MY CEO : STOP KISSING ME !!!

MY CEO : STOP KISSING ME !!!
DILEMA ZAHRA


__ADS_3

Pada akhirnya dua mata bertabrakan. Yang satu menatap pria di atas panggung dengan tatapan tak percaya, sementara yang lainnya menatap tajam ke arah wanita di kerumunan tanpa ekspresi di wajahnya.


Episode kecil itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Arlland segera mengambil kembali tatapannya, lalu berjalan menuruni panggung tanpa memperdulikan tatapan kecewa dari para karyawan wanita.


Zahra sendiri masih menatap kosong ke arah kepergian Arlland. Apa itu benar-benar dia?


Untuk sementara sepertinya Zahra hanya bisa meneka rasa keingintahuannya dulu. Walaupun dia penasaran, tapi dia bukan orang yang suka kepo.


Di auditorium. Setelah beberapa patah kata lagi dari James William, acara perkenalan akhirnya berakhir. Semua orang kembali ke departemennya masing-masing dengan jiwa gosip mereka yang menyala.


.....


Ketika berjalan keluar dari auditorium, langkah Zahra di hentikan oleh teriakan sahabatnya Dila.


Dengan wajah yang sangat bahagia, dia terlihat seperti orang yang baru saja memenangkan lotre seratus juta rupiah.


"Zahra!!!!! gak nyangka banget, ternyata rumor yang beredar itu beneran," pekiknya girang. Dia lalu menunjukkan foto Arlland yang dia ambil diam-diam dengan ponselnya, "lihat... Bos benar-benar lebih tampan dari artis Korea! Fix... Aku bakal jadi fans bos mulai sekarang!"


"........" jiwa Fangirl nya kumat lagi!


"Zahra gak asik... Di ajak ngomong diam aja!" Dila protes karena omongannya tak mendapat tanggapan dari Zahra.


"Aku pusing memikirkan pekerjaan ku kedepannya!" Balas Zahra, dia menyandarkan tubuhnya di dinding.


"Kenapa sih... serius banget!" Dila mendekati Zahra sambil berbisik pelan, "Ada masalah?"


"Ya dan tidak," balasnya. Zahra memijit pangkal hidungnya yang berdenyut, "Briyan bilang, aku bakal jadi personal asisten juga! jadi aku agak sedih mikirin beban kerja yang bakalan bertambah di masa depan!"


"OH MY GOD!!! Kamu bakal jadi personal asisten juga.... Gila! beruntung banget kamu Ra!" bukanya simpati, Dila malah sangat antusias mendengar perkataan Zahra.


Zahra jadi kesal di bilang beruntung. Dia mendengus, "Hei... Aku bakalan sibuk tau! Di mana letak keberuntungannya coba?"


Dila menatap Zahra kagum, "Ra. Ini personal asisten loh! Letak keberuntungannya ya di mana kamu bisa ngurusin keperluan bos! Intinya adalah kamu bisa lebih dekat sama bos Arlland, kenapa kamu malah ngeluh sih Ra! Kalau aku jadi kamu... Aku bakalan guling-guling sangking senangnya!" ucap Dila panjang lebar.


"Sayangnya kamu bukan aku!"


"Kamu menyodok tepat di luka ku Ra! Sakit." seru Dila dramatis


Zahra hanya memutar matanya malas, "terserah kamu saja lah! Aku mau balik ke ruangan aku dulu Dil, mau menata hati!"


"Menata hati?" Dila mennyikut bahu Dila sambil tersenyum menyeringai, "menata hati atau menata penampilan? biar makin cantik!" godanya


Godaan Dila sama sekali tidak berpengaruh, "Aku duluan.... Bye!" Zahra meninggalkan Dila sambil melambai.

__ADS_1


Sampai di ruangannya, Zahra menyempatkan memindai dokumen. Walaupun Briyan menyuruhnya untuk tidak perlu bekerja hari ini, namun dia tidak tahu apa yang harus dilakukan selain membaca dokumen.


Tak terasa sudah satu jam berlalu. Zahra sangat fokus saat menganalisa dokumen, matanya terpaku pada deretan huruf yang berjajar rapi di atas kertas.


Sangking fokusnya Dia sama sekali tidak menyadari bahwa, CEO barunya Arlland berdiri di sebrang mejanya memperhatikan dia.


"ASTAGA!!!" Zahra terkejut bukan main saat mendongak dia mendapati sepasang mata elang sedang menatapnya tajam, "B—bos... ada... ada yang bisa saya bantu!" ucap Zahra gelagapan


Berapa lama dia berdiri di sana! kenapa aku bisa tidak menyadarinya!


"Terima kasih untuk pertolongan yang waktu itu..." ucapnya singkat. Lalu tanpa menunggu respon dari Zahra, Arlland pergi ke ruangannya sendiri.


Zahra belum bisa bereaksi sampai dia mendengar suara pintu tertutup, "Jadi itu benar-benar dia!" gumamnya pelan


Tiba-tiba dia teringat ucapan Victor waktu itu,


"See. Aku tidak bohong kan! kau adalah wanita pertama yang aku tahu, bisa menyentuhnya! bagaimana menurutmu?"


