu?"
Seketika Zahra membuka matanya yang tadi ia tutup, "Nona operator, terima kasih sudah menyelamatkan saya. Bantuan datang tepat waktu."
"Baiklah kalau begitu, jika sesuatu terjadi lain kali anda bisa menelpon panggilan darurat seperti kemarin!"
"Ya, tentu!"
"Selamat malam!"
Zahra, "selamat malam." lalu dia memutuskan sambungan telepon
"Nona, ini sudah dini hari!" sopir tiba-tiba mengingatkan Zahra bahwa ini sudah tidak malam lagi.
Zahra menatap jam di tangannya, "Ya sudah hampir pukul tiga pagi, memang sudah tidak malam lagi!"
__ADS_1
Perkataan Zahra di balas kekehan geli dari sopir mobil.
TO BE CONTINUED