Zahra menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas, "Ya ampun Zahra... biasa aja dong!"


ngomong-ngomong.... Bagaimana jadinya nasibku di masa depan, kalau harus bekerja dengannya!!


Memikirkannya membuat Zahra hanya bisa menangis tanpa air mata.


Waktu berlalu... Sudah saatnya para karyawan untuk pulang ke rumah. Zahra melihat jam di ponselnya, ternyata sudah pukul lima sore.


Dinding kaca transparan itu masih tertutup tirai, Zahra sama sekali tidak bisa melihat apa yang di lakukan bosnya di dalam.


Tiba-tiba telpon di meja mengeluarkan suara dari sambungan telepon bosnya, "Pulanglah. Saya masih memiliki pekerjaan." singkatnya, lalu menutup telpon.


Dingin. Walaupun suaranya tanpa jejak peduli, Zahra bisa merasakan telinganya memerah ketika mendengar suara berat dan maskulin dari pria tersebut.


Sadar akan tingkah konyolnya, Zahra cepat-cepat menyadarkan dirinya tentang siapa dia. Bisa-bisanya dia mikirin Bos!


Karena bos sudah memberinya izin pulang, Zahra membereskan mejanya yang sedikit berantakan sebelum berjalan keluar meninggalkan ruangannya.


Sampai di lobby telponnya berdering, dia menekan tombol jawab tanpa melihat id penelepon.


"Hal......" Ucapan Zahra di potong oleh suara wanita yang tak sabar dari seberang telepon


"Ayo bertemu di Royal King." singkat, padat, dan jelas. Sambungan telepon langsung terputus setelah satu kalimat singkat.


Zahra sepertinya mengenali suaranya. Dia terlihat tak berdaya ketika melihat id penelepon.

__ADS_1


.....


Royal King Restourant


Butuh waktu lima belas menit ketika Zahra sampai di tempat janjian. Royal King adalah salah satu restoran bintang lima, yang hanya bisa di datangi oleh kalangan atas saja.


Kabarnya makanan di sana memiliki harga terendah senilai dua juta, sama sekali tak manusiawi untuk kantong orang-orang kelas bawah.


Namun bagi Zahra, dia sudah bosan bolak-balik keluar masuk dari restoran ini, sebagai sekretaris perusahaan besar yang selalu mengikuti pertemuan.


Royal King adalah tempat ideal bagi pengusaha untuk berbincang karena keamanan ruangan kedap suara di sini tidak perlu di pertanyakan lagi.


Tempat seperti Royal King adalah tempat terbaik karena tidak akan ada pembicaraan yang bocor jika berada di sini.


Zahra menyapa meja depan, "Permisi.... Saya Zahra. Saya memiliki janji dengan wanita bernama Sessyl!"


"Maaf... Sebentar ya!" Wanita di meja depan itu kemudian mengecek komputernya, "Silahkan datang ke ruangan nomor tiga di lantai dua nona, orang yang anda cari ada di sana!" ucap wanita cantik itu dengan senyum sopan.


Zahra balas tersenyum, "Terima kasih."


Royal King di bagi dengan tiga lantai. Lantai pertama memang agak ramai, orang yang memesan di lantai pertama biasanya adalah orang kelas menengah.


Sedangkan di lantai dua. Jika seseorang ingin memesan ruangan di situ, dia harus memiliki hubungan dekat dulu dengan pemilik Royal King.


Di sini tidak bisa sembarangan memesan walaupun orang itu memiliki banyak uang, karena ruangan lantai dua di Royal King bukanlah tempat sembarangan orang bisa datang.


Sedangkan di lantai tiga tidak terbuka untuk umum. Kabarnya lantai tiga adalah tempat tidur siang pemilik restoran Royal King.


Setelah beberapa menit Zahra akhirnya sampai di depan ruangan tempat janjian. Dia menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu tersebut.


TOK TOK!!!


"Masuk!" seruan seorang wanita terdengar dari dalam.


Begitu masuk, Zahra di suguhkan pemandangan seorang wanita dengan gaun sexy sedang bersandar di sofa sambil memutar-mutar jus di gelasnya dengan malas.


Wanita itu mendengus, "Aku benci menunggu.... Tapi kau malah membuat ku menunggu lama!"


"Maaf mengecewakan mu... Jarak dari perusahaan ke sini bukanlah jarak yang dekat, jadi jangan menyalahkan ku!" dengan santai Zahra duduk di sofa tepat di seberang wanita tersebut, "Ada apa Sessyl? Dengan hubungan kita yang bahkan tidak dekat, kau ingin bertemu dengan ku... Aku jadi agak penasaran!"


Zahra memandang kakaknya lekat-lekat. Entah angin apa yang membawanya kemari, sehingga dia ingin menemuinya.


Padahal hubungan mereka hanya di landasi kebencian. Tapi dia rela menunggunya, padahal dia sangat benci menunggu. maka itu hanya bisa karena kakaknya ini benar-benar membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


Zahra jadi sedikit penasaran, apa yang membuat kakaknya ini akhirnya ingin bertemu dengannya.


TO BE CONTINUED


__ADS_2